Showing posts with label econoic politics. Show all posts
Showing posts with label econoic politics. Show all posts

Sunday, December 28, 2014

Ekspansi Bisnis Citilink Gunakan Pinjaman Dari Garuda Indonesia

Financeroll – Manajemen Citilink Indonesia berencana menggunakan pinjaman baru dari Induk perusahaan, Garuda Indonesia, untuk ekspansi bisnis di tahun 2015 seperti pembukaan rute-rute baru di Kawasan Timur Indonesia dan sejumlah rute regional.


Pinjaman itu diperlukan guna memantapkan upaya Citilink menguasai pasar domestik dan merambah rute regional, sekaligus upaya antisipatif menghadapi ASEAN Open Sky 2015.


Pelaksana tugas President & CEO Citilink Indonesia, Albert Burhan yang sehari-hari menjabat direktur keuangan menjelaskan, selama semester pertama tahun 2015 masih terus mendatangkan lima pesawat baru Airbus A320, dengan tambahan pesawat-pesawat baru tersebut Citilink di tahun 2015 akan dapat meningkatkan frekuensi penerbangan sebesar 30% dibandingkan dengan 2014.


Saat ini frekuensi penerbangan Citilink sudah mencapai 182 penerbangan sehari.


Citilink berterima kasih kepada Garuda Indonesia yang terus memberikan kepercayaan untuk melakukan investasi sebagai upaya meningkatkan pangsa pasar Citilink. Citilink telah membukukan laba sebesar US$3,8 juta pada kuartal ketiga 2014 ini, sedangkan untuk investasi atau ekspansi masih membutuhkan tambahan sumber dana eksternal.


Hingga akhir 2014, jumlah armada maskapai penyedia jasa penerbangan berbiaya murah (LCC) yang juga merupakan anak usaha Garuda Indonesia ini mencapai 32 pesawat jenis Airbus A320 dengan melayani 39 rute penerbangan di 23 kota besar Indonesia dengan 182 frekuensi penerbangan sehari.


Sedangkan rata-rata tingkat ketepatan waktu penerbangan (on time performance-OTP) seluruh penerbangan Citilink hingga September 2014 mencapai 82,4 persen, kata Benny S Butarbutar, VP Corporate Communications PT Citilink Indonesia.



Ekspansi Bisnis Citilink Gunakan Pinjaman Dari Garuda Indonesia

Wednesday, December 24, 2014

Menkop Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga Berharap Izin Hanya Satu Lembar Kertas

Financeroll – Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga akan memprioritaskan proses pengurusan izin usaha kecil dan menengah pada 2015 cukup dengan satu lembar kertas sudah bisa mengakses perbankan.


“Ini cara pemerintah agar UKM bisa mendapat kredit dari perbankan,” ujar Puspayoga seusai peresmian Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) Provinsi NTB, di Mataram.


Program pengurusan izin dengan satu lembar kertas tersebut dimaksudkan untuk memangkas proses pengurusan izin yang selama ini terlalu berbeli-belit dan mahal, sehingga membuat para pelaku UKM menjadi malas, karena merasa kalah bersaing dengan industri besar.


Pada 2015, kata menteri, pihaknya menjamin persoalan berbelit-belit untuk izin usaha atau izin tempat usaha dan perizinan lainnya termasuk memperoleh kredit perbankan, tidak akan dialami para pelaku UKM.


Untuk merealisasikan rencana tersebut, pihaknya pada 5 Januari 2015 akan melakukan penandatangan nota kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI), bahwa seluruh pengurusan izin koperasi akan terangkum dalam satu lembar kertas, tanpa harus mengurus izin lainnya.


“Jadi setelah MoU itu akan ada tindak lanjut. Bahkan, nanti bagi UKM yang ingin mendapatkan kredit dari perbankan cukup dengan membawa kartu sudah bisa mendapatkan kredit dari bank,” kata Puspayoga.



