Showing posts with label industri farmasi. Show all posts
Showing posts with label industri farmasi. Show all posts

Friday, January 9, 2015

PT Kimia Farma Bangun Rumah Sakit ke Swasta

Financeroll – Rencana PT Kimia Farma Tbk. membangun rumah sakit menemui jalan buntu. Pasalnya, tidak satupun perusahaan konstruksi pelat merah yang tertarik menjadi partner emiten farmasi tersebut.


Direktur Utama Kimia Farma Rusdi Rosman mengatakan perseroan akan mengalihkan pencarian mitra strategis kepada perusahaan swasta guna merealisasikan rencana tersebut. Pihaknya berharap bisa segera mendapatkan mitra yang dimaksud pada tahun ini. BUMN konstruksi ini tidak ada yang cocok dengan persyaratan yang diajukan. Jadi akan mencari yang swasta saja.


Sebelumnya, emiten farmasi pelat merah ini sebenarnya sudah menjajaki pembicaraan dengan perusahaan kontruksi BUMN seperti PT Wijaya Karya Tbk. dan PT Adhi Karya Tbk. Sayangnya, pembicaraan ini gagal berlanjut ke tahap yang lebih serius.


Menurut Rusdi, gagalnya kesepatakan ini terutama disebabkan oleh perbedaan model bisnis yang akan diterapkan. Mayoritas calon pasangan KAEF menginginkan proyek tersebut direalisasikan dengan membentuk perusahaan joint venture (JV). Sementara itu, Kimia Farma memilih opsi untuk menajalan model bisnis build operate transfer (BOT).


Model bisnis ini memang lebih menguntungkan bagi KAEF karena tidak membutuhkan modal besar. Kimia Farma akan menyediakan lahan, sedangkan mitra strategis bertugas membangun rumah sakit tersebut. Setelah dikelola dalam waktu tertentu, rumah sakit ini sepenuhnya akan menjadi milik Kimia Farma.


Memang maunya BOT. Bikin JV sama sekali tidak masuk dalam rencana.


Pada perkembangan lain, perseroan telah menemukan partner untuk menggarap bisnis perhotelan. Keduanya akan segera menekan perjanjian kerja sama dalam waktu dekat ini untuk membangun dua hotel di Jakarta dan satu di Bandung. Sayangnya tidak dirilis nama partner yang dimaksud. Yang pasti perusahaan swasta dan bukan emiten.



PT Kimia Farma Bangun Rumah Sakit ke Swasta

Tuesday, December 2, 2014

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Akan Naikkan Harga Produknya 5%-10%

Financeroll – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. berencana menaikkan harga produknya dikisaran 5%-10%, guna mengimbangi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak yang terjadi baru-baru ini.


Presiden Direktur Sido Muncul (SIDO) Irwan Hidayat mengatakan tidak dipungkiri kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berimbas pada kinerja perseroan. Agar kenaikan itu tidak menjadi beban terlalu lama perseroan akan menaikkan harga produknya dalam waktu dekat.


Imbas kenaikan harga BBM diperkirakan akan banyak mempengaruhi biaya distribusi dan upah buruh. Makanya mau tidak mau harus menaikkan harga sampai 10%.


Irwan menjelaskan, pemerintah Jawa Tengah, wilayah SIDO beroperasi, telah mengumumkan akan menaikkan upah minimum regional per tahun 2015 sebesar 30%. Maka dari itu perseroan memutuskan juga akan menaikkan upah buruh sekitar kisaran itu. Pada tahun 2014 juga sudah menaikkan upah sekitar 30%.


Meski demikian perseroan tetap optimistis pendapatan perseroan ditahun mendatang tetap akan bertumbuh seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia.



PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Akan Naikkan Harga Produknya 5%-10%

Saturday, November 1, 2014

PT Phapros Catat Penjualan Capai Rp400 Miliar

Financeroll – PT Phapros Tbk (non listed) mencatat total penjualan pada kuartal III/ 2014 senilai Rp400 miliar atau tumbuh sebesar 12% dibandingkan periode sama tahun lalu, dengan berlakunya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


Direktur Utama PT Phapros Tbk mengatakan penjualan bisa meningkat lebih besar pada kuartal IV atau akhir tahun ini. Sementara laba bersih perseroan hingga September mencapai Rp18 miliar atau tumbuh 24% dibandingkan dengan periode sama pada 2013.


Tiga bulan terakhir ini penjualan makin besar. Pola bisnis farmasi ini biasanya akan meningkat di akhir tahun.


Hingga akhir tahun, perseroan menargetkan total pendapatan sebesar Rp620 miliar atau meningkat 19% dari tahun lalu senilai Rp521 miliar. Adapaun, perseroan mengincar total laba bersih sebesar Rp63-65 miliar, tumbuh sebesar 50% dibandingkan pencapaian pada tahun lalu yang mencapai Rp43 miliar.


Untuk merealisasikan target tersebut, telah menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya adalah dengan memperkuat pasar ekspor.


Belum lama ini, perseroan berhasil melakukan ekspor perdana ke Kamboja. Untuk meningkatkan pasar ekspor, perseroan akan masuk ke pasar Vietnam dan Afganistan. Selain untuk menggenjot penjualan, fokus Phapros dalam memperkuat pasar ekspor adalah untuk menekan dampak dari fluktuasi rupiah.


Selama ini terjadi ketidakseimbangan karena bahan baku kebanyakan impor sedangkan pendapatan diterima dalam bentuk rupiah.


Sementara itu, terkait rencana penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO), perseroan telah melaksanakan proses seleksi penjamin emisi. Sebelumnya telah melakukan beauty contest dengan mengundang sekuritas BUMN. Hal ini dilakukan untuk menciptakan sinergi antara BUMN dan anak usaha.


Perseroan mengincar dana segar sebesar Rp350-400 miliar dari proses IPO. Dana hasil IPO akan digunakan untuk pembangunan produk baru di Ungaran yang membutuhkan biaya investasi sebesar Rp330 miliar. Selain itu, hasil IPO juga akan digunakan untuk modal kerja dan investasi lain.


Pihaknya mengutarakan peningkatan pendapatan terjadi karena pertumbuhan yang tinggi dari permintaan obat generik dari rumah sakit yang melayani program BPJS Kesehatan. Kendati penjualan obat generik meningkat, namun pihaknya terlambat mengantisipasinya. Pasalnya, obat-obatan ethical yang biasa dipasarkan melalui rumah sakit mengalami penurunan.


Memang terjadi pergeseran portofolio produk. Ada kebijakan dari RS dalam melayani peserta BPSJ Kesehatan yang mendorong penggunaan obat generik. Jadi permintaan generik sangat besar, produk ethical-branded tertekan. Tetapi tahun depan sudah ada penyesuaian.



PT Phapros Catat Penjualan Capai Rp400 Miliar