Showing posts with label emiten saham giaa. Show all posts
Showing posts with label emiten saham giaa. Show all posts

Tuesday, December 30, 2014

PT Garuda Indonesia Lakukan Efisiensi Dengan Mengganti Mobil Direksi Menjadi Kijang

Financeroll – Kerugian besar PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. membuat direksi baru mengganti mobil dari Mercedes S class menjadi Kijang manual demi penghematan.


I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Direktur Keuangan Risiko & Teknologi Informasi Garuda Indonesia, mengatakan efisiensi yang dilakukan perseroan cukup besar pada tahun depan.


Efisiensi dilakukan untuk menekan beban biaya operasional yang dikeluarkan emiten berkode saham GIAA tersebut agar kerugian dapat ditekan.


Bahkan CEO yang dulunya pakai mobil Mercedez seri S menjadi Pajero, direksi yang tadinya Mercedez seri E-250 menjadi kijang manual, itu ekstrim banget.


Efisiensi yang dilakukan manajemen GIAA tidak hanya pada sisi investasi armada baru. Peraih bintang lima dari Skytrax itu juga memutuskan tidak akan merekrut karyawan baru hingga akhir tahun.


Adapun, kinerja perseroan hingga akhir tahun ini dipastikan belum akan membukukan laba bersih. Rugi bersih yang ditorehkan Garuda terbilang besar sehingga tidak mampu ditutupi dalam waktu tiga bulan terakhir.


Rugi bersih Garuda mencapai US$219,5 juta atau setara dengan Rp2,63 triliun pada kuartal III/2014, melonjak tajam 1.362,62% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu US$15,01 juta. Sedangkan, pendapatan Garuda mencapai US$2,8 miliar, naik 4,28% dari periode yang sama tahun lalu US$2,68 miliar.



PT Garuda Indonesia Lakukan Efisiensi Dengan Mengganti Mobil Direksi Menjadi Kijang

Monday, December 29, 2014

PT Garuda Indonesia Memangkas Utang Jatuh Tempo Sebesar US$350

Financeroll – Maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. memangkas utang jatuh tempo pada 2015 sebesar US$350 juta setara dengan Rp4,3 triliun.


I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Direktur Keuangan Risiko & Teknologi Informasi Garuda Indonesia, mengatakan dana untuk pembayaran utang jatuh tempo tersebut akan diperoleh dari emisi obligasi global pada kuartal I/2015 senilai US$500 juta.


Global bond senilai US$500 juta itu untuk refinancing utang 2015 sebesar US$350 juta.


Perolehan dana hasil global bond tersebut juga akan digunakan untuk refinancing utang jatuh tempo pada kuartal I/2016 sebesar US$135 juta.


Surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat tersebut diterbitkan dalam rangka reprofiling utang jatuh tempo agar tekanan arus kas berkurang dan sebaliknya, dapat mendorong kas lebih positif.


Rencana emisi obligasi global emiten berkode saham GIAA tersebut akan dilakukan di Singapura pada awal 2015. Manajemen telah menunjuk penjamin pelaksana emisi atau underwriter yakni DBS Bank Singapura dan Standard Chartered Bank.


Dalam laporan keuangan perseroan, GIAA memiliki utang jangka panjang per 30 September 2014 sebesar US$578,1 juta atau setara Rp6,93 triliun dari sebelumnya US$324,6 juta. Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun mencapai US$255,64 juta, dan utang obligasi sebesar US$162,7 juta atau setara dengan Rp1,95 triliun.



PT Garuda Indonesia Memangkas Utang Jatuh Tempo Sebesar US$350

Friday, December 26, 2014

PT Garuda Indonesia Memberikan Pinjaman Kepada Citilink Sebanyak Rp1,38 Triliun

Financeroll – Maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. memberikan pinjaman kepada anak usaha, PT Citilink Indonesia senilai US$115,2 juta setara dengan Rp1,38 triliun untuk mendukung modal kerja.


