Showing posts with label emiten bumn. Show all posts
Showing posts with label emiten bumn. Show all posts

Sunday, January 11, 2015

Belanja Modal Empat Emiten Kontraktor BUMN Melonjak Hingga 45,8%

Financeroll – Empat emiten kontraktor pelat merah menganggarkan belanja modal Rp6,09 triliun, melonjak tajam hingga 45,8% dari anggaran tahun lalu yang mencapai Rp4,17 triliun.


Lonjakan belanja modal (capital expenditure/capex) tertinggi dianggarkan oleh PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. PTPP menganggarkan Capex hingga Rp1,8 triliun melonjak 291,3% dari tahun lalu Rp460 miliar.


Kemudian, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. menempati posisi kedua yang menganggarkan pertumbuhan Capex tertinggi hingga 111,76%. WSKT menganggarkan Capex Rp1,8 triliun tahun ini dibandingkan dengan periode 2013 yang mencapai Rp850 miliar.


Sebaliknya, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. justru menganggarkan belanja modal yang lebih rendah dari tahun lalu. WIKA menganggarkan Rp1,67 triliun, turun 16,08% dari periode 2013 yang mencapai Rp1,99 triliun.


Begitu pula dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. yang mengalokasikan Capex lebih rendah. Tahun ini, ADHI menganggarkan Rp824 miliar lebih rendah 6,26% dari tahun lalu yang mencapai Rp879 miliar.



Belanja Modal Empat Emiten Kontraktor BUMN Melonjak Hingga 45,8%

Tuesday, December 9, 2014

Sebanyak 12 Emiten BUMN Belanja Modal Hingga Rp47,07 Triliun

Financeroll – Sebanyak 12 emiten dari 20 perusahaan pelat merah yang terdaftar di pasar modal, mengalokasikan belanja modal dengan nilai keseluruhan mencapai Rp47,07 triliun untuk periode 2015.


Jumlah belanja modal (capital expenditure/Capex) tersebut merosot 12,06% dari rencana Capex tahun ini yang mencapai Rp53,53 triliun. Penurunan Capex terbesar dicatatkan oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. mencapai 65,63% menjadi Rp3,3 triliun atau US$275 juta.


PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. tercatat sebagai emiten badan usaha milik negara (BUMN) yang mengalokasikan peningkatan belanja modal tertinggi hingga 286,2% menjadi Rp1,8 triliun pada tahun depan.


Sekretaris Perusahaan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Antonius Y. Nugroho mengatakan pada tahun depan, perseroan menganggarkan belanja modal Rp1,8 triliun. Capex tersebut tercatat meningkat 20% dari alokasi tahun lalu yang mencapai Rp1,5 triliun.


Sumber dana dari obligasi sebesar 50%, sisanya dari pinjaman bank dan kas internal.


Capex emiten berkode saham WSKT itu rencananya akan dialokasikan sebesar 20% untuk realty, 20% untuk precast, 6% untuk peralatan, 6% untuk energi, dan 28% untuk pembangunan jalan tol.


Pada 2015, WSKT membidik target kontrak baru senilai Rp20 triliun, lebih tinggi dari target tahun ini Rp18,7 triliun. Hingga kuartal III/2014, WSKT baru meraih kontrak baru Rp13,04 triliun atau 69,7% dari total target tahun ini.


Laba bersih pada tahun depan ditargetkan dapat tumbuh 30% dengan pendapatan dibidik tumbuh 20% dibandingkan tahun ini. Per September 2014, WSKT membukukan laba bersih Rp129,14 miliar dengan pendapatan Rp5,28 triliun.


Berikut daftar lengkapnya:


 






























Belanja modal 2015(Rp miliar)
ANTM2.640
GIAA2.400
INAF135
JSMR6.000
KAEF600
KRAS3.300
PTBA2.500
PTPP1.800
SMBR900
SMGR5.000
TLKM20.000
WSKT1.800
Total47.075

Sebanyak 12 Emiten BUMN Belanja Modal Hingga Rp47,07 Triliun

Friday, November 14, 2014

Aturan Utang Valas Didukung PT Garuda dan Perusahan Gas Negara

Financeroll – Perusahaan pelat merah tidak khawatir dan justru mendukung dengan adanya aturan baru yang diterbitkan Bank Indonesia terhadap utang valuta asing.


