Showing posts with label Transportasi. Show all posts
Showing posts with label Transportasi. Show all posts

Saturday, January 3, 2015

Pemerintah Himbau Pengusaha Jasa Transportasi Menysuaikan Tarif

Financeroll – Pemerintah mengimbau pengusaha jasa transportasi menyesuaikan tarif seiring penurunan harga BBM premium Rp900/liter dan solar Rp250/liter mulai 1 Januari 2015.


Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan ‎penurunan harga BBM seharusnya diikuti oleh penurunan harga barang dan jasa yang terkait. Namun, prosesnya diakui membutuhkan waktu sekitar 1 bulan.


“Itu makan tempo. Sama seperti dulu angkutan tidak langsung naik, tetapi alami proses dulu beberapa bulan. Sebulan akan datang ada penyesuaiannya,” kata JK di kantornya. ‎


Penurunan tarif tersebut sejalan dengan penurunan harga BBM pada 1 Januari 2015. Kebijakan tersebut diproyeksi menyumbang deflasi pada bulan ini. Sebelumnya, pada 18 November 2014, pemerintah menetapkan harga premium Rp8.500 dan solar Rp7.500/liter.


Namun, harga tersebut diturunkan menjadi Rp7.600/liter untuk premium dan Rp7.250/liter untuk solar mulai 1 Januari 2015. Harga premium tidak lagi disubsidi pemerintah, sedangkan harga solar disubsidi Rp1.000/liter.‎


“Tahap ‎berikutnya, efeknya turun. Kalau inflasi turun, artinya seluruh efeknya menurun. Kalau ada hubungannya ya segera menyesuaikan,” katanya.


Kendati pemerintah menurunkan harga BBM, para pelaku usaha transportasi tidak akan mengoreksi tarif yang terlanjur naik sejak akhir November 2014. Organda menilai penurunan harga BBM tidak berdampak signifikan bagi para pengusaha angkutan, bahkan masyarakat.


Berbagai komponen dalam tarif seperti gaji, uang konsumsi para awak, biaya modal, biaya penyusutan, biaya pemeliharaan dan suku cadang kendaraan, biaya ‎persuratan kendaraan, dan biaya asuransi tidak berubah.


JK menjelaskan kebijakan baru tersebut merupakan sistem untuk membuat anggaran belanja pemerintah tidak jebol lantaran membayar subsidi BBM 48 juta kiloliter.‎ Dalam APBN-P 2015, anggaran subsidi BBM diperkirakan menyusut dari Rp276 triliun menjadi di bawah Rp50 triliun. ‎


“Kan yang penting masyarakat dapat subsisdi kan? Kalau tidak begitu, harga minyak dunia turun, tapi masyarakat bayar lebih mahal,” ujarnya.



Pemerintah Himbau Pengusaha Jasa Transportasi Menysuaikan Tarif

Berikut Ini Komoditas Pemicu Inflasi Desember

Financeroll – Kelompok transportasi dan makanan menjadi penyumbang utama inflasi Desember yang mencapai 2,46% sebagai dampak kenaikan harga BBM subsidi sebulan sebelumnya.


Berikut ini berbagai komoditas yang memicu akselerasi inflasi Desember:

































































KomoditasAndil (%)Harga Naik (%)
Bensin0,5212,45
Tarif angkutan dalam kota0,3113,81
Beras0,174,44
Cabai merah0,1626,83
Tarif listrik0,154,52
Cabai rawit0,0934,41
Nasi lauk0,073,35
Ikan segar0,061,87
Tarif angkutan antarkota0,0610,45
Tarif angkutan udara0,058,04
Telur ayam ras0,045,46
Mi0,042,94
Pasir0,034,4
Bahan bakar rumah tangga0,031,98
Solar0,0317,79
Daging ayam ras0,021,7
Tomat sayur0,029,8
Rokok kretek filter0,020,73
Semen0,021,86
Upah tukang bukan mandor0,020,81

Berikut Ini Komoditas Pemicu Inflasi Desember

Sunday, December 28, 2014

Ekspansi Bisnis Citilink Gunakan Pinjaman Dari Garuda Indonesia

Financeroll – Manajemen Citilink Indonesia berencana menggunakan pinjaman baru dari Induk perusahaan, Garuda Indonesia, untuk ekspansi bisnis di tahun 2015 seperti pembukaan rute-rute baru di Kawasan Timur Indonesia dan sejumlah rute regional.


