Showing posts with label Rabu Siang. Show all posts
Showing posts with label Rabu Siang. Show all posts

Wednesday, January 14, 2015

Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.535 / USD

Financeroll  – Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (15/1)  pagi hingga siang bergerak menguat sebesar 45 poin menjadi Rp 12.535 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.580 per dolar AS.  Kurs Rupiah memiliki kesempatan untuk bergerak menguat di tengah menurunnya tingkat imbal hasil atau yield obligasi AS.  Selain itu, Indonesia yang diproyeksikan masih tumbuh pada 2015 sekitar 5,6 persen oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) menjadi salah satu sentimen positif.


Meski  demikian,  laju mata uang rupiah pun masih rentan dengan sentimen negatif yang ada. Turunnya data Jerman dan Italia yang dibarengi dengan rilis masih rendahnya tingkat inflasi Inggris memberikan tekanan bagi mata uang euro dan poundsterling terhadap dolar AS untuk kembali menguat dan tentunya dapat berimbas negatif pada rupiah.


Secara fundamental global mata uang dolar AS masih cukup kuat menyusul kenaikan jumlah lapangan pekerjaan AS dan indeks optimisme ekonomi AS yang memiliki prospek positif.  Pasar juga terlihat berhati-hati menjelang pertemuan Bank Indonesia (BI) pada Kamis, 15 Januari.


Meski BI diprediksi akan mempertahankan suku bunga di level 7,75 persen namun investor ingin melihat apakah BI akan mempertahankan sikap ’hawkish’-nya di tengah merebaknya ancaman perlambatan ekonomi Indonesia.  Sentimen pelemahan rupiah masih terjaga dimana mata uang Garuda itu mungkin akan diperdagangkan di kisaran Rp 12.550-Rp 12.615 per dolar AS untuk Rabu ini. [geng]



Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.535 / USD

Tuesday, January 6, 2015

Rabu Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp  12.722 / USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu pagi hingga siang, bergerak melemah 77 poin ke posisi Rp 12.722 dibandingkan sebelumnya Rp 12.645 per dolar AS.  Nilai dolar AS kembali menguat terhadap mayoritas mata uang dunia di tengah penantian notulensi rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) oleh pelaku pasar keuangan.


Antisipasi pasar terhadap notulensi itu membuat dolar AS kembali menguat di pasar global sehingga berimbas negatif kepada rupiah di pasar valuta asing (valas) domestik.  Meski demikian, potensi mata uang rupiah berbalik arah ke area penguatan cukup terbuka. Hal itu disebabkan ekspekstasi sebagian pelaku pasar keuangan menilai bahwa bank sentral AS (Federal Reserve) tidak akan menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat menyusul ada beberapa data ekonomi AS masih melambat.


Selain itu, data sektor jasa AS mengalami penurunan yang mempengaruhi kegiatan bisnis di sana.  Masih adanya harapan positif terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah untuk mendorong pembangunan infrastruktur akan menjadi modal bagi perekonomian Indonesia tetap mencatatkan pertumbuhan yang nantinya dapat menguatkan mata uang rupiah.


Laju pertumbuhan sektor jasa AS berada di bawah ekspekstasi untuk bulan Desember 2014 seiring dengan penurunan pada indeks tenaga kerja serta aktivitas bisnis.  Selanjutnya, ia mengatakan pelaku pasar akan fokus pada data Non-Farm Payrolls (jumlah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja) AS versi Automatic Data Processing. [geng]



Rabu Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp  12.722 / USD

Tuesday, December 16, 2014

Rabu Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp  12.718 / USD

Financeroll - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu (17/12)  pagi hingga siang, bergerak menguat sebesar tujuh poin menjadi Rp 12.718 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.725 per dolar AS, menyusul adanya intervensi secara intensif dari Bank Indonesia (BI).


Selain itu, BI juga terlihat aktif di pasar surat utang negara (SUN) sehingga membuat yield SUN dengan tenor 10 tahun turun walaupun tipis. Dalam dua hari ini BI telah melakukan intervensi pasar dengan membeli obligasi senilai Rp 1,7 triliun.


Peluang mata uang rupiah menguat kembali terbuka terhadap dolar AS menjelang rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), masih belum kuatnya pertumbuhan ekonmi AS akan membantu penguatan rupiah.  Inflasi Amerika Serikat sedang ditunggu pasar, diperkirakan turun ke 1,4% secara tahunan.


Mata uang rupiah mulai stabil dengan kisaran pergerakan yang terbatas seiring dengan intervensi BI.  Saat ini, sentimen yang cukup kuat didominasi dari eksternal. Perkirakan pasar bahwa Fed rate akan naik pada pertengahan tahun 2015, namun itu bisa lebih cepat jika perbaikan ekonomi di AS berkelanjutan. Kalau suku bunga di sana naik, akan membuat peluang imbal hasil di AS menjadi besar. [geng]


 



Rabu Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp  12.718 / USD