Showing posts with label OPEC. Show all posts
Showing posts with label OPEC. Show all posts

Tuesday, January 6, 2015

Minyak Catak Rekor Terendah Baru

Financeroll – Minyak ditutup pada sesi perdagangan Selasa di bawah $ 48 per barel untuk pertama kalinya sejak April 2009, dan beberapa investor berspekulasi minyak akan terjun ke kisaran $ 20 per barel.

“Dengan kata lain, spekulasi pada sub $ 30 minyak mentah pada bulan Juni tahun ini 1,7 kali lebih besar dari persediaan fisik di terminal persediaan Nymex di Cushing,” kata Stephen Schork, editor Schork Report yang banyak diikuti, mengacu pada titik penyerahan Oklahoma untuk minyak WTI.


Minyak mentah varian WTI ditutup pada level $47.93 per barel dan crude brent pagi ini bertengger pada level $ 51.00 per barel.



Minyak Catak Rekor Terendah Baru

Monday, January 5, 2015

Minyak Kembali Bukukan Rekor Terendah Baru

Financeroll – Minyak berjangka jatuh pada sesi penutupan pasar Amerika Senin, penurunan beruntun untuk sesi ketiga dan memecahkan rekor tingkat terendah dalam lebih dari lima tahun terakhir di tengah kekhawatiran atas dolar AS yang melonjak dan kekhawatiran atas gangguan pasokan minyak.


Minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Februari CLG5, jatuh $ 2,65, atau 5%, dan stand by di level $ 50,04 per barel di New York Mercantile Exchange. Harga diperdagangkan rendah, yakni di level $ 49,77 per barel pada awal sesi.


Penutupan harga ini merupakan yang terendah untuk kontrak minyak mentah bulan depan sejak 28 April 2009. Harga telah kehilangan 7,5% selama tiga sesi terakhir.


Brent di ICE Futures exchange LCOG5 London, menurun $ 3,31, atau 5,9%, dan mengakhiri sesi pada level $ 53,11 per barel, penutupan terendah sejak 1 Mei 2009. Brent telah kehilangan 8,3% selama tiga sesi terakhir.



Minyak Kembali Bukukan Rekor Terendah Baru

Monday, December 22, 2014

Arab Saudi Yakin Minyak Akan Rebound

Financeroll – Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia, yakin bahwa harga minyak mentah akan pulih dengan  prospek pertumbuhan ekonomi global yang semakin membaik dan akan mendorong permintaan global.


Harga akan pulih dari kemerosotan  yang tajam akibat banjir supply yang diciptakan oleh kurangnya kerjasama dari produsen luar Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak, demikian disampaiakn Menteri Perminyakan Arab Saudi,  Ali Al-Naimi  pada konferensi di Abu Dhabi kemarin. Al-Naimi mengakhiri pidatonya dengan  menunjukkan rasa percaya diri saat ia turun dari panggung sambil tersenyum.


Minyak Brent jatuh tajam  tahun ini karena Amerika Serikat memompa minyak mentah secara berlimpah  lebih dari tiga decade, sementara itu pertumbuhan ekonomi melambat di Tiongkok  dan  Jerman. Peningkatan permintaan minyak mentah global sekitar 700.000 barel per hari tahun ini, di bawah proyeksi 1,2 juta barel per hari, kata Al-Naimi.


“Pasar minyak akan pulih,” kata Al-Naimi. “Bahan bakar fosil akan tetap menjadi sumber utama energi untuk decade-dekade  yang akan datang.”


Minyak melonjak yang turun ke level  terendah dalam  lima tahun terakhir hanya bersifat sementara , kata Al-Naimi . West Texas Intermediate naik 4,5 persen menjadi $ 56,52 per barel pada saat itu  dan Brent naik 3,6 persen menjadi $ 61,38 per barel. Hari ini, Brent naik 1,4 persen dan WTI naik 1,3 persen. Arab Saudi menyumbang sekitar 13 persen dari produksi minyak global tahun lalu, menurut perkiraan BP Plc.



