Showing posts with label GIAA. Show all posts
Showing posts with label GIAA. Show all posts

Tuesday, December 30, 2014

PT Garuda Indonesia Lakukan Efisiensi Dengan Mengganti Mobil Direksi Menjadi Kijang

Financeroll – Kerugian besar PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. membuat direksi baru mengganti mobil dari Mercedes S class menjadi Kijang manual demi penghematan.


I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Direktur Keuangan Risiko & Teknologi Informasi Garuda Indonesia, mengatakan efisiensi yang dilakukan perseroan cukup besar pada tahun depan.


Efisiensi dilakukan untuk menekan beban biaya operasional yang dikeluarkan emiten berkode saham GIAA tersebut agar kerugian dapat ditekan.


Bahkan CEO yang dulunya pakai mobil Mercedez seri S menjadi Pajero, direksi yang tadinya Mercedez seri E-250 menjadi kijang manual, itu ekstrim banget.


Efisiensi yang dilakukan manajemen GIAA tidak hanya pada sisi investasi armada baru. Peraih bintang lima dari Skytrax itu juga memutuskan tidak akan merekrut karyawan baru hingga akhir tahun.


Adapun, kinerja perseroan hingga akhir tahun ini dipastikan belum akan membukukan laba bersih. Rugi bersih yang ditorehkan Garuda terbilang besar sehingga tidak mampu ditutupi dalam waktu tiga bulan terakhir.


Rugi bersih Garuda mencapai US$219,5 juta atau setara dengan Rp2,63 triliun pada kuartal III/2014, melonjak tajam 1.362,62% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu US$15,01 juta. Sedangkan, pendapatan Garuda mencapai US$2,8 miliar, naik 4,28% dari periode yang sama tahun lalu US$2,68 miliar.



PT Garuda Indonesia Lakukan Efisiensi Dengan Mengganti Mobil Direksi Menjadi Kijang

Monday, December 29, 2014

PT Garuda Indonesia Memangkas Utang Jatuh Tempo Sebesar US$350

Financeroll – Maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. memangkas utang jatuh tempo pada 2015 sebesar US$350 juta setara dengan Rp4,3 triliun.


I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Direktur Keuangan Risiko & Teknologi Informasi Garuda Indonesia, mengatakan dana untuk pembayaran utang jatuh tempo tersebut akan diperoleh dari emisi obligasi global pada kuartal I/2015 senilai US$500 juta.


Global bond senilai US$500 juta itu untuk refinancing utang 2015 sebesar US$350 juta.


Perolehan dana hasil global bond tersebut juga akan digunakan untuk refinancing utang jatuh tempo pada kuartal I/2016 sebesar US$135 juta.


Surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat tersebut diterbitkan dalam rangka reprofiling utang jatuh tempo agar tekanan arus kas berkurang dan sebaliknya, dapat mendorong kas lebih positif.


Rencana emisi obligasi global emiten berkode saham GIAA tersebut akan dilakukan di Singapura pada awal 2015. Manajemen telah menunjuk penjamin pelaksana emisi atau underwriter yakni DBS Bank Singapura dan Standard Chartered Bank.


Dalam laporan keuangan perseroan, GIAA memiliki utang jangka panjang per 30 September 2014 sebesar US$578,1 juta atau setara Rp6,93 triliun dari sebelumnya US$324,6 juta. Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun mencapai US$255,64 juta, dan utang obligasi sebesar US$162,7 juta atau setara dengan Rp1,95 triliun.



PT Garuda Indonesia Memangkas Utang Jatuh Tempo Sebesar US$350

Friday, December 26, 2014

PT Garuda Indonesia Memberikan Pinjaman Kepada Citilink Sebanyak Rp1,38 Triliun

Financeroll – Maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. memberikan pinjaman kepada anak usaha, PT Citilink Indonesia senilai US$115,2 juta setara dengan Rp1,38 triliun untuk mendukung modal kerja.


I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Direktur Keuangan Risiko & Teknologi Informasi Garuda Indonesia, mengatakan transaksi afiliasi dengan anak usaha perseroan terbagi ke dalam dua bagian, yakni dana pinjaman senilai US$20 juta dan reprofiling utang US$95,2 juta.


Pinjaman senilai US$20 juta setara dengan Rp240 miliar diberikan pada 23 Desember 2014 dengan jangka waktu 4 tahun.


Pinjaman tersebut akan digunakan Citilink untuk pemenuhan kebutuhan modal kerja dan investasi.


Pinjaman kepada Citilink memiliki dasar pertimbangan akan kebutuhan pendanaan anak usaha tersebut yang dinilai cukup besar khususnya bagi pengembangan armada dan operasional. Posisi Citilink dinilai strategis bagi kinerja konsolidasi perseroan.


Menurutnya, struktur keuangan Citilink yang belum kokoh, membuat anak usaha emiten berkode saham GIAA tersebut sulit meraih pinjaman dari pihak perbankan. Sehingga, peluang yang paling memungkinkan bagi pendanaan Citilink didapatkan dari induk usaha sebagai pemegang saham.


Pada saat yang sama, manajemen GIAA juga menandatangani perjanjian reprofiling utang sebesar US$95,2 juta setara Rp1,14 triliun untuk jangka waktu 5 tahun.


Reprofiling utang tersebut dilakukan sebagai upaya penyelesaian pembayaran utang Citilink kepada perseroan dengan melihat pada prospek bisnis ke depan.


Serta prioritas kelangsungan kegiatan operasional Citilink yang masih memerlukan dukungan dari perseroan.


Saat ini, Citilink menjadi salah satu tulang punggung pendapatan GIAA. Hingga triwulan ketiga tahun ini, Citilink mencatatkan pertumbuhan jumlah penumpang hingga 39,3% dari sebanyak 3,8 juta penumpang pada kuartal III/2013 menjadi 5,3 juta penumpang pada periode yang sama tahun ini.



PT Garuda Indonesia Memberikan Pinjaman Kepada Citilink Sebanyak Rp1,38 Triliun