Showing posts with label Properti. Show all posts
Showing posts with label Properti. Show all posts

Sunday, January 4, 2015

Audit Bangunan yang Sudah Berdiri Masih Minim

Financeroll – Pemerintah perlu melakukan audit terhadap bangunan yang sudah berdiri untuk memastikan proses pembangunan yang telah terjadi, mengingat pengaturan pengembangan gedung masih sangat minim.


Pemerhati masalah perkotaan Nirwono Joga memperkirakan baru separuh dari bangunan gedung yang ada yang memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Bangunan yang dimaksud meliputi berbagai ukuran, mulai dari ukuran kecil seperti rumah, ruko, hingga gedung bertingkat.


Partisipasi masyarakat untuk mengajukan proses izin pembangunan masih minim, mungkin baru sekitar 20%. Pelanggaran dalam proses pembangunan terjadi di berbagai level. Kalau untuk gedung tinggi, biasanya pembangunan tidak sesuai dengan izin yang diperoleh.


Kondisi seperti ini terjadi di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Masalah birokrasi perizinan yang berbelit-belit dengan biaya tinggi, turut memicu rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengurus IMB.


Padahal, terdapat banyak dampak negatif yang timbul akibat pembangunan tanpa kontrol tersebut. Bangunan akhirnya berdiri di atas lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya, yang kemudian membuat ruang terbuka hijau menjadi semakin berkurang.


Untuk jangka pendek, bencana alam seperti banjir menjadi dampak langsung yang dirasakan setiap tahunnya. Selain itu, akibat area resapan air berkurang, membentuk rongga di dalam tanah yang pada akhirnya mengakibatkan penurunan permukaan tanah.


Bagi bangunan tinggi, kondisi ini akan berbahaya. Untuk daerah dekat pantai, rongga tanah akan dimasuki air laut. Air asin itu akan mempercepat terjadinya pengaratan bangunan. Kalau bangunan dikembangkan untuk usia 50 tahun, daya tahan bisa berkurang separuhnya.


Bentuk pengawasan tidak bisa hanya mengandalkan keberadaan Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan. Seluruh pejabat mulai dari level paling bawah harus terlibat dalam pengawasan pembangunan di daerah masing-masing.


Pendataan menjadi penting sebagai dasar dari pengambil an keputusan. Selama ini belum pernah dilakukan audit bangunan gedung, padahal permintaan ini sudah sering diusulkan.


Untuk bangunan baru dengan usia 5 tahun ke bawah, mungkin datanya sudah cukup lengkap. Tapi, bagaimana dengan bangunan lama yang usianya sudah lebih dari 10 tahun. Ini belum terdata.



Audit Bangunan yang Sudah Berdiri Masih Minim

Proyek Rusunawa di Kawasan Industri Ditargetkan Tuntas Pertengahan 2015

Financeroll – Penyelesaian pembangunan rumah susun sewa bagi pekerja di kawasan industri ditargetkan akan tuntas pada pertengahan tahun ini.


Akan mempercepat pembangunannya. Dengan menargetkan selesai 2014.


Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Kementerian Ketenagakerjaan Irianto Simbolon, mengatakan saat ini pembangunan rusunawa telah dilakukan di sejumlah kawasan industri antara lain Batam, DKI Jakarta, Serang, Palembang, Karawang, dan sejumlah daerah di Jawa Timur, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.


Ke depan dana pembangunan rusunawa bagi pekerja juga akan diambil dari APBN-P yang akan dibahas pada bulan ini. Akan ada tambahan juga dari pemerintah, tapi masih menunggu.


Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menambahkan saat ini pihaknya masih melakukan pemetaan terkait pembagian tanggung jawab biaya dalam pembangunan rusunawa tersebut. Pihak yang akan dibebani tanggung jawab selain pemerintah pusat adalah pemerintah daerah setempat dan pihak swasta.


Pemetaan ini, imbuh Hanif, adalah bagian dari peta jalan percepatan pembangunan tempat tinggal bagi pekerja. Harus ditegaskan dulu mana yang menjadi beban pemerintah pusat, daerah, BPJS Ketenagakerjaan, pengusaha, dan pihak lain.



Proyek Rusunawa di Kawasan Industri Ditargetkan Tuntas Pertengahan 2015

Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PuPera Siapkan 20 Twin Blok Rusunawa

Financeroll – Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mempersiapkan pengembangan 20 twin blok rumah susun sewa pada tahun depan.


Program pembangunan rusunawa tersebut menjadi bagian dari program pengentasan kawasan kumuh. Adapun jumlah anggaran yang dipersiapkan untuk pembangunan mencapai Rp300 miliar, di mana pembangunan untuk satu TB diperkirakan sekitar Rp15 miliar.


Direktur Pengembangan Permukiman Ditjen Citpa Karya Kementerian PUPR Hadi Sucahyono mengatakan dalam upaya mengatasi kawasan kumuh, terdapat tiga pendekatan yang dilakukan, meliputi pemugaran kawasan, peremajaan kawasan, dan pemukiman kembali.


Untuk pemugaran hanya dilakukan pembangunan sarana dan prasaran seperti jalan atau drainase. Untuk peremajaan dan pemukiman kembali ini baru menyentuh pembangunan hunian.


Proses pembangunan akan dilakukan dalam satu tahun. Setelah pembangunan rampung, rusunawa akan diserahterimakan kepada pemda setempat untuk dikelola dan dimanfaatkan sebagai hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah.


Rusunawa tersebut merupakan bangunan kembar setinggi lima lantai, di mana setiap bangunan memiliki 99 unit rusun, dengan luas masing-masing unit sebesar 24 m2.


Lebih lanjut, beberapa lokasi yang akan dibangun meliputi Bekasi, Blitar, Bandung, Bogor, Solo, Tegal, Surabaya, Mataram, Balikpapan, dan Padang.



Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PuPera Siapkan 20 Twin Blok Rusunawa

Zuri Hospitality Management Targetkan Membangun Lima Hotel

Financeroll – Zuri Hospitality Management menargetkan membangun lima hotel baru di tiga provinsi berbeda sepanjang 2015.


Nicodemus Kasan Kurniawan, Presiden Direktur Zuri Hospitality Management, mengatakan pertumbuhan ekonomi di dalam negeri membuka peluang baru bagi perhotelan untuk melakukan ekspansi.


Saat ini, bisnis perhotelan tidak hanya fokus menggarap potensi pariwisata, tetapi juga mulai menyediakan akomodasi untuk pebisnis yang sering berpindah. Bisnis hotel di dalam negeri masih sangat bagus, rata-rata okupansi per hotel saja sekitar 70%. Hal tersebut yang menjadi dasar untuk terus melakukan ekspansi di daerah lain.


Tahun depan Zuri Hospitality Management akan membangun tiga hotel di Riau, yakni dua di Dumai, dan satu di Pekanbaru. Selain itu, perusahaan juga menyiapkan pembangunan dua hotel lainnya di Bali, dan Jakarta. Pembangunan lima hotel baru pada 2015 tersebut masih ditambah dengan mulai beroperasinya Zuri Express Hotel di Kalimalang, Jakarta Timur, dan Balikpapan.


Kedua hotel yang masuk ke dalam kategori hotel budget itu akan melengkapi empat Zuri Express Hotel yang sudah beroperasi di Palembang, Pekanbaru, Mangga Dua, dan di kawasan Lippo Cikarang. Dan akan terus menambah hotel sesuai kebutuhan dan potensi yang ada. Bahkan berharap Zuri Express Hotel bisa hadir di seluruh provinsi di Indonesia.


Bisnis hotel saat ini mengarah pada hotel budget, karena tingginya kebutuhan pelancong terhadap akomodasi dengan biaya yang lebih murah. Di Pekanbaru sendiri Zuri Hospitality Management menyasar pegawai perusahaan yang membutuhkan tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanannya.



Zuri Hospitality Management Targetkan Membangun Lima Hotel

Sunday, December 28, 2014

Pengembang Mematok Pertumbuhan Cukup Konservatif Tahun Depan

Financeroll – Dengan kondisi pasar yang belum terlalu stabil ditambah tekanan ekonomi global, pengembang mematok pertumbuhan yang cukup konservatif untuk tahun depan.


Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) beberapa waktu lalu membuat posisi saat ini berada pada 7,75%. Seperti diketahui, BI Rate dikhawatirkan akan naik kembali seiring dengan kemungkinan rencana penaikan suku bunga bank sentral Amerika Federal Reserve (the Fed).


Direktur PT Jababeka Tbk mengatakan Jika BI Rate naik lagi, pasti tahun depan akan cukup berat. Karena itu perusahaan menargetkan pertumbuhan yang konservatif. Tidak akan memasang target terlalu tinggi. Yang pasti targetnya harus realistis.


Oleh karena itu, untuk membantu pertumbuhan bisnis yang lebih baik, diharapkan BI dapat mempertimbangkan untuk memberi kelonggaran pada kebijakan loan to value (LTV) yang telah berjalan lebih dari satu tahun.


Tingginya suku bunga yang telah menembus angka dua digit di tambah dengan beban uang muka yang cukup tinggi, akan membuat masyarakat kelas menengah terpukul.


Pemerintah harus mempertimbangkan bentuk keringanan lain untuk memacu pertumbuhan yang lebih baik tahun depan. Dan membutuhkan stimulus baru. Jika memungkinkan, aturan LTV bisa di review kembali.


Diperkirakan BI belum akan mengubah besaran BI Rate setidaknya dalam satu bulan ke depan. Kenaikan BI Rate baru akan terjadi pada kuartal I/2015. Jika kenaikan tidak dapat dihindari, Sebaiknya kenaikan tidak melebihi angka 25 basis poin.


Corporate Secretary PT Metropolitan Land Tbk. Olivia Surodjo memperkirakan setidaknya pendapatan perusahaan pada tahun depan akan lebih bagus dari tahun ini. Perlambatan yang terjadi sepanjang 2014 lebih disebabkan pengaruh pemilihan umum presiden.


Diyakini pendapatan perusahaan masih bisa tumbuh antara 15%-20%. Namun belum tentu tahu kondisi tahun depan tidak seperti yang lalu, karena berbagai tekanan yang ada.



Pengembang Mematok Pertumbuhan Cukup Konservatif Tahun Depan

Harris dan Pop Hotel Surakarta Mulai Peletakan Batu Pertama

Financeroll – Pembangunan Harris dan Pop Hotel di Surakarta telah dimulai melalui peletakan batu pertama yang digelar pada akhir pekan lalu.


Brand Director Hotel Harris Christophe Glass mengatakan keberadaan hotel tersebut dapat menjadi pilihan baru bagi pebisnis atau tamu yang datang ke Solo.


Dengan memberikan pilihan untuk menginap dalam jangka waktu yang cukup lama. Hotel ini akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas dengan mengusung konsep yang ramah lingkungan.


Hotel tesebut terdiri dari hotel kelas menengah melalui brand Harris, dan hotel bujet dengan brand Pop.


Secara total, hotel akan terdiri dari 300 kamar yang ditargetkan akan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2017.


Saat ini Harris Hotel ditargetkan akan mencapai jumlah 17 hotel yang tersebar di Jakarta, Bali, Batam, Sentul, Bandung, dan Malang. Hotel tersebut akan beroperasi secara bertahap hingga tiga tahun ke depan.


Sedangkan melalui brand Pop, terdapat 29 hotel yang ditargetkan akan beroperasi hingga 2017. Sementara ini terdapat 14 hotel yang telah beroperasi.



