Financeroll – Perusahaan minyak dan gas pelat merah PT Pertamina (Persero) mengantongi pinjaman valuta asing senilai US$1,8 miliar setara dengan Rp21,6 triliun dari sindikasi 12 perbankan lokal dan luar negeri.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno menegaskan proses perolehan pinjaman valas tersebut telah diajukan sejak dirinya belum menjabat sebagai menteri. Pertamina mengajukan izin penerbitan global bond kepada Dahlan Iskan, menteri BUMN saat itu.
“Prosesnya sudah sejak sebelum saya menjadi menteri, itu proses sudah dari sebelumnya,” ungkapnya disela-sela acara BUMN menanam 3.000 pohon di Kanal Banjir Timur (KBT).
Pertamina meraih pinjaman senilai US$1,8 miliar dengan jangka waktu 5 tahun pada Oktober lalu. Fasilitas pinjaman sindikasi 12 perbankan itu secara resmi ditandatangani pada 18 November 2014.
Pinjaman tersebut terbagi dua, yakni sebesar US$500 juta merupakan onshore, dan sisanya senilai US$1,3 miliar adalah offshore secara bertahap.
Sejak awal tahun, Pertamina memang berencana untuk menerbitkan global medium-term notes (GMTN) senilai US$2,5 miliar untuk mendukung pengembangan bisnis tahun ini. Rencana itu kemudian dievaluasi pada pertengahan tahun.
Proses perizinan juga telah diajukan kepada Menteri BUMN saat itu. Dahlan Iskan telah memberikan restu atas penerbitan surat utang global jangka menengah milik perusahaan migas pemerintah tersebut.
Ketika itu, Moody’s Investor Service menegaskan peringkat Baa3 kepada Pertamina dengan outlook stabil. Moody’s juga menegaskan rating provisional Baa3 terhadap global medium-term notes milik Pertamina.
Meski Pertamina telah meraup fasilitas pinjaman berupa dana dari luar negeri, Rini menegaskan, perolehan tersebut tidak dapat serta merta digunakan. Dia meminta direksi Pertamina yang baru, yakni Dirut Dwi Soetjipto, untuk melaporkan rencana penggunan dana hasil global bond itu.
Sebelum fasilitas pinjaman itu digunakan, pemerintah meminta manajemen yang baru untuk menjelaskan secara rinci. Kemudian, nantinya akan dilakukan koordinasi dengan kementerian teknis lainya.
Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Pertamina pada 2015 mendatang harus sejalan dengan program-program yang telah dicangkan oleh pemerinah.
Selain itu, Rini juga akan melakukan evaluasi secara menyeluruh utang Valas maupun rupiah yang dimiliki oleh Pertamina. Dia berharap Dwi Soetjipto sebagai dirut, dan tiga direksi lainnya mampu dan siap mengemban amanah tersebut.
“Saya meminta secara menyeluruh, yang sudah terpakai untuk apa saja, dan yang belum terpakai rencananya akan dipakai untuk apa saja, saya akan review semua,” jelasnya.
Dalam laporan keuangan Pertamina per Juni 2014, disebutkan utang Pertamina melonjak 21,15% menjadi US$8,68 miliar, dari sebelumnya US$7,185 miliar. Aset Pertamina hingga 30 Juni 2014 mencapai US$51,91 miliar, naik dari sebelumnya US$49,34 miliar.
Total liabilitas Pertamina hingga paruh pertama tahun ini mencapai US$34,18 miliar, naik dari sebelumnya sebesar US$32,05 miliar. Sedangkan ekuitas tercatat mencapai US$17,72 miliar dari sebelumnya US$17,28 miliar.
Per semester I/2014, Pertamina meraup penjualan dan pendapatan lain sebesar US$36,73 miliar, naik bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$34,64 miliar. Sedangkan laba bersih tercatat mencapai US$1,13 miliar, turun dari periode yang sama tahun lalu US$1,48 miliar.
Pinjaman Valuta Asing PT Pertamina Senilai US$1,6 Miliar
No comments:
Post a Comment