Showing posts with label bank sentral Tiongkok (PBoC). Show all posts
Showing posts with label bank sentral Tiongkok (PBoC). Show all posts

Sunday, October 19, 2014

Senin Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.044 / USD

Financeroll – Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi hingga siang bergerak menguat sebesar 65 poin menjadi Rp 12.044 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.109 per dolar AS.  Mata uang rupiah kembali menguat terhadap dolar AS seiring dengan sentimen eksternal dan domestik yang cukup kondusif.


Rencana penyuntikan likuiditas oleh Bank Sentral Tiongkok (PBOC) diperkirakan memicu sentimen pelemahan dolar AS di pasar Asia pada perdagangan hari ini (20/10). Diperkirakan PBOC akan mengucurkan dananya sekitar 32,7 miliar dolar AS.


Di sisi lain, faktor domestik yakni situasi politik yang membaik juga menjadi salah satu penopang mata uang rupiah terhadap dolar AS. Pada saat yang bersamaan, surat utang negara (SUN) dan IHSG juga menguat.


Pasar Asia berpeluang menguat terdorong oleh eforia injeksi likuiditas oleh PBOC. Pelantikan Presiden-Wakil Presiden RI yang diperkirakan kondusif juga menjadi alasan tambahan untuk rupiah kembali menguat.  Kurs Rrupiah kembali menguat seiring dengan investor yang mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga AS (Fed rate) sehingga mengikis permintaan mata uang dolar AS.


Apresiasi rupiah juga terbantu oleh perbaikan mood pasar menjelang pelantikan Presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla, diharapkan program-program yang dicanangkan untuk menggenjot perkembangan infrastruktur dapat terealisasi. [geng]



Senin Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.044 / USD

Wednesday, October 15, 2014

Rupiah Ditutup Melemah di Posisi Rp 12.206 per USD

Financeroll – Pelemahan mata uang rupiah mulai terbatas. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu (15/10) sore, melemah enam poin menjadi Rp 12.212 dibanding posisi sebelumnya Rp 12.206 per dolar AS.  Diharapkan berjalan kondusif sehingga pemerintahan baru nanti dapat langsung bekerja untuk merealisasikan program-programnya yang telah dicanangkan sebelumnya.


Salah satu program yang ditunggu kalangan pasar keuangan di dalam negeri yakni realisasi kenaikan harga BBM bersubsidi. Dinaikkannya harga BBM itu diharapkan memberi ruang untuk mendorong pengembangan infrastruktur. Berkembangnya infrastruktur dapat mendorong salah satu lembaga pemeringkat menaikkan peringkat Indonesia menjadi investment grade. Saat ini, hanya lembaga Standard & Poor’s (S&P) yang belum memberikan investment grade.


Kembali menguatnya dolar AS terhadap rupiah seiring dengan bisnis Jerman dan produksi industri di negara-negara kawasan Eropa yang mengalami penurunan. Pelambatan ekonomi di kawasan itu dikhawatirkan berdampak ke global sehingga membuat mata uang berisiko di negara berkembang cenderung terkoreksi.


Meski demikian,   inflasi Tiongkok yang mencatatkan perlambatan menimbulkan harapan pelonggaran moneter bank sentral Tiongkok (PBoC) untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonominya.  Seiring pelemahannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia mata uang domestik ini juga bergerak melemah menjadi Rp 12.229 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.195 per dolar AS.  [geng]



Rupiah Ditutup Melemah di Posisi Rp 12.206 per USD