Arab Saudi Yakin Minyak Akan Rebound

Sunday, December 21, 2014

Pendapatan OPEC Tinggal Separuh, Investor Mulailah Beli Saham

Jatuhnya harga minyak mentah saat ini benar-benar menjadi berkah, terlebih bagi bursa saham AS yang diperkirakan akan mengakhiri catatan penutup tahun ini dengan manis.


FINANCEROLL – Berdasarkan data terkini dari AAA, jatuhnya harga minyak mentah membuat harga ritel gasoline disekitar $2.477, untuk pertama kalinya harga ritel gasoline dibawah $2.50 sejak Januari 2009. Hal ini seiring dengan kesadaran kelas menengah AS dan masyarakat bawah yang ingin bisa menyisihkan uang lebih banyak untuk membeli hadiah Natal dan bepergian mengunjungi sanak saudara.


Syukurlah, apa yang terjadi ini merupakan minyak perangsang bagi kebangkitan ekonomi AS lebih lanjut. Bagaimana tidak, dengan jatuhnya harga minyak membuat jutaan rakyat AS bisa lebih banyak menyisihkan uangnya untuk belanja di akhir tahun dan bepergian kesanak-familinya. Tentunya ini adalah sesuatu yang belum pernah dilihat oleh para investor dalam beberapa bulan ini.


AAA juga menyatakan bahwa setidaknya 98.6 juta rakyat AS akan melakukan perjalanan setidaknya 50 mil atau bahkan lebih selama musim liburan akhir tahun ini, umumnya meraka akan melakukan perjalan darat dengan mengendarai kendaraan sendiri. Bagi sebagian yang memilih moda angkutan udara, jatuhnya harga minyak juga menurunkan harga bahan bakar pesawat terbang. Alhasil harga tiket pesawat juga menurun, sesuatu yang akan menarik minat konsumen untuk bepergian pula dengan pesawat terbang.Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan oleh maskapai-maskapai penerbangan untuk meraup penumpang yang lebih banyak lagi. Setidaknya, para investor yang menjadi pemegang saham maskapai tentu sudah melihat potensi dibalik jatuhnya harga minyak mentah saat ini.


Disisi lain, jatuhnya harga minyak mentah ini memang tidak bisa membahagiakan semua pihak. Kartel minyak, OPEC diperkirakan kehilangan separuh pendapatannya. Sebagaimana kita pahami bahwa jatuhnya harga minyak mentah dan komoditi lainnya telah menjadi pukulan yang hebat. Setidaknya sejak pertemuan OPEC pada 27 November kemarin, baik Arab Saudi dan Kuwait telah sama-sama berusaha untuk menunjukkan langkah-langkah penyelamatan pasar disaat harus berjuang pula agar bahtera ini tidak tenggelam oleh sekutu-sekutu mereka yang menurun pendapatannya akibat jatuhnya harga minyak.


Pihak EIA memperkirakan pendapatan di 2014 akan sekitar $700 milyar atau mengalami penurunan sebesar 8% dari 2013. Sesuatu yang tidak terlalu buruk memang. Sebaliknya, bagi kartel minyak diperkirakan mereka akan kehilangan pendapatan hampir $400 milyar di tahun 2015 ini. Ini merupakan separuh pendapatan mereka di 2013 yang bisa menjadi sebuah ancaman serius bagi negara-negara anggota OPEC yang sangat tergantung pendapatannya dari dari minyak untuk membiayai sejumlah program sosial.


Arab Saudi, Kuwait, dan Irak memiliki separuh dari total pendapatan negara-negara OPEC, sehingga saat negara-negara seperti Venezuela dan Angola tidak bisa bertahan dengan jatuhnya harga minyak, hanya masalah waktu saja sebelum kartel tersebut membuat keputusan lain atau sama-sama memangkas produksi minyak jika tidak ingin melihat sejawatnya tenggelam.


Memang OPEC yang telah kehilangan separuh pendapatannya dalam dua tahun ini dan Rubel Rusia yang turun seiring dengan jatuhnya harga minyak, namun belum tentu harga minyak sendiri masih akan seburuk itu.