Menkop Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga Berharap Izin Hanya Satu Lembar Kertas

Sunday, December 7, 2014

Walikota Tangerang Akan Mewakili Indonesia di Forum Pemimpin Asia Pasifik

Financeroll – Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah terpilih mewakili Indonesia dalam forum pemimpin-pemimpin Asia Pasifik yang diadakan oleh Asian Development Bank (ADB) bekerja sama dengan Cities Development Initiative for Asia (CDIA).


Dalam acara yang diselenggarakan hari ini hingga besok hari di Manila, Filipina, Arief juga menjadi narasumber dan diminta untuk mempresentasikan konsep liveable, investable, visitable, dan e-city (LIVE) dan juga konsep pembangunan berwawasan lingkungan di Kota Tangerang.


Kota Tangerang sungguh beruntung bisa berbagi pengalaman didepan 50 pemimpin Asia Pasifik, apalagi semua biaya, baik akomodasi dan transportasi menjadi tanggung jawab penyelenggara.


Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk menjalin komunikasi antara pemimpin di Asia Pasifik. Selain itu, acara ini juga sebagai ajang tukar pikiran dan berbagi pengalaman terkait pengembangan dan pembangunan menuju kota layak huni.


Dalam forum ini juga akan membahas isu-isu global yang dihadapi oleh para pemimpin dunia seperti masalah pengelolaan air bersih, transportasi, penyedian sumber energi, dan pengelolaan sampah serta perencanaan kota.


Pertemuan ini Pemkot Tangerang bisa mendapatkan berbagai solusi terkait persoalan yang dihadapi, karena, secara langsung dapat bertukar pikiran dengan para pemimpin yang telah sukses membawa perkaikan di daerahnya.


Terpilihnya Wali Kota Tangerang sebagai salah satu narasumber dalam forum yang dihadiri 50 pemimpin dan pembuat kebijakan kota se-Asia Pasifik, ujarnya, tidak terlepas dari berbagai prestasi yang telah diraih oleh Kota Tangerang, seperti penghargaan Enviromental Suistainable City (ESC) Award tingkat Asean.


Selain itu, keikutsertaan Tangerang juga bentuk apresiasi masyarakat dunia atas komitmen pemkot dalam mewujudkan kota yang layak huni.



Walikota Tangerang Akan Mewakili Indonesia di Forum Pemimpin Asia Pasifik

Friday, December 5, 2014

Para Pengembang Properti Singapura Memborong Properti di Luar Negeri

Financeroll – Para pengembang Singapura yang tengah berjuang menjual apartemen di dalam negeri memborong properti di luar negeri sehingga membuat negara kota itu menjadi investor asing regional terbesar tahun ini.


Sejumlah perusahaan termasuk City Developments Ltd. (CIT) dan Keppel Land Ltd. (KPLD) menanamkan modalnya sebesar US$2,32 miliar di pasar luar negeri selama bulan sebulan di September. Nilai tersebut tercatat naik tiga kali lipat dari periode yang sama tahun lalu.


Menurut data dari Real Capital Analytics Inc., sebuah perusahaan riset yang mengkhususkan diri di bidang investasi properti komersial, investasi Singapura di luar negeri itu merupakan yang terbesar dalam delapan tahun.


Para pengembang Singapura mengincar properti luar negeri setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menekan harga properti. Kebijakan itu menyebabkan harga tempat hunian anjlok selama empat kuartal berturut-turut atau yang terlama sejak 2009.


Terence Tang, managing director Asia pada Colliers International mengungkapkan banyaknya negara Asia seperti Singapura menghadapi kebijakan yang tidak menguntungkan di dalam negeri sehingga mereka membelinya di pasar negara Barat dengan keuntungan yang tinggi selain tengah terjadi pemulihan pasar properti.



Para Pengembang Properti Singapura Memborong Properti di Luar Negeri

Saturday, November 29, 2014

Pemprov DKI Akan Tata Kota Seperti Singapura

Financeroll – Pemerintah Provinsi DKI ingin menata kotanya seperti Singapura, dengan melibatkan investor dan perusahaan milik daerah.


