Showing posts with label Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC). Show all posts
Showing posts with label Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC). Show all posts

Sunday, November 30, 2014

Senin Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.250 / USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin (1/12) pagi hingga siang, bergerak melemah sebesar 65 poin menjadi Rp 12.250 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.185 per dolar AS.  Kurs  nilai tukar rupiah cenderung dipengaruhi sentimen global di tengah antisipasi investor terhadap data ekonomi Indonesia yang sedianya akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Desember.


Kurs Rupiah melemah terbawa arus penguatan dolar AS di Asia, tetapi perlu diingat, dalam sebulan terakhir, pergerakan rupiah terhadap dolar AS jauh lebih baik dibandingkan mata uang negara-negara di kawasan Asia.  Angka inflasi November 2014 diproyeksikan naik enam persen. Sementara itu, neraca perdagangan Oktober diperkirakan mengecil defisitnya.


Di sisi lian,  turunnya harga minyak mentah dunia membuat dolar AS mengalami penguatan, harga minyak yang lebih rendah dapat meningkatkan belanja konsumen di AS yang akan merangsang perekonomiannya.  Saat ini, dolar AS menjadi alternatif yang menarik dalam menjaga nilai aset.


Menurunnya harga minyak dunia,  setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) memutuskan untuk tetap mempertahankan kuota produksinya sehingga membuat investor khawatir akan melimpahnya suplai minyak di pasar.  Investor juga sedang waspada menjelang serangkaian publikasi data manufaktur global dari Tiongkok, Jepang, dan negara-negara di kawasan Eropa. [geng]



Senin Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.250 / USD

Friday, November 28, 2014

Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.193 / USD

Financeroll - Pergerakan nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat  (28/11) sore, bergerak melemah 18 poin menjadi Rp 12.193 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.175 per dolar AS.  Mata uang dolar AS masih cukup kuat di pasar Asia, termasuk rupiah seiring dengan ekspektasi pelaku pasar bahwa perbaikan ekonomi AS lebih baik dibandingkan negara-negara di Eropa dan negara maju di Asia seperti Jepang.


Rendahnya inflasi di beberapa negara Eropa menimbulkan potensi bank sentral Eropa melakukan pelonggaran moneternya, sehingga kondisi itu akan mendorong mata uang dolar AS terapresiasi.  Penguatan mata uang dolar AS itu juga dipicu dari harga minyak dunia yang melemah setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) yang tidak menurunkan kuota produksinya.


Di sisi lain,  di tengah antisipasi pengumuman data ekonomi Indonesia pada awal pekan depan, pelaku pasar uang di dalam negeri cenderung menahan transaksinya untuk masuk ke mata uang rupiah sehingga pergerakan mata uang rupiah cenderung berada di area negatif meski dalam kisaran sempit.  Diharapkan data neraca perdagangan Indonesia ada sedikit mengalami perbaikan pasca penaikan BBM subsidi.


Laju nilai tukar rupiah masih relatif stabil, dimulai sejak pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.  Setelah data ekonomi Indonesia terkait neraca perdagangan dan inflasi diumumkan pada pekan depan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), diharapkan mata uang rupiah mengalami penguatan.  Seiring pelemahannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) mata uang lokal ini juga bergerak melemah menjadi Rp 12.196 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.179 per dolar AS.  [geng]


 



Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.193 / USD