Showing posts with label Rubel. Show all posts
Showing posts with label Rubel. Show all posts

Monday, December 22, 2014

Krisis Rubel Dorong Kejatuhan Harga Gandum Dunia

Financeroll – Krisis rubel mengganggu harga pasar gandum global. Mata uang Rusia memperpanjang  kejatuhannya  ke rekor terendah terhadap dolar pekan lalu sehingga memperlambat pengiriman biji-bijian untuk mengamankan stok dan menjaga harga domestik . Rusia adalah eksportir terbesar keempat dan telah mengambil langkah-langkah untuk  mendorong hedge fund tiga  agar  menjaga  harga tetap lebih tinggi.


Gandum berjangka  melonjak ke level tertinggi sejak Mei pekan lalu setelah asosiasi eksportir  Rusia menolak  sertifikasi untuk  penjual dan pembeli komoditas biji-bijian.  Kejatuhan harga ini juga disebabkan oleh pernyataan Presiden Vladimir Putin yang memperingatkan bahwa krisis ekonomi bisa berlarut-larut selama dua tahun dan disokong pula oleh cuaca dingin yang mengancam tanaman musim dingin di AS, eksportir  gandum terbesar.


Gandum untuk pengiriman Maret naik 4,2 persen pekan lalu ke level  $ 6,3225 per bushel di Chicago Board of Trade, kenaikan  keempat secara berturut-turut. The Bloomberg Komoditi Index dari 22 bahan baku turun 1,9 persen karena MSCI All-Country World Index dari ekuitas naik 2,3 persen. The Bloomberg Indeks Dollar Spot naik 0,9 persen. Gandum turun 0,5 persen menjadi $ 6,29 pada waktu perdagangan Singapura hari ini.



Krisis Rubel Dorong Kejatuhan Harga Gandum Dunia

Sunday, December 21, 2014

Pendapatan OPEC Tinggal Separuh, Investor Mulailah Beli Saham

Jatuhnya harga minyak mentah saat ini benar-benar menjadi berkah, terlebih bagi bursa saham AS yang diperkirakan akan mengakhiri catatan penutup tahun ini dengan manis.


FINANCEROLL – Berdasarkan data terkini dari AAA, jatuhnya harga minyak mentah membuat harga ritel gasoline disekitar $2.477, untuk pertama kalinya harga ritel gasoline dibawah $2.50 sejak Januari 2009. Hal ini seiring dengan kesadaran kelas menengah AS dan masyarakat bawah yang ingin bisa menyisihkan uang lebih banyak untuk membeli hadiah Natal dan bepergian mengunjungi sanak saudara.


Syukurlah, apa yang terjadi ini merupakan minyak perangsang bagi kebangkitan ekonomi AS lebih lanjut. Bagaimana tidak, dengan jatuhnya harga minyak membuat jutaan rakyat AS bisa lebih banyak menyisihkan uangnya untuk belanja di akhir tahun dan bepergian kesanak-familinya. Tentunya ini adalah sesuatu yang belum pernah dilihat oleh para investor dalam beberapa bulan ini.


AAA juga menyatakan bahwa setidaknya 98.6 juta rakyat AS akan melakukan perjalanan setidaknya 50 mil atau bahkan lebih selama musim liburan akhir tahun ini, umumnya meraka akan melakukan perjalan darat dengan mengendarai kendaraan sendiri. Bagi sebagian yang memilih moda angkutan udara, jatuhnya harga minyak juga menurunkan harga bahan bakar pesawat terbang. Alhasil harga tiket pesawat juga menurun, sesuatu yang akan menarik minat konsumen untuk bepergian pula dengan pesawat terbang.Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan oleh maskapai-maskapai penerbangan untuk meraup penumpang yang lebih banyak lagi. Setidaknya, para investor yang menjadi pemegang saham maskapai tentu sudah melihat potensi dibalik jatuhnya harga minyak mentah saat ini.