Kepala Badan Penanaman Modal dan Promosi Provinsi (BPMP) DKI Catur Laswanto mengatakan pada prinsipnya ingin mengcontoh bagaimana Singapura menata kotanya.


Upaya ini adalah salah satu cara untuk menata DKI. Pasalnya, peluang investasi ada di antara rencana pembangunan kota.


Sebagai contoh, dari sektor properti hingga infrastruktur sanitasi, DKI membutuhkan dana yang tak sedikit. Pemprov DKI butuh banyak sekali dana untuk pembangunan.


Nantinya, akan ada agenda lebih lanjut agar investasi asing asal Pulau Tumasik itu dapat ditindaklanjuti dengan mempertemukannya bersama perusahaan pelat merah milik Jakarta.


Dengan berharap perusahaan daerah di Jakarta bisa menindaklanjuti dengan bertemu dengan pelaku usaha dari Singapura.


Dari data lansiran BPMP tentang realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) triwulan III, Singapura menduduki posisi ke-4 negara dengan investasi tertinggi dari 40 negara.


Pada triwulan III saja tercatat US$164,4 juta dari 88 proyek. Sementara, di posisi pertama yaitu Belanda dengan investasi US$663,5 juta dari 12 proyek. Berturut-turut, investasi gabungan sebesar US$304,3 juta dari 167 proyek. Lalu, Hongkong senilai US$214,8 juta dari 22 proyek.


Dengan begitu membuka peluang investasi bagi para investor Singapura. Asalkan, dengan bentuk kerja sama yang saling menguntungkan. Singapura termasuk yang sangat besar investasinya. Kami sangat welcome.



Pemprov DKI Akan Tata Kota Seperti Singapura

Konsolidasi Perbankan Diperlukan Untuk Hadapi MEA 2015

Financeroll – Menjelang pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Asean 2015 (MEA), isu mengenai konsolidasi perbankan kembali menghangat. Apalagi setelah tiga bank besar di Malaysia melakukan merger, tekanan agar dilakukan konsolidasi perbankan semakin kuat.


Indonesia seperti tersentak dengan tindakan negara tetangga kita tersebut, padahal konsolidasi perbankan bukan barang baru. Sejak 2004, Indonesia telah memiliki Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan adanya kebutuhan untuk memenuhi rencana penerapan peraturan Basel III.


Namun, API belum mampu secara kuat mendorong konsolidasi perbankan. Padahal konsolidasi perbankan sangat penting untuk memenuhi kriteria dalam integrasi perbankan MEA 2015, yang disebut dengan Qualified Asean Banks (QAB).


Kriteria dalam QAB antara lain mencakup persyaratan kecukupan permodalan, persyaratan konsolidasi dan kewenangan supervisi konsolidasi, pembatasan terhadap eksposur yang besar, serta persyaratan akuntansi dan transparansi.


Seperti biasanya, budaya bangsa kita yang akan fokus pada sesuatu setelah ada triggering factor, maka konsolidasi perbankan kembali jadi prioritas saat ini dengan berbagai dinamika yang terjadi.


Ada beberapa alasan mengapa konsolidasi perbankan ini hilang timbul. Salah satu kendalanya adalah belum ada juknis yang jelas dan lebih teknis yang mengatur insentif dan disinsentif untuk mengatur merger maupun akuisisi bank.


Beberapa pengamat perbankan juga mensinyalir API masih lemah dalam hal belum adanya aturan operasional yang wajib diterapkan dan masih ada di tataran kebijakan.


Paul Sutaryono (Juli 2014) mensinyalir bahwa contoh nyata kelemahan tersebut adalah ketika PT Bank Mandiri Tbk. akan mengakuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN) terdapat resistensi dari banyak pihak dan banyak kendala yang dihadapi.


Namun, di sisi lain kita juga perlu ingat keberhasilan merger yang dilakukan oleh Bank Mandiri yang menjadi bank terkemuka di Indonesia. Keberhasilan merger lainnya juga ditunjukkan oleh PT Bank Permata Tbk.


