Financeroll – Nelayan tradisional mendorong pemerintah segera membenahi sistem distribusi solar ke kampung nelayan mengingat penurunan harga BBM per Januari belum memberikan dampak yang signifikan terhadap biaya operasional melaut.
Ketua Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Riza Damanik mengatakan saat ini rata-rata harga solar di setiap kampung nelayan masih tinggi mengikuti harga BBM yang sebelumnya telah naik.
Masih rata-rata tinggi. Harga solar di tingkat nelayan pun selalu lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditetapkan pemerintah. Bervariasi, sekitar 30%-60%.
Dampak yang tidak signifikan ini terjadi karena harga BBM sebelumnya yang tinggi telah terlanjur mendongkrak penaikan ongkos operasional melaut dan kebutuhan domestik para nelayan.
Dengan kenaikan harga BBM ini, biaya operasional melaut nelayan tradisional meningkat dengan rata-rata kenaikan 30%.
Sebelumnya, pemerintah telah memutuskan untuk menetapkan harga baru BBM jenis premium, solar, dan minyak tanah mulai 1 Januari 2015. Harga Premium dipatok sebesar Rp7.600 yang turun dari harga sebelumnya sebesar Rp8.500. Sedangkan harga solar ditetapkan sebesar Rp7.250 dari harga sebelumnya sebesar Rp7.500.
Penurunan harga BBM ini dilakukan setelah pada November 2014 lalu, subsidi BBM dialihkan ke sektor produktif yang mengakibatkan harga premium naik dari Rp6.500 ke Rp8.500 dan solar dari Rp5.500 ke Rp7.500.
Penurunan Harga BBM Belum Pengaruhi Biaya Operasional Melaut
No comments:
Post a Comment