Mustahil memang untuk merujuk harga pasar secara tepat, namun dari padangan umum terbersit bahwa setidaknya diakhir Juni nanti harga minyak mentah akan kembali naik. Dengan asumsi yang demikian, diyakini bahwa saham-saham sektor ini akan menjadi tujuan yang tepat untuk menjadi sasaran aksi beli kembali saat ini. Khususnya saham-saham sektor minyak dan energi dari daratan Amerika Utara.


Sebelumnya, ketakutan pasar akan jatuhnya harga minyak membuat saham-saham tersebut ditinggalkan oleh para investor. Aksi jual yang dilakukan dan berpaling dari mereka saat menyentuh harga termurahnya dalam lima tahun terakhir ini adalah sesuatu yang absurb. Jika kita berharap harga saham tersebut akan kembali semurah saat 2009 silam dan baru kita akan membelinya, maka langkah ini kurang tepat.


Jadi kenapa masih terbang kesana-kemari, apakah panik ? nampaknya memang demikian. Harga minyak tidak akan kemana-mana, meski harga minyak telah jatuh. Buktinya perusahaan-perusahaan minyak tetap saja mengebor minyak . Ini berarti bahwa harga minyak tidak akan jatuh begitu dalam. Menunggu harga minyak mentah naik kembali, Investor bisa memilah untuk membeli saham-saham di lantai bursa.



Pendapatan OPEC Tinggal Separuh, Investor Mulailah Beli Saham

Sunday, December 7, 2014

Minyak Terus Terdepak Turun

Financeroll – Patokan minyak mentah Amerika, CLF5, turun 1,73%, merosot ke level terendah lima tahun pada hari Jumat. Minyak berdiri di level $ 65,84 per barel – harga terendah sejak Juli 2009.


WTI telah jatuh 33% sampai saat ini dalam satu tahun terakhir, dan total kejatuhan sudah mencapai 55% dari rekor tertinggi $ 145,29 hit pada bulan Juli 2008.


Harga minyak telah dipukul abis-abisan akhir-akhir ini oleh faktor-faktor seperti OPEC memutuskan untuk tidak mengurangi produksi, penguatan dolar dan Arab Saudi memotong harga untuk pengiriman Januari ke AS dan kepada pembeli Asia.


Patokan harga minyak zona Eropa pada hari Jumat juga berada di level terendah dalam lebih dari lima tahun, dengan minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari LCOF5, turun 1.91% dan berakhir pada level $ 69,07 per barel. Ini adalah penutupan terendah untuk kontrak bulan depan sejak Oktober 2009, dan Brent turun 38% pada tahun ini.



Minyak Terus Terdepak Turun

Thursday, November 27, 2014

Yen Melemah Menjelang Dirilisnya Data Utama di Jepang

Financeroll – Yen Jepang sedikit lebih lemah di Asia pada awal Jumat setelah keputusan OPEC untuk meninggalkan tingkat produksi.


USD / JPY diperdagangkan di 117,79, naik 0,04%, sementara AUD / USD berpindah posisi pada 0,8534, turun 0,10%. EUR / USD diperdagangkan pada 1,2466. NZD / USD turun 0,21% menjadi 0,8532 setelah data dikeluarkan.


Minyak mentah untuk pengiriman Januari turun $ 4,64, atau 6,3%, ke $ 69,05 per barel dimana perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange dihentikan untuk hari. Ini merupakan level terendah sejak Mei 2010. Nymex ditutup Kamis dengan memperhatikan momen Thanksgiving dan akan dibuka kembali pada hari Jumat, sementara perdagangan elektronik dihentikan pada 01:00 EST dan akan kembali pada 6:00 EST. Brent yang sebagai patokan global, turun $ 4,93, atau 6,3%, ke $ 72,82 per barel di bursa ICE Futures Europe.



Yen Melemah Menjelang Dirilisnya Data Utama di Jepang

Hanya Tiga Negara OPEC yang Tidak Mengurangkan Kuota Produksi

Financeroll – Negara pengekspor minyak (OPEC) akan mengecualikan tiga negara dari kebijakan pengurangan kuota produksi, menurut sumber yang dekat dengan rencana pertemuan kartel minyak tersebut.