Pinjaman itu diperlukan guna memantapkan upaya Citilink menguasai pasar domestik dan merambah rute regional, sekaligus upaya antisipatif menghadapi ASEAN Open Sky 2015.


Pelaksana tugas President & CEO Citilink Indonesia, Albert Burhan yang sehari-hari menjabat direktur keuangan menjelaskan, selama semester pertama tahun 2015 masih terus mendatangkan lima pesawat baru Airbus A320, dengan tambahan pesawat-pesawat baru tersebut Citilink di tahun 2015 akan dapat meningkatkan frekuensi penerbangan sebesar 30% dibandingkan dengan 2014.


Saat ini frekuensi penerbangan Citilink sudah mencapai 182 penerbangan sehari.


Citilink berterima kasih kepada Garuda Indonesia yang terus memberikan kepercayaan untuk melakukan investasi sebagai upaya meningkatkan pangsa pasar Citilink. Citilink telah membukukan laba sebesar US$3,8 juta pada kuartal ketiga 2014 ini, sedangkan untuk investasi atau ekspansi masih membutuhkan tambahan sumber dana eksternal.


Hingga akhir 2014, jumlah armada maskapai penyedia jasa penerbangan berbiaya murah (LCC) yang juga merupakan anak usaha Garuda Indonesia ini mencapai 32 pesawat jenis Airbus A320 dengan melayani 39 rute penerbangan di 23 kota besar Indonesia dengan 182 frekuensi penerbangan sehari.


Sedangkan rata-rata tingkat ketepatan waktu penerbangan (on time performance-OTP) seluruh penerbangan Citilink hingga September 2014 mencapai 82,4 persen, kata Benny S Butarbutar, VP Corporate Communications PT Citilink Indonesia.



Ekspansi Bisnis Citilink Gunakan Pinjaman Dari Garuda Indonesia

Tahun Depan Pesawat N219 Buatan Indonesia Mulai Mengudara

Financeroll – Pemerintah menargetkan pesawat terbang buatan Indonesia, N219, sudah bisa dioperasikan untuk angkutan udara di dalam negeri pada akhir 2015.


Pertengahan 2015 masih riset dan akhir 2015 di harapkan sudah terbang, kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek dan Dikti) Muhammad Nasir, terkait dengan rencana produksi pesawat komersial buatan dalam negeri.


Nasir mengatakan pesawat itu saat ini masih dikerjakan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).


Pesawat N219 itu memang dibuat dengan kapasitas terbatas, hanya 19 orang. Rencananya, pesawat itu memang dibuat untuk memenuhi kebutuhan domestik, terutama untuk penerbangan Indonesia bagian timur.


Untuk Indonesia timur, perlu penerbangan jangka pendek. Dengan kapasitas 19 orang, bisa menjangkau kota ataupun pulau kecil, dan tidak memerlukan landasan yang panjang.


Riset dilakukan dengan maksimal. Riset tersebut juga akan terus berlanjut sampai sertifikasi penerbangan. Hal itu penting untuk menguji kelaikan pesawat tersebut.


Terkait komponen pembuatan pesawat, Nasir mengatakan akan lebih banyak memanfaatkan komponen lokal, dengan porsi 60 persen. Sementara itu, sisanya masih memerlukan impor.


Untuk komponen, 60% lokal, tapi masih ada yang mengambil dari luar negeri.


Diperkirakan, dalam satu tahun nantinya bisa memproduksi empat pesawat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Jumlah itu nantinya juga diharapkan bisa terus bertambah. Rencana produksi akan dilakukan pada 2016 atau 2017.


Rencana pembuatan pesawat itu bisa berhasil. Bahkan, saat ini dengan riset yang sudah dilakukan, sudah mendapatkan tawaran yang baik dari dunia usaha. Terdapat sekitar 150 pasar yang potensial yang. Mereka sudah berkomunikasi dan datang, guna mengetahui lebih lanjut terkait dengan pesawat N219 tersebut.


Rencana pembuatan pesawat N219 ini sangat didukung pemerintah. Mereka akan memediasi pengembangan hingga peluncuran pesawat komersial bersertifikasi siap produksi yaitu N219. Dalam upaya pembuatan pesawat itu, pemerintah mengucurkan dana Rp400 miliar.



Tahun Depan Pesawat N219 Buatan Indonesia Mulai Mengudara