Showing posts with label Direktur Utama. Show all posts
Showing posts with label Direktur Utama. Show all posts

Friday, December 26, 2014

PT Bank Rakyat Indonesia Optimis Kinerja Tak Terganggu Meski Tidak Ada Direktur Utama

Financeroll – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. optimistis kekosongan posisi direktur utama tidak akan memengaruhi pencapaian target kinerja keuangan yang ditetapkan tahun ini maupun tahun depan.


Sekretaris Perusahaan BRI Budi Satria mengatakan sejauh ini belum ada penunjukan pelaksana tugas Dirut pasca kepindahan Sofyan Basir ke PT PLN (Persero).


“Tidak ada karena hanya bersisa beberapa hari saja,” ujarnya.


Dia mengatakan penetapan Dirut BRI akan dilakukan melalui rapat umum pemegang saham berikutnya. “Kapan waktunya masih menunggu proses yang berjalan.”


Hal senada juga dikemukakan Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni. Menurutnya hingga kini belum ada keputusan siapa yang akan menjadi Plt Dirut BRI.


Seperti diketahui Dirut BRI sebelumnya Sofyan Basir resmi ditunjuk menjadi Dirut PLN. Sofyan menggantikan Nur Pamudji sebagai orang nomor satu di BUMN sektor listrik tersebut. Selain Sofyan, nama-nama lain yang mengisi jajaran direksi PLN adalah Sarwono Sudarto, Nasri Sebayang, Murtaqi Syamsuddin, Supangkat Iwan Santoso, Amir Rosidin, Nicke Widyawati, dan Amin Subekti.


Kementerian BUMN juga menunjuk sejumlah komisaris baru di PLN yakni Chandra M. Hamzah, Budiman, dan Hasan Bisri. Ketiganya menggantikan Yogo Pratomo, Achmad Yani Basuki dan Jarman yang diberhentikan dengan hormat sebagai anggota dewan komisaris.


BRI menargetkan laba bersih hingga Rp24 triliun sepanjang tahun ini. Tahun depan BRI mematok target pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 15%, dana pihak ketiga (DPK) 13%, dan NIM di kisaran 8,5%. Selain di sektor mikro, BRI juga akan memacu kredit di sektor pertanian dan infrastruktur. Mereka bahkan sudah ancang-ancang untuk ambil bagian dalam sejumlah proyek infrastruktur yang dijalankan pemerintah.


Hingga September 2014 BRI sudah menyalurkan kredit Rp464,19 triliun, meningkat 12,32% dibandingkan periode yang sama dari 2013 yang tercatat Rp413,27 triliun. BRI memang masih mungkin memacu kredit lantaran loan to deposit ratio (LDR) hingga kuartal III/2014 baru mencapai 85,29%, lebih rendah ketimbang periode yang sama 2013 yang mencapai 90,88%.


Non performing loan (NPL) gross BRI per September 2014 tercatat 1,89%. Segmen mikro masih mendominasi porsi penyaluran kredit BRI. Per September 2014 total penyaluran kredit ke segmen mikro tercatat Rp148,43 triliun, naik Rp15,8% dari periode yang sama 2013. Adapun NIM BRI per September 2014 mencapai 8,78%, lebih tinggi dibandingkan kuartal III/2013 yang hanya mencapai 8,25%.


Selain pertumbuhan organik, tahun depan BRI memiliki sejumlah agenda anorganik, salah satunya melalui akuisisi. Bank pelat merah itu masih memburu perusahaan asuransi, sekuritas dan bank lain untuk diakuisisi. Masih ada dana Rp3 triliun yang siap digunakan BRI. Dana itu pun diklaim masih dapat ditambah.


Baiquni sebelumnya mengatakan pihaknya tak keberatan mengakuisisi perusahaan kecil asal nilai dan kinerja perusahaan tersebut lebih bagus dari pasar. Menurutnya akuisisi perusahaan kecil tidak menjadi masalah penting karena BRI sudah memiliki captive market yang besar.


BRI juga akan memacu kinerja anak perusahaan yang belakangan kontribusinya tak terlalu besar. Pada kuartal III/2014 laba konsolidasi BRI tercatat Rp18,16 triliun, sedangkan laba bank only sebesar Rp18,12 triliun.


BRI hingga kini memiliki tiga anak usaha yakni PT Bank BRISyariah, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk, dan BRI Remittance Co. Ltd. Hong Kong. Total aset BRI Syariah per 30 September 2014 mencapai Rp18,5 triliun atau 2,63% dari total aset konsolidasian.


