Showing posts with label non performing loan. Show all posts
Showing posts with label non performing loan. Show all posts

Thursday, January 8, 2015

PT Bank OCBC NISP Mengincar Rasio Kredit Bermasalah

Financeroll – PT Bank OCBC NISP Tbk membidik rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) perseroan pada tahun ini, setidaknya setara dengan tahun perolehan tahun lalu.


Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja di Jakarta, mengatakan harus serendah mungkin, per September 2014 1,1% – 1,2%, harusnya tahun depan turun, tapi setidaknya sama.


Sementara itu, secara keseluruhan, emiten berkode saham NISP ini ditargetkan mampu mencatatkan pertumbuhan volume bisnis sebesar 15%-20%.


Namun, untuk mencapai target tersebut, belum akan menambah modal mengingat capital adequacy ratio (CAR) perseroan masih berada di posisi 19,07%.


Adapun, hingga kuartal III/2014, NISP mencatatkan laba senilai Rp942 miliar atau tumbuh 12% dari perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp838 miliar.


Peningkatan laba tersebut, disumbang kenaikan pendapatan bunga bersih dari Rp2,3 triliun pada September 2013 menjadi Rp2,7 triliun di bulan yang sama tahun berikutnya.



PT Bank OCBC NISP Mengincar Rasio Kredit Bermasalah

Friday, November 28, 2014

PT Bank Negara Indonesia Tetap Pertahankan Suku Bunga KPR

Financedroll – Direktur Konsumer dan Ritel PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Darmadi Sutanto mengatakan perseroan akan tetap mempertahankan suku bunga KPR untuk menghindari kredit macet.


KPR itu tidak bisa serta merta turun atau naik. Hingga saat ini dan kemungkinan tahun depan akan mempertahankan suku bunga KPR.


Kenaikan BI Rate dan BBM kemungkinan besar akan berdampak pada kenaikan rasio non performing loan (NPL) sehingga perseroan akan lebih giat melakukan penagihan kepada nasabah dan memberikan solusi untuk menjual aset dan lainnya untuk pembayaran.


Darmadi berpendapat bisnis KPR perbankan secara umum pada tahun ini bergerak stagnan kecuali KPR milik BTN. BNI pada tahun ini dengan susah payah hanya mampu tumbuh 5%. Perlambatan KPR, merupakan dampak dari kebijakan loan to value (LTV) yang dirilis BI.


BNI menargetkan volume KPR sebesar Rp34 triliun pada akhir tahun ini. Hingga Oktober, KRP BNI tercatat telah menyentuh angka Rp33,4 triliun. NPL KPR saat ini pada level 1,68% dan akan dimanage hingga akhir tahun di posisi itu.



PT Bank Negara Indonesia Tetap Pertahankan Suku Bunga KPR

Wednesday, October 29, 2014

PT Bank MNC International Targetkan Mampu Pangkas NPL 2%

Financeroll – PT Bank MNC International Tbk. (MNC Bank) menargetkan mampu memangkas rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) sebesar 2% pada tahun depan.


Wakil Presiden Direktur MNC Bank optimistis target tersebut dapat tercapai dengan strategi pemilihan debitur dan segmen nasabah yang tepat. Selain itu, rencana perseroan untuk mengalihkan fokus bisnis ke segmen konsumer dan ritel juga diyakini akan memperbaiki kualitas aset.


Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, rasio NPL gross perseroan tercatat 5,73%. Ditargetkan bisa turun 2% pada tahun depan.


Saat ini sudah mulai memangkas penyaluran kredit korporasi yang bergerak di sektor yang sedang melemah seperti pertambangan. Sebagai ganti, MNC Bank sedang menyiapkan infrastruktur teknologi informasi guna mendukung rencana pengembangan bisnis ke segmen nasabah ritel.