Untuk memahami konsolidasi perbankan ini kita perlu melihat apa keuntungan dan kerugian dari konsolidasi perbankan. Dari sisi keuntungan, ada beberapa keuntungan yang dapat dipetik dari konsolidasi.


Pertama, meningkatkan daya saing perbankan nasional di tingkat Asean. Mengapa daya saing nasional bank kita di tingkat Asean perlu ditingkatkan?


Data per 2009 menunjukkan bahwa aset dari bank komersial di Indonesia adalah ranking lima di Asean dengan nilai US$2,2 miliar. Kita setingkat di bawah Filipina dengan US$3,2 miliar.


Posisi Asean sendiri di tingkat global masih sangat rendah. Hanya lima dari bank regional di Asean yang mampu menembus 150 bank atas dunia per 2012 menurut The Banker.


Dilihat dari jumlah cabang bank per 100.000 penduduk dewasa, Indonesia menduduki peringkat empat. Peringkat pertama dimiliki oleh Brunei Darussalam dan peringkat kedua adalah Malaysia.


Data 2013 menunjukkan bahwa bank terbesar di Indonesia yaitu Bank Mandiri hanya memiliki aset US$64 miliar, jauh di bawah bank papan atas di Asean.


Aset bank terbesar di Asean adalah DBS milik pemerintah Singapura memiliki aset US$321 miliar. Sementara itu, OCBC dan UOB masing-masing US$270 miliar dan US$227 miliar.


Kemudian tiga bank asal Malaysia, yakni Maybank, CIMB Group, dan Public Bank berada di posisi berikutnya. Ketiga bank memiliki aset masing-masing US$172 miliar, US$114 miliar, dan US$94 miliar.


Bagaimana pengalaman negara lain yang melakukan konsolidasi perbankan?


Salah satu contoh adalah Malaysia. Sebelum merger, Maybank memiliki aset US$126 miliar dan menempati posisi keempat di Asean. Posisi kelima ditempati oleh CIMB yang memiliki aset US$90 miliar. Setelah melakukan konsolidasi aset Maybank dan RHB meningkat menjadi US$154 miliar dan CIMB serta RHB menjadi US$132 miliar.


Posisi aset bank yang merger ini mengalami peningkatan, meskipun ranking tidak meningkat langsung tetapi selisih aset dengan bank Singapura yang menduduki posisi ketiga, yaitu UOB, menjadi semakin kecil. Posisi aset bank UOB adalah US$175 miliar.


Namun, dalam hal market capitalization Maybank RHB dan CIMB RHB telah menyalib semua tiga besar bank Singapura yang menduduki peringkat tertinggi di Asean. Sebelum merger, kapitalisasi pasar Maybank US$21,7 miliar dan CIMB US$21,7 miliar.


Setelah merger kapitalisasi pasar Maybank RHB menjadi US$28,8 miliar dan CIMB RHB menjadi US$27,3 miliar.


Posisi Maybank RHB menjadi teratas bahkan di banding DBS Singapore yang market capitalization-nya US$27,7 miliar. Pengalaman ini menunjukkan dampak positif dari konsolidasi perbankan di Malaysia.


BASEL III


Dampak positif lain yang diharapkan dari konsolidasi perbankan adalah memperkuat kekuatan bank untuk menghadapi regulasi yang akan segera diberlakukan yaitu Basel III.


Tujuan pembentukan Basel 3 yaitu untuk memperkuat peraturan, pengawasan, dan manajemen risiko melalui kaji ulang pengukuran yang lebih komprehensif dalam sektor perbankan.


Dengan begitu diharapkan dapat meningkatkan kemampuan bank dalam menghadapi guncangan yang timbul dari tekanan sektor keuangan dan ekonomi.


Di bawah aturan Basel III, bank harus mengalokasikan modal inti (Tier 1) 4,5% dari dana pihak ketiga yang mereka himpun. Aturan ini harus diterapkan pada 2015.