Total aset BRI Agro pada 30 September 2014 sebesar Rp5,9 triliun atau 0,84% dari total aset konsolidasian, sedangkan total aset BRI Remittance pada periode tersebut sebesar Rp4,9 miliar atau 0,0007% dari total aset konsolidasian.



PT Bank Rakyat Indonesia Optimis Kinerja Tak Terganggu Meski Tidak Ada Direktur Utama

Thursday, December 25, 2014

Sofyan Basir Pindah BUMN Jadi Dirut PLN

Financeroll – Pengangkatan Sofyan Basir sebagai direktur utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) membuat manajemen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. bangga.


Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni menuturkan, tidak hanya Dirut BRI Sofyan Basir yang pindah ke PLN, tetapi Direktur Operasional BRI Sarwono Sudarto juga didaulat menjadi direksi PLN.


“Kami bangga karena ada dua direksi BRI yang dipercaya memimpin di BUMN lain,” ungkapnya.


Kepercayaan yang diberikan oleh Menteri BUMN Rini Mariani Soemarno kepada dua direksi BRI itu membuktikan bahwa bank pelat merah tersebut berkembang lebih baik.


“Artinya Pak Sofyan sudah membuktikan BRI itu berkualitas,” ujarnya.


Sofyan Basir yang berusia 55 tahun itu, menjabat sebagai direktur utama BRI sejak 17 Mei 2005 dan terpilih kembali untuk periode kedua pada 20 Mei 2010. Sebelum bergabung dengan BRI, Sofyan menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk.


Karir perbankan Sofyan dimulai pada 1981 di Bank Duta. Pada 1986 dia bergabung dengan Bank Bukopin dan telah menduduki beberapa jabatan manajerial di Bank Bukopin termasuk Direktur Komersial, Group Head Line of Business, dan Pemimpin Cabang di beberapa kota besar Indonesia.


Latar belakang pendidikan Sofyan antara lain meraih gelar Diploma dari STAK Trisakti, Jakarta (1980), gelar Sarjana Ekonomi dari STIE Ganesha, Jakarta (2010), dan gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Trisakti, Jakarta (2012).


Dia telah mengikuti berbagai pendidikan serta pelatihan di bidang perbankan baik di dalam maupun luar negeri. Diantaranya Seminar Risk Management Certification Refreshment Program (Frankfurt), Eksekutif Manajemen Risiko, ABN Amro (Denpasar), Islamic Finance Forum (Swiss), Seminar Business Continuity Planning, Ernst & Young, SESPIBANK (Jakarta), Strategy Development Session, IBM, dan Structuring Loans & Short Term, The Institute Banking & Finance.


Sementara itu, Sarwono Sudarto yang berusia 61 tahun menjabat sebagai direktur sejak 30 Mei 2006. Dia memulai karir di BRI sejak 1976 dan telah menduduki berbagai jabatan manajerial.


Pengalaman Sarwono di BRI diantaranya Kepala Divisi Treasury, Kepala Divisi Renstra, Kepala Divisi Audit Intern, Kepala Divisi Bisnis Ritel, Wakil Kepala Divisi Akuntansi Manajemen dan Keuangan, Pemimpin Cabang Palembang Sriwijaya, Guest Officer Sanwa International Finance Ltd. Hongkong, Treasury Manager dan Chief Dealer BRI Finance Ltd. Hongkong.


Dia meraih gelar Sarjana di bidang Administrasi Niaga dari Universitas Diponegoro, Semarang (1975), gelar MBA dari Tulane University, Amerika Serikat (1987), dan gelar Doktor dari Jurusan Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (2011).


Sarwono telah mengikuti berbagai pendidikan serta pelatihan antara lain Pasar Modal (Tokyo), Sertifikasi Manajemen Risiko–BSMR (Singapura), sebagai Asesor Sertifikasi Kompetensi Manajemen Risiko dari BNSP, Risk Management Certification Refreshment Program – Banking Industry Readiness on Asean Community’s Economy, LEMHANNAS RI, SESPIBANK (Jakarta), Credit Manage, dan Organization Management.


Dia mewakili BRI antara lain sebagai pembicara tentang Microfinance di Thailand dan APEC Meeting di Chile (2004) serta dalam berbagai roadshow maupun conference di London, Hong Kong serta Singapura.



