Showing posts with label Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Show all posts
Showing posts with label Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Show all posts

Tuesday, January 6, 2015

Rabu Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp  12.722 / USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu pagi hingga siang, bergerak melemah 77 poin ke posisi Rp 12.722 dibandingkan sebelumnya Rp 12.645 per dolar AS.  Nilai dolar AS kembali menguat terhadap mayoritas mata uang dunia di tengah penantian notulensi rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) oleh pelaku pasar keuangan.


Antisipasi pasar terhadap notulensi itu membuat dolar AS kembali menguat di pasar global sehingga berimbas negatif kepada rupiah di pasar valuta asing (valas) domestik.  Meski demikian, potensi mata uang rupiah berbalik arah ke area penguatan cukup terbuka. Hal itu disebabkan ekspekstasi sebagian pelaku pasar keuangan menilai bahwa bank sentral AS (Federal Reserve) tidak akan menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat menyusul ada beberapa data ekonomi AS masih melambat.


Selain itu, data sektor jasa AS mengalami penurunan yang mempengaruhi kegiatan bisnis di sana.  Masih adanya harapan positif terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah untuk mendorong pembangunan infrastruktur akan menjadi modal bagi perekonomian Indonesia tetap mencatatkan pertumbuhan yang nantinya dapat menguatkan mata uang rupiah.


Laju pertumbuhan sektor jasa AS berada di bawah ekspekstasi untuk bulan Desember 2014 seiring dengan penurunan pada indeks tenaga kerja serta aktivitas bisnis.  Selanjutnya, ia mengatakan pelaku pasar akan fokus pada data Non-Farm Payrolls (jumlah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja) AS versi Automatic Data Processing. [geng]



Rabu Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp  12.722 / USD

Wednesday, October 29, 2014

Bursa Global Menguat, Pasar Uang Domestik Bergerak Positif

Financeroll - Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu (29/10) sore, menguat 67 poin menjadi Rp 12.102 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.169 per dolar AS.  Dolar AS mengalami tekanan terhadap mayoritas mata uang dunia termasuk rupiah didorong aksi ambil untung pelaku pasar uang menjelang publikasi hasil pertemun Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).  Sementara laju IHSG  rebound 72 poin didorong aksi beli investor asing di saham-saham unggulan. Indeks kembali mendekati level 5.100. Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG menguat 18,182 poin (0,36%) ke level 5.019,486 mengikuti penguatan bursa global dan regional. Aksi beli asing kembali muncul.


Dari sisi fundamental, pelemahan dolar AS juga dipicu beberapa data ekonomi Amerika Serikat yang di bawah ekspektasi.  Meski demikian, penguatan mata uang rupiah masih relatif terbatas seiring dengan investor pasar uang yang masih bersikap waspada menanti hasil pertemuan kebijakan moneter AS terkait tingkat suku bunga (Fed rate).


Federal Reserve diprediksi akan mengakhiri program pembelian obligasi dan bersiap untuk menaikan suku bunga pada pertengahan tahun 2015. Namun apabila Fed masih mengkhawatirkan tingkat inflasi yang rendah, pelaku pasar akan berasumsi bahwa Fed tidak akan terburu-buru untuk menaikan suku bunganya.


Dari dalam negeri,  investor juga sedang mencermati dinamika politik Indonesia seiring dengan DPR yang sedang bersiap memilih pimpinan komisi yang dapat mempengaruhi kecepatan implementasi rencana kebijakan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.  Namun, outlook mata uang rupiah masih cukup netral berada di kisaran Rp 12.120-12.190 per dolar AS.  Sebaliknya pada kurs tengah Bank Indonesia (BI), mata uang lokal ini bergerak melemah menjadi Rp 12.163 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.158 per dolar AS.


Indeks terus menanjak perlahan di zon hijau. Saham-saham yang kemarin terpangkas harganya sudah mulai diburu kembali.  Pada penutupan perdagangan Sesi, IHSG melaju 42,978 poin (0,86%) ke level 5.044,282 dibantu oleh aksi beli investor asing. Saham-saham unggulan menguat berkat aksi beli ini.


