Showing posts with label Semen Baturaja. Show all posts
Showing posts with label Semen Baturaja. Show all posts

Thursday, December 4, 2014

PT Semen Baturaja Akan Kembali Naikkan Harga Jual Semen

Financeroll – PT Semen Baturaja (Persero) Tbk akan kembali menaikkan harga jual semen dalam waktu dekat seiring dengan kenaikan harga BBM bersubsidi.


Direktur Keuangan Semen Baturaja (SMBR) Ageng Purboyo Angrenggono mengatakan, untuk kegiatan pabrik, perseroan sudah menggunakan BBM non-subsidi. Namun demikian, untuk kegiatan distribusi masih menggunakan solar bersubsidi.


Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya distribusi hingga 15%-20%. Makanya harus dibebankan ke harga. Karena masih tawar menawar dengan distributor. Kemungkinan akan menaikkan harga lagi, jadi akumulatif harga jual naik 4% sampai akhir tahun.


Sejak akhir 2013 hingga September 2014, harga jual semen perseroan sudah naik 3%. Sementara itu, perseroan akan menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp900 miliar. Belanja modal tersebut akan digunakan untuk pengembangan proyek dan kegiatan rutin perseroan. Sebagian besar capex yang dialokasikan untuk pengembangan proyek akan digunakan untuk proyek Baturaja II.


Untuk yang tahun ini disiapkan capex Rp700 miliar, untuk kegiatan rutin sudah terealisasi 80%. Nanti akhir tahun akan membayar uang muka kepada kontraktor Rp500 miliar.



PT Semen Baturaja Akan Kembali Naikkan Harga Jual Semen

Saturday, November 15, 2014

Kenaikan Harga BBM Berdampak Positif Bagi PT Semen Baturaja

Financeroll – Rencana penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diharapkan dapat segera terealisasi dan dialihkan kepada sektor infrastruktur agar mampu menggerakkan pertumbuhan kinerja emiten semen pelat merah.


Sekretaris Perusahaan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk ngatakan rencana pengalihan subsidi BBM ke sektor pembangunan infrastruktur dapat berdampak positif bagi kinerja perseroan. Rencananya, penaikan harga BBM akan dilakukan sebelum awal 2015.


Pengalihan subsidi BBM ke infrastruktur membuat permintaan semen akan meningkat pada tahun depan. Rencana pemerintah tersebut tentu akan menggenjot kinerja emiten berkode saham SMBR itu.


Memang dampak terhadap masyarakat akan terjadi penurunan daya beli, tapi dalam jangka pendek. Proyek-proyek pemerintah tidak akan terpengaruh, jalan, infrastruktur, pelabuhan, pembangkit listrik akan semakin banyak.


Melihat kondisi tersebut, emiten berkode saham SMBR itu akan meningkatkan target produksi dan penjualan pada 2015. Meski belum diungkapkan jumlah target, dipastikan pada 2015 akan lebih tinggi ketimbang tahun ini.


Sepanjang 2014, SMBR menargetkan dapat memproduksi dan menjual semen sebanyak 1,3 juta-1,4 juta ton. Target tersebut sedikit diturunkan dari awal tahun 1,5 juta ton.


Hingga kuartal III/2014, SMBR telah memproduksi semen sebanyak 853.000 ton atau sekitar 60,92% dari total target. Ada optimistis, target hingga akhir tahun dapat terealisasi seiring dengan dimulainya proyek-proyek pemerintah.


Per 30 September 2014, SMBR membukukan laba bersih Rp220,56 miliar, meningkat 8,95% dari tahun lalu Rp202,45 miliar. Sedangkan dari sisi pendapatan, SMBR meraih Rp816 miliar naik 2,77% dari sebelumnya Rp794 miliar.


Pada 2015, perseroan akan mengalokasikan belanja modal minimum separuh dari total kebutuhan pembangunan pabrik Semen Baturaja II. Pabrik yang akan dimulai pembangunan awal 2015 selama 2 tahun itu diperkirakan menelan dana investasi Rp2,9 triliun.



Kenaikan Harga BBM Berdampak Positif Bagi PT Semen Baturaja

Sunday, November 9, 2014

Kinerja Emiten Semen Alami Tekanan Karena Beban Penjualan

Financeroll – Naiknya beban pokok penjualan menjadi faktor penekan pertumbuhan kinerja emiten semen sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.


Berdasarkan laporan keuangan sembilan bulan pertama 2014, dari empat perusahaan semen yang melantai di Bursa Efek Indonesia, seluruhnya mengalami kenaikan beban pokok penjualan di atas 10%. Peningkatan beban pokok penjualan paling tinggi dialami oleh PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) yang mencapai 21,02%.


Disusul oleh PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) dengan kenaikan 16,73%, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) 14,03% dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) sekitar 10,15%.


Faktor utama kenaikan beban pokok pendapatan/penjualan adalah kenaikan tarif listrik yang berlaku bertahap sepanjang tahun ini. Pada SMBR, beban pokok penjualan meningkat cukup signifikan 21,02% menjadi Rp576,36 miliar dari Rp476,25 miliar pada periode yang sama tahun lalu.


Kenaikan ini membuat laba kotor perseroan ikut tertekan. Laba kotor perseroan tercatat Rp240,47 miliar atau lebih rendah dari perolehan sebelumnya Rp318,69 miliar. Adapun laba bersih perseroan tercatat Rp220 miliar atau hanya tumbuh 8,94% dari perolehan pada periode sebelumnya Rp202,45 miliar.


Sama dengan SMBR, naiknya beban pokok penjualan juga menekan kinerja emiten semen lainnya seperti INTP, SMGR dan SMCB. INTP dan SMGR mencatatkan kenaikan laba bersih di bawah 5%, sedangkan SMCB justru mencatatkan penurunan.


Sepanjang sembilan bulan pertama, pendapatan INTP tercatat Rp14,16 triliun atau naik 6,14% dari perolehan pada periode sebelumnya Rp13,34 triliun.


Namun, beban pokok penjualan yang naik 10,15% dan beban usaha yang melonjak 20% membuat laba kian tertekan. Beban pokok penjualan perseroan menjadi Rp7,81 triliun dari Rp7,09 triliun, sedangkan beban usaha menjadi Rp2,28 triliun dari Rp1,9 triliun.


Adapun, laba bersih perseroan hanya meningkat 3,05% dari perolehan laba Rp3,6 triliun menjadi Rp3,71 triliun.


Begitu juga dengan SMGR yang hanya menorehkan laba bersih Rp4,08 triliun atau naik 4,61% dari perolehan laba sebelumnya yang Rp3,90 triliun. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, penjualan perseroan tercatat tumbuh 11,21% menjadi Rp19,34 triliun dari Rp17,39 triliun.


Namun, beban pokok yang cukup tinggi dengan pertumbuhan 14,03% dari Rp9,55 triliun menjadi Rp10,89 triliun pada sembilan bulan pertama tahun ini membuat laba perseroan jadi menyusut. Beban operasional juga meningkat dari Rp22,79 miliar menjadi Rp35,65 miliar.


Sementara itu, dibandingkan dengan tiga emiten lainnya, SMCB paling terpuruk. Naiknya beban pokok penjualan yang mencapai 16,73% dari Rp4,6 triliun menjadi Rp5,37 triliun membuat laba perseroan turun. Laba tercatat Rp569,69 miliar atau turun 5,16% dari perolehan laba sebelumnya yang mencapai Rp599,13 miliar.



Kinerja Emiten Semen Alami Tekanan Karena Beban Penjualan