Harris dan Pop Hotel Surakarta Mulai Peletakan Batu Pertama

Tumbuhnya Pasokan Ruang Kantor Mendorong Ekspansi dan Relokasi Penyewa

Financeroll – Tumbuhnya pasokan ruang kantor baru di Jakarta yang cukup signifikan selama satu hingga dua tahun ke depan akan mendorong ekspansi dan relokasi dari para penyewa.


David Cheadle, Managing Director Cushman & Wakefield Indonesia, mengatakan Jakarta dan Manila menjadi salah satu pilihan utama dari investor di antara kota-kota lain di Asean.


Kota-kota tersebut akan terus menjadi daya tarik bagi perusahaan raksasa untuk bisa membuka bisnisnya. Selain keberadaan demograsi yang tiggi, munculnya generasi yang sadar teknologi menjadi nilai lebih.


Pasar akan mempunyai alternatif pilihan yang lebih banyak dengan masuknya pasokan ruang kantor baru. Pasokan ruang kantor itu diharapkan dapat menjawab permintaan yang cukup tinggi dengan persaingan yang ketat.


Di Manila Google yang baru saja membuka kantor tahun lalu, berencana memperluas ekspansi dengan membangun layanan back office di area lainnya. Perusahaan berharap bisa menjaring keuntungan melalui pasar lokal.



Tumbuhnya Pasokan Ruang Kantor Mendorong Ekspansi dan Relokasi Penyewa

DPP REI Pesimis Target Pembangunan 1 Juta Unit Rumah Pertahun Dapat Tercapai

Financeroll — DPP Realestat Indonesia (REI) pesimistis target pembangunan 1 juta unit per tahun dapat tercapai jika tak diimbangi berbagai insentif dari pemerintah untuk pengembang.


Wakil Sekjen DPP REI Tri Wediyanto mengatakan dengan melihat capaian penyediaan rumah bersubsidi oleh pengembang, maka untuk mencapai 1 juta unit per tahun bukan pekerjaan mudah. Target tersebut cukup berat untuk dicapai.


Jika pemerintah mampu menyediakan insentif yang menarik bagi pengembang, maka target tersebut peluangnya menjadi besar untuk tercapai.


Kebijakan-kebijakan tersebut seperti di sektor perpajakan dari mulai pengadaan tanah sampai penjualan rumah.


Intinya, perpajakan baik dari pemerintah pusat maupun daerah idealnya dibebaskan, setidaknya sangat ringan sehingga memberikan rangsangan bagi pengembang menyediakan rumah bersubsidi.


Insentif lain, terkait dengan pengadaan infrastruktur. Pemerintah dituntut lebih agresif menyediakan infrastruktur menuju maupun dalam kompleks perumahan bersubsidi.


Masalah ketersediaan sambungan listrik juga perlu ditekankan karena beberapa waktu lalu masalah listrik menjadi hambatan dalam penyediaan rumah bersubsidi karena tidak jelas kapan direalisasikan pemasangannya.


Yang tidak kalah pentingnya, kata Tri yang juga Direktur PT Kharisma Karanglo Indah, pengembang perumahan di Kab. Malang, Jawa Timur, dari aspek perizinan, termasuk pengurusan sertifikat di Badan Pertanahan Nasional.


Intinya, aspek-aspek yang dapat mengganjal penyediaan rumah bersubsidi harus dihilangkan oleh pemerintah.


Percepatan pernyediaan rumah bersubsidi, juga bisa dilakukan dengan dukungan kementerian-kementerian lain, selain Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.


Seperti Kementerian Dalam Negeri, kata dia, berencana menyediakan rumah untuk semua pegawai golongan I. Namun kementerian tersebut masih mencari format yang tepat untuk merealisasikan program tersebut.


Model penyediaan rumah untuk pegawai negeri sipil (PNS) sebenarnya bisa mengacu pada pola kerja sama antara pengembang dan pemda seperti yang dilakukan PT Kharisma Karanglo Indah dengan Pemkot Malang dan Pemkab Malang dalam penyediaan rumah PNS.


Dalam skema kerja sama tersebut, pemda menyediakan lahan, sedangkan pembangunan konstruksi dan penjualannya dilakukan pengembang. Dengan adanya kerja sama tersebut, maka harga rumah menjadi lebih murah karena harga tanahnya disubsidi pemda.


Sebelumnya sudah melakukan presentasi ke Kementerian Dalam Negeri terkait kerja sama pemda dan pengembang dalam penyediaan rumah untuk PNS.



DPP REI Pesimis Target Pembangunan 1 Juta Unit Rumah Pertahun Dapat Tercapai

Pentingnya Bank Tanah Masih Diabaikan Pemerintah

Financeroll – Pemerintah hingga saat ini dinilai belum melakukan terobosan terkait perumahan rakyat.


Pengamat properti Ali Tranghanda mengatakan keberadaan bank tanah saat ini sangat mendesak untuk segera dibentuk apalagi kinerja pemerintah dinilai belum menunjukkan adanya terobosan di sektor perumahan rakyat.


Bank tanah urgen untuk dibentuk karena hal ini yang sangat dirasakan sangat penting namun kerap terabaikan.


Dengan adanya bank tanah maka pemerintah relatif tidak akan terlalu mengkhawatirkan harga tanah yang melambung, karena bank tanah menjadi obyek kontrol pemerintah.


Harga tanah yang melejit juga ditengarai sebagai salah satu faktor utama yang membuat penyediaan rumah rakyat tersendat.


Karenanya bank tanah seharusnya menjadi momen yang tidak dapat diabaikan oleh pemerintah, dan menambahkan peran bank tanah harus sinergi di bawah sebuah badan perumahan yang saat ini santer diberitakan akan diserahkan ke Perumnas.