Tercatat indeks terus menanjak hingga ke titik tertingginya hari ini di 5.074. Seluruh sektor saham kompak menguat, dipimpin oleh sektor tambang dan konsumer.  Pada akhir perdagangan, Rabu (29/10), IHSG ditutup melesat 72,752 poin (1,45%) ke level 5.074,056. Sementara Indeks unggulan LQ45 ditutup melaju 16,941 poin (2,00%) ke level 863,472.


Beberapa saham unggulan paling banyak diincar. Indeks sektoral bisa menguat hingga rata-arat lebih dari dua persen.  Investor asing kembali berburu saham. Transaksi pemodal asing hingga sore hari ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 1,9 triliun di seluruh pasar. Transaksinya di pasar reguler hanya Rp 509 miliar.


Perdagangan  kemarin berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 232.082 kali dengan volume 5,771 miliar lembar saham senilai Rp 11,973 triliun. Sebanyak 232 saham naik, 91 turun, dan 67 saham stagnan.  Volume dan nilai perdagangan hari ini melonjak tinggi karena ada transaksi penjualan saham PT Link Net Tbk (LINK) oleh beberapa broker. Link memang berniat menjual sebagian sahamnya kepada investor strategis. [geng]


 Sementara situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 melonjak 224,00 poin (1,46%) ke level 15.553,91, Indeks Hang Seng naik 299,51 poin (1,27%) ke level 23.819,87, Indeks Komposit Shanghai menanjak 35,16 poin (1,50%) ke level 2.373,03, dan  Indeks Straits Times menguat 7,98 poin (0,25%) ke level 3.219,63. [geng]


 



Bursa Global Menguat, Pasar Uang Domestik Bergerak Positif

Monday, October 27, 2014

Minim Sentimen Penggerak, Pasar Uang Domestik Melambat

Financeroll – Pergerakan  nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin (27/10) sore, melemah 28 poin menjadi Rp 12.097 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.069 per dolar AS.  Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan  48 poin akibat aksi ambil untung investor lokal di hari pertama Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dana asing masuk lantai bursa sekitar Rp 600 miliar.


Selain itu, ekspektasi hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada pekan ini yang diperkirakan menghentikan program pembelian obligasinya menambah sentimen negatif bagi mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah.  Setelah program stimulus the Fed berakhir, pasar akan fokus pada kondisi ekonomi AS mengantisipasi program kenaikan Fed rate yang diperkirakan bisa lebih cepat.


The Fed selalu mepertimbangkan kondisi ekonomi seperti tingkat pengangguran dan inflasi, sejauh ini data itu masih belum mencapai target.  Sebaliknya pada kurs tengah Bank Indonesia mata uang lokal ini bergerak menguat menjadi Rp 12.042 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.065 per dolar AS.


Dari bursa saham, IHSG tersendat oleh aksi ambil untung investor domestik sehingga akhirnya jatuh ke zona merah. Indeks terus meluncur sampai ke titik terendahnya hari ini di 5.024.  Menutup perdagangan Sesi I, IHSG turun 32,953 poin (0,65%) ke level 5.040,115 gara-gara aksi lepas saham investor lokal. Pemodal domestik mulai mengambil untung. Aksi ambil untung terjadi di hampir seluruh indeks sektoral, hanya indeks sektor industri dasar yang masih menguat. IHSG sudah naik cukup tinggi sepanjang pekan lalu.  Pada akhir  perdagangan awal pekan, Senin (27/10), IHSG ditutup anjlok 48,776 poin (0,96%) ke level 5.024,292. Sementara Indeks unggulan LQ45 ditutup jatuh 11,208 poin (1,30%) ke level 851,342.


Tercatat investor asing masih terus berburu saham. Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 660,68 miliar di seluruh pasar.  Perdagangan hari ini berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 167.439 kali dengan volume 4,223 miliar lembar saham senilai Rp 4,176 triliun. Sebanyak 87 saham naik, 194 turun, dan 80 saham stagnan.