I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Direktur Keuangan Risiko & Teknologi Informasi Garuda Indonesia, mengatakan transaksi afiliasi dengan anak usaha perseroan terbagi ke dalam dua bagian, yakni dana pinjaman senilai US$20 juta dan reprofiling utang US$95,2 juta.


Pinjaman senilai US$20 juta setara dengan Rp240 miliar diberikan pada 23 Desember 2014 dengan jangka waktu 4 tahun.


Pinjaman tersebut akan digunakan Citilink untuk pemenuhan kebutuhan modal kerja dan investasi.


Pinjaman kepada Citilink memiliki dasar pertimbangan akan kebutuhan pendanaan anak usaha tersebut yang dinilai cukup besar khususnya bagi pengembangan armada dan operasional. Posisi Citilink dinilai strategis bagi kinerja konsolidasi perseroan.


Menurutnya, struktur keuangan Citilink yang belum kokoh, membuat anak usaha emiten berkode saham GIAA tersebut sulit meraih pinjaman dari pihak perbankan. Sehingga, peluang yang paling memungkinkan bagi pendanaan Citilink didapatkan dari induk usaha sebagai pemegang saham.


Pada saat yang sama, manajemen GIAA juga menandatangani perjanjian reprofiling utang sebesar US$95,2 juta setara Rp1,14 triliun untuk jangka waktu 5 tahun.


Reprofiling utang tersebut dilakukan sebagai upaya penyelesaian pembayaran utang Citilink kepada perseroan dengan melihat pada prospek bisnis ke depan.


Serta prioritas kelangsungan kegiatan operasional Citilink yang masih memerlukan dukungan dari perseroan.


Saat ini, Citilink menjadi salah satu tulang punggung pendapatan GIAA. Hingga triwulan ketiga tahun ini, Citilink mencatatkan pertumbuhan jumlah penumpang hingga 39,3% dari sebanyak 3,8 juta penumpang pada kuartal III/2013 menjadi 5,3 juta penumpang pada periode yang sama tahun ini.



PT Garuda Indonesia Memberikan Pinjaman Kepada Citilink Sebanyak Rp1,38 Triliun

Wednesday, December 17, 2014

PT Garuda Indonesia Tidak Akan Menjual Saham Perusahaan GMF

Financeroll – Manajemen baru PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. memastikan tidak akan menjual saham anak usaha pada 2015, termasuk PT Garuda Maintenance Fasilities (GMF) AeroAsia.


M. Arif Wibowo, Direktur Utama Garuda Indonesia yang baru saja diangkat, menegaskan tidak akan menjual saham anak usaha melalui mekanisme penawaran perdana saham (initial public offering/IPO) pada tahun depan.


“Kalau IPO saya pikir tahun depan belum, karena kondisi pasar belum membaik,” ujarnya.


Manajemen emiten berkode saham GIAA terdahulu, mendorong GMF untuk segera IPO pada tahun depan. Bahkan, pada Agustus lalu, GMF telah merampungkan persiapan dengan menggelar legal due dilligence dan financial due dilligence.


Rencana penjualan saham GMF memang telah dihembuskan sejak tahun lalu. Garuda sebagai induk usaha menargetkan aksi korporasi itu dapat terealisasi pada semester I/2013, tetapi terus mundur hingga saat ini.


Saham anak usaha Garuda yang bergerak dalam bidang pemeliharaan pesawat itu rencananya akan dilepas lebih dari 20%. GMF diharapkan dapat meraup dana sebesar US$100 juta atau lebih dari Rp1 triliun dari gelaran IPO tersebut.


Perolehan dana IPO rencananya akan digunakan untuk pembangunan hanggar GMF sekitar US$50 juta, dan US$30 juta lainnya untuk pembelian komponen.


Pada tahun ini, GMF menargetkan perolehan laba sebesar US$16 juta, turun dari periode 2013 yang mencapai US$19 juta. Penurunan target tersebut akibat banyaknya investasi yang dilakukan pada tahun ini.


Sepanjang tahun lalu, laba GMF meningkat 8,7% menjadi US$19 juta. Pendapatan perseroan meningkat 8% menjadi US$230 juta dan ditargetkan pada tahun ini dapat meningkat 8% menjadi US$255 juta.


