Showing posts with label pasar properti. Show all posts
Showing posts with label pasar properti. Show all posts

Saturday, December 27, 2014

Pasar Hunian Vertikal Depok dan Bogor Meningkat

Financeroll – Pasar hunian vertikal di wilayah Depok dan Bogor pada 2015 diprediksi akan semakin bergairah ditandai dengan meningkatnya kebutuhan rumah layak di dua daerah tersebut.


Koordinator Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Seluruh Indonesia (Appersi) Wilayah IV Abun Yamin Syam mengatakan bertambahnya penduduk di Depok dan Bogor berimbas pada kebutuhan hunian baru.


Depok dan Bogor kini sudah jadi kota metropolitan yang menyebabkan para penduduknya terdesak untuk memiliki hunian layak.


Kebijakan sejumlah pemerintah daerah dengan mewajibkan pengembang membangun hunian vertikal mendorong bisnis apartemen dan rumah susun semakin bergairah pada tahun mendatang.


Hunian vertikal akan menjadi alternatif bagi konsumen yang memiliki pendapatan cukup maupun yang pas-pasan.


Pasalnya, taksiran harga rumah susun lebih dari Rp120 juta dan apartemen di atas Rp200 juta menjadi pasar utama penduduk metropolitan.


Adapun beberapa wilayah yang tidak memiliki prospek cerah untuk bisnis hunian vertikal tersebut antara lain Purwakarta dan Karawang.


Lahan di dua daerah tersebut masih banyak yang kosong. Sementara, hunian vertikal dibangun atas dasar minimnya lahan untuk pembangunan rumah tapak.


Pasar pada Purwakarta dan Karawang pada 2015 masih didominasi oleh perumahan tapak.



Pasar Hunian Vertikal Depok dan Bogor Meningkat

Pengembangan Lahan Kawasan Industri Akan Bangkit

Financeroll – Prospek pengembangan lahan di kawasan berbasis industri dinilai akan mengalami kebangkitan pada 2015.


Ali Tranghanda, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch, memperkirakan wilayah-wilayah dengan basis ekonomi kawasan industri akan mengalami tren peningkatan pada 2015.


Tidak hanya sektor industri, jenis properti komersial penunjang di wilayah tersebut juga akan prospektif.


Akan turut naik, antara lain pasar hunian untuk para ekspatriat dan pergudangan.


Kondisi itu, jelasnya, akan terjadi di tengah siklus perlambatan pasar properti yang ada menyusul semakin tergerusnya daya beli masyarakat akibat penaikan bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik. Sebenarnya sektor perumahan pada umumnya mengalami tekanan.


Pada segmen menengah bawah, pasokan rumah murah semakin terbatas akibat naiknya harga tanah dan meningginya biaya produksi. Sedangkan, segmen menengah atas mulai menunjukkan kejenuhan sejak 2014.


Pergerakan akan terjadi bukan dari pasar lokal melainkan arus modal asing yang akan membanjiri tanah air.


Sementara itu, kondisi perekonomian belum menunjukkan peningkatan, meski potensi untuk pertumbuhan sangat tinggi. Namun arus investasi dari Asia, khususnya dari Korea, Jepang, dan Cina, yang sudah mengalir sejak 2014 akan terus menumbuhkan potensi kawasan dengan basis ekonomi industri.


Beberapa kawasan industri telah diincar para investor tersebut. Pemerintahan Jokowi-JK diperkirakan juga akan lebih fokus pada pembangunan infrastruktur untuk menunjang hal tersebut.


Karena itu meski secara umum pasar properti sedang mengalami konsolidasi dan mencapai titik terendah pada 2015, sektor kawasan industri diperkirakan akan segera bangkit.


Johannes Archiadi, Ketua Dewan Kehormatan Himpunan Kawasan Industri mengungkapkan keyakinan yang sama.



Pengembangan Lahan Kawasan Industri Akan Bangkit

Saturday, November 29, 2014

Harga Lahan Disisi Selatan Jakarta Lebih Terjangkau

Financeroll – Walau tidak ditopang sektor industri, pengembangan hunian di kawasan Bogor diprediksi akan semakin menarik seiring keterbatasan lahan yang ada.


Selain itu, ungkap Residential Services Coldwell Banker Commercial Fransiska Hendri, sisi selatan Jakarta ini juga terbilang mempunyai harga yang lebih terjangkau bila dibandingkan kawasan lainnya seperti di Bekasi dan Tangerang.


