Showing posts with label India. Show all posts
Showing posts with label India. Show all posts

Wednesday, January 14, 2015

AS Kembali Menjadi Mesin Ekonomi Dunia

FINANCEROLL – Amerika Serikat kembali mengambil alih pimpinan ekonomo global setelah 15 tahun lamanya singgasana itu diduduki Cina dan Negara-negara berkembang.


Tahun 2015 ini diperkirakan AS akan menikmati pertumbuhan ekonomi sebesar 3.2 persen. Ini akan menjadi sebuah catatan penting sebagai kinerja terbaiknya sejak 2005. Membaiknya lapangan kerja AS mempercepat pertumbuhan angka konsumsi nasional.


Berbagai analisa yang diberikan oleh JPMorgan Chase & Co., Deutsche Bank AG dan BNP Paribas SA. menyebutkan bahwa hasil dari membaiknya kondisi tersebut akan membuat AS tidak lagi ketinggalan dengan pertumbuhan ekonomi global, sesuatu yang sebelumnya belum terlihat sejak 1999, berdasarkan data dari International Monetary Fund. Alhasil ini mengembalikan mahkota sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi global. Kondisi AS saat ini adalah yang terbaik sejak 1990an.


Data terkini menunjukkan AS bangkit kembali, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Jumat (09/01) bahwa jumlah pembayaran upah (payrolls) mengalami peningkatan sebesar 252 ribu selama bulan Desember 2014. Kenaikan ini sesuai dengan tingkat pengangguran AS yang mengalami penurunan ke 5.6 persen, pencapaian ini merupakan yang terbaik dengan angka pengangguran terendah sejak Juni 2008. Pertumbuhan lapangan kerja ini merupakan hasil dari kenaikan lapangan kerja di sektor-sektor pabrikan, layanan kesehatan, dan jasa. Sekitar 3 juta lebih rakyat AS menemukan pekerjaan di 2014, angka ini merupakan yang paling besar sepanjang 15 tahun terakhir ini. Dengan membaiknya lapangan kerja ini, optimis akan meningkatkan derajat permintaan AS disaat kondisi pasar global masih lesu.


AS berhasil memisahkan diri dari sebagian negara didunia yang masih berjibaku dengan krisis keuangan. Keberhasilan mereka dalam mengendalikan ledakan hutang membuat AS keluar dari jeratan resesi yang paling buruk sejak era Great Depression. Jumlah penghutang yang terlambat memenuhi pembayarannya mengalami penurunan hingga sebesar 1,51 persen di kuartal ketiga 2014. Angka ini jauh dibawah rata-rata dalam 15 tahun terakhir ini sebesar 2.3 persen, termasuk hutang kartu kredit dan pinjaman properti dan kendaraan bermotor. Rumah tangga AS memang mendapatkan manfaat dengan penguatan lapangan kerja saat ini, ditambah dengan jatuhnya harga minyak mentah membuat pendapatan mereka lebih baik. Dari AAA dilaporkan bahwa harga gasoline dinegeri itu mencapai harga termurahnya sejak Mei 2009 pada harga $2.13 per Galon pada 11 Januri kemarin.


Upah perjam memang masih menurun sebesar 0.2 persen dibulan lalu, menahan laju kenaikan upah di AS. Meski demikian, hanya masalah waktu saja sebelum tingkat upah melaju naik. Kenaikan upah akan berimbas pada potensi kenaikan tingkat belanja rumah tangga. Masyarakat AS dikenal sebagai masyarakat konsumtif, dengan kecenderungan membeli kendaraan baru, perlengkapan rumah tangga, pakaian dan lain-lain. Tingkat belanja mereka di bulan November 2014 mencapai 0,6 persen  atau meningkat dua kali lipat dari bulan Oktober, ungkap Departemen Perdagangan AS di Washington. Penjualan kendaraan ringan saja sepanjang tahun 2014 mampu terjual 16.5 juta, ini merupakan yang paling besar sejak 2006.


