Showing posts with label volatile food. Show all posts
Showing posts with label volatile food. Show all posts

Tuesday, December 30, 2014

Inflasi Tahun Ini Diperkirakan Melampaui 8%

Financeroll – Inflasi tahun ini diperkirakan melampaui 8%, melebihi proyeksi pemerintah yang memperkirakan 7,3%-7,5% sejalan dengan kenaikan harga BBM subsidi.


Survei yang dilakukan Bank Indonesia hingga pekan ketiga Desember menunjukkan inflasi bulan itu bakal mencapai 2,1%-2,2%. Dengan demikian, inflasi tahunan (year on year) Desember bakal berkisar 8,1%-8,2% setelah melaju 6,23% bulan sebelumnya, atau berada pada batas atas proyeksi bank sentral 7,7%-8,1%.


Diperkirakan dampaknya besar di Desember karena (selain dampak kenaikan harga BBM), juga ada Natal dan Tahun Baru. Jadi, dengan melihat dampak itu lebih di administered price dan volatile food, dan ini yang perlu dikoordinasikan agar dapat tetap terkendali.


Gubernur BI Agus Martowardojo seusai rapat koordinasi membahas inflasi di kantor Kemenko Perekonomian mengatakan, Khusus dampak kenaikan harga BBM, andilnya berkisar 0,6%, sedangkan selebihnya berkaitan dengan harga pangan bergejolak.


Sementara itu, Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengaku telah memerintahkan Kementerian Perdagangan berkoordinasi dengan Bulog untuk menggelar operasi pasar khusus (OPK) beras untuk meredam kenaikan harga pangan pokok itu belakangan ini. Operasi pasar akan memanfaatkan stok beras Bulog yang saat ini 1,7 juta ton. Langkah itu terutama difokuskan pada daerah-daerah yang dilanda banjir.


Kenaikan harga itu telah menambah beban masyarakat yang menjadi korban banjir.


Beberapa daerah yang mengalami banjir antara lain Kabupaten Bandung Barat, beberapa wilayah di DKI Jakarta, dan Aceh Utara.


Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga beras medium mulai bergerak ke kisaran Rp9.000 per kg pertengahan November. Awal Desember, harga komoditas itu masih berkisar Rp9.200 per kg, tetapi kemudian mencapai hampir Rp9.400 mendekati akhir bulan.


Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menegaskan tak ada rencana impor beras meskipun harga beras menanjak. Alasannya, stok beras Bulog masih cukup untuk enam bulan ke depan.


Kalau kondisi sulit, baru impor.



Inflasi Tahun Ini Diperkirakan Melampaui 8%

Sunday, November 30, 2014

Inflasi Desember Bisa Diatas 2%

Financeroll – Bank Indonesia memprediksikan inflasi Desember 2014 akan mencatatkan laju inflasi bulanan sepanjang tahun ini.


Gubernur Bank Indonesia Agus D. W. Martowardojo mengatakan inflasi tertinggi di Desember, bisa di atas 2%, sehingga volatile food harus dijaga.


Laju inflasi bulanan hingga minggu ketiga November 2014 bisa mencapai 1,3%-1,4%. Menurutnya, hingga minggu ketiga November tahun ini, inflasi inti masih terjaga walaupun akan terjadi kenaikan yang bulananan di penghujung tahun.


Baru-baru ini, pemerintah melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) masing-masing Rp2.000 untuk premium dan solar. BI memprediksikan kebijakan tersebut diprediksikan mendongkrak laju inflasi tahunan di kisaran 7,7%-8,1%.


Namun, BI akan berusaha mengendalikan inflasi pada posisi batas bawah yakni 7,7% hingga akhir tahun. Padahal sebelumnya, BI optimis memproyeksikan laju inflasi tahun ini di 4,5% plus minus 1%. Sayangnya, proyeksi tersebut masih jauh dari ekspektasi bank sentral.


Pasca penyesuaian harga BBM, BI langsung merespon dengan bauran kebijakan penaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,75%, dengan suku bunga lending facility naik 50 bps menjadi 8% dan deposit facility tetap pada level 5,75% berlaku efektif sehari setelah pemerintah melakukan reformasi subsidi BBM.


Penaikan BI Rate tersebut konsisten menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi cenderung ketat. Kenaikan BI Rate ditempuh untuk menjangkar ekspektasi inflasi dan memastikan pengelolaan defisit transaksi berjalan ke arah yang lebih sehat.



Inflasi Desember Bisa Diatas 2%