Disisi lain, jatuhnya harga minyak mentah ini memang tidak bisa membahagiakan semua pihak. Kartel minyak, OPEC diperkirakan kehilangan separuh pendapatannya. Sebagaimana kita pahami bahwa jatuhnya harga minyak mentah dan komoditi lainnya telah menjadi pukulan yang hebat. Setidaknya sejak pertemuan OPEC pada 27 November kemarin, baik Arab Saudi dan Kuwait telah sama-sama berusaha untuk menunjukkan langkah-langkah penyelamatan pasar disaat harus berjuang pula agar bahtera ini tidak tenggelam oleh sekutu-sekutu mereka yang menurun pendapatannya akibat jatuhnya harga minyak.


Pihak EIA memperkirakan pendapatan di 2014 akan sekitar $700 milyar atau mengalami penurunan sebesar 8% dari 2013. Sesuatu yang tidak terlalu buruk memang. Sebaliknya, bagi kartel minyak diperkirakan mereka akan kehilangan pendapatan hampir $400 milyar di tahun 2015 ini. Ini merupakan separuh pendapatan mereka di 2013 yang bisa menjadi sebuah ancaman serius bagi negara-negara anggota OPEC yang sangat tergantung pendapatannya dari dari minyak untuk membiayai sejumlah program sosial.


Arab Saudi, Kuwait, dan Irak memiliki separuh dari total pendapatan negara-negara OPEC, sehingga saat negara-negara seperti Venezuela dan Angola tidak bisa bertahan dengan jatuhnya harga minyak, hanya masalah waktu saja sebelum kartel tersebut membuat keputusan lain atau sama-sama memangkas produksi minyak jika tidak ingin melihat sejawatnya tenggelam.


Memang OPEC yang telah kehilangan separuh pendapatannya dalam dua tahun ini dan Rubel Rusia yang turun seiring dengan jatuhnya harga minyak, namun belum tentu harga minyak sendiri masih akan seburuk itu.


Mustahil memang untuk merujuk harga pasar secara tepat, namun dari padangan umum terbersit bahwa setidaknya diakhir Juni nanti harga minyak mentah akan kembali naik. Dengan asumsi yang demikian, diyakini bahwa saham-saham sektor ini akan menjadi tujuan yang tepat untuk menjadi sasaran aksi beli kembali saat ini. Khususnya saham-saham sektor minyak dan energi dari daratan Amerika Utara.


Sebelumnya, ketakutan pasar akan jatuhnya harga minyak membuat saham-saham tersebut ditinggalkan oleh para investor. Aksi jual yang dilakukan dan berpaling dari mereka saat menyentuh harga termurahnya dalam lima tahun terakhir ini adalah sesuatu yang absurb. Jika kita berharap harga saham tersebut akan kembali semurah saat 2009 silam dan baru kita akan membelinya, maka langkah ini kurang tepat.


Jadi kenapa masih terbang kesana-kemari, apakah panik ? nampaknya memang demikian. Harga minyak tidak akan kemana-mana, meski harga minyak telah jatuh. Buktinya perusahaan-perusahaan minyak tetap saja mengebor minyak . Ini berarti bahwa harga minyak tidak akan jatuh begitu dalam. Menunggu harga minyak mentah naik kembali, Investor bisa memilah untuk membeli saham-saham di lantai bursa.



Pendapatan OPEC Tinggal Separuh, Investor Mulailah Beli Saham

Wednesday, December 17, 2014

Dollar Mulai Kendor Terhadap Rubel

Financeroll – Rubel mengakhiri pelemahannya dalam dua minggu terakhir dan tegeser sedikit ke atas setelah Bank Sentral Rusia mengatakan bahwa tidak akan ragu-ragu untuk menjual cadangan mata uang asing untuk meningkatkan rubel bila diperlukan dan memberikan kelonggaran cadangan modal pada perbankan Rusia.


Rubel USDRUB, menguat 1,63% dan diperdagangkan pada level 61 terhadap dolar pada penutupan perdagangan hari Rabu setelah jatuh pada hari Selasa ke rekor rendah dari titik tertingginya 80,1 terhadap dolar, sebelum kembali ke area sekitar 67.90 pada akhir perdagangan.