Terpisah, bank juga diwajibkan untuk membentuk konservasi modal untuk buffer (capital conservation buffer) sebesar 2,5%.


Kewajiban ini harus dilaksanakan pada 1 Januari 2018 jadi total modal berkualitas yang harus dihimpun bank pada Januari 2019 menjadi 7%. Konsolidasi perbankan diharapkan dapat membantu untuk memenuhi aturan yang lebih berat dari Basel III tersebut.


Konsolidasi bank juga diharapkan bisa menekan biaya dan meningkatkan economics of scale, serta meningkatkan efisiensi yang diharapkan dapat menurunkan rasio BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional).


Konsolidasi perbankan dari sudut regulator akan positif dalam hal mempermudah pengawasan

oleh regulator.


Dikemukakan juga keuntungan konsolidasi perbankan yang dapat memperluas pangsa pasar, meningkatkan cross selling transaction, dan meningkatkan kesadaran terhadap risiko.


Dalam hal ini, pemerintah dan regulator dapat mendorong dan mendukung konsolidasi. Kita berharap visi API untuk mencapai suatu sistem perbankan yang sehat, kuat, dan efisien guna mencapai stabilitas sistem keuangan dalam rangka pertumbuhan ekonomi dapat tercapai. Tak kalah penting, cita-cita memiliki bank nasional yang dapat menjadi bank regional di Asean juga diharapkan bisa terwujud.



Konsolidasi Perbankan Diperlukan Untuk Hadapi MEA 2015

Tuesday, November 11, 2014

Untuk Mencukupi Likuiditas Industri Perbankan Aktif Transaksi MRA

Financeroll – Industri perbankan kian aktif melakukan transaksi Mini Master Repurchase Agreement(MRA) untuk mencukupi likuiditas.


Hingga September 2014, Bank Indonesia mencatatkan jumlah transaksi mini MRA mencapai Rp117,7 triliun. Bila dikalkulasikan sebelum adanya penandatanganan MRA, jumlah transaksi repurchase (repo) antarbank mencapai Rp122,3 triliun.


Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI mengatakan dari 67 bank yang menandatangani MRA, bank-bank yang aktif bertransaksi mencapai hanya 33 bank.


Aktif atau tidak bank bertransaksi MRA, tergantung kebutuhan likuiditas.


Suku bunga mini MRA lebih rendah beberapa basis poin daripada pasar uang antarbank (PUAB).


Adapun suku bunga PUAB overnight stabil di 5,82%. Suku bunga repo tergantung dengan tenor transaksi, dan transaksi paling kecil tenornya mencapai 2-4 hari.


Bunga transaksi mini MRA lebih murah, sebab menggunakan kolateral. Bank-bank yang ingin bertransaksi mini repo boleh melakukan penarikan pinjaman beragunan obligasi, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).


Jika bank-bank memiliki kenalan banyak counterparty, maka bunga yang di dapat bisa lebih rendah.


Artinya, semakin banyak counterparty, maka bank yang hendak bertransaksi mudah membandingkan bunga yang kompetitif. Melejitnya transaksi mini repo disebabkan sudah adanya dokumen standar dalam bertransaksi.


Secara teknis bank-bank yang kelebihan likuditas bisa menawarkan bank yang kekurangan likuiditas untuk melakukan transaksi repo. Adapun nilai transaksi repo sejak awal penandatanganan pada 20 Desember 2013 senilai Rp2,3 triliun.


Tujuan BI menggelar mini MRA jika bank-bank kekurangan likuiditas bisa memiliki banyak pilihan mulai dari PUAB, repo hingga ‘masuk’ ke BI. Diproyeksi pada 2015, jumlah transaksi akan tergantung dari likuiditas industri perbankan.


Namun kalau masuk BI, maka menempatkan bunga paling rendah dan meminjamkan paling tinggi. Jadi didorong agar jangan datang ke BI dulu.



Untuk Mencukupi Likuiditas Industri Perbankan Aktif Transaksi MRA