Irak, Iran dan Libya tidak harus menurunkan suplai minyak mereka seandainya OPEC sepakat untuk memangkas produksinya pada pertemuan OPEC 27 November di Wina, Austria.


Menteri Perminyakan Arab Saudi, Ali Al-Naimi mengatakan kemarin bahwa persoalan kelebihan pasok minyak di pasar bukanlah hal baru yang dibicarakan. Disebutkan pertemuan akan berjalan lancar tanpa ada hal yang di luar dugaan.


Harga minyak mentah anjlok tahun ini akibat pasar lesu setelah AS meningkatkan produksi minyaknya. Peningkatan terbesar dalam tiga dekade itu dilakukan menyusul spekulasi Arab Saudi tidak akan memangkas produksinya.


Sejumlah analis pasar pun berbeda pendapat soal apakah OPEC akan memangkas produksi atau tidak.


Sangat masuk akal bila tiga negara tersebut tidak memangkas produksi mereka karena mereka memproduksi lebih rendah dari yang seharusnya.


Arab Saudi mungkin ingin mendapatkan jaminan dari Iran, Irak dan Libya bahwa mereka tidak ingin meningkatkan produksi.



Hanya Tiga Negara OPEC yang Tidak Mengurangkan Kuota Produksi

Wednesday, November 26, 2014

Minyak Masih Bearish, Pasar Menanti Keputusan Dari OPEC

Financeroll – Harga minyak Brent dan West Texas Intermediate memperpanjang penurunan harga terendah lebih dari empat tahun di tengah-tengah spekulasi bahwa OPEC akan menahan diri untuk memangkas output ketika para petinggi bertemu di Wina hari ini, Kamis (27/11).


Minyak Brent untuk Januari turun 1.47 ke level 76.28 barel di ICE Futures Eropa yang berbasis di London penutupan terendah sejak 9 September 2010. Sedangkan minyak WTI untuk pengiriman Januari turun sebanyak $1,08 atau 1,5 persen ke $72.61 per barel di New York Mercantile Exchange. Kontrak jatuh 40 sen menjadi $73.69 kemarin, penutupan terendah sejak 21 September 2010.


Volume yang diperdagangkan untuk kesemua adalah dua kali lipat rata-rata 100 hari. Harga telah menurun 26 persen tahun ini.


Pertemuan dari OPEC pada hari ini di Wina akan mengambil posisi bersatu, seperti yang dikatakan kata Menteri energi Uni Emirat Arab. Tanpa merinci lebih jelas maksudnya seperti apa, akan tetapi yang pasti pertemuan tersebut akan melakukan apa pun untuk menyeimbangkan pasar,


Harga minyak telah runtuh ke dalam posisi bearish di tengah output AS tertinggi dalam tiga dekade dan tanda-tanda perlambatan pertumbuhan permintaan global. Sebuah survei Bloomberg News yang diberikan kepada 20 analis mengatakan OPEC akan mengurangi pasokan untuk mendukung harga. Akan tetapi berbeda dengan tindakan Arab Saudi yang menunjukkan ketidak setujuannya untuk pemotongan produksi.



Minyak Masih Bearish, Pasar Menanti Keputusan Dari OPEC

Thursday, November 6, 2014

Pengangguran AS Diperkirakan Terendah 6 Tahun Ini, Dolar Makin Perkasa

FINANCEROLL – Akhir pekan ini, pemerintah AS akan mengumumkan angka pengangguran dan jumlah payroll disektor non pertanian. Data nonfarm payroll AS diperkirakan akan mengalami kenaikan 235,000 pekerja pada bulan lalu, setelah naik 248,000 dibulan September. Angka pengangguran AS diperkirakan akan berada diposisi terendah dalam enam tahun ini diangka 5.9 persen pada Oktober.


Sebelumnya, Data domestic AS menunjukkan penurunan jumlah rakyat AS yang dipecat dan mengisi lembar pengangguran pada mingu lalu. Ini menandakan pemulihan ekonomi AS berjalan membaik, menjelang pengumuman data Payroll bulan Oktober  yang akan diumumkan pada Jumat (07/11) waktu setempat.