Bank sentral Rusia mengatakan Rabu bahwa mereka akan melonggarkan kontrol pada bank yang memungkinan pihak perbankan Rusia untuk mengurangi modal cadangan terhadap kredit bermasalah. Bank sentral negara juga membuka peluang pemberi pinjaman untuk mennguatkan nilai tukar pada kuartal terakhir tahun ini dan akan mengadakan lelang valuta asing tambahan bila diperlukan.



Dollar Mulai Kendor Terhadap Rubel

Monday, December 15, 2014

Rusia Naikan Suku Bunga Acuan 17%

Financeroll – Rusia lebih banyak menelan pil pahit untuk menopang ekonominya. Bank sentral rusia kemarin menaikkan bunga acuan sebesar 650 basis poin, yang berlaku mulai hari ini (16/12).


Dengan kenaikan itu, bunga acuan Rusia naik menjadi 17% dari 10,5%. “Keputusan ini akan membatasi depresiasi nilai tukar rubel dan risiko inflasi,” tulis bank sentral Rusia di laman resminya.


Kenaikan bunga ini merupakan yang keenam sepanjang tahun 2014. Rusia juga sudah menggelontorkan dana US$ 80 miliar dari cadangan devisanya untuk menghentikan pelemahan rubel yang kini terpangkas 49%. Pil pahit ini harus ditelan Rusia sejak menginvasi negara tetangganya, Ukraina Maret lalu.


Rubel kemarin melemah 9,7% menjadi 64,44 per dollar AS. Ekonomi Rusia makin terpuruk dengan penurunan harga minyak Brent. Harga Brent yang menjadi acuan ekspor minyak dari Rusia ini tergerus menyentuh US$ 61,06 per barel kemarin di bursa berjangka ICE Futures, London



Rusia Naikan Suku Bunga Acuan 17%

Dollar Masih Perkasa

Financeroll – Dolar membukukan rekor tertinggi baru terhadap Rubel Rusia pada sesi perdagangan senin Amerika karena harga minyak terjerumus ke titik terendah dan diperparah oleh kekhawatiran bahwa beberapa perusahaan terbesar Rusia bisa default terhadap utang dalam mata uang dolar mereka.


Dalam perdagangan terakhir, dolar naik menjadi 65,5870 rubel RUBUSD, naik 1,33% – tingkat tertinggi yang pernah dicapai – karena harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Januari tenggelam di bawah $ 56 per barel. Pada perdagangan Jumat, Dolar masih bernilai 58 rubel.


Rubel jatuh lebih dari 13% terhadap dolar pada sesi perdagangan Senin, melebihi hryvnia Ukraina sebagai mata uang dengan performa terburuk tahun 2014.


Kekhawatiran tentang jatuhnya harga minyak mendorong dolar lebih rendah terhadap yen di hari Senin waktu perdagangan Amerika. The buck USDJPY, turun 0,06% menjadi ¥ 117,64 Senin, dibandingkan dengan 118,80 ¥ Jumat.


Sementara itu, euro diperdagangkan lebih rendah terhadap dolar pada $ 1,24, dibandingkan dengan $ 1,25 Jumat, setelah data industri produksi untuk November mengalahkan ekspektasi analis.


ICE US Dollar Index DXY, naik 0,29%, ukuran kekuatan greenback terhadap enam mata uang rivalnya, menjadi 88,4360.



Dollar Masih Perkasa

Thursday, December 11, 2014

Dollar Semakin Perkasa

Financeroll – Dolar memperpanjang rally positifnya terhadap mata uang rubel, krone Norwegia dan dolar Kanada pada perdagangan Kamis di Amerika karena harga minyak mentah turun ke bawah $ 60 per barel. Ini adalah pertanda bahwa pelemahan mata uang rubel selama dua minggu terakhir telah menyebar ke mata uang eksportir minyak utama lainnya.


Dolar mencapai puncak tertinggi selama 11-tahun terhadap mata uang krone dan menembus titik tertinggi lima setengah tahun terhadap dolar Kanada . Sementara itu, dollar diperdagangkan di level 56,40 rubel.


