Showing posts with label Sepekan Lalu. Show all posts
Showing posts with label Sepekan Lalu. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Sepekan Lalu, IHSG Melemah 15,81 poin

Financeroll – Laju IHSG tertahan di zona merah, sepanjang pekan lalu.   Penguatan Dolar AS yang ekstrem terhadap rupiah dinilai tak menguntungkan emiten mana pun.  Pada perdagangan sepekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 15,81 poin (0,30%) ke posisi 5.144,62 per Jumat, 19 Desember 2014, dibandingkan akhir pekan sebelumnya Jumat, 12 Desember 2014 di 5.160,43.


Melemahnya rupiah di awal minggu, langsung menghantam IHSG hingga hampir terkapar di zona merah.  Aksi beli pun terkalahkan dengan aksi jual yang merupakan bentuk kekhawatiran dan kekecewaan terhadap melemahnya rupiah.  Padahal,  Bank Indonesia (BI) menilai kondisi tersebut masih dianggap normal dan sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia.


Jika pergerakan longsornya rupiah dianggap sesuai dengan fundamental Indonesia, maka dapat dipersepsikan bahwa perekonomian Indonesia memang terlihat sedang kurang baik cenderung parah.  Apalagi,  beberapa waktu lalu sentimen negatif menghantui pasar dari keputusan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi hingga dipangkasnya proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 oleh Bank Dunia.


Bahkan tidak jarang mereka menganggap pelemahan rupiah memang dibiarkan oleh BI. Alih-alih untuk mengurangi impor, menaikan ekspor, hingga memperbaiki current account deficit ekonomi Indonesia.  Pelaku pasar memilih untuk kembali melakukan aksi jual setelah melihat pelemahan rupiah yang seolah-olah tidak terbendung.  Hampir seluruh sektor emiten mengalami pelemahan.  Pergerakan dolar AS dan pasar komoditas yang terlalu ekstrim tidaklah menguntungkan emiten mana pun.


Dengan penguatan dolar AS, harga komoditas akan cenderung turun.  Ditambah lagi dengan harga minyak yang masih dalam tren turun, akan mengakibatkan pasar komoditas kurang menarik.  Selain itu, perkembangan ekonomi AS yang bertahap menunjukkan perbaikan dan sentimen akan meningkatnya Fed rate membuat dolar AS kian perkasa.  Akibatnya dolar AS menguat dan pelaku pasar lebih suka masuk ke pasar currency, terutama dolar AS dan sementara pasar komoditas dan saham-obligasi ditinggalkan.


Pada  pertengahan pekan, pelaku pasar memanfaatkan akumulasi saham-saham yang telah melemah sebelumnya. Beberapa saham-saham bigcaps mulai kembali diburu sehingga dapat masuk dalam jajaran top gainer yang sebelumnya lebih banyak berada di top loser.  Jika sebelumnya, hampir seluruh sektor emiten mengalami pelemahan seiring dengan penguatan dolar AS yang terlalu tajam dan masih berlanjutnya pelemahan harga minyak, kali ini adanya aksi beli telah mengantarkan IHSG kembali ke zona hijau.


Masih berlanjutnya pelemahan sejumlah laju bursa saham Asia kali ini dapat diimbangi dengan mulai menguatnya rupiah dan berkurangnya aksi jual asing.  Setelah dirilisnya pemberitaan terkait hasil rapat the Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang belum mensinyalkan akan adanya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, membuat laju bursa saham AS bergerak di zona hijau dan berimbas pada laju IHSG yang terkena sentimen positifnya.


Meski laju bursa saham Asia cenderung variatif dan aksi jual asing kembali meningkat, berlanjutnya penguatan rupiah cukup mampu mempertahankan IHSG di zona hijau.  Bahkan sempat hampir menutup utang gap 5.069-5.094 meski lonjakan tersebut kembali meninggalkan kembali utang gap 5.059-5.076. [geng]


 


 


 



Sepekan Lalu, IHSG Melemah 15,81 poin

Sunday, November 9, 2014

Sepekan Lalu, IHSG Melemah 102,12 Poin

Finaneroll - Sepekan lalu, IHSG melemah ke bawah level psikologis 5.000. Salah satu pemicunya adalah pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi (PDB) 2014 oleh pemerintah.  IHSG melemah 102,123 poin (2,006%) ke posisi 4.987,424 dibandingkan akhir pekan sebelumnya di angka 5.089,547.


Jika awalnya kami perkirakan laju IHSG di awal pekan dapat melanjutkan penguatan seiring dengan ekspektasi di mana jika rilis data-data ekonomi di awal bulan dapat memberikan sentimen positif maka laju IHSG pun berpeluang kembali menguat.  Meski demikian,  yang terjadi justru sebaliknya.  Hawa negatif berupa profit taking mulai terlihat dan aksi jual pun tak terhindarkan yang membawa IHSG berada dalam penurunannya.


Padahal penurunan ini terjadi di tengah menguatnya laju pasar obligasi dan tercatatnya net buy asing. Rilis inflasi yang di atas estimasi kami, 0,47% dari perdiksi 0,16%, dan kembali terdepresiasinya rupiah menambah sentiment negatif.  Begitu juga dengan rilis neraca perdagangan yang masih defisit. Meskipun defisitnya di bawah estimasi kami, USD 270 juta dari prediksi USD 389 juta tetap turut direspons negatif.


Maraknya penguatan harga saham-saham konsumer seiring penilain akan murahnya bahan baku produksi karena turunnya sejumlah harga komoditi yang dibarengi penguatan saham-saham properti yang didominasi saham-saham properti kelas menengah dan saham-saham konstruksi, tidak mampu menahan pelemahan IHSG.  Rupiah yang melanjutkan pelemahan yang dibarengi kembali tercatatnya net sell asing turut menambah sentimen negatif.  Sentimen negatif bertambah dengan adanya rilis perkiraan penurunan pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2014 yang hanya sebesar 5% dari Kementerian Keuangan.


Rilis tersebut menurut dia, bahkan berada di bawah perkiraannya sebelumnya di level 5,2%-5,25% yang direvisi menjadi 5,07%-5,13%. “Rilis BPS yang berada di bawah estimasi kami membuat laju IHSG berbalik melemah setelah di awal sesi mengalami rebound.  Masih variatifnya laju bursa saham Asia yang dibarengi dengan nett sell asing berimbas pada pelemahan laju IHSG sehingga penguatan pada rupiah kurang mampu memberikan sentimen positif.  Positifnya laju bursa saham AS dan Eropa tampaknya tidak banyak berimbas pada laju IHSG yang kembali berada di zona merahnya.


Berbalik negatifnya laju rupiah seiring masih adanya respons terhadap perlambatan ekonomi Indonesia dan peningkatan jumlah pengangguran membuat mood pelaku pasar cenderung turun.  Kondisi itu diperparah oleh pernyataan Menteri Keuangan bahwa pertumbuhan tahun ini kembali dipangkas menjadi 5,2% jauh dari harapan pada target APBN.  [geng]



Sepekan Lalu, IHSG Melemah 102,12 Poin