Showing posts with label Obligasi. Show all posts
Showing posts with label Obligasi. Show all posts

Tuesday, January 20, 2015

PT Adhi Karya Gunakan Seluruh Dana Obligasi Senilari Rp623,62 Miliar

Financeroll – PT Adhi Karya Tbk. (ADHI) telah menggunakan seluruh dana obligasi berkelanjutan I Adhi tahap II Tahun 2013.


Berdasarkan data yang dipublikasikan dalam keterbukaan informasi, hingga akhir tahun lalu BUMN konstruksi itu telah menghabiskan senilai Rp623,62 miliar untuk pengembangan usaha dan investasi perseroan.


Seperti diketahui, pada 27 Juni 2012 perseroan menerbitkan obligasi berkelanjutan senilai Rp625 miliar yang terbagi atas dua seri. Seri A senilai Rp125 miliar dan seri B senilai Rp500 miliar.


Setelah dipotong oleh biaya penawaran umum senilai Rp1,38 miliar maka hasil bersih yang diperoleh perseroan adalah Rp623,62 miliar.



PT Adhi Karya Gunakan Seluruh Dana Obligasi Senilari Rp623,62 Miliar

Thursday, January 15, 2015

PT Siantar Top Raih Peringkat idA Untuk Obligasi Berkelanjutan I

Financeroll – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan kembali peringkat idA untuk obligasi berkelanjutan I PT Siantar Top Tbk. (STTP) senilai maksimum Rp1 triliun.


Ronald T. Andi Kasim, Direktur Utama Pefindo, mengatakan obligasi Siantar Top memiliki tenor 2 tahun sejak efektif pernyataan pendaftaran pada 28 Maret 2014 hingga 28 Maret 2016.


Peringkat tersebut diberikan berdasarkan data dan informasi dari perusahaan serta laporan keuangan tidak diaudit per 30 September 2014.


Selain itu, peringkat juga diberikan berdasarkan laporan keuangan audit per 31 Desember 2013. Peringkat tersebut berlaku untuk periode 12 Januari 2015 hingga 1 Januari 2016.


Efek utang jangka panjang dengan peringkat idA mengindikasikan kemampuan obligor untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang atas utang tersebut.


Bila dibandingka dengan obligor lainnya di Indonesia, kemampuan STTP terbilang kuat. Namun, kemampuan obligor mungkin akan terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi dibandingkan dengan efek utang yang peringkatnya lebih tinggi.



PT Siantar Top Raih Peringkat idA Untuk Obligasi Berkelanjutan I

Saturday, January 10, 2015

Kebutuhan Belanja Modal PT Telekomunikasi Indonesia Capai Rp23 Triliun

Financeroll – Kebutuhan belanja modal PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. yang mencapai Rp23 triliun membuat perseroan berencana untuk menerbitkan obligasi pada tahun ini.


Direktur Utama Telkom Alex Janangkih Sinaga menuturkan perseroan akan menerbitkan obligasi pada tahun ini untuk kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex). Telkom menganggarkan belanja modal tahun ini sebesar Rp23 triliun.


Dari total belanja modal tersebut, separuh kebutuhan akan dipenuhi dari pendanaan eksternal yakni Rp11,5 triliun. Pendanaan eksternal yang akan diincar perseroan berasal dari obligasi dan pinjaman perbankan.


Banyak pilihan, belum ditentukan. Bisa tahun ini obligasi, yang jelas akan masuk ke pasar, tapi belum bisa diumumkan size-nya.


Kebutuhan belanja modal tahun ini, mayoritas untuk kebutuhan anak usaha yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Kebutuhan dana bagi Telkomsel mencapai sekitar Rp10 triliun untuk membangun 12.000 BTS baru.


Target tahun ini, jumlah pelanggan Telkomsel akan meningkat 3% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 140,3 juta pengguna pada Desember 2014.


Sebelumnya, emiten berkode saham TLKM itu akan akan mencari pinjaman dana berdenominasi dolar Amerika Serikat dan rupiah. Mayoritas akan diambil dari pinjaman perbankan dalam negeri.


Sesuai ketentuan menteri badan usaha milik negara (BUMN), Telkom akan menerbitkan surat utang global maksimum 20% dari total kebutuhan pinjaman. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir risiko valas dan fluktuasi nilai tukar rupiah.


Ruang pinjaman TLKM masih cukup besar bila dibandingkan dengan rasio utang terhadap pendanaan (debt to equity ratio/DER) industri telekomunikasi di Tanah Air. DER Telkom baru mencapai 35% dibandingkan rata-rata industri di atas 60%.



