Showing posts with label pasar Indonesia. Show all posts
Showing posts with label pasar Indonesia. Show all posts

Tuesday, January 20, 2015

Semester I, Penerbitan Obligasi Korporasi Diperkirakan Marak

Financeroll - Pada semester pertama 2015, Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) memperkirakan penerbitan surat utang atau obligasi korporasi akan marak.  Deviasinya tergantung dari situasi suku bunga terutama pengaruh tapering the Fed ke pasar Indonesia. Oleh sebab itu, penerbitan akan lebih banyak di semester pertama dibanding semester kedua.  Demikian disampaikan  analis PHEI Fakhrul Aufa,  di Jakarta, Selasa (20/1).


Menurut Fakhrul,  penerbitan obligasi pada tahun ini akan didominasi oleh perusahaan yang bergerak di sektor keuangan yang membutuhkan dana untuk melakukan pembiayaan kembali atau refinancing.  Penerbitan yang paling besar adalah oleh perusahaan multifinance dan perbankan untuk refinancing. Secara umum, besaran penerbitan obligasi tahun ini bisa dilihat dari jumlah yang jatuh tempo.


Disampaikan juga,  obligasi jatuh tempo pada tahun ini sekitar Rp 33,74 triliun, atau lebih rendah dibandingkan tahun 2014 yang sebesar Rp 38,78 triliun. Sementara untuk penerbitan obligasi pada tahun 2015 ini diperkirakan mencapai Rp 35-Rp 40 triliun.  Dalam data Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat, sampai dengan Desember 2014 terdapat 49 emisi baru obligasi dan sukuk korporasi serta efek beragun aset (EBA) senilai Rp 48,21 triliun yang diterbitkan oleh 36 emiten.


Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2013, jumlah emisi pada 2014 menurun sebesar 19,67 persen, jumlah emiten menurun sebesar 23,40 persen, dan nilai emisi menurun sebesar 17,68 persen.  Faktor utama penurunannya adalah suku bunga yang tinggi di tahun 2014 sebagai imbas dari kenaikan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan ketidakpastian kondisi global. Selain faktor tersebut, banyak rencana penerbitan obligasi yang ditunda karena faktor pemilu 2014.


Pada kesempatan lain, Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan,  pada tahun ini penerbitan obligasi akan didominasi oleh perusahaan pembiayaan yang akan melakukan “refinancing” di 2015.  Banyak obligasi jatuh tempo, mereka harus menerbitkan obligasi baru. Kalau Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga (BI rate) maka suku bunga pasar obligasi turun, tentunya akan menarik minat emiten-emiten untuk menerbitkan obligasi. [geng]



Semester I, Penerbitan Obligasi Korporasi Diperkirakan Marak

Monday, December 22, 2014

Pasar Indonesia Belum Bisa Menerima Sepeda Motor Listrik

Financeroll – Seiring pertumbuhan yang semakin pesat sepeda motor dengan teknologi lebih ramah lingkungan seperti sepeda motor listrik diharapakan segara hadir, tetapi mayoritas pabrikan menganggap kendaraan tersebut belum cocok bagi pasar di Indonesia.


Melihat potensi pasar sepeda motor di Indonesia yang besar, seharusnya pengembangan teknologi sepeda motor listrik bisa dipercepat. Mengapa tidak, sejak 2010 Asean Automotive Federation (AFF) mencatat pasar sepeda motor Indonesia telah menembus 7 juta unit lebih.


Sebagai gambaran, pada 2010 mencapai 7,398 juta unit, 2011 mencapai 8,043 juta unit, 2012 sebanyak 7,14 juta unit dan 2013 mencapai 7,77 juta unit. Pada periode Januari-November 2014 sudah tercatat 7,347 juta unit dengan target mencapai 7,8 juta hingga 7,9 juta hingga tutup tahun.


Pada 2010 tampaknya menjadi tahun dengan kenaikan yang cukup pesat karena pada 2009 hanya mampu menembus 5,8 juta unit. Raihan tersebut pun menjadikan Indonesia penguasa pasar sepeda motor di Asia Tenggara. Bahkan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyebut, pada 2017 pasar akan menembus 10 juta unit.


General Marketing and Sales Two Wheels PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Yohan Yahya mengatakan, sepeda motor listrik sangat mungkin dipasarkan di Indonesia mengingat kesadaran akan tingkat emisi yang semakin besar dan pertumbuhan ekonomi yang terus menanjak. Namun hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.


Sebabnya, dari segi infrastruktur fasilitas penunjang seperti tempat pengisian tenaga sulit dibangun. Secara fungsi kendaraan tersebut dinilai tidak memenuhi kemampuan sepeda motor konvensional yang mampu melaju cepat dan menempuh jarak yang relative jauh.


Apakah minat konsumen sudah masuk ke sana. Dari performa dan fungsi kadang orang butuh yang cepat untuk bawa muatan dan juga gesit bertenaga. Kecuali motor listrik sudah jadi gaya hidup. Banyak orang mempertimbangkan ke sana.


Jika sepeda motor listrik saat ini hadir akan memiliki pasar dengan segmentasi yang terbatas. Meski demikian dinyatakan, pihaknya dalam jangka panjang memiliki rencana untuk mengembangkan sepeda motor listrik di Indonesia.


Deputy Sales Division PT Astra Honda Motor (AHM) Thomas Wijaya menyebut, teknologi sepeda motor listrik masih sangat mahal untuk dihadirkan di Indonesia. Selain itu, permintaan pasar pun dinilainya akan terbatas karena konsumen akan melihat kendaraan tersebut hanya mampu digunakan dalam jarak dekat dengan keterbatasan pengisian energy.


Untuk mengembangkan sepeda motor listrik setidaknya dibutuhkan regulasi dan insentif atas teknologi dan pengembangan produk dari pemerintah. Jika pemerintah menghendaki, menurut dia. Honda siap menghadirkan teknologi tersebut. Karena prinsipal Honda sudah memasarkan kendaraan tersebut di Jepang dan China.


Permintaannya akan terbatas. Pengisian baterai harus mudah. Apakah sepeda motor listrik bisa digunakan untuk jarak jauh atau tidak. Infrastruktur harus mendukung. Ini pasti segmented sekali. Tapi jika pemerintah menghendaki pasti disiapkan.


Menurut Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala, meski pasar sepeda motor domestik tumbuh sepeda motor listrik belum cocok untuk pasar dalam negeri. Saat ini teknologi tersebut dinilai masih mahal dan sulit dijangkau oleh sebagian besar konsumen di Indonesia.


Di sisi lain, infrastruktur penunjang pun masih sulit dikembangkan yang dinilainya semakin membuat kendaraan itu kurang diminati. Sigit mengatakan, agar ramah lingkungan saat ini teknologi sepeda motor baru menggunakan mesin dengan standar emisi Euro 3.



Pasar Indonesia Belum Bisa Menerima Sepeda Motor Listrik