Perekonomian AS mampu menutup perjalanan akhir 2014 ini dengan manis. Penguatan yang terjadi akan berdampak terhadap industri otomotif, yang diharapkan mampu membukukan kenaikan secara beruntun dalam enam tahun ini pada 2015 dimana diperkirakan penjualan tahun ini bisa mencapai 17 juta unit.


Pada 2013, tingkat konsumsi masyarakat AS mencapai $11.5 trilyun, angka ini lebih besar daripada PDB negara lain di tahun ini, termasuk dengan Cina sendiri, ungkap IMF di Washington. Data ini tidak hanya menunjukkan perbedaan yang menyolok diantara negara, yang disebut purchasing power parity – dimana sering terkait dengan laju inflasi suatu negara pula. Tahun ini, PDB AS diperkirakan akan tumbuh 3.7 persen, naik dari tahun lalu yang mencapai 2.5 persen. AS akan memberikan kontribusi hampir 18 persen pada pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan tahun ini hanya akan tumbuh 3.6 percen. Kontribusi AS masih yang tertinggi dibandingkan negara-negara maju lainnya yang berkontribusi rata-raat sekitar 11 persen, sebagaimana laporan IMF pada 9 Januari kemarin.


Ditengah penguatan yang terjadi di AS, negara-negara berkembang BRIC — Brazil, Russia, India dan Cina mendapati masa-masa yang sulit . Dalam 15 tahun terakhir, mereka sebelumnya menjadi pusat perhatian investor dunia. Peringkat kredit Brazil untuk pertama kalinya diturunkan dalam satu dekade ini, sementara Rusia sendiri tengah menghadapi resesi. Perekonomian negeri Beruang merah tersebut rentan dengan jatuhnya harga minyak dan sanksi yang dijatuhkan Eropa. Dua negara asia, India dan Cina mendapat perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi mereka. Nampaknya peran negara-negara berkembang sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi global telah usai. Brazil dan Rusia adalah dua negara BRIC yang paling diujung tanduk saat ini, kegagalan mereka dalam menangani krisis keuangannya bisa menjadikan mereka kehilangan mahkota sebagai negara berkembang. Meski demikin, selamban-lambannya pertumbuhan ekonomi Cina, tetap saja kontribusi mereka ke perekonomian dunia masih lebih baik daripada AS dilihat dari hasil berdasarkan purchasing power parity.


AS memang selangkah didepan diantara negara-negara maju lainnya, ungkap Paul Mortimer-Lee, kapala ekonom BNP Paribas di New York. Presiden ECB Mario Draghi dan para koleganya masih dengan kebijakan pembelian kembali aset mereka untuk menghindari deflasi. Langkah ini sebelumnya manjur dilakukan oleh AS pada 2009. Sementara kebijakan anggaran AS juga dianggap lebih efektif dari kawasan Euro, tambah Mortimer-Lee.


Eropa sendiri disarankan Even Alberto Alesina, seorang profesor dari Harvard University agar melakukan pemangkasan pajak secara agresif untuk meningkatkan keuangan mereka. Sebaliknya, Jepang sendiri nampaknya memilih perekonomiannya kembali sebagaimana saat resesi dengan menaikkan pajak konsumsi hingga sebesar 8 persen dari sebelumnya yang hanya 5 persen pada 1 April 2014. (Lukman Hqeem | @hqeem | 2AC9FBE6)



AS Kembali Menjadi Mesin Ekonomi Dunia

Tuesday, January 6, 2015

Pekerja Tambang Batu Bara India Memulai Pemogokan Terbesarnya

Financeroll – Pemogokan pekerja tambang batu bara di India menutup beberapa tambang dan mengganggu pasokan. Serikat bersumpah akan melakukan pemogokan terbesar dalam empat dekade untuk menghentikan rencana Perdana Menteri Narendra Modi untuk mengakhiri monopoli negara dalam industri ini.


