Showing posts with label Cina. Show all posts
Showing posts with label Cina. Show all posts

Wednesday, January 14, 2015

AS Kembali Menjadi Mesin Ekonomi Dunia

FINANCEROLL – Amerika Serikat kembali mengambil alih pimpinan ekonomo global setelah 15 tahun lamanya singgasana itu diduduki Cina dan Negara-negara berkembang.


Tahun 2015 ini diperkirakan AS akan menikmati pertumbuhan ekonomi sebesar 3.2 persen. Ini akan menjadi sebuah catatan penting sebagai kinerja terbaiknya sejak 2005. Membaiknya lapangan kerja AS mempercepat pertumbuhan angka konsumsi nasional.


Berbagai analisa yang diberikan oleh JPMorgan Chase & Co., Deutsche Bank AG dan BNP Paribas SA. menyebutkan bahwa hasil dari membaiknya kondisi tersebut akan membuat AS tidak lagi ketinggalan dengan pertumbuhan ekonomi global, sesuatu yang sebelumnya belum terlihat sejak 1999, berdasarkan data dari International Monetary Fund. Alhasil ini mengembalikan mahkota sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi global. Kondisi AS saat ini adalah yang terbaik sejak 1990an.


Data terkini menunjukkan AS bangkit kembali, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Jumat (09/01) bahwa jumlah pembayaran upah (payrolls) mengalami peningkatan sebesar 252 ribu selama bulan Desember 2014. Kenaikan ini sesuai dengan tingkat pengangguran AS yang mengalami penurunan ke 5.6 persen, pencapaian ini merupakan yang terbaik dengan angka pengangguran terendah sejak Juni 2008. Pertumbuhan lapangan kerja ini merupakan hasil dari kenaikan lapangan kerja di sektor-sektor pabrikan, layanan kesehatan, dan jasa. Sekitar 3 juta lebih rakyat AS menemukan pekerjaan di 2014, angka ini merupakan yang paling besar sepanjang 15 tahun terakhir ini. Dengan membaiknya lapangan kerja ini, optimis akan meningkatkan derajat permintaan AS disaat kondisi pasar global masih lesu.


AS berhasil memisahkan diri dari sebagian negara didunia yang masih berjibaku dengan krisis keuangan. Keberhasilan mereka dalam mengendalikan ledakan hutang membuat AS keluar dari jeratan resesi yang paling buruk sejak era Great Depression. Jumlah penghutang yang terlambat memenuhi pembayarannya mengalami penurunan hingga sebesar 1,51 persen di kuartal ketiga 2014. Angka ini jauh dibawah rata-rata dalam 15 tahun terakhir ini sebesar 2.3 persen, termasuk hutang kartu kredit dan pinjaman properti dan kendaraan bermotor. Rumah tangga AS memang mendapatkan manfaat dengan penguatan lapangan kerja saat ini, ditambah dengan jatuhnya harga minyak mentah membuat pendapatan mereka lebih baik. Dari AAA dilaporkan bahwa harga gasoline dinegeri itu mencapai harga termurahnya sejak Mei 2009 pada harga $2.13 per Galon pada 11 Januri kemarin.


Upah perjam memang masih menurun sebesar 0.2 persen dibulan lalu, menahan laju kenaikan upah di AS. Meski demikian, hanya masalah waktu saja sebelum tingkat upah melaju naik. Kenaikan upah akan berimbas pada potensi kenaikan tingkat belanja rumah tangga. Masyarakat AS dikenal sebagai masyarakat konsumtif, dengan kecenderungan membeli kendaraan baru, perlengkapan rumah tangga, pakaian dan lain-lain. Tingkat belanja mereka di bulan November 2014 mencapai 0,6 persen  atau meningkat dua kali lipat dari bulan Oktober, ungkap Departemen Perdagangan AS di Washington. Penjualan kendaraan ringan saja sepanjang tahun 2014 mampu terjual 16.5 juta, ini merupakan yang paling besar sejak 2006.


Perekonomian AS mampu menutup perjalanan akhir 2014 ini dengan manis. Penguatan yang terjadi akan berdampak terhadap industri otomotif, yang diharapkan mampu membukukan kenaikan secara beruntun dalam enam tahun ini pada 2015 dimana diperkirakan penjualan tahun ini bisa mencapai 17 juta unit.


