Showing posts with label suku bunga acuan. Show all posts
Showing posts with label suku bunga acuan. Show all posts

Sunday, October 12, 2014

RDG Putuskan BI Rate Sebesar 7,5 Persen

Financeroll – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,5%, dengan suku bunga lending facility dan suku bunga deposit facility masing-masing tetap pada level 7,5% dan 5,75%.


Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia mengungkapkan kebijakan tersebut konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4,5 plus minus 1% pada tahun ini dan 4 plus minus 1% pada 2015, serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.


Meskipun stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga, BI mewaspadai sejumlah risiko yang berasal dari domestik dan eksternal.


BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan untuk mendukung kesinambungan perekonomian.


Bank Indonesia juga akan meningkatkan koordinasi kebijakan dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan agar proses penyesuaian ekonomi dapat berjalan baik sehingga kesinambungan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.



RDG Putuskan BI Rate Sebesar 7,5 Persen

Sudah Sebelas Kali BI Mempertahankan Suku Bunga di 7,5 Persen

Financeroll – Untuk kesebelas kalinya Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya pada level 7,5% demi mengarahkan inflasi sesuai target dan menghadapi tekanan eksternal yang kian tinggi.


Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI mengatakan ada serangkaian faktor eksternal yang mempengaruhi stabilitas sistem keuangan domestik.


Di sisi global pemulihan ekonomi dunia terus berlanjut meskipun masih berjalan tidak seimbang.


Pertama, perkembangan perbaikan perekonomian Negeri Paman Sam memberi sinyal pada pasar tentang normalisasi kebijakan moneter Federal Reserve (the Fed) yang lebih awal.


Saat ini konsensus analis memajukan jadwal kenaikan Fed funds rate ke triwulan II dari semula yang diperkirakan di triwulan III. Suku bunga itu diperkirakan naik secara bertahap, 1,375% pada akhir 2015 dan 2,9% pada 2016. Adapun, posisi saat ini adalah 0,25%.


Perkembangan ini mendorong penguatan dolar AS dan tekanan pada pasar keuangan di emerging markets.


Kedua, perekonomian China, rekan dagang terbesar Indonesia, masih berkontraksi. Bank Dunia bahkan memangkas proyeksi pertumbuhannya menjadi 7,4% dari 7,5% di tahun ini.


Perlemahan itu turut menyulitkan harga komoditas untuk bangkit seiring dengan menurunnya permintaan dari Negeri Panda tersebut.


Sementara itu dari faktor domestik pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan tren moderasi. Konsumsi swasta, yang menjadi pendorong utama, terindikasi melambat dilihat dari penjualan eceran yang tumbuh terbatas.


Kinerja ekspor-impor pun belum bisa mendorong pertumbuhan. Dengan kondisi demikian otoritas moneter masih mematok pertumbuhan pada bias bawah dari proyeksi 5,1%-5,5% sepanjang tahun ini.



Sudah Sebelas Kali BI Mempertahankan Suku Bunga di 7,5 Persen

OJK Bali Minta BPR Transparan Suku Bunga di Atas Acuan

Financeroll – Otoritas Jasa Keuangan Perwakilan Bali menyatakan ada bank umum dan perkreditan rakyat yang memberikan suku bunga di atas acuan yang dijamin lembaga penjaminan polis atau LPS.


Namun, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Bali mengatakan tidak memberikan surat teguran kepada perbankan tersebut melainkan hanya menghimbau agar transparan.


Masih ada yang memberikan bunga tinggi. Tidak harus langsung teguran, tetapi himbauan agar terbuka menginformasikan kepada nasabah soal suku bunga.


Namun tidak diungkapkan identitas bank yang memberikan suku bunga di atas penjaminan LPS, tetapi mengakui diantaranya adalah bank perkreditan rakyat (BPR). Salah satu temuan pemberian suku bunga di atas penjaminan itu dikemas dengan cara memberikan hadiah langsung.


Namun, pemberian itu yang ditujukan menjaring dana pihak ketiga (DPK) tersebut tidak dijelaskan sebagai bagian dari suku bunga bagi nasabah. Perwakilan regulator di Bali menghimbau agar bank-bank tersebut transparan bahwa hadiah yang diberikan bagian dari beban bunga.


Bank diminta untuk menjelaskan bahwa bunga tinggi yang diberikan tidak dijamin oleh LPS. Dengan demikian nasabah mendapatkan informasi lebih jelas.


Bank harus transparan kepada nasabah, hadiah yang diberikan dalam rangka menarik nasabah apalagi nilainya signifikan harus diperhitungkan sebagai komponen bunga atau biaya bunga bank.


Berdasarkan ketentuan LPS, simpanan di BPR yang dijamin hanyalah suku bunga sebesar 10,5%.



OJK Bali Minta BPR Transparan Suku Bunga di Atas Acuan

Saturday, October 11, 2014

Analis Prediksi Suku Bunga Akan Bertahan di Level 7,5 Persen

Financeroll – Sejumlah analis memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang diumumkan masih bertahan di level 7,5%.


Dari halaman Bank Indonesia disebutkan BI akan menggelar rapat dewan gubernur (RDG).


Biasanya RDG akan tuntas dilaksanakan, dan sejumlah data diumumkan termasuk BI Rate.


Berikut prediksi sejumlah analis untuk BI Rate Oktober 2014;


Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia

BI Rate diperkirakan tetap di 7,5%. Komentar dan respons kebijakan Bank Indonesia mengenai pelemahan rupiah belakangan ini perlu ditunggu


HP Analytics

Indonesia akan merilis data tingkat suku bunga, yang menurut perkiraan ekonomi tidak akan mengalami perubahan


Analis Riset Panin Sekuritas

Diperkirakan BI Rate tetap. Suku bunga diperkirakan baru dinaikkan, setelah pemerintah menaikkan BBM.



Analis Prediksi Suku Bunga Akan Bertahan di Level 7,5 Persen

Prediksi Bankir BI Rate Akan Naik Lagi

Financeroll – Sejumlah bankir memprediksi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) tidak akan turun dan memiliki ruang untuk naik karena nilai tukar rupiah tertekan, meskipun inflasi terkendali.


Direktur Utama PT Bank DKI Jakarta mengungkapkan tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di level Rp12.000 tidak akan membuat BI Rate turun. Bahkan memprediksi BI Rate akan naik, apalagi dengan gejala kenaikan Fed Fund Rate.


Ada gejala capital flights, karena kenaikan suku bunga the Fed, kemungkinan akan dinaikkan sedikit, mungkin 25 basis poin.


Pendapat berbeda datang dari Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk yang mengharapkan agar BI Rate tetap di level 7,5% sebab kondisi makro ekonomi domestik cenderung terjaga. Selain itu, tingginya BI Rate berdampak pada perlambatan kredit perbankan.


Gubernur BI Agus D. W. Martowardojo mengungkapkan secara year to date pelemahan nilai tukar mencapai 0,12%, sedangkan month to month 1,57%.


Walaupun rupiah masih tetap melanjutkan pelemahan, Agus mengungkapkan fundamental Indonesia menunjukkan perbaikan, dilihat dari tren inflasi yang menurun dan harga gejolak makanan mulai menunjukkan deflasi.


Hingga September 2014, inflasi mencapai 0,27% m-t-m, sedangkan secara tahunan laju inflasi mencapai 4,53%.


Masin menunggu pemerintah melakukan kebijakan untuk meyehatkan subsidi energi, termasuk kebijakan fix strategi dan itu akan membuat inflasi jauh lebih baik.



Prediksi Bankir BI Rate Akan Naik Lagi