Showing posts with label apersi. Show all posts
Showing posts with label apersi. Show all posts

Friday, November 21, 2014

Apersi: Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Tak Pengaruhi Pembelian Rumah

Financeroll – Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Indonesia (Apersi) Kalimantan Timur mengklaim penaikan suku bunga acuan Bank Indonesia tidak akan berdampak besar terhadap pembeli rumah dari segmen masyarakat berpenghasilan rendah.


Ketua Apersi Kaltim Sri Sukolestari mengatakan mayoritas pembeli di segmen tersebut menggunakan skema kredit berbunga flat. Kalau MBR mayoritas menggunakan angsuran dengan suku bunga yang flat dan tetap. Jadi tidak terlalu berpengaruh. Berbeda dengan properti yang memang digunakan untuk investasi. Segmennya beda.


Kendati demikian, Sri berharap agar Bank Indonesia menetapkan suku bunga acuan yang dapat dijangkau masyarakat kelas menengah bawah.


Selain itu, dia juga berharap agar Bank Indonesia membuat kebijakan yang berkesinambungan dengan tidak mengubah-ubah kebijakan suku bunga acuan. Supaya ada kepastian juga bagi pengembang yang mau membangun perumahan. Minimal jangan berubah-ubah sampai awal tahun.



Apersi: Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Tak Pengaruhi Pembelian Rumah

Sunday, October 19, 2014

Dimasa Pemerintahan Baru Harus Merealisasikan Program 1.000 Rumah Nelayan

Financeroll – Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla akan menggalakkan perbaikan 1.000 rumah kumuh dan pemberdayaan ekonomi di kampung nelayan di masa pemerintahan baru periode 2014-2019.


Program baru tersebut dinilai cukup baik dan harus segera direalisasikan.


Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Indonesia (Apersi) mengatakan program pembenahan rumah nelayan dan petani yang diikuti dengan pemberdayaan ekonomi akan efektif untuk memutuskan arus urbanisasi dari desa ke kota.


Dengan pembenahan tesebut, diyakini tingkat urbanisasi bisa ditekan sehingga pertumbuhan kawasan kumuh perkotaan juga akan berkurang.


Perbaikan rumah masyarakat nelayan dan petani dapat dilakukan pemerintah dengan konsep perumahan swadaya mandiri. Selain itu, pemerintah juga dapat menggandeng swasta melalui program corporate social responsibility (CSR).


Sementara itu, pendanaan juga dapat dikombinasikan dengan skim subsidi mengingat Jokowi akan mengeluarkan instruksi presiden (Inpres) untuk program tersebut.


Harga tanah di desa dan pesisir masih terjangkau. Untuk itu, pemerintah dapat membeli lahan warga yang dijadikan bank tanah dan kemudian dibangunkan rumah-rumah yang mengedepankan kearifan lokal.


Sedangkan untuk meningkatkan daya cicil masyarakat, pemerintah dapat menyalurkan pinjaman lunak untuk usaha nelayan dan petani.


Sehingga, rencana Jokowi-JK yang mengkombinasikan perbaikan rumah nelayan dengan pemberdayaan ekonomi yang melibatkan lintas kementerian akan dirasa tepat.



Dimasa Pemerintahan Baru Harus Merealisasikan Program 1.000 Rumah Nelayan