Mata Uang lainya, USDNOK, turun 0,16% dan diperdagangkan pada posisi 7.32 krone. USDCAD, turun 0,03% dan diperdagangkan pada level 1,155 dolar Kanada, level tertinggi sejak Juli 2009, dibandingkan dengan 7.13 krone dan 1.140 dolar Kanada pada perdagangan hari Rabu.


Keputusan mengejutkan Norges Bank untuk menurunkan suku bunga acuan menjadi 1,25% dari 1,5% juga menekan krone. Bank sentral Norwegia memangkas suku dalam upaya untuk melindungi ekonomi dari penurunan harga minyak, menurut Jameel Aslam, kepala analis pasar di ForexTime.


Sebelumnya Kamis, Bank Sentral Rusia menaikkan suku bunga acuan dari 9,5% menjadi 10,5% juga dalam upaya untuk mencegah rubel dari trend pelemahan lebih lanjut.


Di Amerika. laporan Penjualan ritel mendorong dolar menguat terhadap saingan, membantu penguatan tiga hari secara berturut-turut. EURUSD euro, turun 0,05% dan diperdagangkan sedikit di bawah $ 1,24, dibandingkan dengan $ 1,245 pada perdagangan Rabu.


USDJPY berada diposisi 118.90, melemah 0,19% dibandingkan dengan ¥ 117,57 pada perdagangan Rabu. Dollar diperdagangkan flat terhadap GBPUSD pound, naik tipis 0,01% dan berada pada posisi $ 1,57.


Index US Dollar Index, DXY, naik 0,38% menjadi 88,60.



Dollar Semakin Perkasa

Tuesday, December 9, 2014

Dollar Cendrung Datar dan Melemah

Financeroll – Dolar AS melemah terhadap rival utamanya pada penutupan sesi perdagangan Amerika hari Selasa. Data-data ekonomi yang tidak terlalu signifikan memdorong aksi jual di pasar saham global yang kemudian juga memaksa para investor untuk membukukan keuntungan di tempat lain.


Namun greenback tetap menguat terhadap rubel karena analis mengatakan bahwa mereka tidak mengharapkan Kenaikan harga minyak yang terlalu berlebihan.The Indeks Dollar DXY, turun 0,34% menjadi 88,7410.


Dolar terhadap Yuan Tiongkok, USDCNY, bergerak tipis dan diperdagangkan pada 6.18 yuan, dibandingkan dengan level 6.17 yuan pada penutupan Senin kemaren. Bagaimanapun, Nilai tukar yuan masih tetap berada dalam rentang kendali Bank Rakyat China.


Terhadap mata uang Asia lainnya, dolar terhadap Yen misalnya, USDJPY, turun 0,11% atau jatuh ke level ¥ 119,60 karena saham-saham Asia ditutup pada level yang lebih rendah. Yen telah diperdagangkan di atas level 121 ¥ sejak Selasa malam, level tertinggi dalam tujuh tahun.



Dollar Cendrung Datar dan Melemah

Monday, December 1, 2014

Jatuhnya Harga Minyak Membuat Rubel Diambangkan

Bagi Rubel, mata uang Rusia –dengan status mengambang sesuai dengan nilai pasar, telah menjadikannya dari mata uang negara pasar berkembang kedua yang menjanjikan menjadi  mata uang dengan kinerja terburuk dalam sepekan sebagai dampak jatuhnya harga minyak dunia.



FINANCEROLL – Dalam sepekan, Rubel jatuh sebesar 9.3 persen di minggu lalu. Saat ini diperdagangkan pada kisaran 50.4085 per dolar AS. Sebagai catatan ini merupakan mata uang paling buruk diantara 24 mata uang negara pasar berkembang lainnga, setelah mengalami kenaikan terbesarnya dalam sepekan selama lebih dari dua tahun terakhir ini.


Gubernur Bank Sentral Rusia, Elvira Nabiullina pada bulan lalu memutuskan untuk membuat nilai tukar Rubel mengambang. Perubahan ini terkait dengan pergerakan harga minyak dunia, sebagai sumber pendapatan anggaran utama Rusia yang harganya mengalami penurunan setelah OPEC memutuskan untuk tetap memproduksi sebagaimana yang ditargetkannya. Jatuhnya harga minyak menjadi hambatan bagi perekonomian Rusia yang masih terkena sanksi ekonomi oleh Barat dan AS.