Serikat pekerja disebut-sebut akan melakukan pemogokan selama lima hari mulai kemarin. Ratusan anggota serikat protes di luar kantor Kolkata Coal India, mereka mengecam rencana privatisasi. Sebuah pertemuan antara para pemimpin serikat pekerja dan pemerintah kemarin berakhir dan hasilnya tampaknya tidak meyakinkan.


Dari 100 pembangkit listrik yang berjalan dengan bahan utama batubara lokal, 42 diantaranya memiliki persediaan kurang dari tujuh hari per 1 Januari lalu, demikian menurut Central Authority Listrik pelayanan listrik.


Pemerintah Modi pada bulan Oktober menandatangani sebuah perintah eksekutif yang mencakup ketentuan untuk memungkinkan pemerintah mengakhiri monopoli pemerintah pada pertambangan dan penjualan batubara. Sementara analis menganggap langkah ini penting untuk meningkatkan produksi batubara, sementara itu serikat pekerja mengatakan itu dapat menyebabkan hilangnya pekerjaan.



Pekerja Tambang Batu Bara India Memulai Pemogokan Terbesarnya

Wednesday, December 17, 2014

Serikat Pekerja Tambang Batu Bara India Siap Mogok

Financeroll – Lima serikat terkemuka, termasuk yang didukung oleh partai penguasa Bharatiya Janata Party, akan akan memulai pemogokan dari 6 Januari – 10 Januari, ucap SQ Zama, sekretaris jenderal di Federasi penambang nasional India, kemarin melalui telepon dari kota timur India Ranchi, dimana para serikat penambang bertemu.


Pemogokan akan memprotes dan menagih pada parlemen agar memungkinkan pemerintah untuk membuka kembali industri batubara atas perusahaan swasta, termasuk unit-unit lokal dari penambang asing, kata Zama. Federasi Serikat Penambang Nasional adalah unit oposisi terhadap Partai Kongres yang didukung Indian National Trade Union Congress. Penghentian pekerjaan sehari-hari akan menyebabkan kerugian produksi sekitar 1,3 juta metrik ton, senilai sekitar 2 miliar rupee ($ 31.400.000).


“Keputusan kami adalah bagian dari aksi perusahaan,” kata Zama. “Semua serikat bersatu dalam perjuangan ini.”


Serikat buruh mengajukan permintaan 10-titik di Coal Federal Anil Swarup. Tuntutan termasuk menghentikan langkah privatisasi pertambangan dan menolak peningkatan pemanfaatan tenaga pekerja secara tak normal.


Pemerintah akan melanjutkan “gerakan aktif” pada penjualan saham Coal India awal tahun depan, demikian Menteri Tenaga Piyush Goyal mengatakan kepada saluran berita CNBC TV18 dalam sebuah wawancara yang disiarkan pekan lalu. Rencananya adalah untuk meningkatkan 157,4 miliar rupee dari penjualan.


Pada minggu yang sama, tuntutan untuk membawa penambang swasta ke pertambangan batubara komersial berhasil memenangkan persetujuan majelis rendah di parlemen. Sekarang membutuhkan dukungan dari majelis tinggi, di mana BJP adalah minoritas.


Partai beraliran kiri yang didukung Pusat Serikat Buruh India tidak ikut pertemuan kemarin, tetapi kemudian mengatakan akan mendukung pemogokan lima hari tersebut.



Serikat Pekerja Tambang Batu Bara India Siap Mogok

Tuesday, December 9, 2014

India Perlu Badan Tata Kelola Perdagangan Emas

FINANCEROLL – Sebagai negara kedua terbesar didunia dalam mengkonsumsi Emas, India dibawah Cina – sudah semestinya memiliki sebuah badan yang mengatur perdagangan dan juga aturan harga emas secara nasional, demikian saran World Gold Council. Emas diperdagangkan dalam kisaran $1,205 per ons.


Badan tersebut harus mengatur masalah impor, mendorong ekspor dan meningkatkan pembangunan infrastruktur industri emas nasional. Selain itu juga memberikan acuan dalam pembentukan harga di perdagangan bursa emas yang bisa menjadi acuan nasional dengan melihat perdagangan di bursa London. Saran-saran tersebut dinyatakan oleh WGC pada Selasa (09/12) dalam sebuah laporan bersama dengan Kamar Dagang dan Industri India, Federation of Indian Chambers of Commerce and Industry.