Fokus Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada pembangunan infrastruktur jelas tidak boleh dihilangkan, namun peran kementerian terhadap perumahan rakyat pun harus jelas dan tidak mengabaikan.


Indonesia Property Watch mengimbau pemerintah segera melaksanakan program kerja yang nyata karena saat ini banyak pengembang yang sudah tidak mampu lagi membangun rumah murah terkait harga tanah yang semakin tinggi.


Selain itu masih adanya kekhawatiran berbagai stakeholder (pemangku kepentingan) terkait masalah perumahan rakyat yang semakin terabaikan akibat peleburan Kementerian Perumahan Rakyat ke dalam Kemenpupera.


Belum adanya program kerja perumahan rakyat yang jelas dari Kemenpupera sampai saat ini. Beberapa hal yang disampaikan masih sebatas wacana dan tidak ada terobosan baru, sama seperti yang lalu-lalu.


Sebelumnya dinyatakan bahwa instrumen bank tanah yang hingga kini masih menjadi wacana dinilai perlu segera diwujudkan untuk menjamin ketersediaan tanah bagi pembangunan perumahan rakyat di berbagai daerah.


Perlu instrumen bank tanah dari pemerintah yang dapat menjamin ketersediaan tanah untuk pembangunan rumah murah.


Indonesia Property Watch menginginkan konsep bank tanah yang telah dicetuskan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla jangan hanya menjadi sekadar wacana dan harus segera diimplementasikan di lapangan.


Wacana pembentukan bank tanah terkesan sangat lambat dilaksanakan di Indonesia dibanding negara-negara tetangga.


Bank tanah sebenarnya sudah ada di masing-masing Pemda namun masih bersifat aset yang belum dimanfaatkan maksimal.



Pentingnya Bank Tanah Masih Diabaikan Pemerintah

DPD REI Sumatera Barat Targetkan Bangun 5.000 Unit Rumah

Financeroll – DPD REI Sumatra Barat menargetkan membangun 5.000 unit rumah tahun depan untuk memenuhi kebutuhan rumah di daerah tersebut.


Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Sumbar Hendra Gunawan mengatakan tahun depan ditargetkan pembangunan 5.000 unit rumah yang diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.


Sekitar 80% dari 5.000 unit itu untuk kelas menengah ke bawah.


Pembangunan rumah-rumah tersebut akan diprioritaskan untuk daerah di luar Kota Padang, seperti Kabupaten Dharmasraya, Solok, Pasaman Barat, dan Lima Puluh Kota.


Dipilihnya daerah luar Padang karena mempertimbangkan harga tanah yang mahal, sehingga tidak memungkinan membangun rumah sederhana di daerah tersebut.


Secara keseluruhan kebutuhan rumah di Sumbar masih mencapai 140.000 unit. Namun jumlah tersebut belum bisa terpenuhi karena persoalan lahan, dan rendahnya daya beli masyarakat akibat kebijakan uang muka yang tinggi.


Kebijakan loan to value (LTV) yang keluarkan Bank Indonesia tahun lalu dengan kewajiban DP 30% dari harga rumah, menyebabkan pertumbuhan penjualan rumah turun drastis di Sumbar. Padahal masyarakat setempat masih membutuhkan rumah. Namun besarnya uang pangkal menyebabkan masyarakat tidak mampu membeli rumah.


Untuk bayar cicilan masyarakat umumnya mampu, yang memberatkan itu adalah uang mukanya yang terlalu mahal, katanya Hendra. Dia mengharapkan regulator menurunkan tingkat kewajiban DP sehingga penjualan rumah kembali tumbuh, dan masyarakat berpenghasilan rendah tetap mampu membeli rumah.


Saat ini REI Sumbar baru mampu membangun 2.000-3.000 unit rumah dalam setahun, masih jauh dari kebutuhan masyarakat.



DPD REI Sumatera Barat Targetkan Bangun 5.000 Unit Rumah

Pemerintah Targetkan Bangun 1 Juta Rumah Pertahun

Financeroll – Pemerintah bertekad untuk terus mengejar kekurangan rasio perumahan dengan jumlah yang dibutuhkan.


Wakil Presiden Jusuf Kalla menargetkan pembangunan 1 juta unit rumah baru per tahun guna mengejar backlog perumahan yang saat ini ditaksir mencapai 13,5 juta unit.


Pembangunan perumahan tersebut, kata JK, dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, PT Perumnas (Persero), BUMN konstruksi, dan pengembang swasta.


“Satu juta setahun. Itu PU buat kebijakan dan atur anggaran agar ini rumah subsidi atau bukan,” ujarnya di kantor Wapres.


Kalla mengatakan sebagai perusahaan pelat merah Perumnas ditugaskan pemerintah untuk membangun perumahan rakyat sederhana.


Perumnas diimbau tidak menggarap proyek rumah komersial pada segmen menengah ke atas alias rumah mewah dan ruko.


Pada kesempatan yang sama, Menteri PU-Pera Basuki Hadimuljono menuturkan kebijakan perumahan ke depan mengarah pada konsep bisnis bukan charity.


Kalau charity, backlog itu tidak akan pernah tercapai.


Tahun depan Kementerian PU-Pera menargetkan pembangunan 400.000-500.000 unit rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).


Sebanyak 20% dari jumlah tersebut akan ditujukan untuk rumah nelayan miskin, TNI/Polri, dan masyarakat perbatasan terluar Indonesia.


“Yang membangun sendiri 400.000 unit. Kalau perumahan policy ke depan tidak hanya membangun sendiri tapi meggerakkan Bapertarum, FLPP, bank, dan pengembang lain bisa mengatasi backlog ini.


Adapun anggaran pembangunan 400.000 unit rumah berasal dari alokasi APBN Kementerian PU-Pera tahun depan yang diestimasi mencapai sekitar Rp10 triliun-12 triliun.