Pada 2013, tingkat konsumsi masyarakat AS mencapai $11.5 trilyun, angka ini lebih besar daripada PDB negara lain di tahun ini, termasuk dengan Cina sendiri, ungkap IMF di Washington. Data ini tidak hanya menunjukkan perbedaan yang menyolok diantara negara, yang disebut purchasing power parity – dimana sering terkait dengan laju inflasi suatu negara pula. Tahun ini, PDB AS diperkirakan akan tumbuh 3.7 persen, naik dari tahun lalu yang mencapai 2.5 persen. AS akan memberikan kontribusi hampir 18 persen pada pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan tahun ini hanya akan tumbuh 3.6 percen. Kontribusi AS masih yang tertinggi dibandingkan negara-negara maju lainnya yang berkontribusi rata-raat sekitar 11 persen, sebagaimana laporan IMF pada 9 Januari kemarin.


Ditengah penguatan yang terjadi di AS, negara-negara berkembang BRIC — Brazil, RussiaIndia dan Cina mendapati masa-masa yang sulit . Dalam 15 tahun terakhir, mereka sebelumnya menjadi pusat perhatian investor dunia. Peringkat kredit Brazil untuk pertama kalinya diturunkan dalam satu dekade ini, sementara Rusia sendiri tengah menghadapi resesi. Perekonomian negeri Beruang merah tersebut rentan dengan jatuhnya harga minyak dan sanksi yang dijatuhkan Eropa. Dua negara asia, India dan Cina mendapat perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi mereka. Nampaknya peran negara-negara berkembang sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi global telah usai. Brazil dan Rusia adalah dua negara BRIC yang paling diujung tanduk saat ini, kegagalan mereka dalam menangani krisis keuangannya bisa menjadikan mereka kehilangan mahkota sebagai negara berkembang. Meski demikin, selamban-lambannya pertumbuhan ekonomi Cina, tetap saja kontribusi mereka ke perekonomian dunia masih lebih baik daripada AS dilihat dari hasil berdasarkan purchasing power parity.


AS memang selangkah didepan diantara negara-negara maju lainnya, ungkap Paul Mortimer-Lee, kapala ekonom BNP Paribas di New York. Presiden ECB Mario Draghi dan para koleganya masih dengan kebijakan pembelian kembali aset mereka untuk menghindari deflasi. Langkah ini sebelumnya manjur dilakukan oleh AS pada 2009. Sementara kebijakan anggaran AS juga dianggap lebih efektif dari kawasan Euro, tambah Mortimer-Lee.


Eropa sendiri disarankan Even Alberto Alesina, seorang profesor dari Harvard University agar melakukan pemangkasan pajak secara agresif untuk meningkatkan keuangan mereka. Sebaliknya, Jepang sendiri nampaknya memilih perekonomiannya kembali sebagaimana saat resesi dengan menaikkan pajak konsumsi hingga sebesar 8 persen dari sebelumnya yang hanya 5 persen pada 1 April 2014. (Lukman Hqeem | @hqeem | 2AC9FBE6)



AS Kembali Menjadi Mesin Ekonomi Dunia

Sunday, November 30, 2014

Manufaktur Tiongkok Rendah

Financeroll – Pertumbuhan manufaktur Cina tergelincir rendah delapan bulan di bulan November, seperti pada survei resmi yang dirlis hari ini Senin (1/12).


Menurut laporan Biro Statistik Nasional Tiongkok, indeks manajer pembelian (PMI) tercatat 50.3 di bulan November, lebih rendah daripada bulan sebelumnya 50. 8, dan yang paling lemah sejak pada bulan Maret.


Indeks yang lebih memfokuskan pada perusahaan-perusahaan yang lebih besar, BUMN dianggap kunci indikator kesehatan ekonomi Tiongkok sebagai pendorong utama dari pertumbuhan global.



Manufaktur Tiongkok Rendah

Sunday, November 23, 2014

Mata Uang Yuan di Cina Melemah

Financeroll – Kejutan penurunan suku bunga di Cina merupakan jalan lain untuk melunakkan nilai tukar mata uang negara.


Bank Rakyat China (PBOC) menurunkan suku bunga pinjaman acuan satu tahun pada hari Jumat. Ini hasil yang tinggi, bersama dengan prospek apresiasi forex yang mendorong spekulatif “hot money” mengalir ke Cina, dan menjaga tekanan pada nilai tukar. Suku bunga pada hari Jumat tersebut mengurangi daya tarik dari yuan dan membuatnya lebih berisiko untuk menahan laju.


