Showing posts with label pertumbuhan kredit. Show all posts
Showing posts with label pertumbuhan kredit. Show all posts

Saturday, January 17, 2015

OJK Fasilitasi Linkage Bank Dengan Lembaga Keuangan Untuk Pertumbuhan Kredit

Financeroll – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan bakal memfasilitasi linkage antara bank dengan lembaga keuangan lain untuk mendorong pertumbuhan kredit daerah.


Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad menuturkan langkah tersebut juga sebagai inisiatif yang disiapkan untuk melengkapi kebijakan lain yang telah dicanangkan.


Akan memfasilitasi linkage antara bank dengan Perusahaan Penjaminan Kredit Daerah, Bank Perkreditan Rakyat, dan Lembaga Keuangan Mikro atau Koperasi.


Langkah tersebut juga diambil untuk mendorong peran sektor perbankan dalam mendukung percepatan pembangunan.


Muliaman berharap, tahun ini bank meningkatkan penyaluran pembiayaan ke sektor-sektor produktif yang memiliki ilai tambah tinggi dan menciptakan lapangan kerja.



OJK Fasilitasi Linkage Bank Dengan Lembaga Keuangan Untuk Pertumbuhan Kredit

Saturday, January 3, 2015

Harga Rumah Singapura Alami Penurunan Hingga 4%

Financeroll – Harga rumah Singapura dilaporkan jatuh selama 2014 lalu, kejatuhan pertama dalam enam tahun terakhir.


Kejatuhan harga rumah secara signifikan selama lima kuartal berturut-turut tersebut disebabkan oleh ketatnya pemberian KPR oleh perbankan negeri tersebut.


Data Urban Redevelopment Authority (URA) menyebutkan selama 2014 harga perumahan menurun hingga 4% dari tahun sebelumnya. Kemerosotan tertinggi terjadi pada September yakni anjlok 4,9% dri periode sama tahun sebelumnya.


“Harga rumah merosot amat tajam pada kuartal terakhir tahun lalu. Harga rumah sepertinya akan terus merosot sekitar 3% lebih dalam pad tahun ini,” ungkap analis properti Savills Plc, Alan Cheong, merespons data URA yang dipublikasikan.


Pernyataan Menteri Keuangan Singapura Tharman Shanmugaratnam yang sempat menyatakan negara itu akan terus mengetatkan pemberian KPR, untuk menghindari tingginya utang individu yang sempat mencapai 60% dari total pendapatan.


Adapun, data kompilasi menunjukkan pertumbuhan kredit pembelian rumah tumbuh 6,2% pada November lalu, laju pertumbuhan KPR paling rendah sejak Mei 2007. Data URA mengungkapkan bahw sepanjang tahun lalu penjualan rumah turun total 7500 unit dari tahun sebelumnya.



Harga Rumah Singapura Alami Penurunan Hingga 4%

Sunday, November 30, 2014

PT Bank Bukopin Targetkan Penyaluran Kredit Sebesar Rp60 Triliuh

Financeroll – PT Bank Bukopin Tbk. menargetkan penyaluran kredit sebesar Rp60 triliun pada akhir tahun ini. Hingga kuartal III/2014 perseroan tercatat telah menyalurkan kredit sebesar Rp50,4 triliun.


Agus Hernawan, Direktur Ritel Bank Bukopin mengatakan kredit perseroan pada tahun ini dipatok tumbuh sesuai dengan arahan regulator yakni pada kisaran 15% hingga 17%.


Akhir tahun ini sesuai dengan RBB sekitar Rp60-an triliun. Tahun depan pertumbuhan kredit juga akan diarahan supaya sesuai dengan anjuran regulator.


Sektor ritel yang terdiri dari UKM, mikro, dan konsumer masih menjadi penopang pembiayaan perseroan. Hingga kuartal III/2014, kredit sektor ritel mencaplok pangsa lebih dari 60% dari angka total kredit atau setara dengan nominal sebesar Rp32,33 triliun.


Dari angka itu kredit segmen UKM tercatat sebesar Rp19,9 triliun, mikro sebesar Rp4,8 triliun dan konsumer sebesar Rp7,6 triliun. Adapun, kredit komersial yang disalurkan pada kuartal III/2014 sebesar Rp18,09 triliun.


Perseroan banyak membiayai pelaku UKM yang bergerak di bidang perdagangan, usaha konstruksi kecil, dan usaha klontongan.


Selain itu, perseroan juga membiayai sektor perikanan melalui program swamitra. Bukopin hingga kuartal III/2014 memiliki sebanyak 625 outlet swamitra dengan total anggota mencapai 510.000 orang.


Perseroan juga membiayai pensiunan melalui kerja sama dengan 17 instansi pemerintahan. Total pembiyaan untuk pensiunan hingga September mencapai Rp2,7 triliun.


Walaupun tidak ada keberatan dengan pembatasan suku bunga untuk kredit UMKM sepanjang bank-bank lain juga patuh terhadap ketetapan yang digagas oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu.


Tentu akan melakukan efisiensi sehingga bunga kepada pelaku UKM tidak terlalu tinggi supaya kualitas kredit juga baik.


Pada akhir tahun ini, perseroan menargetkan rasio kredit (non performing loan/NPL) berada di bawah level 3%. Dan diklaim kredit mikro memiliki NPL yang kecil karena menggunakan skema pemotongan gaji untuk pensiunan dan cicilan yang ringan bagi pelaku UMKM.



