Finaneroll - Sepekan lalu, IHSG melemah ke bawah level psikologis 5.000. Salah satu pemicunya adalah pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi (PDB) 2014 oleh pemerintah. IHSG melemah 102,123 poin (2,006%) ke posisi 4.987,424 dibandingkan akhir pekan sebelumnya di angka 5.089,547.
Jika awalnya kami perkirakan laju IHSG di awal pekan dapat melanjutkan penguatan seiring dengan ekspektasi di mana jika rilis data-data ekonomi di awal bulan dapat memberikan sentimen positif maka laju IHSG pun berpeluang kembali menguat. Meski demikian, yang terjadi justru sebaliknya. Hawa negatif berupa profit taking mulai terlihat dan aksi jual pun tak terhindarkan yang membawa IHSG berada dalam penurunannya.
Padahal penurunan ini terjadi di tengah menguatnya laju pasar obligasi dan tercatatnya net buy asing. Rilis inflasi yang di atas estimasi kami, 0,47% dari perdiksi 0,16%, dan kembali terdepresiasinya rupiah menambah sentiment negatif. Begitu juga dengan rilis neraca perdagangan yang masih defisit. Meskipun defisitnya di bawah estimasi kami, USD 270 juta dari prediksi USD 389 juta tetap turut direspons negatif.
Maraknya penguatan harga saham-saham konsumer seiring penilain akan murahnya bahan baku produksi karena turunnya sejumlah harga komoditi yang dibarengi penguatan saham-saham properti yang didominasi saham-saham properti kelas menengah dan saham-saham konstruksi, tidak mampu menahan pelemahan IHSG. Rupiah yang melanjutkan pelemahan yang dibarengi kembali tercatatnya net sell asing turut menambah sentimen negatif. Sentimen negatif bertambah dengan adanya rilis perkiraan penurunan pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2014 yang hanya sebesar 5% dari Kementerian Keuangan.
Rilis tersebut menurut dia, bahkan berada di bawah perkiraannya sebelumnya di level 5,2%-5,25% yang direvisi menjadi 5,07%-5,13%. “Rilis BPS yang berada di bawah estimasi kami membuat laju IHSG berbalik melemah setelah di awal sesi mengalami rebound. Masih variatifnya laju bursa saham Asia yang dibarengi dengan nett sell asing berimbas pada pelemahan laju IHSG sehingga penguatan pada rupiah kurang mampu memberikan sentimen positif. Positifnya laju bursa saham AS dan Eropa tampaknya tidak banyak berimbas pada laju IHSG yang kembali berada di zona merahnya.
Berbalik negatifnya laju rupiah seiring masih adanya respons terhadap perlambatan ekonomi Indonesia dan peningkatan jumlah pengangguran membuat mood pelaku pasar cenderung turun. Kondisi itu diperparah oleh pernyataan Menteri Keuangan bahwa pertumbuhan tahun ini kembali dipangkas menjadi 5,2% jauh dari harapan pada target APBN. [geng]
Sepekan Lalu, IHSG Melemah 102,12 Poin
No comments:
Post a Comment