Sebagaimana diketahui bahwa impor emas India kembali mengalami kenaikan di tahun ini seiring dengan kegagalan dari kebijakan untuk re-ekspor dan kenaikan pajak impor emas untuk menahan keinginan para investor dan pedagang perhiasan emas India. Jalan keluar untuk memuaskan permintaan emas India yang tahan seperti itu adalah mempergunakan secara tepat emas yang ada didalam negeri dan tidak melakukan pelarangan pengirimannya, ungkap Ketua Kamar Dagang  dan Industri India P.R. Somasundaram. Bagaimanapun juga, permintaan emas India terkait erat dengan budaya, tradisi, kecantikan dan perlindungan keuangan ala India, tambah Somasundaram. Sangat sulit untuk melakukan pengawasan permintaan emas apabila kita pahami bahwa semua itu didasarkan pada keinginan belaka. Dalam jangka panjang kebijakan emas India haruslah mendorong terciptanya produk-produk investasi berbasis emas dan mendorong skala kebutuhan ekonomi nasional dengan menemukan jalan bagi mobilisasi dan moneterisasi 22 ribu metrik ton emas yang ada di masyarakat India, pungkasnya.


Impor emas India mengalami lonjakan mencapai 710 ton antara 1 April hingga 15 November kemarin, dibandingkan dengan impor masa yang sama ditahun lalu yang hanya sebesar 640 ton, demikian ungkap salah seorang pejabat Kementrian Keuangan India, pada 28 November kemarin. Kenaikan yang terjadi saat ini sebagai dampak ditariknya kembali kebijakan re-ekspor India yang dikenal sebagai kebijakan 80:20 pada bulan sebelumnya.


Pemerintah India saat ini memang melakukan pengawasan pembelian emas lewat pajak Impor dan membatasi pengiriman emas secara langsung ke sejumlah bank-bank dan perusahaan-perusahaan dagang yang sudah ditunjuk oleh Bank Sentral India. Pengiriman dari luar negeri menjadi kunci penting bagi industri lokal setelah impor nasional emas semuanya itu terkonsumsi.


Alhasil, neraca perdagangan India yang mengalami defisit semakin membengkak. Dalam periode Juli – September 2014, terjadi kenaikan defisit sebesar $10.1 milyar, ini merupakan defisit terbesar sejak Juni 2013, setelah ekspor emas India juga mengalami perlambatan dan impor emas India terus meningkat, tambah Bank Sentral India.


WGC menyarankan agar badan pengawas perdagangan emas ini juga menjadi lembaga pembiayaan kredit emas sebagai jaminannya. Langkah ini dianggap bisa membantu terciptanya pusat penguji yang terkareditasi, petunjuk bagi terciptanya standarisasi dan pembangunan kebijakan untuk membantu moneterisasi investori domestik.


Pemerintah India perlu untuk mengembangkan pengolah emas terakreditasi yang sesuai dengan standar internasional, memberikan kelonggaran bagi perbankan untuk menggunakan emas sebagai bagian dari cadangan likuiditas mereka dan menilai kembali rencana cadangan emas untuk memangkas ketergantungan akan impor.


Harga emas sendiri diawal minggu ini menunjukkan pemulihan kenaikan harganya sejalan dengan terkoreksinya Dolar AS dan jatuhnya bursa saham global. Dolar terpelanting dari singgasana tertingginya dalam lima tahun terakhir ini sementara bursa saham masih terpukul dengan jatuhnya harga minyak mentah yang mendekati ke harga termurahnya sejak 2009. Banyak perusahaan yang berbasis pertambangan mengalami penurunan nilai sahamnya. Sementara data ekonomi lainnya menunjukkan impor Jerman mengalami kontraksi dibulan Oktober ini. Akibatnya Indek saham di AS dan Asia mengalami penurunan.