FLPP Rp5,1 triliun, APBN Rp4,6 triliun, sekarang kita mau ajukan lagi Rp2 triliun-3 triliun.


Apabila digabung dengan pembangunan rumah swasta dan swadaya, Basuki optimistis dapat mencapai target pembangunan rumah rakyat sebanyak 1 juta unit per tahun.



Pemerintah Targetkan Bangun 1 Juta Rumah Pertahun

Saturday, December 27, 2014

Pemerintah Bangun 58.000 Rumah Sejahtra dan Rumah susun

Financeroll – Pemerintah membangun 58.000 rumah sejahtera dan rumah susun untuk masyarakat dan pekerja berpenghasilan rendah pada tahun depan. Pembangunan rumah tersebut menggunakan anggaran sebesar Rp5,1 triliun dari APBN.


Deputi Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Maurin Sitorus mengatakan rumah sejahtera diperuntukkan bagi pekerja berpenghasilan maksimal Rp4 juta, adapun rumah susun bisa dimiliki oleh pekerja yang berpenghasilan maksimal Rp7 juta.


Akan dibangun 58.000 unit rumah sederhana dan rumah susun tahun depan. Itu untuk penerima fasilitas pembiayaaan perumahan, termasuk pekerja juga.


Masyarakat atau pekerja penerima fasilitas pembiayaan perumahan tersebut nantinya akan dibebaskan dari pajak penghasilan, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK/03/2014 tentang Batasan Rumah Sederhana, Rumah Sangat Sederhana, Rumah Susun Sederhana, Pondok Boro, Asrama Mahasiswa dan Pelajar, serta Perumahan Lainnya.


Ini bebas pajak, sudah ada peraturan menteri keuangan bahwa rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah bebas pajak penghasilan 10%.


Sejak program ini dijalankan pada 2010, anggaran pembangunan perumahan berasal dari APBN. Dalam empat tahun terakhir anggaran yang sudah dialokasikan yakni sebesar Rp15,5 triliun untuk pembangunan 346.000 unit rumah.


Untuk tahun-tahun selanjutnya jumlah rumah yang dibangun untuk masyarakat dan pekerja berpenghasilan rendah diprediksi akan semakin besar seiring adanya sumber dana dari pihak terkait lainnya untuk program ini.


Dana dari pihak lain tersebut berasal dari Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera), Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), dana jangka panjang bank pelaksana, dana Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, tabungan haji, dana pensiun, serta dana tanggung jawab sosial perusahaan.


Itu yang kami rencanakan dan akan dilaksanakan untuk ke depan.



Pemerintah Bangun 58.000 Rumah Sejahtra dan Rumah susun

Pasar Hunian Vertikal Depok dan Bogor Meningkat

Financeroll – Pasar hunian vertikal di wilayah Depok dan Bogor pada 2015 diprediksi akan semakin bergairah ditandai dengan meningkatnya kebutuhan rumah layak di dua daerah tersebut.


Koordinator Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Seluruh Indonesia (Appersi) Wilayah IV Abun Yamin Syam mengatakan bertambahnya penduduk di Depok dan Bogor berimbas pada kebutuhan hunian baru.


Depok dan Bogor kini sudah jadi kota metropolitan yang menyebabkan para penduduknya terdesak untuk memiliki hunian layak.


Kebijakan sejumlah pemerintah daerah dengan mewajibkan pengembang membangun hunian vertikal mendorong bisnis apartemen dan rumah susun semakin bergairah pada tahun mendatang.


Hunian vertikal akan menjadi alternatif bagi konsumen yang memiliki pendapatan cukup maupun yang pas-pasan.


Pasalnya, taksiran harga rumah susun lebih dari Rp120 juta dan apartemen di atas Rp200 juta menjadi pasar utama penduduk metropolitan.


Adapun beberapa wilayah yang tidak memiliki prospek cerah untuk bisnis hunian vertikal tersebut antara lain Purwakarta dan Karawang.


Lahan di dua daerah tersebut masih banyak yang kosong. Sementara, hunian vertikal dibangun atas dasar minimnya lahan untuk pembangunan rumah tapak.


Pasar pada Purwakarta dan Karawang pada 2015 masih didominasi oleh perumahan tapak.



Pasar Hunian Vertikal Depok dan Bogor Meningkat

Pengembangan Lahan Kawasan Industri Akan Bangkit

Financeroll – Prospek pengembangan lahan di kawasan berbasis industri dinilai akan mengalami kebangkitan pada 2015.


Ali Tranghanda, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch, memperkirakan wilayah-wilayah dengan basis ekonomi kawasan industri akan mengalami tren peningkatan pada 2015.


Tidak hanya sektor industri, jenis properti komersial penunjang di wilayah tersebut juga akan prospektif.


Akan turut naik, antara lain pasar hunian untuk para ekspatriat dan pergudangan.


Kondisi itu, jelasnya, akan terjadi di tengah siklus perlambatan pasar properti yang ada menyusul semakin tergerusnya daya beli masyarakat akibat penaikan bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik. Sebenarnya sektor perumahan pada umumnya mengalami tekanan.


Pada segmen menengah bawah, pasokan rumah murah semakin terbatas akibat naiknya harga tanah dan meningginya biaya produksi. Sedangkan, segmen menengah atas mulai menunjukkan kejenuhan sejak 2014.


Pergerakan akan terjadi bukan dari pasar lokal melainkan arus modal asing yang akan membanjiri tanah air.


Sementara itu, kondisi perekonomian belum menunjukkan peningkatan, meski potensi untuk pertumbuhan sangat tinggi. Namun arus investasi dari Asia, khususnya dari Korea, Jepang, dan Cina, yang sudah mengalir sejak 2014 akan terus menumbuhkan potensi kawasan dengan basis ekonomi industri.