Sofyan Basir Pindah BUMN Jadi Dirut PLN

Saturday, December 20, 2014

Alex Janangkih Sinaga Siapkan Tiga Target Prioritas Telkom

Financeroll – Direktur Utama PT Telelomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. yang baru terpilih, Alex Janangkih Sinaga memiliki tiga target prioritas pada masa kepemimpinannya pada periode 2014-2019.


Alex yang baru saja ditunjuk sebagai direktur utama Telkom periode 2014-2019, mengaku memiliki 3 program prioritas ke depan. Pertama, Telkom akan tetap berkonsentrasi pada bisnis selular melalui anak usaha PT Telkomsel.


Kedua, Telkom akan berkonsentrasi dengan program Indonesia digital network. Telkom akan menjadi pendorong agar masyarakat Indonesia dapat mengakses jaringan digital.


Program tersebut dapat meningkatkan produktivitas seluruh sektor di Indonesia sehingga daya saing akan terkerek. Khususnya menjelang berlakunya masyarakat ekonomi Asean (MEA) pada 2015, masyarakat Indonesia harus mampu bersaing di pasar regional maupun global.


Ketiga, Telkom akan terus membidik peluang bisnis dengan ekspansi global. Manajemen optimistis, ke depan dapat merambah tidak hanya di 10 negara, tetapi bisa masuk ke negara-negara lainnya.


Disebut inex atau international expantion supaya Telkom tidak hanya jago kandang. Dan akan bersama-sama menggarap market Indonesia dan di luar negeri.


Mengacu pada laporan keuangan perseroan, per kuartal III/2014, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp11,44 triliun, tumbuh tipis 3,51% dari tahun lalu Rp11,05 triliun.


Sampai dengan 30 September 2014, Telkom memperoleh pendapatan sebesar Rp65,84 triliun atau mencatat kenaikan sebesar 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp61,49 triliun.


Tantangan TLKM pada masa mendatang masih bertumpu pada layanan data untuk menggenjot pendapatan. Berbicara layanan data, TLKM telah mempersiapkan teknologi terutama 3G dan 4G-LTE.


Untuk mempertebal marjin keuntungan, Telkom harus melakukan berbagai strategi ke depan termasuk menurunkan biaya operasional. Telkom juga disarankan tetap memimpin dalam hal inovasi teknologi berbasis layanan data dan internet.


Sektor telekomunikasi tentu kuncinya pada inovasi dan diversifikasi, tapi dari sisi layanan.



Alex Janangkih Sinaga Siapkan Tiga Target Prioritas Telkom

Friday, December 12, 2014

Direksi Garuda Indonesia Dirombak

Financeroll – Menteri BUMN Rini M Soemarno mengisyaratkan seluruh direksi PT Garuda Indonesia Tbk akan dirombak bersamaan dengan penetapan pengganti calon dirut perusahaan itu.


“Semuanya masih dalam proses assesment (penilaian) yang akan selesai 1 hari-2 hari ke depan,” kata Rini.


Proses pencarian calon direksi sudah memasuki tahap finalisasi. Segera selesai. Garuda mengadakan rapat segera.


Pencarian pengganti direksi Garuda Indonesia juga melibatkan persetujuan Presiden RI Joko Widodo sebagai Ketua Tim Penilai Akhir (TPA).


Dengan segera proses tersebut sudah akan selesai dan nama-nama calon direksi maskapai pelat merah itu bakal diserahkan kepada Jokowi.


Sebagai kuasa pemegang saham Garuda Indonesia, biasanya juga mengusulkan satu hingga dua nama kepada Presiden.


Menurut catatan, Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar saat ini sudah memasuki masa perpanjangan dua tahun sebagai orang nomor satu di perusahaan itu.


Emirsyah kelahiran Jakarta, 28 Juni 1959 ini menjabat sebagai direktur utama pada perusahaan penerbangan “plat merah” itu sejak tahun 2005, setelah pada tahun 2003 juga pernah menjabat Direktur Keuangan Garuda.


Hingga September 2014 Garuda membukukan rugi bersih (rugi yang diatribusikan kepada entitas induk) sebesar 219,5 juta dolar AS atau setara dengan Rp2,63 triliun, terperosok 1.362 persen dibanding rugi bersih periode sama 2013 sebesar Rp180 miliar.


Menurut manajemen Garuda, penyebab utama kerugian tersebut lebih karena belum pulihnya kondisi makro ekonomi global, ditambah tingginya harga bahan bakar serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar lebih dari 20 persen.



Direksi Garuda Indonesia Dirombak