Masa depan Rubel masih akan melemah, mengingat segalanya nampak akan menghantamnya, ungkap Nabiullina. Oleh sebab itu dengan membuat nilai tukarnya mengambang akan lebih menguntungkan, tambahnya. Rubel sepanjang tahun ini memang melemah 37 persen atas Dolar AS. Ini merupakan catatan terburuk diantara 24 mata uang negara berkembang lain yang dipantau Bloomberg. Sepanjang bulan November saja, mereka turun 13 persen.


Nabiullina mengeluarkan kebijakan tersebut setelah Bank Sentral membelanjakan tak kurang $90 milyar cadangan devisanya dalam bentuk valuta asing dan emas saat nilai tukar mereka terus merosot. Bank of Russia mungkin akan melakukan intervensi dalam skala besar jika semua ini mengancam stabilitas keuangan, ungkap dia didepan parlemen di Moskow pada minggu lalu.


Terindikasi sejumlah aksi spekulan dalam menggoyang Rubel saat ini dengan memanfaatkan jatuhnya harga minyak mentah dunia, dalam salah satu perkiraan yang dilansir Bank of America menyatakan bahwa apabila harga minyak dikisaran $70 per barel, maka nilai tukar Rubel pada kisaran 50-52 rubel per dolar. Pasar sendiri memang menyambut baik kebijakan nilai tukar mengambang ini. Dengan pertimbangan fundamental pergerakan harga lebih mengacu pada pergerakan harga komoditi minyak, wajar apabila Rubel jatuh saat ini. Harga minyak turun dari $115 dibulan Juni hingga ke harga $70 dibulan November”.


Enam tahun lalu, para pembuat kebijakan di Rusia telah melepas $200 milyar dalam tujuh bulan, memangkas cadangan devisa mereka sebesar hampir 40 persen untuk memperkuat Rubel yang jatuh akibat harga komoditi anjlok setelah kebangkrutan Lehman Brothers Holdings Inc. Perkiraan umum saat ini menyatakan bahwa jika Rubel melemah hingga 50 per Dolar AS, maka Rusia akan melakukan intervensi kembali.


Melemahnya Rubel disisi lain akan memberikan keuntungan bagi neraca anggaran Rusia karena ini bisa mendorong peningkatan pendapatan devisa dari ekspor, dimana bisa menutup penurunan yang terjadi akibat turunnya harga Brent. Sumber pendapatan anggaran Rusia memang bersandar pada pendapatan Minyak dan Gas sebesar 50 persen.


Bank of Russia diperkirakan tidak akan melakukan intervensi apabila merosotnya Rubel ini sebagai akibat pukulan jatuhnya harga minyak dunia. Pasar uang akan lebih realistis setelah nilai tukar Rubel diambangkan sehingga benar-benar mencerminkan harga aktual dari minyak.


Nabiullina memang mendapat tekanan untuk menjaga perekonomian Rusia tetap baik dengan arus kredit yang bisa mengalir dalam perekonomian untuk keluar dari resesi ekonomi. Disaat yang sama dia juga harus menghindari semakin dalamnya jatuhnya nilai tukar Rubel yang bisa berakibat pada potensi kerusuhan dari ketidak percayaan rakyat Rusia dan membuat mereka ramai-ramai akan menukar ke Dolar AS.


Peluang Rusia masuk dalam resesi ekonomi sangat besar, sekitar 70%, demikian jajak yang dilakukan oleh pengamat ekonomi pada Oktober silam. Sanksi ekonomi yang diberikan Barat atas Rusia terkait krisis di Ukrainatelah memperlemah ekonomi Rusia. Jatuhnya Rubel saat ini memang sangat kecil terkait dengan kebijakan moneter Rusia, namun lebih kepada dampak dari jatuhnya harga minyak dunia.(Lukman Hqeem | @hqeem)




Jatuhnya Harga Minyak Membuat Rubel Diambangkan

Wednesday, November 26, 2014

Rusia Pertimbangkan Kebijakan Moneter Longgar

Financeroll – Bank Rusia akan mempertimbangkan kebijakan pelonggaran moneter di babak kedua 2015 jika inflasi mulai berada di bawah kontrol, demikian kata Direktur bank sentral sebagaimana dilaporkan kantor berita Rusia melaporkan.


