Showing posts with label suku bunga kredit. Show all posts
Showing posts with label suku bunga kredit. Show all posts

Friday, December 5, 2014

Peningkatan Suku bunga Kredit Pada Segment KMK

Financeroll – Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) Oktober 2014 yang dirilis Bank Indonesia mencatatkan terjadi peningkatan suku bunga kredit, terutama pada segmen kredit modal kerja (KMK).


Suku bunga KMK naik sebesar 6 basis poin (bps) menjadi 12,76%. Sementara itu, kredit investasi (KI) dan kredit konsumsi (KK) masing-masing naik sebesar 2 bps dan 1 bps menjadi 12,34% dan 13,33%.


Sementara itu, suku bunga perbankan masih meningkat dengan kenaikan suku bunga deposito lebih tinggi dari suku bunga kredit. Pada Agustus 2014, rata-rata tertimbang suku bunga kredit meningkat 3 bps menjadi 12,85% dari 12,82%. Suku bunga deposito 1 bulan naik lebih tinggi sebesar 8 bps ke level 8,49% dari 8,41%.


Dengan perkembangan ini, maka spread suku bunga kredit dan deposito 1 bulan menyempit menjadi 436 bps dari 441 bps.


Namun demikian, sejumlah bank mulai menurunkan suku bunga depositonya yang merupakan indikasi berkurangnya tekanan persaingan suku bunga simpanan antar bank. Seperti diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan kepada industri perbankan agar segera menurunkan bunga kredit mulai Januari 2015.



Peningkatan Suku bunga Kredit Pada Segment KMK

Sunday, November 9, 2014

Penyaluran Kredit Kesegmen Mikro Semakin Ketat

Financeroll – Kalangan perbankan meyakini persaingan dalam penyaluran kredit ke segmen mikro bakal semakin ketat tahun depan. Apalagi jika pembatasan suku bunga kredit jadi diberlakukan.


Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk mengatakan kalau hal itu tidak terlalu khawatir, tapi kemungkinan persaingan meningkat tahun depan.


Suku bunga kredit mikro yang ditetapkan BRI saat ini masih lebih rendah ketimbang bank BUMN lainnya. Jika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membatasi suku bunga kredit mikro, besarannya tidak akan di bawah 19%.


Suku bunga 19% itu sudah ideal, tidak bisa disamakan dengan korporasi, overhead mikro besar.


Tahun depan BRI akan terus memacu penyaluran kredit mikro yang selama ini memberikan kontribusi terbesar pada pendapatan perseroan. Per September 2014 total penyaluran kredit ke segmen mikro tercatat Rp148,43 triliun, naik Rp15,8% dari periode yang sama 2013. Jumlah nasabah kredit mikro BRI hingga kuartal III/2014 tercatat 7,1 juta.


Belum lagi migrasi debitur kredit usaha rakyat (KUR) ke kredit komersial yang telah mencapai 942.763 nasabah sejak program tersebut diluncurkan pada 2007. Hingga September 2014, migrasi debitur KUR BRI mencapai 942.763 nasabah, dengan plafon pinjaman Rp15,3 triliun. Kondisi itu membuat BRI optimistis bakal memenuhi target penyaluran kredit mikro.


Direktur Utama BRI Sofyan Basir mengatakan hingga akhir tahun ini pertumbuhan penyaluran kredit BRI diharapkan mencapai 15%, sedangkan tahun depan, pertumbuhan kredit ditargetkan kembali ke level 20%. Hingga September 2014 BRI sudah menyalurkan kredit Rp464,19 triliun, meningkat 12,32% dibandingkan periode yang sama dari 2013 yang tercatat Rp413,27 triliun.


Tak hanya BRI, segmen mikro juga masih menjadi buruan sejumlah bank. PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk misalnya, menegaskan akan fokus pada kredit mikro pada bisnis di periode berikutnya.


Per 30 September 2014, BTPN membukukan pertumbuhan kredit sebesar 13% year-on-year dari Rp45,3 triliun pada 30 September 2013 menjadi Rp 51,1 triliun, dengan non performing loan (NPL) di level 0,8%. Namun, BTPN menegaskan tetap akan berhati-hati dalam menyalurkan dana demi menjaga kualitas kredit.


Hal serupa juga dilakukan PT Bank Bukopin Tbk. Hingga September 2014 Bank Bukopin telah menyalurkan kredit ritel hingga Rp32,33 triliun, tumbuh 23,83% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.


Dalam keterangan resminya, Direktur Utama Bank Bukopin Glen Glenardi menuturkan peningkatan penyaluran kredit ritel merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mempertajam fokus bisnis ke segmen yang menawarkan margin lebih baik.


Pertumbuhan kredit Bank Bukopin hingga September 2014 dimotori oleh segmen ritel

yang terdiri dari kredit UKM, mikro, dan consumer yang meningkat 23,83% menjadi Rp32,33 triliun dibandingkan dengan posisi September 2013 yang tercatat Rp26,1 triliun.


Dari total kredit ritel yang disalurkan, segmen UKM tumbuh 18,39% menjadi Rp19,9 triliun, segmen mikro tumbuh 61,63% menjadi Rp4,8 triliun, sedangan segmen consumer tumbuh sebesar 20,52% menjadi Rp7,6 triliun year on year.



Penyaluran Kredit Kesegmen Mikro Semakin Ketat

Sunday, October 19, 2014

Perlambatan Pertumbuhan Kredit Baru Masih Berlanjut

Financeroll – Responden survei perbankan yang dirilis oleh Bank Indonesia, memperkirakan pada kuartal IV/2014 perlambatan pertumbuhan kredit baru masih akan berlanjut.


Hasil Survei Perbankan kuartal III/2014 menyebutkan suku bunga dana diperkirakan mengalami kenaikan dan mendorong terjadinya kenaikan suku bunga kredit pada triwulan IV 2014.


Faktor utama penyebab perlambatan ini adalah rendahnya permintaan pembiayaan dari nasabah, kenaikan suku bunga, dan meningkatnya risiko pemberian kredit.


Responden survei mengindikasikan pertumbuhan kredit baru pada kuartal III/2014 mengalami perlambatan. Adapun responden dari survei ini adalah 42 bank umum yang berkantor pusat di Jakarta, dengan pangsa kredit sekitar 80% dari nilai total kredit bank umum nasional.


Selain itu, responden memperkirakan bahwa rata-rata suku bunga kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi pada kuartal IV/2014 akan mengalami kenaikan masing-masing sebesar 14 bps, 15 bps, dan 17 bps.


Responden survei mengkoreksi proyeksi pertumbuhan kredit 2014 dari 18,2% (yoy) menjadi 14,4% (yoy). Angka proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit 2013 sebesar 21,8% dan juga lebih rendah dari batas bawah target pertumbuhan kredit 2014 oleh Bank Indonesia yang sebesar 15%-17%.



Perlambatan Pertumbuhan Kredit Baru Masih Berlanjut