Beberapa kawasan industri telah diincar para investor tersebut. Pemerintahan Jokowi-JK diperkirakan juga akan lebih fokus pada pembangunan infrastruktur untuk menunjang hal tersebut.


Karena itu meski secara umum pasar properti sedang mengalami konsolidasi dan mencapai titik terendah pada 2015, sektor kawasan industri diperkirakan akan segera bangkit.


Johannes Archiadi, Ketua Dewan Kehormatan Himpunan Kawasan Industri mengungkapkan keyakinan yang sama.



Pengembangan Lahan Kawasan Industri Akan Bangkit

Crown Green Square Proyek Senilai Rp5,75 Triliun

Financeroll – Pengembang asal Australia Crown Group meluncurkan proyek terbaru senilai Rp5,75 triliun, Crown Green Square.


Dalam rilis disebutkan proyek tersebut merupakan bagian dari pengembangan kawasan baru Green Square di Sydney.


Setelah penjualan secara resmi dilakukan pada awal 2015, pembangunan dipastikan akan menyusul pada pertengahan tahun yang sama. Perusahaan menargetkan pembangunan akan selesai pada akhir 2019.


Bangunan mixed-use development tersebut akan dikembangkan setinggi 20 lantai dengan bentuk melingkar, sehingga memungkinkan cahaya alami untuk masuk ke taman utama.


CEO Crown Group Iwan Sunito merasa optimistis Crown Green Square akan menjadi landmark di kawasan baru tersebut.


Pada 2030, jumlah populasi di Green Square diperkirakan bisa mencapai 40.000 penduduk baru, serta 22.000 pekerja. Crown Green Square ini akan menjadi tempat di mana warga bisa menghabiskan waktu mereka.


Proyek tersebut terdiri dari 401 unit apartemen, 30 ruang ritel dan komersial, pusat ruang konferensi, serta fasilitas yang bisa digunakan oleh penghuninya.



Crown Green Square Proyek Senilai Rp5,75 Triliun

Proyek Podomoro Industrial Park Akan Rampung November 2015

Financeroll – PT Agung Podomoro Land Tbk, melalui anak usahanya PT Sumber Air Mas Pratama (SAMP), menargetkan pengembangan tahap pertama dari proyek Podomoro Industrial Park (PIP) di Karawang, Jawa Barat, dapat dirampungkan pada November 2015.


Dalam perencanaan, PIP dikembangkan di atas lahan seluas 542 hektare yang terbagi atas dua lokasi, yakni pengembangan pertama yang sudah dimulai dengan lahan seluas 325 ha dan pengembangan kawasan industri di masa depan (future development) dengan cadangan lahan 217 ha.


Chief Executive Officer SAMP Johannes Archiadi mengatakan saat ini pihaknya telah memulai pengembangan pertama kawasan industri PIP. Pengembangan tersebut dibagi dalam tiga fase yang masing-masing memiliki luasan lahan 100 ha.


Dengan mempunyai lahan 300-an ha dan setiap fase pengembangan luasnya sekitar 100 ha.


Saat ini baru memulai pengembangan fase pertama. Perseroan menargetkan proses pengolahan lahan tersebut akan rampung pada November 2015.


Dengan begitu, pembangunan pabrik pertama di kawasan dapat segera direalisasikan.


November 2015 pabrik pertama sudah bisa dibangun sebab lahan sudah akan siap dengan infrastruktur lengkap.


Pengembangan fase kedua dan ketiga akan dilanjutkan dengan melihat kondisi pasar. Demikian pula dengan pengembangan unit komersil dan residensial akan menunggu kondisi pengembangan kawasan.


Kalau market bagus, nanti akan langsung tancap bangun selanjutnya. Dan, komersial dan residensial tergantung market-nya.


Sementara itu, Business Development Manager SAMP Eddy Setiawan menuturkan secara keseluruhan ada empat proyek yang dikembangkan PT Agung Podomoro Land Tbk. di Karawang, Jawa Barat.


Selain dua kawasan industri yang dikembangkan dalam PIP dan sebuah kawasan komersil dan residensial, perseroan juga telah mengembangkan kawasan perumahan Grand Taruma.



Proyek Podomoro Industrial Park Akan Rampung November 2015

PT Adhiloka Shobat Sewita Tetap Optimis Proyeksi Properti 2015

Financeroll – Meski pasar apartemen di kota Bandung diprediksi melambat, pengelola apartemen ini malah optimismis menatap 2015.


PT Adhiloka Shobat Sewita selaku pengembang Skyland City Jatinangor Education Park mengaku optimistis dalam menatap proyeksi bisnis properti 2015 yang diprediksi sejumlah kalangan akan mengalami perlambatan.


Direktur Marketing Skyland City Cantya Van Hopper mengatakan, optimisme itu sangat beralasan mengingat segmentasi pasar yang dibidik adalah komponen pendidikan dalam hal ini mahasiswa yang tak akan ada habisnya.


Di Jatinangor ada empat perguruan tinggi ternama ITB, UNPAD, IKOPIN, IPDN. Total mahasiswa baru yang diterima di perguruan tinggi ini setiap tahunnya sekitar 13.000 mahasiswa. Ini menjadi alasan Skyland City menjadi investasi yang prospektif dan menjanjikan.


Penetapan Jatinangor, Kab Sumedang, Jabar, sebagai kawasan pendidikan tinggi telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat tidak hanya karena akademika tapi juga migrasi pelaku kegiatan perdagangan dan jasa.


Kawasan Jatinangor saat ini telah menjadi kota kecil yang terus akan mengalami perkembangan sejalan dengan fungsinya sebagai lokasi pendidikan.


Perkembangan tersebut diawali oleh tumbuhnya kegiatan perdagangan di sepanjang Jalan Raya Bandung -Sumedang, permukiman, dan berbagai jasa layanan untuk mahasiswa.