Kebutuhan Belanja Modal PT Telekomunikasi Indonesia Capai Rp23 Triliun

Monday, January 5, 2015

Kementerian Keuangan Terbitkan SUN yang Akan Dilelang Pekan Depan

Financeroll – Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI) mengemukakan, Kementerian Keuangan telah melakukan penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dengan cara private placement dengan total Rp3 triliun.


Analis WKSI mengemukakan SUN yang diterbitkan merupakan jenis obligasi negara seri FR0053 dan seri FR0061.


Masing-masing memliki kupon 8,25% dan 7,00%, serta memiliki yield 8,00% dan 8,02%.


Pekan depan, tanpa menunggu waktu lagi, Pemerintah akan kembali melakukan lelang dengan jumlah indikatif yang dilelang sebesar Rp12 triliun untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2015.


Seri-seri yang akan dilelang sebagai berikut:


  • Seri SPN03150407 (new issuance) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada tanggal 7 April 2015

  • Seri SPN12160107 (new issuance) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada tanggal 7 Januari 2016;

  • Seri FR0070 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 8,375% dan jatuh tempo pada tanggal 15 Maret 2024

  • Seri FR0068 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 8,375% dan jatuh tempo pada tanggal 15 Maret 2034


Kementerian Keuangan Terbitkan SUN yang Akan Dilelang Pekan Depan

Sunday, January 4, 2015

Hampir Seluruh Tenor Pasar Obligasi Alami Penurunan Yield

Financeroll – Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI) mengemukakan pergerakan yield obligasi secara mingguan kembali berbalik turun hampir pada seluruh tenor.


Analis WKSI dalam risetnya, menggemukakan penurrun yield terjadi pada obligasi:


Tenor pendek (1-4 tahun)

Mengalami penurunan rata-data yield 7,06 bps


Tenor menengah (5-7 tahun).

Mengalami penurunan yield sekitar 15,63 bps


Tenor panjang (8-30 tahun)

Mengalami penurunan yield sekitar 20,57%.


Obligasi pemerintah seri benchmark FR0069 yang memiliki jatuh tempo ±5 tahun

Melanjutkan penguatan 57,9 bps.


FR0070 yang memiliki jatuh tempo ±10 tahun

Mengalami kenaikan harga 68,94 bps.



Hampir Seluruh Tenor Pasar Obligasi Alami Penurunan Yield

Saturday, January 3, 2015

Kemenkeu Terbitkan Surat Utang Negara Melalui Private Placemten Rp3 Triliun

Financeroll – Kementerian Keuangan telah menerbitkan surat utang negara melalui private placement senilai total Rp3 triliun.


Surat utang negara (SUN) yang diterbitkan merupakan seri FR0053 dan FR0061 dengan status dapat diperdagangkan (tradable). FR0053 yang jatuh tempo 15 Juli 2021 bernilai Rp1,5 triliun dengan kupon 8,25% dan yield 8%.


Adapun, FR0061 yang jatuh tempo 15 Mei 2022 senilai Rp1,5 triliun dengan kupon 7% dan yield 8,02%. Siaran pers yang terbit menyebut periode settlement keduanya 2 Januari 2015.


Untuk lelang SUN, pemerintah akan menggelar lelang perdana SUN tahun ini pada 6 Januari. Empat seri bakal dilelang dengan target Rp12 triliun. Rinciannya, Seri SPN03150407 dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada 7 April 2015 serta Seri SPN12160107 dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada 7 Januari 2016.


Juga ada seri FR0070 bertenor 10 tahun dengan tingkat bunga tetap 8,375% dan seri FR0068 dengan tingkat bunga tetap 8,375% dan jatuh tempo 15 Maret 2034.



Kemenkeu Terbitkan Surat Utang Negara Melalui Private Placemten Rp3 Triliun

Saturday, December 20, 2014

Komite Ekonomi Nasional Perkirakan Industri Perbankan Akan Menerbitkan Obligasi

Financeroll – Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Aviliani memperkirakan industri perbankan akan banyak menerbitkan obligasi pada 2015.


Dana pihak ketiga (DPK) cenderung mahal, mungkin akan terbitkan obligasi.


Bukan hanya DPK saja yang mahal tetapi DPK yang ada di pasar juga cenderung sulit didapatkan sebab pada awal 2014, pemerintah juga melakukan penyerakan dana dari pasar dalam bentuk surat utang.


Sementara itu, untuk mencukupi kebutuhan permodalan, pada tahun ini beberapa bank telah masuk ke pasar modal untuk memenuhi kebutuhan ekspansi. Seperti PT Bank UOB Indonesia yang merilis penawaran umum obligasi I senilai Rp1 triliun.