Yuan turun tajam pada awal 2014 dan kehilangan lebih dari 3 persen dalam dua bulan. Fenomena ini jelas terlihat sebagai serangan terhadap spekulan mata uang oleh Beijing. Nilai mata uang tersebut tetap turun 1,17 persen untuk tahun ini meskipun terus meningkat sejak Bulan Mei lalu.


China memiliki agenda yang lebih luas, yang melibatkan reformasi ekonomi dan sistem “rebalancing”, yang membedakannya dari negara-negara lain yang terlibat dalam ketegangan mata uang global. Reformasi struktural dapat disertai dengan pertumbuhan yang lebih rendah, inflasi, suku bunga secara bertahap lebih rendah, dan tabungan serta investasi yang lebih kecil. Semua ini benar-benar menunjukkan ruang yang kecil untuk penguatan mata uang lebih lanjut.



Mata Uang Yuan di Cina Melemah

Won Korea Meningkat

Financeroll – Won Korea meningkat ketika Cina memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam dua tahun.


Indeks Kospi naik 0,9 persen hari ini setelah Bank Rakyat China menurunkan suku bunga deposito satu tahun dan suku bunga pinjaman satu tahun pada tanggal 21 November 2014. Won menguat 0,4 persen menjadi 1,109.70 per dolar di Seoul, Korea. Besar kenaikan ini adalah 0,2 persen terhadap mata uang yen Jepang di level 9,434.


Tindakan PBOC adalah mendukung untuk penguatan won demi meningkatkan perekonomian Cina, yang mana memiliki transaksi perdagangan terbanyak dengan Korea Selatan. Harga Korea Exchange menunjukkan imbal hasil 10 tahun turun satu basis untuk 2,72 persen. Suku bunga acuan Cina, Korea Selatan dan imbal hasil obligasi telah menunjukkan gerakan serupa, dan mobilisasi PBOC mungkin memberikan tekanan lebih lanjut pada Bank of Korea untuk memudahkan kebijakan moneter.



Won Korea Meningkat

Sunday, November 2, 2014

PMI Tiongkok Turun Rendah

Financeroll – Pertumbuhan pada sektor jasa Tiongkok turun sembilan bulan di bulan Oktober, seperti yang ditunjukkan dari data resmi hari ini, Senin (3/11).


Dilaporkan dari CFLP, biro statistik nasional, indeks non manufaktur PMI Tiongkok turun ke 53.8 di bulan Oktober, setelah sebelumnya 54.0.


Selain itu dari data manufaktur Tiongkok HSBC, indeks PMI bergerak meingkat menjadi 50.4 dari 50.2. Kepala biro Statistik Nasional mengatakan perusahaan kecil masih menghadapi kesulitan di tengah perluasan yang melambat, selain itu ada kebutuhan untuk melangkah kepada target sasaran yang berada di depan.



PMI Tiongkok Turun Rendah

Thursday, October 23, 2014

Divali, Harga Emas Membumbung Lagi

FINANCEROLL – Hari Kamis (23/10) adalah awal perayaan Divali di India. Beberapa hari menjelang perayaan ini, rakyat India telah memborong emas kembali. Tak pelak, harga emas kembali naik saat ini.


Rakyat India umumnya telah berbelanja emas jauh-jauh hari sebelum perayaan ini dimulai. Hal ini untuk menghindari kepadatan saat membeli dan kenaikan harga perhiasan emas dipedagang. Saat harga emas mengalami penurunan kemarin, berbondong-bondong orang India memadati toko-toko perhiasan emas.


Meski harga emas saat ini mulai menanjak kembali, namun tidak menyurutkan sebagian rakyat India untuk tetap membeli emas. Harga emas di India saat ini lebih murah 7.4 persen dibandingkan harga setahun lalu. Harga emas memang mulai beranjak naik di India seiring laju pembelian yang marak saat perayaan Divali dan menjelang Moonson.


India merupakan konsumen emas besar dunia, nomer dua setelah mahkota konsumen pertama direbut oleh Cina pada 2013 kemarin. Pihak Serikat Pedagang Perhiasan Emas dan Batu Mulia India menyatakan bahwa dikuartal empat ini terjadi lonjakan impor emas sebesar 75%. Pihak Barclays Plc mengamini kenaikan impor ini sebagai pendukung naiknya harga emas saat ini.