Jumlah pekerja yang mengisi klaim pengangguran selama minggu kemarin menurun hanya sebesar 278,000 selama sepekan hingga 1 November, dibawah perkiraan pasar sebesar 285,000. Pergerakan rata-rata dalam empat minggu terakhir menunjukkan jumlah pengurangan pekerja terus menurun, terendah dalam 14 tahun ini.


Pelaku pasar telah siap dengan kemungkinan hasil data ekonomi yang lebih positif membuat Dolar AS pun beringsut naik.  Dolar AS terus menunjukkan keperkasaannya atas mata uang besar lainnya, khususnya Euro dan Yen. Pukulan mereka membuat Komoditi seperti Emas dan Minyak ajlok harganya. Sementara itu bursa saham AS juga naik dan berimbas dengan kenaikan indek saham global, seperti di Australia dan Selandia Baru,


Pada akhir pekan ini, Dolar AS diperdagangkan pada 115.22 yen di Tokyo, menjadi catatan kenaikan dalam tiga pekan ini setelah berusaha menggapai posisi terkuatnya dalam tujuh tahun terakhir ini. Terhadap Euro, Dolar AS berada di posisi terkiat dalam dua tahun terakhir ini. Indek Saham S&P/ASX 200 di Sydney naik 0.4 persen bersama dengan Indek NZX 50 Index setelah Indek Standard & Poor’s 500 mencatat hasil positif pun juga Indek Dow Jones. Harga minyak selain terpukul oleh Dolar AS juga terpengaruh sentiment pernyataan OPEC, yang menyatakan permintaan minyak global akan mengalami penurunan.


Euro sendiri jatuh ditengah kenaikan indek saham Eropa setelah pihak Presiden Bank Sentral Eropa, Mario Draghi menegaskan komitmennya untuk tetap melakukan kebijakan stimulus lanjutan, jika kondisi ekonomi zona Euro memerlukan dukungan. Pernyataan Draghi ini mengisyaratkan ECB telah siap dengan menjalankan kebijakan kuantitatif sepenuhnya, setelah mereka memutuskan tetap mempertahankan suku bunga saat ini.


Diakhir pekan ini, Euro diperdagangkan tidak beranjak pada kisaran $1.2377 setelah sebelumnya jatuh 0.9 persen dan merupakan posisi terlemahnya sejak 21 Agustus 2012. Selama seminggu ini, Euro telah turun 1.2 persen dan menjadi pekan yang buruk bagi Euro terhadap Dolar AS sebulan ini.


Seminggu sebelumnya, pihak Bank of Japan secara mengejutkan telah menaikkan jumlah besaran dana untuk merangsang ekonominya guna menghindari deflasi. Yen turun 2.5 persen, tercatat sebagai penurunan terbesar diantara 11 mata uang Asia lainnya. Melemahnya nilai tukar Yen ini menjadi pukulan bagi Won Korea, yang telah anjlok 1.4 persen selama minggu ini.


Melemahnya Yen membuat ekpor Jepang lebih bersaing. Won diperdagangkan  turun 0.6 persen ke 1,094.90 per dolar. Indek KOSPI Seoul naik 0.2 persen. Indek Nikkei 225 Tokyo, belum beranjak dari kisaran 16,935 di bursa Chicago Mercantile Exchange  setelah anjlok 0.7 persen diperdagangan sebelumnya. Pada bursa di Osaka diperdagangkan naik 16,950, naik tajam dari hasil penutupan perdagangan sebelumnya di 16,820. Indek saham S&P sendiri pada Kamis (06/11) berakhir menguat 0.4 persen ke level 2,031.21, sementara indek Dow naik pada 17,554.47.


Harga komoditi minyak mentah turun hingga ke $77.85 per barel, setelah Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) mempublikasikan proyeksi permintaan minyak global hingga 20 tahun kedepan. Disisi lain, produksi minyak dunia memang mengalami tantangan dengan terjadinya peningkatan seiring kemajuan teknologi. Anggota-anggota OPEC bersaing dengan AS yang memiliki teknologi produksi lebih baik. Tak ayal harga minyak terus tertekan.



Pengangguran AS Diperkirakan Terendah 6 Tahun Ini, Dolar Makin Perkasa