Dengan nilai investasi Rp500 miliar untuk membangun proyek apartemen tersebut, pihaknya yakin produk yang ditawarkannya ini mampu disambut pasar. Meskipun harga kamar yang dijual tak bisa dibilang murah; mulai dari Rp400 juta hingga Rp1 miliar tergantung tipe unit apartemen yang dibeli.


Terdapat beberapa tipe, ada tipe superior, deluxe, swift, dan grand deluxe.


Saat ini, sekitar 468 atau 60% unit di apartemen tersebut sudah laku terjual.


Dari jumlah tersebut, sekitar 70% konsumen berasal dari luar Bandung. Adapun jumlah unit di apartemen ini sebanyak 780 unit terdiri dari 740 unit hunian dan sisanya sebanyak 40 unit komersial.


Tower apartemen Rose in Spring sendiri memiliki 3 lantai untuk komersial dan 20 lantai untuk hunian.


Dengan sangat percaya diri lantaran, Skyland City Jatinangor Education Park di bangun sebagai solusi dalam mencukupi kebutuhan mahasiswa.


Sebagai kawasan pertama di Jatinangor, Skyland City akan membangun kawasan berkonsep mixed-used-building, mulai dari commercial area, lifestyle mall, Masjid, Public space, Amphi theater, Sport center, dan tower pertamanya Rose In Spring yang berkonsepkan service apartment.


Service apartment ini dibuat dengan konsep student friendly, dengan work space, library, commercial area dan shuttle bus.


Skyland City Jatinangor Education Park didesain untuk memberikan fasilitas dan pelayanan yang menunjang produktifitas dan kenyamanan mahasiswa di Jatinangor.


Keunggulan dari Skyland City Jatinangor Education Park terletak pada pengembangan kawasan yang akan bersinergi dengan kegiatan edukasi di Jatinangor, integrasi satu kawasan Skyland City diharapkan dapat membangun Jatinangor menjadi kota Pendidikan yang lebih modern.


Di kesempatan yang sama, Direktur Teknik Skyland City Didiek Edi Mulyanto mengatakan, pihaknya sudah menandatangani nota kesepahaman dengan pengusaha lokal terkait pengadaan air untuk kawasan apartemen tersebut.


Kehadiran sederet institusi pendidikan tersebut membawa dampak positif bagi perkembangan kota Jatinangor.


Sejak kehadiran para pendatang yang melanjutkan studi ke kawasan pendidikan ini, efek positif mulai terasa, pertumbuhan ekonomi terus meningkat, terutama berasal dari sektor non-pertanian.


Beberapa pengembang pun mulai bergerak untuk membangun wilayah ini disertai dengan perencanaan pengembangan daerah oleh pemerintah yang mulai terlihat realisasinya, di antaranya pembangunan Jalan Tol Cisumdawu.


Selain itu, rencana KRL Padalarang-Bandung-Cicalengka, Bandung Monorail hingga Bandara Internasional Kertajati.


Ketika Anda memasuki kawasan ini, maka yang terlihat ialah deretan rumah-rumah yang berisi kamar-kamar sewaan dengan tarif beragam.



PT Adhiloka Shobat Sewita Tetap Optimis Proyeksi Properti 2015

Skyland City Bangun Apartemen Dekat 4 Perguruan Tinggi

Financeroll – PT Adhiloka Shobat Sewita selaku pengembang Skyland City Jatinangor Education Park mengaku optimistis dalam menatap proyeksi bisnis properti 2015 yang diprediksi sejumlah kalangan akan mengalami perlambatan.


Direktur Marketing Skyland City Cantya Van Hopper mengatakan, optimisme itu sangat beralasan mengingat segmentasi pasar yang dibidik adalah komponen pendidikan dalam hal ini mahasiswa yang tak akan ada habisnya.


“Di Jatinangor ada empat perguruan tinggi ternama ITB, UNPAD, IKOPIN, IPDN. Total mahasiswa baru yang diterima di perguruan tinggi ini setiap tahunnya sekitar 13.000 mahasiswa. Ini menjadi alasan Skyland City menjadi investasi yang prospektif dan menjanjikan,” katanya di sela-sela acara Topping Off Tower Apartement Rose in Spring Skyland City Jatinangor Eeducation Park, di Jatinangor.


Penetapan Jatinangor, Kab Sumedang, Jabar, sebagai kawasan pendidikan tinggi telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat tidak hanya karena akademika tapi juga migrasi pelaku kegiatan perdagangan dan jasa.


Kawasan Jatinangor saat ini telah menjadi kota kecil yang terus akan mengalami perkembangan sejalan dengan fungsinya sebagai lokasi pendidikan. Perkembangan tersebut diawali oleh tumbuhnya kegiatan perdagangan disepanjang Jalan Raya Bandung -Sumedang, permukiman, dan berbagai jasa layanan untuk mahasiswa.


Dengan nilai investasi Rp500 miliar untuk membangun proyek apartemen tersebut, diyakini produk yang ditawarkannya ini mampu disambut pasar. Meskipun harga kamar yang dijual mulai Rp400 juta- Rp1 miliar tergantung tipe unit apartemen yang dibeli.


Terdapat beberapa tipe, ada tipe superior, deluxe, swift, dan grand deluxe.


Di kesempatan yang sama, Direktur Teknik Skyland City Didiek Edi Mulyanto mengatakan, pihaknya sudah menandatangani nota kesepahaman dengan pengusaha lokal terkait pengadaan air untuk kawasan apartemen tersebut.


Kehadiran sederet institusi pendidikan tersebut membawa dampak positif bagi perkebangan kota Jatinangor. Sejak kehadiran para pendatang yang melanjutkan studi ke kawasan pendidikan ini, efek positif mulai terasa, pertumbuhan ekonomi terus meningkat, terutama berasal dari sektor non-pertanian.


