Finacerol – Banjir yang menjangkiti masa produksi minyak sawit di Malaysia akan memperburuk penurunan musiman dalam output dan akan mengurangi persediaan, demikian menurut CIMB Investment Bank Bhd yang mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan harga akan tetap bertahan karena gangguan persediaan tadi.
Genangan yang mempengaruhi sekitar 184.000 hektar (455.000 hektar), atau sekitar 3,5 persen dari total luas tanaman sawit negara, terutama negara bagian Kelantan, Pahang dan Terengganu paling parah, demikian analis Ivy Ng menulis dalam sebuah laporan tanggal hari ini. Output diperkirakan telah jatuh 20 persen menjadi sekitar 1,4 juta metrik ton bulan lalu dari bulan November, ivy Ng mengatakan, mengutip perkiraan dari Industri Perkebunan dan Komoditas Menteri Douglas Uggah Embas.
Minyak kelapa sawit rally pekan ini ke level tertinggi dalam hampir dua bulan akibat kekhawatiran cuaca basah dari biasanya yang membentang dari Thailand selatan, Malaysia dan Indonesia yang bisa mengganggu persediaan. Banjir juga menyebabkan Banjir pengungsi ratusan ribu orang, infrastruktur yang rusak dan mendorong pemerintah di Malaysia untuk memprioritaskan pekerjaan mitigasi banjir. Negara ini merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia setelah Indonesia.
Minyak sawit untuk pengiriman Maret turun 0,6 persen lebih rendah, berada pada posisi 2253 ringgit ($ 641) per ton di Bursa Malaysia Derivatives pada sesi siang di Kuala Lumpur. Harga rally ke level 2.308 ringgit pada 29 Desember, tertinggi sejak November 4. Bulan lalu naik 4,3 persen, berlawanan dengan trend penurunan tahunan karena banjir menyebar.
Banjir Ganggu Pasokan CPO, Harga Turun Tipis
No comments:
Post a Comment