Dolar AS masih memegang peran penting dalam pergerakan harga emas saat ini. Disisi lain, perdagangan bursa saham juga mengekor untuk memberikan pengaruhnya terhadap fluktuasi harga emas. Setelah Dolar mengalami perjalanan panjang dan diikuti dengan bursa saham, koreksi saat ini memberikan nafas baru bagi Emas untuk menguat kembali.


Pertemuan reguler Bank Sentral AS, The Federal Reserve pada minggu depan akan menjadi sentimen kuat bagi pergerakan harga pasar. Diperkirakan akan terjadi perdebatan sengit mengenai pemilihan waktu yang tepat bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga kembali. Semakin dekat waktunya, semakin cepat pulih Dolar AS menapaki kembali jalur pendakiannya. Sebagain pelaku pasar bertaruh dengan harapan kenaikan harga emas masih bisa mencapai ke harga termahalanya dalam tiga bulan ini. (Lukman Hqeem)



India Perlu Badan Tata Kelola Perdagangan Emas

Thursday, December 4, 2014

Import Bijih Besi India Mencapai 6,8 Juta Ton

Financeroll – Impor bijih besi India naik ke rekor 6,76 juta ton pada tujuh bulan pertama tahun fiskal ketika pergeseran harga global dan terbatasnya pasokan di pemukiman penduduk mendorong produsen baja untuk membeli bahan baku dari luar negeri.


Sebelumnya India telah mengimpor selama dua tahun terakhir dikarenakan adanya pembatasan yang bertujuan untuk membatasi penambangan liar di kota Karnataka dan Goa.


Pasokan bijih besi yang dikirim melalui jalur laut akan tumbuh sekitar 330 juta ton selama tiga tahun ke depan, jauh melampaui permintaan yang akan naik dengan hanya 194 juta ton pada periode yang sama.


JSW Steel, produsen baja terbesar ketiga di India, mengimpor 4,6 juta ton bijih besi pada bulan April sampai November, diikuti oleh Tata Steel dengan hampir 1 juta ton.


 



Import Bijih Besi India Mencapai 6,8 Juta Ton

Thursday, November 27, 2014

Minyak Dunia Turun, Saham-Saham India Naik

Financeroll – Saham-saham India naik untuk hari kedua. Optimisme pasar muncul karena turunnya harga minyak ke level terendah dala empat tahun terakhir yang akan melonngarkan tekanan harga, kemudian bisa memunculkan isu pemangkasan bunga pinjaman pada pertemuan Bank Sentral India besok.m


Bharat Heavy Electricals Ltd (BHEL), perusahaan pembuat peralatan berat, rally ke posisi tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Hindustan Unilever Ltd (HUVr), perusahaan terbesar yang memproduksi kebutuhan rumah-produk , dan Infosys Ltd (INFO), eksportir terbesar kedua software, naik ke level tertingginya. Indian Oil Corp, perusahaan penyuling minyak milik negara, juga berada diantara perusahaan sejenis yang membukukan kenaikan signifikan.


The S & P BSE Sensex (Sensex) naik 0,2 persen menjadi 28,438.91 di sesi penutupan. Ini adalah kenaikan minggu keenam sejak turunnya harga minyak dunia dan sangat membantu RBI untuk menekan tingkat inflasi konsumen di bawah angka yang ditetapkan, yakni 6 persen. Credit Agricole CIB dan Capital Economics Ltd memprediksi RBI akan menurunkan tingkat suku bunga utama pada saat review kebijakan 2 Desember mendatang.


“Penurunan minyak dapat mengurangi tekanan inflasi dan dapat meyakinkan RBI untuk menetapkan suku bunga lebih rendah,” kata Jitendra Panda via telephone, CEO di Peerless Securities Ltd.



Minyak Dunia Turun, Saham-Saham India Naik

Sunday, November 23, 2014

Serikat Buruh India Membatalkan Pemogokan

Financeroll – Semua serikat buruh di India menentang langkah pemerintah untuk melakukan e-lelang blok batubara.