Minat beli masyarakat India atas perhiasan Emas diperkirakan masih akan meningkat, bahkan akan menembus angka tahun lalu. Tradisi yang mengakr dan berlangsung selama berabad-abad ini menjadi sokongan yang kuat bagi naiknya harga emas. Emas dalam budaya India menjadi symbol kemakmuran dan sebagai alat investasi, emas juga sebagai bagian budaya yang dipergunakan dalam kegiatan peradatan dan ibadah.


Lukman - Gold Jewellry Shop at India - BloombergPemerintah India memang sempat melakukan pembatasan impor emas untuk menstabilkan neraca keuangan mereka. Hal ini membuat impor emas menurun hingga 34 % dan membuat Rupee melemah hingga semester awal 2014. Setelah pembatasan ini mulai dikendurkan, pembelian emas kembali naik dan kondisi hari ini sudah berangsur pulih sebagaimana di tahun 2012. Penjualan ritel emas mulai dari cincin dan kalung mengalami peningkatan hingga 30 persen ke 40 persen selama Dhanteras, awal perayaan dimana pembelian emas marak terjadi seperti hari ini.


Perayaan Divali mulai 23 Oktober dirayakan oleh tak kurang 800 juta umat Hindu di India, tentu angka yang sangat fantastis sebagai pembeli potensial emas. CPM Group memperkirakan bahwa konsumsi emas di musim liburan ini bisa mencapai seperlima dari konsumsi tahunan India, paling besar daripada masa-masa lain sepanjang tahun di Negara yang kental sekali dengan budaya mengkonsumsi emas ini. Sekitar 20,000 metrik ton Emas tersimpan di rumah-rumah dan kuil-kuil di India, masyarakat India memiliki kebiasaan menempatkan emas batangan dalam ornament-ornamen harta keluarga.


Perdagangan perhiasan Emas di India juga merepresentasikan 25 persen konsumsi emas batangan dunia pada tahun lalu. Diperkirakan dengan jatuhnya harga emas saat ini membuat konsumsi perhiasan emas akan meningkat pesat. Harga perhiasan emas India, hanya terpaut $17 per ons dengan harga emas premium London, angka ini jauh menurun dari harga setahun sebelumnya yang bisa terpaut hingga $120 per ons. Kondisi ini tentu sangat menarik konsumen untuk memborong perhiasan emas kembali.


Jatuhnya harga emas beberapa waktu lalu dianggap tepat atau berkah, ungkap Bachhraj Bamalwa, Direktur Serikat Pedagang Perhiasan Emas dan Batu Mulia India, yang menaungi lebih dari 300,000 pedagang ritel dan agen emas. Hingga akhir tahun, diperkirakan terjadi kenaikan permintaan emas antara 15 persen hingga 20 persen dimana nilai impor emas India diyakini bisa mencapai 175 ton hingga 200 ton, padahal tahun lalu hanya 114 ton, tandas Bamalwa pada pertengahan Oktober lalu sebagaimana dilansir Bloomberg.


Harga emas di pasar London sempat ke $1,183.24 per ons pada 6 Oktober kemarin. Ini merupakan harga termurah di tahun ini. Dalam dua tahun terakhir, harga emas jatuh 28 persen setelah The Federal Reserve isyaratkan untuk mengakhiri kebijakan stimulus setelah perekonomian AS menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang berarti. Inflasi masih menjadi barometer sejauh mana kebijakan ini akan diubah. Meski dengan harga emas yang murah ini telah meningkatkan permintaan emas fisik di Cina, namun para investor masih belum bergeming. Kontrak ETP Emas telah menurun 12 persen di tahun lalu,  dengan penurunan nilai sebesar $13 milyar.


Sinyalemen kenaikan permintaan di India mulai terlihat sejak September kemarin. Sebagai persiapan perayaan Divali, impor emas batangan mengalami kenaikan senilai $3.75 milyar, melonjak 450 persen dari tahun sebelumnya, ungkap Departemen Perdagangan. Kiriman perhiasan emas melonjak pula untuk memenuhi permintaan perhiasan emas yang meningkat. Harga emas batangan masih diperdagangkan pada kisaran $1,250, dimana harga emas berjangka di bursa MCE India adalah 27,551 Rupee per 10 gram (setara $1,397 per ons).


 


Masyarakat India membeli emas dalam perayaan ini dan bagi calon pengantin, emas tersebut akan menjadi mas kawin dalam bentuk perhiasan. Tahun ini diperkirakan permintaan emas India akan sebesar 850 hingga 950 ton



Divali, Harga Emas Membumbung Lagi