Beberapa pengembang pun mulai bergerak untuk membangun wilayah ini disertai dengan perencanaan pengembangan daerah oleh pemerintah yang mulai terlihat realisasinya, diantaranya pembangunan Jalan Tol Cisumdawu.


Selain itu, rencana KRL Padalarang-Bandung-Cicalengka, Bandung Monorail hingga Bandara Internasional Kertajati. Ketika anda memasuki kawasan ini, maka yang terlihat ialah deretan rumah-rumah yang berisi kamar-kamar sewaan dengan tarif beragam.



Skyland City Bangun Apartemen Dekat 4 Perguruan Tinggi

Harga Properti Rata-Rata Naik Hingga 10% Ditas Inflasi

Financeroll – Harga properti di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) naik rata-rata sebesar 7% – 10% di atas inflasi pada 5 tahun terakhir karena didorong tingginya permintaan.


Artinya, jika inflasi di angka 7%, maka kenaikan harga di kisaran 14% – 17%.


Permintaan hunian di DIY, khususnya di kawasan Kota Yogyakarta dan sekitarnya, semakin tinggi dari tahun ke tahun.


Tingginya arus manusia yang datang dan menetap di DIY, khususnya dari kalangan mahasiswa, telah mendorong permintaan. Dampaknya, harga properti pun merangkak naik.


Para pembeli tidak hanya orang Yogyakarta, tetapi banyak juga yang dari luar Yogyakarta. Banyak di antara mereka membeli properti untuk ditinggali, tetapi lebih banyak lagi yang membeli dengan motif investasi.


Hal itu banyak terjadi pada properti yang dibeli para orang tua mahasiswa. Kecenderungan yang terjadi belakangan ini adalah banyak orang tua mahasiswa yang memilih membeli hunian untuk tempat tinggal anak mereka selama kuliah di Yogyakarta.


Para orang tua memilih membeli rumah alih-laih membiarkan para anak tinggal di kosan dengan harapan peluang keuntungan di kemudian hari.


Dengan membeli rumah, anak-anak mereka tidak perlu bayar kosan. Kemudian, setelah para anak lulus, orang tua bisa menyewakan propertinya atau menjual kembali dengan proyeksi keuntungan.


Tren perkembangan hunian di kawasan DIY dalam beberapa waktu terakhir bergeser dari rumah pribadi yang menempel pada tanah (landed house) ke jenis hunian vertikal baik dalam bentuk apartemen maupun rumah susun.


Keterbatasan lahan dan gaya hidup menjadi salah satu faktor pendorong pergeseran tren tersebut. Ini terutama di daerah kampus.


Penjualan apartemen atau rumah susun biasanya menyasar segmen mahasiswa yang berasal dari luar Kota Yogyakarta.


Pembelian lebih banyak dengan motif investasi. Daripada mengeluarkan biaya untuk kos, orang tua mahasiswa memilih membeli apartemen untuk ditinggali anaknya, kemudian setelah anaknya lulus dapat disewakan atau dijual kembali dengan gain tinggi.


Dalam 5 tahun terakhir, khususnya sejak gempa yang terjadi pada 2009, perkembangan hunian di Yogyakarta bergeser ke arah selatan.


Sebelum gempa tren perkembangan hunian berada di kawasan utara dan mendorong harga tanah dan properti di daerah tersebut melonjak lebih cepat dibandingkan di selatan.


Namun gempa membuat harga tanah dan properti di kawasan utara anjlok sehingga konsumen pun beralih ke wilayah selatan.


Orang kita punya short term memory, mungkin mereka berpikir gempa terjadi dalam siklus panjang, puluhan tahun sekali, sehingga meskipun daerah selatan pernah kena gempa, mereka justru berbondong-bondong ke selatan. Apalagi harga di utara semakin naik hingga tidak terjangkau.



Harga Properti Rata-Rata Naik Hingga 10% Ditas Inflasi

Thursday, December 25, 2014

Banyak Pembeli Rumah Hanya Untuk Investasi

Financeroll – Banyaknya masyarakat yang membeli rumah hanya untuk investasi demi mendapatkan keuntungan di masa depan, membuat harga properti saat ini menjadi naik tidak wajar.


Banyak orang yang membeli properti untuk meraih keuntungan belaka. Itu yang menyebabkan harga properti saat ini tidak terkendali.


Bila seseorang memiliki dana Rp10 miliar dan membeli 10 properti dengan harga Rp1 miliar per unit. Properti tersebut sengaja dibeli untuk dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.


Contoh lain sebuah perusahaan yang menjual properti dalam sehari menghasilkan omset senilai Rp2 triliun padahal bangunannya belum jadi. Itu menjadi euforia judi.


Tren ini berdampak pada kalangan yang benar-benar membutuhkan properti tersebut.


Misalnya kita mau membeli rumah, jadinya nggak mampu karena daya beli kita nggak sesuai dengan daya beli orang-orang yang membeli properti untuk dijual kembali.


Penawaran properti yang berharga tinggi tanpa diimbangi dengan permintaan yang cukup akan berujung pada anjloknya harga properti tersebut.


Ryan mencontohkan beberapa daerah yang harga propertinya saat ini mengalami penurunan, seperti di Puncak (Jawa Barat), Tangerang (Banten), Jakarta Barat dan Jakarta Utara.


Hal ini karena harga demand-nya tdiak cocok. Demand-nya di harga Rp2 miliar tapi harga jualnya mencapai Rp4 miliar. Tidak ketemu harganya.


Disarankan bagi orang-orang yang ingin berinvestasi di dunia properti secara sehat bisa dilakukan dengan cara “beternak” properti.


Beternak properti, maksudnya dengan membeli satu properti dan menyewakannya kepada pihak lain. Dari hasil sewa tersebut kemudian dikumpulkan untuk membeli properti berikutnya.



Banyak Pembeli Rumah Hanya Untuk Investasi