Showing posts with label pasar keuangan. Show all posts
Showing posts with label pasar keuangan. Show all posts

Monday, November 10, 2014

Meneg PPN/Bappenas Tidak Mau Didikte Pasar

Financeroll – Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Andrinof Chaniago mengaku tak peduli dengan reaksi negatif pasar keuangan terhadap penunjukkan dirinya sebagai pembantu presiden.


Menurut Andrinof, pemerintah tidak peduli dengan dampak jangka pendek, tetapi lebih melihat prospek jangka panjang.


Intinya jangan mau didikte segelintir pelaku pasar, pemerintah tidak mau kucing-kucingan dengan fluktuasi harga pasar, melainkan ingin membangun pondasi pembangunan yang kokoh dan berkesinambungan. Caranya dengan meningkatkan produktifitas rakyat seluas-luasnya.


Jadi, inginnya uang berputar di lingkaran yang besar, tidak berputar hanya di lingkaran atas saja yang kecil.


Jika aliran dana berputar di lingkaran luas masyarakat, maka pemerintah menilai dana akan melekat di tanah air dan tidak mudah lari ke luar negeri.


Salah satu strategi mendorong pertumbuhan pembangunan ialah menciptakan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi agar bisa memberi nilai tambah.



Meneg PPN/Bappenas Tidak Mau Didikte Pasar

Sunday, October 26, 2014

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp 11.800-Rp 12.000 per USD

Financeroll – Laju nilai tukar Rupiah diharapkan mampu menguat pasca pengumuman Kabinet Kerja Jokowi-JK. Hal tersebut karena nama-nama yang diumumkan menjadi menteri dianggap membawa sentimen positif  bagi perkembangan pasar keuangan.  Nilai tukar Rupiah  diperkirakan bergerak di kisaran  Rp 11.800-Rp 12.000 per USD. [geng]


Selain itu, kondisi Rupiah pasca pengumuman kabinet diharapkan dapat kembali memulihkan penguatan Rupiah, terutama dilihat oleh pasar ternyata profesional lebih banyak mendominasi kabinet itu positif.


Hal tersebut dapat terjadi karena pasca euforia kabinet sudah pudar, masyarakat akan lebih mengarah ke stabilitas makro.  Makro inflasi, serta pertumbuhan Rupiah akan membuat  kurs  Rupiah menguat dan dolar melemah. [geng]



Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp 11.800-Rp 12.000 per USD

Wednesday, October 15, 2014

Sentimen Negtif  Mereda, Pasar Uang Domestik Menggeliat

Financeroll – Pada perdagangan Rabu (15/10) pelemahan mata uang rupiah mulai terbatas. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  melemah enam poin menjadi Rp 12.212 dibanding posisi sebelumnya Rp 12.206 per dolar AS.   Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 40 poin berkat aksi beli di saham-saham yang sudah murah. Indeks makin mendekati lagi level 5.000.  Indeks terus menanjak sejak awal perdagangan sampai ke titik tertingginya hari ini di 4.972. IHSG masih terus berusaha kembali ke level psikologis 5.000.


Salah satu program yang ditunggu kalangan pasar keuangan di dalam negeri yakni realisasi kenaikan harga BBM bersubsidi. Dinaikkannya harga BBM itu diharapkan memberi ruang untuk mendorong pengembangan infrastruktur. Berkembangnya infrastruktur dapat mendorong salah satu lembaga pemeringkat menaikkan peringkat Indonesia menjadi investment grade.   Kembali menguatnya dolar AS terhadap rupiah seiring dengan bisnis Jerman dan produksi industri di negara-negara kawasan Eropa yang mengalami penurunan.


Inflasi Tiongkok yang mencatatkan perlambatan menimbulkan harapan pelonggaran moneter bank sentral Tiongkok (PBoC) untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonominya.  Seiring pelemahannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) mata uang domestik ini juga bergerak melemah menjadi Rp 12.229 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.195 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup perdagangan Sesi I, IHSG melaju 36,793 poin (0,75%) ke level 4.959,375 setelah mulai ramai aksi beli di lantai bursa. Investor lokal paling banyak berburu saham ketimbang asing.  Saham-saham yang harganya sudah murah akibat koreksi kini jadi incaran investor. Saham-saham lapis dua naik cukup tinggi berkat aksi beli ini.


Pada akhir perdagangan  IHSG ditutup menguat 40,358 poin (0,82%) ke level 4.962,940. Sementara Indeks LQ45 menanjak 7,769 poin (0,93%) ke level 839,113.  Saham-saham komoditas jadi penghambat laju IHSG setelah kena koreksi akibat dilepas investor asing. Transaksi investor asing sore ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 182,897 miliar di seluruh pasar.


Sementara situasi dan kondisi bursa regional sore hari ini:  Indeks Nikkei 225 menguat 137,01 poin (0,92%) ke level 15.073,52,  Indeks Hang Seng naik 92,08 poin (0,40%) ke level 23.140,05, Indeks Komposit Shanghai menanjak 14,19 poin (0,60%) ke level 2.373,67, dan  Indeks Straits Times tumbuh 9,02 poin (0,28%) ke level 3.203,42. [geng]


 



Sentimen Negtif  Mereda, Pasar Uang Domestik Menggeliat

Rupiah Ditutup Melemah di Posisi Rp 12.206 per USD

Financeroll – Pelemahan mata uang rupiah mulai terbatas. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu (15/10) sore, melemah enam poin menjadi Rp 12.212 dibanding posisi sebelumnya Rp 12.206 per dolar AS.  Diharapkan berjalan kondusif sehingga pemerintahan baru nanti dapat langsung bekerja untuk merealisasikan program-programnya yang telah dicanangkan sebelumnya.


Salah satu program yang ditunggu kalangan pasar keuangan di dalam negeri yakni realisasi kenaikan harga BBM bersubsidi. Dinaikkannya harga BBM itu diharapkan memberi ruang untuk mendorong pengembangan infrastruktur. Berkembangnya infrastruktur dapat mendorong salah satu lembaga pemeringkat menaikkan peringkat Indonesia menjadi investment grade. Saat ini, hanya lembaga Standard & Poor’s (S&P) yang belum memberikan investment grade.


Kembali menguatnya dolar AS terhadap rupiah seiring dengan bisnis Jerman dan produksi industri di negara-negara kawasan Eropa yang mengalami penurunan. Pelambatan ekonomi di kawasan itu dikhawatirkan berdampak ke global sehingga membuat mata uang berisiko di negara berkembang cenderung terkoreksi.


Meski demikian,   inflasi Tiongkok yang mencatatkan perlambatan menimbulkan harapan pelonggaran moneter bank sentral Tiongkok (PBoC) untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonominya.  Seiring pelemahannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia mata uang domestik ini juga bergerak melemah menjadi Rp 12.229 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.195 per dolar AS.  [geng]



Rupiah Ditutup Melemah di Posisi Rp 12.206 per USD