Walaupun tidak ditopang industri seperti yang lainnya, tetap ada pengaruh positif juga. Air dan udara di Bogor masih bagus, dan jauh dari polusi. Selain itu, Bogor juga dikenal dengan view yang ditawarkan dan banyak tempat wisata juga.


Keterlambatan pengembangan yang terjadi selama ini dipengaruhi keterbatasan infrastruktur dan tingkat kemacetan yang tinggi. Walaupun begitu, diyakini hal tersebut dapat segera teratasi.


Rata-rata harga tanah untuk residensial berkisar Rp4 juta-Rp5 juta/m2. Sementara harga lahan komersial berada pada kisaran Rp12 juta/m2, dan di area tertentu sudah mencapai Rp20 juta/m2.


Walaupun begitu, harga tersebut masih terbilang lebih rendah dibanding area pinggiran Jakarta lainnya.


Belum over price, dan pertumbuhannya terbilang sehat. Secara rata-rata pertumbuhannya sekitar 15% sampai 20% per tahun. Pembeli hunian di Bogor umumnya memperhatikan kebutuhan yang sifatnya natural atau dekat dengan alam.


Sebagian besar masyarakat yang tinggal di Bogor atau mencapai lebih dari 50%-nya merupakan masyarakat kelas menengah.


Adapun kelas atas dan kelas bawah berada pada persentase yang cukup imbang.


Belakangan ini pengembang makin banyak yang bangun di Bogor. Permintaan untuk hunian tapak juga masih cukup banyak. Bogor tetap menjadi bagian dari lima besar kawasan pilihan untuk tempat tinggal.



Harga Lahan Disisi Selatan Jakarta Lebih Terjangkau

Saturday, October 18, 2014

Pasar Perumahan Alami Perlambatan Angka Penjualan

Financeroll – Pasar perumahan diperkirakan sedang mencari keseimbangan baru, hal itu berdampak pada perlambatan angka penjualan.


Indonesia Property Watch memperkirakan pasar properti di Tanah Air bakal melambat sampai akhir tahun 2014.


Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch menyatakan sampai akhir tahun 2014 diperkirakan pasar akan mengalami perlambatan meski proses transisi ke pemerintahan baru relatif berjalan lancar.


Perlambatan tersebut dinilai lebih karena pasar perumahan saat ini masih mencari bentuk keseimbangan baru terutama setelah terjadi percepatan pasar properti yang signifikan dua tahun terakhir.


Kenaikan harga tanah yang terjadi dalam dua sampai tiga tahun belakangan membuat para pengembang relatif “terjebak” dengan patokan harga yang sudah tinggi.


Akibatnya banyak pengembang yang kesulitan membangun rumah menengah sampai atas karena harga tanah yang sudah tinggi tidak terjangkau oleh daya beli yang ada.


Untuk kalangan investor sekalipun, harga rumah yang tinggi dinilai sudah tidak rasional lagi.


Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch juga berpendapat, pasar berangsur-angsur bergeser ke segmen menengah dengan menyasar kaum end user alias pengguna langsung.


Namun harga tanah yang tinggi membuat pengembang kesulitan mematok harga jual.


Lokasi perumahan menengah pun relatif semakin menjauh dari pusat kota.


Untuk itu beberapa pengembang mulai memilih untuk membangun secara vertikal dan mengambil pasar apartemen segmen menengah.


Bagi kalangan konsumen yang lebih menggunakan KPR relatif masih terhambat suku bunga yang tinggi. Menyikapi hal itu banyak pengembang yang membuat strategi cicilan uang muka yang dapat diangsur bahkan selama tiga tahun.


Hal itu dinilai sebagai antisipasi pihak pengembang dalam hal pengetatan penjualan rumah secara inden yang diberlakukan Bank Indonesia.


Sebelumnya telah meminta Pemerintah mesti membantu rakyat seperti kelas menengah perkotaan agar tidak “terjebak” dengan minimnya opsi pembelian properti untuk tempat tinggal.


Saat ini kaum menengah dalam posisi terjebak dengan ketersediaan hunian yang ada.


Untuk itu pemerintah harus segera turun tangan membangun pasokan hunian vertikal di perkotaan untuk segmen menengah.



Pasar Perumahan Alami Perlambatan Angka Penjualan