Showing posts with label Bank DBS Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bank DBS Indonesia. Show all posts

Sunday, November 30, 2014

PT Bank DBS Indonesia Targektan Kredit Tumbuh Maksimal 16%

Financeroll – Setelah membukukan laju pertumbuhan kredit mencapai 17,42% pada kuartal III/2014, PT Bank DBS Indonesia menargetkan pinjaman yang disalurkan perseroan hanya tumbuh maksimal 16% pada tahun depan.


Melvin Theo, Presiden Direktur Bank DBS Indonesia, mengatakan optimistis melihat kepemimpinan pemerintahan baru. Namun, pada tahun mendatang, pihaknya akan lebih selektif dalam penyaluran kredit sesuai arahan Bank Indonesia.


Sama akan berkisar 14%-16%. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada tahun depan juga ditargetkan sejalan dengan proyeksi peningkatan pinjaman atau berada pada kisaran 14%-16%.


Sementara itu, untuk mencapai target pertumbuhan kredit dan DPK tersebut, akan dibuka kantor cabang dan kas baru pada tahun depan.


Meski belum dijelaskan lokasi kantor secara spesifik, Opsi tersebut dilakukan untuk menggaet lebih banyak nasabah.



PT Bank DBS Indonesia Targektan Kredit Tumbuh Maksimal 16%

Friday, November 28, 2014

PT Bank DBS Indonesia Perbesar Segmen Konsumer Perseroan

Financeroll – Tahun depan, PT Bank DBS Indonesia akan memperbesar segmen konsumer perseroan dengan memperbanyak produk kredit dan electronic banking yang ditawarkan untuk segmen ini.


Presiden Direktur Bank DBS Indonesia Melvin Theo mengatakan pihaknya sedang dalam tahap akhir untuk mengembangkan electronic banking perseroan.


Dengan berusaha untuk mencoba meraih lebih banyak nasabah kredit konsumer. Secara perlahan, untuk itu mencoba mengembangkan produk yang lebih spesifik.


Langkah perseroan untuk terus mengembangkan segmen konsumer ini, salah satunya terlihat dari peluncuran kredit pemilikan rumah (KPR) pada September tahun ini.


Ke depannya, perseroan menargetkan meluncurkan kartu debit dan kartu kredit.


Sebelumnya, Managing Director of Consumer Banking Group Bank DBS Indonesia Steffano Ridwan mengatakan pihaknya akan meluncurkan produk kartu debit pada kuartal I/2015.


Produk ini diluncurkan mengingat kebutuhan nasabah perseroan yang kian beragam.


Selain itu, bank yang 99% sahamnya dimiliki DBS Group Holdings Ltd tersebut juga tengah mengkaji penerbitan kartu kredit.


Steffano menjelaskan pangsa pasar kartu kredit di Indonesia masih cukup besar melihat pertumbuhan populasi kelas menengah yang mencapai 2 digit tiap tahunnya.



PT Bank DBS Indonesia Perbesar Segmen Konsumer Perseroan

PT Bank DBS Indonesia Akan Selektif Untuk Kredit Infrastruktur

Financedroll – PT Bank DBS Indonesia memilih lebih selektif untuk masuk dalam kredit infrastruktur.


Presiden Direktur Bank DBS Indonesia Melvin Theo mengatakan pihaknya memang telah masuk ke sektor infrastruktur, namun porsinya tak terlalu besar.


Ke depannya, Melvin menuturkan, perseroan akan tetap selektif dalam menyalurkan kredit ke sektor ini meski pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla berfokus pada pembangunan infrastruktur.


Dengan berusaha akan selektif, karena tidak sebesar bank-bank lain di Indonesia.


Adapun dari laporan keuangan pada kuartal III/2014, bank dengan modal inti sebesar Rp5,91 triliun ini mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 17,42% atau naik dari posisi Rp33,67 triliun di September 2013 menjadi Rp39,54 triliun.


DPK Bank DBS Indonesia tumbuh 14,95% dari Rp34,2 triliun pada September 2013 menjadi Rp39,31 triliun di periode yang sama tahun ini.



PT Bank DBS Indonesia Akan Selektif Untuk Kredit Infrastruktur

Thursday, November 20, 2014

Disepakati, Charoen Pokphand Raih Kredit Sindikasi USD 400 Juta

Financeroll –  Emiten produsen pakan ternak, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) mengantongi fasilitas pinjaman sindikasi dari 15 bank. Nilai fasilitas tersebut mencapai USD  400 juta.  Presiden Direktur Charoen Tjiu Thomas Effendy mengatakan, fasilitas yang diraih Charoen merupakan unsecured basis atau pinjaman tanpa jaminan aset perusahaan. Fasilitas ini terdiri atas denominasi rupiah dan dollar dengan komposisi seimbang.


Untuk diketahui, bank yang memberikan pinjaman meliputi Citi Bank, Bank ANZ Indonesia, BCA, CIMB Niaga, Bank DBS Indonesia, Bank Mandiri, SMBC Bank (Cabang Singapura dan Indonesia), Bank Mizuho, Bank CTBC, Aozora Asia Pasific Finance, Chang Hwa Commercial Bank, Singapore Branch, First Commercial Bank, Land Bank of Taiwan dan Hua Nan Commercial Bank.  Dalam transaksi tersebut, Charoen menunjuk Citi sebagai koordinator tunggal. Citi bersama ANZ, BCA, CIMB Niaga, DBS, Mandiri, dan SMBC selanjutnya bertindak sebagai mandated lead arrangers dan book runners.


Menurut Thomas, fasilitas terbagi menjadi USD 200 juta dan Rp 2,4 triliun. Hal ini dilakukan untuk membantu mengurangi biaya bunga yang dibebankan serta memberikan perlindungan terhadap fluktuasi nilai Rupiah.


Untuk diketahui,  fasilitas yang diterima Charoen dalam bentuk pinjaman berjangka (term loan) tercatat sebesar USD75 juta dan Rp 900 miliar. Sementara, fasilitas kredit bergulir (revolving) tercatat sebesar USD 125 juta dan Rp 1,5 triliun. Kedua jenis kredit memiliki jangka waktu 5 tahun dan bunga Libor + 1,75%.


Sementara itu,  Direktur Keuangan Charoen Ong Mei Siang menambahkan, pinjaman akan digunakan untuk memenuhi pendanaan ekspansi perusahaan dalam beberapa tahun mendatang. Pinjaman juga dialokasikan untuk mendukung modal kerja guna meningkatkan operasional dan keuangan.  Pinjaman ini bukan untuk membiayai proyek khusus, melainkan keperluan rutin untuk menambah fasilitas produksi sebanyak 10% sesuai dengan pertumbuhan permintaan pasar per tahunnya. [geng]



Disepakati, Charoen Pokphand Raih Kredit Sindikasi USD 400 Juta