Serikat buruh yang terdiri dari INTUC, CITU, HMS, BMS dan semua Federasi Pekerja Coal India (AICWF) melakukan pembatalan pemogokan kerja yang sudah direncanakan untuk tanggal 24 November. Mereka menentang langkah pemerintah tersebut melalui undang-undang yang berlaku. Serikat setuju untuk membatalkan agitasi setelah pembicaraan-pembicaraan dengan para pejabat kementerian batubara yang berlangsung pada hari Sabtu di ibu kota negara.


Lima serikat pekerja telah mengancam akan mogok bekerja pada hari Senin dan penenentangan langkah tersebut diprakarsai oleh pusat. Pemerintah NDA, Coal India Ltd. (CIL) merencanakan akan menerapkan sistem penambangan komersial batubara. Keputusan Pemerintah NDA itu bermaksud untuk membatalkan pemogokan mereka karena hal tersebut dipandang sebagai kemenangan bagi langkah-langkah pemerintah dalam kalangan resmi. Dengan kurangnya persatuan dalam serikat pekerja, pemerintah yakin dapat membujuk mereka untuk membatalkan hari panjang pemogokan mereka.



Serikat Buruh India Membatalkan Pemogokan

Thursday, November 6, 2014

Bank Sentral India Mungkin Pangkas Suku Bunga Di Februari

Financeroll – Bank Sentral India kemungkinan dalam memotong suku bunga bisa lebih dovis dalam pernyataannya. seperti yang dikatakan Bank Amerika Merrill Lynch dalam catatannya.


Mereka mengharapkan pertumbuhan pada bulan September jatuh sekitar 5% dari 5,7% dan impor inflasi menurun dengan menstabilkan harga minyak. Bank Sentral India diharapkan mencapai target inflasi 8% untuk Januari 2015 dan 6% untuk Januari 2016.


Hal tersebut bisa memicu dari naiknya harga emas ke level 1141.35


 



Bank Sentral India Mungkin Pangkas Suku Bunga Di Februari

Thursday, October 23, 2014

Divali, Harga Emas Membumbung Lagi

FINANCEROLL – Hari Kamis (23/10) adalah awal perayaan Divali di India. Beberapa hari menjelang perayaan ini, rakyat India telah memborong emas kembali. Tak pelak, harga emas kembali naik saat ini.


Rakyat India umumnya telah berbelanja emas jauh-jauh hari sebelum perayaan ini dimulai. Hal ini untuk menghindari kepadatan saat membeli dan kenaikan harga perhiasan emas dipedagang. Saat harga emas mengalami penurunan kemarin, berbondong-bondong orang India memadati toko-toko perhiasan emas.


Meski harga emas saat ini mulai menanjak kembali, namun tidak menyurutkan sebagian rakyat India untuk tetap membeli emas. Harga emas di India saat ini lebih murah 7.4 persen dibandingkan harga setahun lalu. Harga emas memang mulai beranjak naik di India seiring laju pembelian yang marak saat perayaan Divali dan menjelang Moonson.


India merupakan konsumen emas besar dunia, nomer dua setelah mahkota konsumen pertama direbut oleh Cina pada 2013 kemarin. Pihak Serikat Pedagang Perhiasan Emas dan Batu Mulia India menyatakan bahwa dikuartal empat ini terjadi lonjakan impor emas sebesar 75%. Pihak Barclays Plc mengamini kenaikan impor ini sebagai pendukung naiknya harga emas saat ini.


Minat beli masyarakat India atas perhiasan Emas diperkirakan masih akan meningkat, bahkan akan menembus angka tahun lalu. Tradisi yang mengakr dan berlangsung selama berabad-abad ini menjadi sokongan yang kuat bagi naiknya harga emas. Emas dalam budaya India menjadi symbol kemakmuran dan sebagai alat investasi, emas juga sebagai bagian budaya yang dipergunakan dalam kegiatan peradatan dan ibadah.