Begitu pula dengan anak usaha Garuda lainnya, PT Citilink Indonesia. Maskapai penerbangan berbiaya murah (low cost carrier/LCC) itu batal mencari investor strategis demi menggenjot ekuitas induk usaha.


Saat ini, Citilink menjadi salah satu tulang punggung pendapatan GIAA. Hingga triwulan ketiga tahun ini, Citilink mencatatkan pertumbuhan jumlah penumpang hingga 39,3% dari sebanyak 3,8 juta penumpang pada kuartal III/2013 menjadi 5,3 juta penumpang pada periode yang sama tahun ini.


Jadwal rencana IPO anak-anak usaha GIAA akan dievaluasi. Pihaknya juga tidak ingin proses go public anak usaha maskapai pelat merah itu tidak diminati publik.


“Apakah pasarnya apettite atau enggak. Kalau enggak bernafsu, ya kami lihat dulu, enggak perlu buru-buru,” katanya.


Sementara itu saat ini sedang mengincar pertumbuhan jumlah penumpang lebih konservatif sebesar 10% pada tahun depan. Pertumbuhan jumlah penumpang dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan mencapai 5,3%-5,4%.


Hingga triwulan III/2014, Garuda Indonesia mengangkut 20,9 juta penumpang atau tumbuh sebesar 15,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain peningkatan penumpang, muatan kargo terjadi kenaikan yang diangkut pada kuartal III/2014 sebesar 15,4% menjadi 292.888 ton.


Dengan peningkatan tersebut, pendapatan GIAA per 30 September 2014 mencapai US$2,8 miliar, naik 4,28% dari periode yang sama tahun lalu US$2,68 miliar. Target konservatif yang dibidik GIAA dimaksudkan untuk mengamankan kinerja setahun ke depan.


Untuk mengoptimalkan aset, manajemen GIAA akan menambah jumlah kursi kelas ekonomi dan mengurangi kursi kelas bisnis di pesawat Garuda. Tingkat keterisian kursi kelas bisnis rerata hanya separuh dari total ketersediaan.


Manajemen akan mencoba menambah jumlah kursi kelas ekonomi sehingga biaya per unit akan turun. Dari data yang dimiliki manajemen Garuda selama 2-3 tahun terakhir, keterisian kursi kelas bisnis hanya mencapai 40% dari total kursi yang tersedia.



PT Garuda Indonesia Tidak Akan Menjual Saham Perusahaan GMF

Sunday, December 14, 2014

Dirut Garuda Emirsyah Satar Mundur Sebelum Pensiun

Financeroll – Tiga bulan sebelum masa jabatannya berakhir, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Emirsyah Satar memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai bos di maskapai penerbangan pelat merah itu.


Emirsyah mengatakan proses pengunduran dirinya sudah dipikirkan secara matang. Dia juga telah berkonsultasi dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno selaku pemegang saham mayoritas.


“saya mau mundur, sudah cukup saya membawa Garuda dari pailit, kemudian go public, dan sekarang menjadi maskapai nomor tujuh dunia,” ungkapnya.


Dia memutuskan mundur sebelum masa jabatannya berakhir pada Maret 2015 mendatang. Keputusan itu diambil agar penggantinya nanti dapat segera bekerja sejak awal tahun tanpa kehilangan waktu hingga satu triwulan.


Emirsyah menjabat sebagai dirut pada emiten berkode saham GIAA itu sejak Maret 2005. Saat itu, mantan bankir tersebut diminta oleh Menteri BUMN Sugiharto untuk mengembalikan Garuda ke dalam radar airlines tingkat Asia Pasifik.


Pria kelahiran Jakarta, 28 Juni 1959, tersebut ingat betul awal dirinya menjabat sebagai bos Garuda. Saat itu, kondisi Garuda tidak jauh berbeda dengan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) sekarang.


Perlahan, Emirsyah mulai membenahi struktur kinerja Garuda. Bahkan, pencapaian tertinggi bagi Emirsyah adalah ketika Garuda akhirnya dapat go public melalui penawaran perdana saham (initial public offering/IPO) di pasar modal.


