Showing posts with label Produk Domestik Bruto. Show all posts
Showing posts with label Produk Domestik Bruto. Show all posts

Saturday, January 3, 2015

Rasio Utang Indonesia Menurun Menjadi 6,6%

Financeroll – Rasio utang Indonesia terhadap produk domestik bruto pada Desember 2014 menurun menjadi 6,6% dari 10,9% pada 2009.


Siaran pers Kementerian Keuangan menyebutkan pengelolaan fiskal dan utang Indonesia relatif semakin membaik, setidaknya terlihat dari empat indikator.


Pertama, berbagai rasio utang dan rasio biaya utang menunjukkan tren membaik jika dibandingkan dengan rasio-rasio yang sama di negara lain, termasuk negara maju.


Kedua, kegiatan pengelolaannya telah didasarkan pada ketentuan perundang-undangan yang menjamin transparansi dan akuntabilitas publik.


Ketiga, laporan keuangan Bagian Anggaran 999.01 Pengelolaan Utang untuk 2008 hingga 2012 telah memperoleh opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).


Keempat, credit rating Indonesia terus membaik, yang terjadi mulai 2005. Pada 2011 misalnya, lembaga pemeringkat S&P telah menaikkan rating Indonesia dari BB menjadi BB+.


Lembaga pemeringkat lain seperti Japan Credit Rating Agency (JCRA), Fitch, Moody’s dan R&I juga telah memasukkan Indonesia ke dalam kategori investment grade.


Hal itu menunjukkan berbagai upaya pemerintah untuk mengarahkan pengelolaan utang dalam memperoleh sumber pembiayaan dengan biaya dan risiko rendah, dalam jangka panjang, dan tidak ada ikatan politik, telah menunjukkan hasil positif.



Rasio Utang Indonesia Menurun Menjadi 6,6%

Wednesday, December 10, 2014

Sektor Industri Kreatif Akan Mampu Hasilkan Rp1.000 Triliun

Financeroll – Menteri Pariwisata Arief Yahya menargetkan sektor industri kreatif mampu menghasilkan lebih dari Rp1.000 triliun pada tahun 2019.


Arief Yahya mengatakan hal itu di sela Pawai Artis FFI 2014 di Kantor Gubernur Sumatera Selatan. Pada tahun 2013 sektor industri kreatif menyumbang Rp600 triliun atau 7% terhadap produk domestik bruto (PDB).


Kontribusi sektor industri kreatif itu bisa meningkat menjadi 12% terhadap PDB atau sekitar lebih dari Rp1.000 triliun seiring dengan pembentukan Badan Ekonomi Kreatif (BEK) pada Juli tahun 2015.


Untuk menggenjot kontribusi itu, maka yang menjadi prioritas adalah sektor kuliner. Pasalnya, sektor ini berkontribusi paling besar dibanding sektor lain, yakni Rp200 triliun/ tahun atau sekitar 32% tahun 2013.


Sektor kedua adalah industri busana, sektor ketiga adalah kerajinan tangan disusul produk cetak (publishing) seperti buku, dan desain/arsitektur.


Untuk sektor film, menurut Arief Yahya, kontribusinya tak terlalu besar yakni sekitar Rp7 triliun. Oleh karena itu, katanya, untuk meningkatkan kontribusi industri kreatif terhadap PDB, maka perlu ditingkatkan kualitas, dan ada standarisasi dari produk industri kreatif.


Arief Yahya mencontohkan makanan khas dari Palembang berupa “empek-empek” perlu distandarisasi, agar ada penyeragaman kualitas.


Dengan cara ini, maka makanan terbuat dari ikan ini bisa diproduksi di daerah lain (franchise), dan sistem ini akan menghidupkan industri kuliner di Palembang.


Menurut Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin setidaknya ada 28 varian “empek-empek” dan turunannya yang perlu distandarisasi. Standarisasi itu, tambah Arief Yahya, bisa dilakukan dengan menyertakan sekolah kuliner.



Sektor Industri Kreatif Akan Mampu Hasilkan Rp1.000 Triliun