Saat ini, porsi kredit korporasi mencapai sekitar 80% dari total kredit yang pada kuartal III/2014 tercatat Rp6,06 triliun. Pada tahun depan, porsi kredit korporasi akan dipangkas menjadi sekitar 40% dari total kredit.



PT Bank MNC International Targetkan Mampu Pangkas NPL 2%

Tuesday, October 21, 2014

Rasio Kredit Bermasalah Meningkat Namun Masih Dapat Dikendalikan

Financeroll – Meski rasio kredit bermasalah pada triwulan III/2014 cenderung meningkat, tapi analis memprediksi besaran tersebut masih dapat dikendalikan oleh kalangan bankir.


Analis UOB KayHian Securities mengatakan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dan special mention loans memang menunjukkan peningkatan tipis di paruh pertama 2014. Namun masih bisa dikendalikan.


Masih terkendalinya rasio kredit bermasalah tersebut disebabkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang di Indonesia yang masih positif.


Adapun dari data Statistik Perbankan Indonesia yang dipublikasikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada paruh pertama tahun ini, NPL tercatat tumbuh tipis 30 basis points (bps) dari 1.8% di awal 2014 menjadi 2,1% di pertengahan tahun.


Dari 4 bank besar di Indonesia, peningkatan NPL terpantau dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Mandiri Tbk sebesar masing-masing 19 bps dan 16 bps quarter on quarter (qoq). Sementara, PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia mencatatkan kestabilan NPL qoq.



Rasio Kredit Bermasalah Meningkat Namun Masih Dapat Dikendalikan

Monday, October 20, 2014

PT Bank Tabungan Negara Akan Pangkas NPL Dibawah 4%

Financeroll – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) berkomitmen untuk memangkas rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) hingga berada di bawah level 4% pada akhir tahun ini.


Untuk meraih target tersebut, Bank BTN telah membentuk 2 unit kerja, yaitu Consumer Collection & Remedial Division (CCRD) dan Asset Management Division (AMD).


Corporate Secretary BTN mengatakan, perbaikan kualitas kredit menjadi salah satu fokus utama manajemen. Meski sangat menantang, proses penyelesaian aset kredit bermasalah mengalami kemajuan yang sangat baik.


Dengan membentuk dua unit kerja yang khusus menangani NPL, optimis kualitas kredit di Bank BTN akan terus membaik. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, mampu mendapatkan recovery aset NPL rata-rata 130% dari nilai agunan.


CCRD bertanggung jawab atas pengelolaan kualitas seluruh kredit consumer dengan umur tunggakan kurang dari 360 hari. Perbaikan kualitas kredit oleh CCRD dilakukan melalui penagihan dan restrukturisasi.


Adapun unit AMD bertugas untuk menangani kredit consumer dengan tunggakan lebih dari 360 hari serta seluruh kredit komersial yang sudah tidak lagi dapat ditangani dengan penagihan dan restrukturisasi. AMD akan melakukan penjualan agunan terhadap kredit-kredit ini.


NPL Bank BTN dari segmen kredit consumer berasal dari KPR Subsidi dengan skema Interest Only Baloon Payment (IOBP) yang disalurkan pada periode 2007-2010.


Hingga Semester I/2014 total outstanding KPR IOBP mencapai Rp 7,5 triliun dengan NPL sekitar 10%. Dari segmen kredit komersial, NPL terbesar datang dari KUR dan kredit-kredit KUKM lainnya, yang terjadi akibat perlambatan ekonomi dan penundaan beberapa proyek perumahan.


Lebih dari 88% kredit Bank BTN dijamin oleh rumah dan tanah yang nilainya terus meningkat setiap tahun.


Dari sisi jaminan kredit tidak khawatir karena harga tanah akan terus meningkat. Perbandingan nilai agunan dan kredit yang ada di Bank BTN saat ini rata-rata adalah 195%. Optimis recovery aset NPL ini akan tinggi dan menguntungkan bagi Bank BTN.



PT Bank Tabungan Negara Akan Pangkas NPL Dibawah 4%