Sejumlah keberhasilan diklaim Emirysah telah ditorehkan Garuda sejak dirinya menjabat 10 tahun lalu. Kini, armada Garuda telah meningkat 3,3 kali lipat dari 2006 menjadi 169 unit hingga akhir 2014.


Penambahan pesawat membuat daya angkut penumpang meningkat 2,7 kali lipat menjadi 20,9 juta penumpang pada kuartal III/2014. Daya angkut kargo juga melonjak menjadi 292.888 ton per September 2014.


Sementara itu diakui, GIAA memang membukukan rugi bersih yang terus membengkak hingga akhir tahun. Per 30 September 2014, rugi bersih Garuda mencapai US$219,5 juta atau setara dengan Rp2,63 triliun, melonjak tajam 1.362,62% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu US$15,01 juta.


Meski kinerja bulanan sudah menunjukkan tren positif, Emirsyah pesimistis sisa kinerja hingga akhir tahun ini dapat menutup kerugian yang cukup besar pada kuartal I/2014. Namun demikian, optimistis pada 2015 kinerja Garuda akan kembali positif.


Bila dibandingkan sejak 2006, pendapatan Garuda melonjak 2,7 kali lipat menjadi US$2,8 miliar. Bahkan, dari sisi permodalan Garuda pada 2006 yang masih negatif, kemudian menjadi positif US$1,1 miliar.


Emirsyah menjelaskan sejumlah tantangan yang dihadapi GIAA ke depan diantaranya dengan diberlakukan Asian open sky. Berharap, Garuda menjadi maskapai kelas dunia baik dari sisi sumber daya manusia, proses bisnis, hingga teknologi.


Ke depan, Garuda butuh modal. Pemerintah perlu menambah modal. Biar bagaimanapun, multiplier effect penerbangan sangat besar. Bisnis penerbangan itu human intensive dan capital intensive.


Sebelum meninggalkan Garuda, Emirsyah menegaskan telah memastikan pada 2015 akan mendatangkan 18 armada pesawat baru. Semua armada itu telah dipastikan pendanaannya.



Dirut Garuda Emirsyah Satar Mundur Sebelum Pensiun

PT Garuda Indonesia Merampungkan Akuisisi PT Gapura Angkasa

Financeroll – Perusahaan maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. merampungkan proses akuisisi saham PT Gapura Angkasa sehingga kini menjadi pemilik mayoritas.


Direktur Strategi, Pengembangan Bisnis & Manajemen Garuda Indonesia, Judi Difajantoro mengatakan perseroan telah menyelesaikan pembelian saham Gapura Angkasa sebanyak 456.960 lembar dari PT Angkasa Pura I (Persero).


Setelah pembelian tersebut, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. akan memiliki 1.263.360 saham yang merupakan 58,75% dari seluruh saham yang ditempatkan dalam Gapura.


Transaksi dilakukan pada 10 Desember 2014. Sebelumnya, GIAA juga membeli saham Gapura sebanyak 21,25% dari seluruh saham ditempatkan dan disetor penuh.


Harga saham pada saat pembelian pada Juli lalu mencapai Rp229.779 per lembar saham. Sehingga, saat itu, GIAA menggelontorkan dana Rp105 miliar untuk akuisisi.



PT Garuda Indonesia Merampungkan Akuisisi PT Gapura Angkasa

Friday, November 28, 2014

PT Garuda Indonesia Terbitkan Saham Baru Sebanyak 17,64 Juta Lembar

Financeroll – Maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. menerbitkan saham baru sebanyak 17,64 juta lembar dengan target perolehan dana segar Rp8,1 miliar.


Direktur Keuangan Garuda Indonesia Handrito Hardjono mengatakan penambahan modal atau right issue tersebut merupakan rencana yang sudah lama terjadi, tetapi belum ada peraturan pemerintah sehingga perlu diputuskan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS).


Untuk persetujuan agar dibuatkan PP-nya. Ini kejadian sudah lama, dan berjumlah hanya Rp8 miliar, jadi tidak ada tambahan modal baru.