Beberapa bursa di Asia menutup perdagangan awal pekan dengan mixedcenderung melemah. Hanya bursa saham Jepang yang menguat sendirian di Asia.  Beriktu situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 naik 97,08 poin (0,63%) ke level 15.388,72, Indeks Hang Seng melemah 158,97 poin (0,68%) ke level 23.143,23, Indeks Komposit Shanghai turun 11,84 poin (0,51%) ke level 2.290,44, dan  Indeks Straits Times menipis 1,89 poin (0,06%) ke level 3.220,66. [geng]


 



Minim Sentimen Penggerak, Pasar Uang Domestik Melambat

Rupiah Ditutup Melemah ke Posisi Rp 12.097 / USD

Financeroll – Pergerakan  nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin (27/10)  sore, melemah 28 poin menjadi Rp 12.097 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.069 per dolar AS.  Kurs rupiah berbalik arah ke area negatif setelah sempat menguat pada perdagangan sesi pagi menyusul antisipasi pelaku pasar uang terhadap arah program-program kementerian ke depannya.  Paparan rencana kerja kementerian ke depan yang sedang ditunggu pasar.


Ekspektasi hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada pekan ini yang diperkirakan menghentikan program pembelian obligasinya menambah sentimen negatif bagi mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah.  Di sisi lain, belum adanya kepastian waktu tentang kebijakan suku bunga bank sentral AS (Fed rate) juga masih menjadi sentimen negatif  bagi pasar keuangan di negara-negara berkembang.


Setelah program stimulus the Fed berakhir, pasar akan fokus pada kondisi ekonomi AS mengantisipasi program kenaikan Fed rate yang diperkirakan bisa lebih cepat.  Saat ini the Fed masih dibebankan pada tingkat inflasi yang rendah sehingga bisa menuda kebijakan kenaikan suku bunganya.


The Fed selalu mepertimbangkan kondisi ekonomi seperti tingkat pengangguran dan inflasi, sejauh ini data itu masih belum mencapai target.  Sebaliknya pada kurs tengah Bank Indonesia mata uang lokal ini bergerak menguat menjadi Rp12.042 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.065 per dolar AS. [geng]



Rupiah Ditutup Melemah ke Posisi Rp 12.097 / USD

Wednesday, October 8, 2014

Kamis Siang, Rupiah Mengaut ke Posisi Rp 12.200 / USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (9/10) pagi hingga siang bergerak menguat 35 poin menjadi Rp 12.200 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.235 per dolar AS.  Masih adanya kecemasan perlambatan ekonomi global membuat prospek perbaikan ekonomi AS juga akan terkendali sehingga apresiasi dolar AS cenderung tertahan.


Dolar AS berbalik melemah terhadap hampir semua mata uang utama dunia pascarilis hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menunjukkan bahwa kebijakan Bank Sentral AS (the Fed) juga mencemaskan dampak perlambatan global terhadap prospek ekonomi AS.  Beberapa petinggi the Fed menilai pertumbuhan ekonomi global yang lebih lemah dari harapan bisa menghambat pertumbuhan ekonomi AS.


Di sisi lain,   AS juga khawatir terhadap perlambatan ekonomi dan inflasi di Eropa akan mendorong keberlanjutan apresiasi dolar AS, yang nantinya dapat mengekang ekspor dan kenaikan harga.  Saat ini cenderung konsolidasi. Namun secara keseluruhan, rally penguatan dolar AS masih akan berlanjut.


Meski laju dolar AS berbalik melemah seiring imbas penilaian Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap outlook pertumbuhan ekonomi global, namun potensi berbalik arah masih cukup kuat.  Di tengah kondisi ekonomi global yang melambat, mata uang ’safe haven’ seperti dolar AS akan tetap diminati. [geng]



Kamis Siang, Rupiah Mengaut ke Posisi Rp 12.200 / USD