“Di masa depan, karena tren inflasi cendrung stabil dan lebih rendah serta ekspektasi inflasi meningkat, kita siap untuk melonggarkan kebijakan moneter. Perkiraan kami menunjukkan bahwa hal itu sangat mungkin terjadi di paruh kedua 2015,” kata Elvira Nabiullina dalam pidatonya kepada majelis tinggi parlemen Rusia.


Inflasi konsumen telah melampaui plafon bank sentral dari 6,5% dan dapat mencapai 9% pada akhir tahun ini. Bank sentral telah menaikkan suku bunga empat kali tahun ini dalam upaya menjinakkan kenaikan inflasi, yang juga telah didorong oleh pelemahan rubel dan larangan Moskow atas impor pangan dari negara-negara yang memberlakukan sanksi terhadap Rusia setelah krisis di Ukraina timur.


Pengetatan moneter, yang mempengaruhi inflasi pada waktu yang sama, menuai kritik dari bisnis yang mengeluhkan bahwa tingkat inflasi yang lebih tinggi akan menaikkan biaya pinjaman bank.



Rusia Pertimbangkan Kebijakan Moneter Longgar

Thursday, November 20, 2014

Harga Emas Turun, Rusia Borong Emas


Setidaknya 19.7 metrik ton dibeli Rusia pada bulan lalu untuk meningkatkan cadangan devisa setelah harga emas jatuh bersamaan dengan harga minyak dan melemahnya Rubel.



FINANCEROLL – Dalam pernyataan Bank Sentral Rusia, mereka saat ini memiliki cadangan devisa dalam bentuk emas sebesar 1,169.5 ton atau 37.6 juta ons. Hingga bulan Oktober tahun ini mereka telah membeli setidaknya 134.3 ton menurut perhitungan Bloomberg, dari data International Monetary Fund (IMF). Pada 2014, Rusia telah membeli 150 ton emas, demikian dikatakan oleh Gubernur bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina dua hari lalu. Pernyataan ini seakan mengkonfirmasi setidaknya bulan ini Rusia telah membeli 15.7 ton emas lagi.


Pihak Bank Sentral Rusia menggunakan cadangan devisa internasional ini untuk meredam pelemahan Rubel sebagai dampak sanksi ke Rusia yang juga menimbulkan inflasi dan pelarian modal keluar negeri. Para pengambil kebijakan telah menaikkan suku bunga pada bulan lalu, untuk keempat kalinya sejak Maret silam sebagai langkah memperlambat laju inflasi. Rusia telah meningkatkan kepemilikan cadangan emasnya sebesar tiga kali lipat sejak 2005 dan saat ini memiliki tidak kurang 1,185 ton menurut Bloomberg, berdasarkan data IMF dan pernyataan terkini dari Nabiullina.


Dengan perkiraan bank sentral Rusia bahwa sanksi akan berlanjut hingga 2017, maka pertumbuhan di tahun yang akan datang diperkirakan akan mengalami stagnasi. Alhasil langkah memborong emas disaat harga emas menurun ini sebagai upaya mengurangi resiko. Resiko nyata saat ini adalah potensi pembekuan asset Rusia di Barat.


Ketika harga emas telah turun hingga 38 persen dari harga termahalnya di September 2011, Rusia memborong emas. Kini dengan harga dikisaran $1,190.34 per ons di bursa London, Rusia tentu makin agresif melakukan pembelian. Emas yang dimiliki Rusia sekitar 10 persen dari total cadangan devisa asing, demikian menurun World Gold Council, London. Angka ini sangat kecil dibandingkan dengan 70 persen yang dimiliki baik oleh AS dan Jerman, sebagai pemilik cadangan emas terbesar.(Lukman Hqeem)



Harga Emas Turun, Rusia Borong Emas