Berdasarkan prospektus singkat yang dipublikasikan perseroan di PT Bursa Efek Indonesia, disebutkan right issue dilakukan tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Manajemen mengeluarkan saham baru seri B sebanyak 17,64 juta lembar.


Rencana right issue tersebut sebelumnya telah mendapatkan restu dari pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 28 Juni 2014. Namun, hingga saat ini, peraturan pemerintah yang mengesahkan penyertaan modal negara (PMN) tersebut belum kunjung diterbitkan.


Emiten berkode saham GIAA itu akan meminta persetujuan kembali dari pemegang saham dalam RUPSLB pada 12 Desember 2014. Perseroan akan menerbitkan saham baru tidak lebih dari 10% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh. Harga pelaksanaan right issue dipatok Rp476/lembar.


Rencana right issue ini akan menyebabkan peningkatan jumlah modal ditempatkan dan disetor sebanyak Rp8,1 miliar menjadi Rp11,88 triliun. Bila dicatatkan dalam mata uang dollar AS, tercatat akan meningkat US$893.281 menjadi US$1,31 miliar dari sebelumnya US$1,30 miliar.


Diperkirakan, kepemilikan saham masyarakat akan terdilusi sebesar 0,0092% dari sebelumnya 13,5465% menjadi 13,5373% setelah right issue.


Neraca keuangan perseroan memang tengah tertekan. Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) GIAA telah memasuki masa kritis yakni 1,1 kali.


Utang jangka panjang GIAA per 30 September 2014 membengkak menjadi US$578,1 juta atau setara Rp6,93 triliun dari sebelumnya US$324,6 juta. Utang obligasi tercatat flat sebesar US$162,7 juta atau setara dengan Rp1,95 triliun.


Untuk mempertahankan DER dapat dilakukan dengan penambahan modal dari pemegang saham. Diperkirakan penambahan modal akan dilakukan pada 2015 setelah perseroan membicarakan secara resmi dengan pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas.


Kondisi keuangan yang ketat itu membuat perseroan akan mengajukan sejumlah opsi kepada pemegang saham selain melalui penambahan modal. Penerbitan saham baru atau right issue dan menjual aset produktif juga menjadi pilihan untuk memperkuat permodalan.


Akan tetapi, opsi right issue sudah tidak mungkin dilakukan karena terkendala jumlah saham pemerintah yang diatur oleh Undang-Undang.


Sebelumnya, perseroan telah menggelar right issue pada semester I/2014. Perseroan menawarkan sebanyak 3.227.930.633 lembar saham biasa atas nama seri B atau 12,48% dari enlarged capital dengan harga Rp460 per lembar.


Perseroan meraup dana segar Rp1,4 triliun dalam pelaksanaan Penawaran Umum Terbatas (PUT) I tersebut. Dana yang diperoleh digunakan untuk pengembangan armada baru dan belanja modal lainnya.


Per 30 September 2014, saham Dwiwarna mencapai US$772,24 juta atau setara dengan 60,5% dari total saham. Kemudian disusul oleh Credit Suisse AG Singapore TC AR CL PT Trans Airways 25,94% dan saham publik 15,53% serta saham direksi & komisaris 0,03%.


Per kuartal III/2014, GIAA membukukan rugi bersih US$219,5 juta atau setara dengan Rp2,63 triliun. Rugi bersih tersebut melonjak tajam hingga 1.362,62% dari periode yang sama tahun sebelumnya US$15,01 juta.


Analis PT Buana Capital Alfred Nainggolan mengatakan right issue GIAA dinilai hanya formalitas untuk memenuhi kewajiban tertentu saja ketimbang kebutuhan permodalan perseroan.


Nilai right issue Rp8,1 miliar itu sangat kecil, dengan melihat lebih kepada adanya kewajiban yang harus dilakukan dan bukan murni untuk penambahan modal.


Hingga akhir tahun diperkirakan kinerja maskapai penerbangan milik pemerintah itu masih akan tertekan. Bila dilihat dari kinerja kuartal III/2014, cukup sulit GIAA untuk bangkit dan bahkan tekanan akan kian besar di akhir tahun.