Baru-baru ini, PT Bank Internasional Indonesia Tbk mengeluarkan obligasi berkelanjutan II tahap I senilai Rp1,5 triliun dan sukuk mudharabah berkelanjutan I tahap I senilai Rp300 miliar.


Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menegaskan bank harus tetap memupuk modal meskipun tengah dalam kondisi bagus. Sebab perbankan akan dikenakan peraturan Basel III.


Conservation buffer akan dikenakan sebesar 2,5% dari exposure secara bertahap mulai 2016 hingga 2019. Ketentuan tersebut rencananya akan ditetapkan pada bank dengan skala bisnis kompleks.



Komite Ekonomi Nasional Perkirakan Industri Perbankan Akan Menerbitkan Obligasi

Wednesday, December 17, 2014

Traksaksi Surat Utang Indonesia Menurun

Financeroll – Volume transaksi obligasi pemerintah terpantau turun 41,92% pada perdagangan Rabu kemaren. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang dikutip riset Debt Research Danareksa Sekuritas dan dirilis Kamis ini, volume transaksi obligasi pemerintah kemarin tercatat Rp12,18 triliun, dari transaksi sebelumnya Rp20,97 triliun.


Jumlah tersebut di atas transaksi harian tahun ini sebesar Rp10,64 triliun. Adapun obligasi tenor jangka menengah antara 5-15 tahun yang paling diburu. Obligasi seri FR0070 tercatat menjadi obligasi pemerintah teraktif dengan volume transaksi mencapai Rp2,27 triliun.


Selanjutnya, obligasi pemerintah seri FR0071 menempati peringkat kedua teraktif dengan volume transaksi Rp2,2 triliun. Dan posisi ketiga teraktif ditempati oleh obligasi pemerintah seri FR0069 dengan volume transaksi Rp1,69 triliun.



Traksaksi Surat Utang Indonesia Menurun

Thursday, November 27, 2014

Harga Surat Utang Negara Naik Ikuti Sentimen Pemangkasan Subsidi BBM

Financeroll – Harga surat utang negara terus naik, ditandai dengan sepekan penurunan imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun ke bawah 8%. Investor asing memompakan dana ke pasar surat utang domestik yang dipantik oleh sentimen pemangkasan subsidi BBM akan memperkuat reformasi ekonomi.


Yield obligasi benchmark series itu turun ke level 7,72%, level terendah dalam setahun terakhir, setelah bertahan di kisaran 7,8%-7,9% pekan kemarin.


Investor asing menambahkan dana Rp12,19 triliun sejak kenaikan harga BBM subsidi, sehingga kepemilikan SUN mereka per 21 November menjadi Rp470,9 triliun, berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan.


Tambahan aliran modal itu otomatis memperbesar porsi kepemilikan asing terhadap surat berharga negara (SBN) menjadi 38,57% dari posisi awal pekan lalu yang masih 37,57%.


Dengan subsidi BBM yang berkurang, ada ruang fiskal untuk pembangunan infrastruktur. Itu salah satu yang dilihat oleh investor asing.


Kendati inflasi terkerek dan berpotensi menurunkan gain, investor asing lebih melihat prospek jangka panjang perbaikan fiskal dan sektor riil di Indonesia setelah harga BBM dinaikkan.


Namun, tidak hanya karena sentimen BBM. penurunan yield ditopang pula oleh berkurangnya suplai SUN di pasar perdana setelah pemerintah membatalkan penerbitan dua instrumen SBN dengan alasan rencana pembiayaan telah terpenuhi.


Apalagi tahun depan, pemerintah juga berencana mengurangi pasokan obligasi menyusun rencana penciutan defisit APBN 2015 menjadi 2% dari 2,21% terhadap produk domestik bruto.


Meskipun demikian, faktor perlambatan ekonomi global juga berpengaruh terhadap pengempisan imbal hasil. Suku bunga yang rendah di Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang, yang dibarengi pula dengan pemangkasan rate di China mendorong investor berburu gain yang lebih tinggi di pasar negara berkembang, salah satunya Indonesia.


Keberlanjutan imbal hasil SUN yang rendah akan ditentukan oleh kondisi perekonomian global. Jika suku bunga global masih dalam tren rendah, maka investor masih akan masuk ke pasar utang Indonesia.


Pergerakan rupiah pun akan turut menentukan. Jika volatilitas rupiah tinggi, maka investor tidak segan meninggalkan pasar Indonesia.



Harga Surat Utang Negara Naik Ikuti Sentimen Pemangkasan Subsidi BBM