Showing posts with label industri agribisnis. Show all posts
Showing posts with label industri agribisnis. Show all posts

Saturday, November 29, 2014

Pameran Dagang Hortikultura Asia Pacific di Thailand Pada Maret 2015

Financeroll – Pameran Internasional The 4thHorti ASIA & AGRI-Asia 2015 yang diselenggarakan VNU Exhibition Asia Pacific diharapkan dapat menjadi pedoman untuk pelaku usaha mencari peluang dan meluaskan pasar untuk subsektor hortikultura.


Pameran yang akan digelar di Bangkok International Trade & Exhibiton Center (BITEC), Thailand, 17 – 19 Maret 2015 tersebut akan menampilkan menampilkan teknologi hortikultura yang bisa diadopsi pelaku usaha Indonesia.


Ladda Mongkolchaivivat, General Manager VNU Exhibition Asia Pacific menyatakan, Horti ASIA & AGRI Asia 2015 akan menampilkan teknologi dan inovasi yang maju, menciptakan standar yang lebih tinggi dan meningkatkan daya saing di antara pembudidaya, pengusaha, dan eksportir di Thailand dan negara ASEAN lainnya.


Pameran ini akan menjadi pusat bisnis yang mempertemukan pembeli dan penyedia teknologi dan inovasi yang selanjutnya akan menciptakan peluang bisnis dan meningkatkan produktivitas.


Dalam acara itu, para peserta pameran akan menampilkan dan menawarkan mesin-mesin pertanian, teknologi dan inovasi terbaru dari negara lain. Dari mulai teknologi dan inovasi pratanam, budidaya, pemeliharaan, manajemen panen dan pascapanen.


Ladda berharap pameran tersebut akan menarik minat pasar hortikultura, sayuran, buah, bunga, dan anggrek, mengingat keikutsertaan 300 perusahaan dari 20 negara dan paviliun yang akan ditempatkan di areal seluas 8.000 m2.


Ada sekitar 6.400 pengunjung yang berprofesi pembudidaya, pengusaha, pedagang, dan masyarakat umum akan menyaksikan pameran.



Pameran Dagang Hortikultura Asia Pacific di Thailand Pada Maret 2015

Subsektor Hortikultura Siap Hadapi Masyarakat Ekonomi Asean

Financeroll – Kementerian Pertanian menyatakan subsektor Hortikultura siap menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir tahun 2015.


Dirjen Hortikultura Kementan Hasanuddin Ibrahim hal tersebut karena pasar dalam negeri telah menerapkan tariff bea masuk 0% sejak lama untuk subsektor hortikultura.


Dengan dibukanya MEA, tidak akan terlalu banyak pengaruhnya.


Hasanuddin mengatakan fokus Kementan nantinya adalah membuat neraca perdagangan hortikultura menjadi seimbang. Akan menggenjot ekspor komoditi yang tidak rentan terkena serangan lalat buah seperti manggis dan salak.


Lalat buah menjadi salah satu pertimbangan utama negara luar untuk menolak produk hortikultura dalam negeri. Meskipun teknologi vapor heat treatment dapat mengantisipasi lalat, namun masih ada keraguan konsumen dapat menyukai tekstur buah itu.


Selain itu, akan mengedepankan produk olahan seperti produk nanas kaleng dan tanaman hias yang nilai pasar internasional mencapai USS 125 miliar.


Mangkanya dihimbau investor tidak di minyak dan gas saja atau properti, tapi di pertanian juga terutama tanaman hias.



Subsektor Hortikultura Siap Hadapi Masyarakat Ekonomi Asean

AESBI Berharap Subsektor Hortikultura Tingkatkan Daya Saing Era MEA

Financeroll – Asosiasi Eksportir Sayuran & Buah Indonesia (AESBI) berharap subsektor hortikultura dapat memperbaiki proses produksi di tingkat hulu guna meningkatkan daya saing dalam memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN akhir tahun depan.

Ketua AESBI Hasan Johnny Widjaja mengatakan perbaikan kualitas, kontinuitas dan kuantitas bisa membuat produk hortikultura menjadi kompetitif dalam menghadapi MEA mengingat importasi pada subsektor itu masih tinggi.


Perbaikan kualitas menuju good agricultural practices, selama ini kendala di lapangan itu penggunaan pestisida tidak sesuai dan bibit tanaman yang dipakai tidak produktif.


Badan Pusat Statistik merilis neraca ekspor-impor komoditas dalam subsektor ini ini selalu defisit dalam empat tahun terakhir. Hingga Mei 2014, defisit neraca perdagangan subsektor hortikultura mencapai US$ 539.078.000.


Untuk menyambut MEA, pemerintah harus menyetop impor komoditas yang masih bisa diproduksi dalam negeri, kecuali komoditi yang sulit ditanam seperti bawang putih.


Bagaimana caranya karena tidak impor produk yang masih bisa hasilkan produksinya secara massal, karena siap atau tidak harus menghadapi MEA.


Perlakuan dalam pengangkutan barang harus di perhatikan. Selama ini, pengangkutan komoditi hortikultura masih asal-asalan sehingga merusak buah atau sayuran yang bahkan belum di pasarkan.


Peran Pemerintah masih lemah dalam menetapkan kawasan khusus komoditas hortikultura. Padahal, kontinuitas dan kuantitas diperlukan untuk terus memasarkan buah dan sayuran ke pasar internasional.


Seharusnya ada kawasan untuk alpukat, misalnya 200 hektar agar pasokan ini terus terjamin.



AESBI Berharap Subsektor Hortikultura Tingkatkan Daya Saing Era MEA