PT Garuda Indonesia Terbitkan Saham Baru Sebanyak 17,64 Juta Lembar

Wednesday, November 19, 2014

Direktur Utama Garuda Indonesia Pesimis Tutupi Kerugian Perseroan

Financeroll – Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Emirsyah Satar pesimistis bisa menutupi kerugian pada akhir 2014 yang membengkak pada kuartal III-2014.


Masih negatif, tidak mungkin satu kuartal ‘recover’ (menutupi) ‘loss’ (kerugian) di tiga kuartal,” kata Emirsyah usai diskusi di di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin).


Namun, Emirsyah masih berharap kerugian akan terus tertutupi secara perlahan hingga tutup buku nanti.


Tapi, mudah-mudahan mengecil pelan-pelan sampai akhir tahun.


Menurut laporan keuangan kuartal III 2014, Garuda mengalami kerugian sebesar US$204,65 juta yang setara Rp2,49 triliun atau membengkak 528,14% dibandingkan dengan jumlah kerugian periode yang sama pada 2013 sebesar 32,58 juta atau Rp397,49 miliar.


Kerugian pada Juli US$42,4 juta dan keuntungan yang hanya US$0,4 juta tertolong pada September yang berhasil membukukan keuntungan US$22,1 juta.


Emirsyah mengatakan kerugian tersebut akibat meroketnya biaya operasonal serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mencapai lebih dari 20%.


Melambatnya pertumbuhan ekonomi global berpengaruh pada penurunan permintaan untuk rute-rute internasional dan penurunan kinerja Garuda maupun sejumlah maskapai penerbangan internasional lain, khususnya di kawasan Asia Pasifik yang pasarnya memang semakin kompetitif.


Selain itu masih tingginya harga bahan bakar juga ikut menekan laba mengingat biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar, yaitu mencapai 40%.


Emirsyah menambahkan tertekannya kinerja perusahaan juga dipengaruhi oleh langkah investasi dalam pengembangan armada dan Citilink selama periode dua tahun terakhir.


Namun, Garuda membukukan pendapatan operasi sebesar US$2.801,7 juta atau tumbuh 4,3% dibanding periode yang sama 2013.


Garuda juga akan mengurangi kapasitas sementara ini melalui penghentian operasional pesawat tua yang boros bahan bakar dan menunda kedatangan pesawat yang dipesan,” katanya.


Ia akan meningkatkan kegiatan penjualan secara agresif, khususnya penumpang corporate, bisnis dan wisata, serta mengurangi belanja modal tahun 2014 hingga US$54 juta.



Direktur Utama Garuda Indonesia Pesimis Tutupi Kerugian Perseroan

Tuesday, November 18, 2014

Kinerja PT Garuda Indonesia Pengaruhi Saham yang Terus Melemah

Financeroll – Kinerja maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. yang terus jeblok mengakibatkan saham dengan kode GIAA itu terus melemah.


Pada perdagangan saham GIAA turun 4,81% atau mencapai 24 poin menjadi Rp475 per saham. Pada pembukaan perdagangan, saham GIAA ditawarkan pada Rp498 dan tercatat memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp12,3 triliun.


GIAA belum melakukan efisiensi secara serius sehingga masih menelan kerugian yang cukup besar. Meskipun kerugian dapat ditekan, tetapi dinilai seharusnya GIAA dapat menekan beban secara maksimal.


Manajemen GIAA tidak lagi memiliki alasan sebagai pembenaran membengkaknya kerugian. Pasalnya, dalam 2-3 bulan terakhir terjadi penurunan harga bahan bakar avtur seiring pelemahan harga minyak dunia.


Alasan-alasan Garuda mengenai cost bahan bakar, penumpang yang sedikit, seharusnya tidak ada lagi. Depresiasi rupiah bisa mempengaruhi mereka, tapi yang harus diceritakan adalah efisiensi.


Meski rugi bersih yang terus membengkak sesuai dengan perkirakaan, kinerja GIAA masih akan tertekan hingga akhir tahun akibat belum maksimalnya efisiensi yang dilakukan oleh perseroan.