Handrito Hardjono, Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, menilai beleid yang dikeluarkan oleh BI akan baik bagi emiten termasuk badan usaha milik negara (BUMN).


Memang diperlukan kehati-hatian dari pihak swasta atau BUMN untuk pengelolaan utang.


Manajemen Garuda telah mendapatkan sosialisasi dari BI terkait aturan rasio pengelolaan utang luar negeri (ULN) korporasi swasta non bank.


Aturan itu termaktub dalam Peraturan BI tentang Penerapan Prinsip Kehati-Hatian Dalam Pengelolaan ULN Korporasi Nonbank yang dirilis. Beleid tersebut mengatur tentang kewajiban rasio lindung nilai (hedging) dan rasio likuiditas.


Rasio hedging menentukan persentase keharusan korporasi melakukan hedging dari total nilai utang valasnya. Adapun, rasio likuiditas mengukur ketersediaan aset valas untuk memenuhi kewajiban valas dalam kurun waktu 3 bulan ke depan.


Penerapannya dibagi dalam 2 tahap, yakni per 1 Januari 2015 dan tahap kedua per 1 Januari 2016. Perusahaan diwajibkan untuk melaporkan posisi keuangannya pada BI per triwulan dan membuat laporan akhir tahun secara komprehensif.


Untuk utang luar negeri juga memerlukan persetujuan pinjaman komersial luar negeri (PKLN). Dipastikan emiten berkode saham GIAA itu juga telah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menarik PKLN.


Sejauh ini selalu memperoleh ijin PKLN untuk utang luar negeri sehingga sebagian dari aturan tersebut pasti sudah diterapkan juga selama ini.


Hingga kuartal III/2014, Garuda tercatat memiliki utang valas sebesar US$800 juta atau setara dengan Rp9,6 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas Garuda itu telah memasuki masa kritis.


Debt to equity ratio (DER) Garuda yang tercatat mencapai 1,1 kali, dinilai terlalu ketat untuk mendukung kinerja perseroan.


Target DER tetap 1,1 kali, kalau lebih dari itu agak berat balance sheet-nya. Hingga akhir Juni 2014, total utang Garuda mencapai US$1,2 miliar dengan nilai ekuitas mencapai US$1 miliar. Sehingga, katanya, DER perseroan mencapai 1,1 kali dengan utang jatuh tempo tahun ini mencapai US$200 juta-US$300 juta.


Direktur Keuangan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. M. Riza Pahlevi mengatakan perseroan melakukan hedging valuta asing terutama dalam bentuk Yen mencapai 33% dari total.


Yen perseroan mencapai 30% dari total utang PGN, dan telah melakukan hedging.


Perseroan masih akan mengkaji untuk kembali mengajukan pinjaman dalam Valas. Pinjaman tersebut berupa valas karena dinilai pendapatan dan laporan keuangan emiten berkode saham PGAS itu dalam bentuk dolar AS.


Kendati demikian, hingga saat ini, PGN belum memerlukan tambahan dana pinjaman. Pasalnya, pendanaan tersebut belum banyak diperlukan untuk membiayai ekspansi ke depan.


PGN pada 16 Mei 2014 telah menerbitkan obligasi global dengan nilai US$1,35 miliar. Global bond berkupon 5,125% dengan tenor 10 tahun itu digunakan untuk menambah modal kerja dan pengembangan infrastruktur gas.


Manajemen PGN juga telah mendandatangani perjanjian fasilitas pinjaman sindikasi senilai US$650 juta dengan jangka waktu 5 tahun.


Sindikasi perbankan itu adalah Australian and New Zealand Banking Group Limited (ANZ), The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ,Ltd (BTMU), Citigroup Global Markets Singapore Pte.Ltd (Citi), The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC) dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC).



Aturan Utang Valas Didukung PT Garuda dan Perusahan Gas Negara