Showing posts with label harga properti. Show all posts
Showing posts with label harga properti. Show all posts

Thursday, December 25, 2014

Banyak Pembeli Rumah Hanya Untuk Investasi

Financeroll – Banyaknya masyarakat yang membeli rumah hanya untuk investasi demi mendapatkan keuntungan di masa depan, membuat harga properti saat ini menjadi naik tidak wajar.


Banyak orang yang membeli properti untuk meraih keuntungan belaka. Itu yang menyebabkan harga properti saat ini tidak terkendali.


Bila seseorang memiliki dana Rp10 miliar dan membeli 10 properti dengan harga Rp1 miliar per unit. Properti tersebut sengaja dibeli untuk dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.


Contoh lain sebuah perusahaan yang menjual properti dalam sehari menghasilkan omset senilai Rp2 triliun padahal bangunannya belum jadi. Itu menjadi euforia judi.


Tren ini berdampak pada kalangan yang benar-benar membutuhkan properti tersebut.


Misalnya kita mau membeli rumah, jadinya nggak mampu karena daya beli kita nggak sesuai dengan daya beli orang-orang yang membeli properti untuk dijual kembali.


Penawaran properti yang berharga tinggi tanpa diimbangi dengan permintaan yang cukup akan berujung pada anjloknya harga properti tersebut.


Ryan mencontohkan beberapa daerah yang harga propertinya saat ini mengalami penurunan, seperti di Puncak (Jawa Barat), Tangerang (Banten), Jakarta Barat dan Jakarta Utara.


Hal ini karena harga demand-nya tdiak cocok. Demand-nya di harga Rp2 miliar tapi harga jualnya mencapai Rp4 miliar. Tidak ketemu harganya.


Disarankan bagi orang-orang yang ingin berinvestasi di dunia properti secara sehat bisa dilakukan dengan cara “beternak” properti.


Beternak properti, maksudnya dengan membeli satu properti dan menyewakannya kepada pihak lain. Dari hasil sewa tersebut kemudian dikumpulkan untuk membeli properti berikutnya.



Banyak Pembeli Rumah Hanya Untuk Investasi

Monday, November 17, 2014

SHPR BI Tunjukkan Perlambatan Kenaikan Harga Properti Residensial

Financeroll – Bank Indonesia merilis survei harga properti residensial (SHPR) yang menunjukkan perlambatan kenaikan harga properti residensial di pasar primer.


Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia mengatakan perlambatan tersebut tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) senilai sebesar 1,46% (q-t-q), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 1,69% (q-t-q).


Perlambatan kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah, khususnya rumah tipe kecil.


Sementara itu, hasil survei memproyeksikan harga properti residensial pada kuartal IV/2014 akan tumbuh 0,63% (q-t-q), melambat dibandingkan pertumbuhan dari kuartal sebelumnya.


Hasil survei menunjukkan bahwa volume penjualan properti residensial pada kuartal III/2014 tumbuh sebesar 33,69%, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 36,65% (q-t-q).


Perkembangan sektor properti residensial tersebut sejalan dengan proses penyesuaian perekonomian yang masih berlangsung secara terkendali ke arah yang lebih seimbang dan berkesinambungan.


Selain itu, hasil survei juga menunjukkan bahwa pembiayaan pembangunan properti residensial terutama bersumber dari dana internal pengembang. Sebagian besar pengembang (63,73%) menggunakan dana sendiri sebagai sumber pembiayaan usahanya.


Sumber pembiayaan konsumen untuk membeli properti masih didominasi oleh pembiayaan perbankan. Sebanyak 76,07% responden masih memanfaatkan KPR sebagai fasilitas pembiayaan dalam pembelian properti residensial, khususnya pada rumah tipe kecil.



SHPR BI Tunjukkan Perlambatan Kenaikan Harga Properti Residensial

Saturday, October 18, 2014

Harga Property Diprediksi Melonjak Tahun Depan

Financeroll – Jangan menunda investasi di bidang properti karena pada tahun depan harga properti diprediksikan akan melonjak, ujar analis bidang properti.


Sekjen Ikatan Analis Properti Indonesia mengatakan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membeli properti, kalau memang ada dana jangan ditunda sampai tahun depan.


Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan segera diputuskan oleh Presiden periode 2014-2019 Joko Widodo menjadi salah satu faktor pemicu kenaikan harga yang cukup besar pada bidang properti.


Kalau Presiden yang baru nanti benar-benar menaikkan harga BBM maka akan sangat berpengaruh terhadap harga properti, salah satu yang akan langsung mengalami kenaikan harga adalah bahan-bahan bangunan.


Bila kenaikan harga BBM memberikan kontribusi 1% saja pada inflasi nasional, maka hal tersebut dapat mempengaruhi kenaikan harga properti antara 8%-10%.


Padahal kenaikan natural property per tahunnya antara 10%-15%, karena itu di tahun depan dengan varian unit yang sama harganya bisa naik menjadi 25% dari sekarang.


Kenaikan tersebut akan sangat berdampak pada daya beli konsumen. Sementara itu, salah satu solusi agar usaha properti terus berjalan bisa jadi pengembang akan mengurangi keuntungan mereka dengan cara redistribusi keuntungan yang diraup pada 2010 2013.


Pada kurun waktu tersebut keuntungan yang diperoleh para pengembang cukup besar sehingga minimalnya keuntungan di tahun ini seharusnya tidak perlu dikeluhkan oleh para pengembang.


Redistribusi keuntungan juga bisa menjadi salah satu upaya untuk menekan perlambatan pertumbuhan properti yang diprediksi akan terjadi hingga akhir tahun ini.


Oleh karena itu, agar bisnis properti terus tumbuh positif maka diperlukan kreativitas pengembang dalam memberikan diskon, penawaran-penawaran menarik serta varian produk yang lebih banyak dan menarik.



Harga Property Diprediksi Melonjak Tahun Depan