Tercatat, kerugian Garuda Indonesia masih terus membengkak hingga kuartal III/2014 mencapai US$219,5 juta atau setara dengan Rp2,63 triliun, melonjak tajam 1.362,62% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu US$15,01 juta.



Kinerja PT Garuda Indonesia Pengaruhi Saham yang Terus Melemah

Karugian PT Garuda Indonesia Membengkak US$15,01 Juta

Financeroll – Kerugian maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. terus menggunung mencapai US$219,5 juta atau setara dengan Rp2,63 triliun hingga kuartal III/2014.


Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan, disebutkan rugi yang dapat diatribusikan kepada entitas induk membengkak dari periode yang sama tahun lalu US$15,01 juta.


Padahal, sepanjang tahun lalu, Garuda mampu meraup laba sebesar US$11,03 juta. Setahun sebelumnya, tepat pada 2012 laba bersih Garuda bahkan mencapai US$110,59 juta.


Pendapatan emiten berkode saham GIAA per 30 September 2014 mencapai US$2,8 miliar, naik dari periode yang sama tahun lalu US$2,68 miliar.


Namun, lonjakan beban juga terjadi pada beban usaha yang mencapai US$3,05 miliar dari sebelumnya US$2,69 miliar. Untuk itu, kerugian bersih periode berjalan GIAA mencapai US$219,5 juta, membengkak dari sebelumnya hanya US$14,73 juta.



Karugian PT Garuda Indonesia Membengkak US$15,01 Juta

PT Garuda Indonesia alami Kerugian Hingga US$219,5 Juta

Financeroll – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. membukukan kerugian hingga US$219,5 juta atau setara dengan Rp2,63 triliun pada kuartal III/2014, melonjak tajam 1.362,62% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu US$15,01 juta.


Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengungkapkan sesuai dengan siklus industri penerbangan yang cenderung meningkat pada periode semester kedua, performa Perseroan secara keseluruhan mulai menunjukkan pertumbuhan positif pada kuartal III/2014.


Terutama pada periode Agustus dan September 2014, seiring dengan meningkatnya permintaan dan juga pelaksanaan penerbangan haji.


Frekuensi penerbangan domestik dan internasional tercatat meningkat 15,4% dari 143.499 penerbangan pada triwulan III/2013 menjadi 165.642 pada triwulan III/2014.


Kapasitas produksi (availability seat kilometer/ASK) meningkat sebesar 15,8% dari 31,86 miliar pada kuartal III/2013 menjadi 36,9 miliar pada kuartal III/2014.


Adapun tingkat ketepatan penerbangan (on-time performance/OTP) juga membaik dari 85,5% pada periode Q3/2013 menjadi 89,6% pada periode yang sama tahun ini.


Anak usaha GIAA, Citilink, hingga periode triwulan ketiga tahun ini mencatatkan pertumbuhan jumlah penumpang hingga 39,3% dari sebanyak 3,8 juta penumpang pada Q3/2013 menjadi 5,3 juta penumpang pada Q3/2014.


Emir mengakui, triwulan ketiga tahun ini GIAA masih membukukan kerugian komprehensif yang tinggi mencapai US$206,4 juta. Dengan alasan kerugian akibat belum pulihnya kondisi makro ekonomi global, faktor masih tingginya harga bahan bakar yang berdampak pada meningkatnya biaya operasional, serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar yang mencapai lebih dari 20%.


Faktor depresiasi rupiah, serta masih tingginya harga bahan bakar juga ikut menekan profit mengingat biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar, yaitu mencapai 40%.


Di samping faktor-faktor tersebut, tertekannya profit Garuda juga dipengaruhi oleh lambatnya pengembangan infrastruktur transportasi udara nasional yang berdampak pada inefisiensi operasional penerbangan serta semakin ketatnya kompetisi dalam industri penerbangan Asia Pasifik terutama oleh ekspansi maskapai penerbangan murah dan maskapai penerbangan Timur Tengah.



PT Garuda Indonesia alami Kerugian Hingga US$219,5 Juta