Lukman - Gold Jewellry Shop at India - BloombergPemerintah India memang sempat melakukan pembatasan impor emas untuk menstabilkan neraca keuangan mereka. Hal ini membuat impor emas menurun hingga 34 % dan membuat Rupee melemah hingga semester awal 2014. Setelah pembatasan ini mulai dikendurkan, pembelian emas kembali naik dan kondisi hari ini sudah berangsur pulih sebagaimana di tahun 2012. Penjualan ritel emas mulai dari cincin dan kalung mengalami peningkatan hingga 30 persen ke 40 persen selama Dhanteras, awal perayaan dimana pembelian emas marak terjadi seperti hari ini.


Perayaan Divali mulai 23 Oktober dirayakan oleh tak kurang 800 juta umat Hindu di India, tentu angka yang sangat fantastis sebagai pembeli potensial emas. CPM Group memperkirakan bahwa konsumsi emas di musim liburan ini bisa mencapai seperlima dari konsumsi tahunan India, paling besar daripada masa-masa lain sepanjang tahun di Negara yang kental sekali dengan budaya mengkonsumsi emas ini. Sekitar 20,000 metrik ton Emas tersimpan di rumah-rumah dan kuil-kuil di India, masyarakat India memiliki kebiasaan menempatkan emas batangan dalam ornament-ornamen harta keluarga.


Perdagangan perhiasan Emas di India juga merepresentasikan 25 persen konsumsi emas batangan dunia pada tahun lalu. Diperkirakan dengan jatuhnya harga emas saat ini membuat konsumsi perhiasan emas akan meningkat pesat. Harga perhiasan emas India, hanya terpaut $17 per ons dengan harga emas premium London, angka ini jauh menurun dari harga setahun sebelumnya yang bisa terpaut hingga $120 per ons. Kondisi ini tentu sangat menarik konsumen untuk memborong perhiasan emas kembali.


Jatuhnya harga emas beberapa waktu lalu dianggap tepat atau berkah, ungkap Bachhraj Bamalwa, Direktur Serikat Pedagang Perhiasan Emas dan Batu Mulia India, yang menaungi lebih dari 300,000 pedagang ritel dan agen emas. Hingga akhir tahun, diperkirakan terjadi kenaikan permintaan emas antara 15 persen hingga 20 persen dimana nilai impor emas India diyakini bisa mencapai 175 ton hingga 200 ton, padahal tahun lalu hanya 114 ton, tandas Bamalwa pada pertengahan Oktober lalu sebagaimana dilansir Bloomberg.


Harga emas di pasar London sempat ke $1,183.24 per ons pada 6 Oktober kemarin. Ini merupakan harga termurah di tahun ini. Dalam dua tahun terakhir, harga emas jatuh 28 persen setelah The Federal Reserve isyaratkan untuk mengakhiri kebijakan stimulus setelah perekonomian AS menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang berarti. Inflasi masih menjadi barometer sejauh mana kebijakan ini akan diubah. Meski dengan harga emas yang murah ini telah meningkatkan permintaan emas fisik di Cina, namun para investor masih belum bergeming. Kontrak ETP Emas telah menurun 12 persen di tahun lalu,  dengan penurunan nilai sebesar $13 milyar.


Sinyalemen kenaikan permintaan di India mulai terlihat sejak September kemarin. Sebagai persiapan perayaan Divali, impor emas batangan mengalami kenaikan senilai $3.75 milyar, melonjak 450 persen dari tahun sebelumnya, ungkap Departemen Perdagangan. Kiriman perhiasan emas melonjak pula untuk memenuhi permintaan perhiasan emas yang meningkat. Harga emas batangan masih diperdagangkan pada kisaran $1,250, dimana harga emas berjangka di bursa MCE India adalah 27,551 Rupee per 10 gram (setara $1,397 per ons).


 


Masyarakat India membeli emas dalam perayaan ini dan bagi calon pengantin, emas tersebut akan menjadi mas kawin dalam bentuk perhiasan. Tahun ini diperkirakan permintaan emas India akan sebesar 850 hingga 950 ton



Divali, Harga Emas Membumbung Lagi