PT Bank Bukopin Targetkan Penyaluran Kredit Sebesar Rp60 Triliuh

Monday, November 3, 2014

PT Bank Bukopin Mencatat Laba Rp677 Miliar

Financeroll – PT Bank Bukopin Tbk mencatat laba sebesar Rp677 miliar pada triwulan III/2014. Laba perseroan terkoreksi sebesar 8,30% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.


Direktur Utama Bank Bukopin mengatakan walaupun mencatat pertumbuhan positif untuk kredit dan dana pihak ketiga (DPK), laba perseroan tergerus karena beban biaya dana.


Hingga September 2014, Bank Bukopin mencatat penyaluran kredit ritel hingga mencapai Rp32,33 triliun, tumbuh 23,83% dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu.


Peningkatan penyaluran kredit ritel merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mempertajam fokus bisnis ke segmen yang menawarkan margin lebih baik.


Pertumbuhan kredit Bank Bukopin hingga September 2014 dimotori oleh segmen ritel yang terdiri dari kredit UKM, mikro dan konsumer yang meningkat 23,83% menjadi Rp32,33 triliun dibandingkan dengan posisi September 2013 yang mencapai Rp26,1 triliun.


Dari total kredit ritel yang disalurkan, segmen UKM tumbuh 18.39% menjadi Rp19,9 triliun, segmen mikro sebesar 61,63% menjadi Rp4,8 triliun dan segmen konsumer sebesar 20,52% menjadi Rp7,6 triliun.


Sementara itu, penyaluran kredit komersial Bank Bukopin tercatat mencapai Rp18,09 triliun. Dengan demikian, total kredit yang disalurkan Bank Bukopin selama sembilan bulan pertama 2014 mencapai Rp50,4 triliun, meningkat 2,44% secara year-on-year.


Direktur Keuangan dan Perencanaan Bank Bukopin menjelaskan hingga September 2014 perseroan membukukan aset Rp77,9 triliun, meningkat 12,68% dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan aset perseroan tersebut ditopang oleh kenaikan dana pihak ketiga.


Selama 9 bulan pertama 2014 Bank Bukopin berhasil meningkatkan mobilisasi dana pihak ketiga menjadi Rp64,1 triliun, meningkat sebesar 14,44% secara year-on-year.


Pertumbuhan DPK tersebut didorong oleh kenaikan tabungan sebesar 12,74% menjadi Rp14,9 triliun dan deposito sebesar 19,55% menjadi Rp40,37 triliun.


Pendapatan operasional lainnya (fee based income) perseroan pada periode yang sama tumbuh 26,54% menjadi Rp723,7 miliar. Hingga September, rasio loan to deposit ratio (LDR) berada pada level 77,11%, dan CAR sebesar 14,49%.



PT Bank Bukopin Mencatat Laba Rp677 Miliar

PT Bank Permata Alami Pertumbuhan Kredit Sebesar 12%

Financedroll – PT Bank Permata Tbk. (Bank Permata) mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 12% secara year on year pada kuartal III/2014 menjadi Rp130 triliun. Pertumbuhan kredit didorong oleh penyaluran kredit ke sektor UKM dan perusahaan lokal berskala menengah.


Meskipun pertumbuhan kredit masih terbilang tinggi, namun tidak cukup mengerek pendapatan bunga yang pada kuartal III/2014 hanya tumbuh 2% secara year on year menjadi Rp4,1 triliun.


Direktur Keuangan Bank Permata mengakui pertumbuhan pendapatan bunga hanya tumbuh tipis karena adanya tekanan pada biaya dana.


Pada kuartal ketiga 2014 ini, industri perbankan tetap dihadapkan pada tantangan atas biaya pendanaan yang lebih tinggi dan pertumbuhan bisnis yang lebih lambat.


Sementara itu, fee based income pada kuartal III/2014 tercatat tumbuh 28% secara y-o-y menjadi Rp1,2 triliun, didukung oleh kinerja bisnis bancassurance dan trade finance.


Perlambatan pertumbuhan kredit dan gejolak ekonomi nasional menyebabkan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) meningkat. Pada akhir September 2014, rasio NPL gross Bank Permata tercatat 1,4%, naik dibandingkan posisi pada tahun lalu 1,1%.



PT Bank Permata Alami Pertumbuhan Kredit Sebesar 12%

Wednesday, October 29, 2014

PT Bank MNC International Menargetkan Pertumbuhan Kredit 30%

Financeroll – PT Bank MNC International Tbk. (MNC Bank) menargetkan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 30% pada tahun depan.


Wakil Presiden Direktur MNC Bank mengatakan target pertumbuhan yang tergolong tinggi tersebut masih dapat dilakukan karena didukung oleh kondisi likuiditas dan permodalan yang mencukupi.


Kredit tumbuh 30%, DPK juga 30%, agar laba juga mudah-mudahan bisa tumbuh pada kisaran yang sama.


Kondisi likuiditas bank yang 35,07% sahamnya dimiliki oleh Harry Tanoesoedibjo melalui PT MNC Kapital Indonesia Tbk, tersebut pada September 2014 tercatat 67,14%. Artinya, masih ada ruang untuk pertumbuhan kredit.


Selain itu, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) juga masih memungkinkan bank untuk melakukan ekspansi. CAR MNC Bank pada September 2014 tercatat 14,91%, dan diproyeksikan akan bertambah menjadi sekitar 17% pada tahun depan seiring dengan rencana penambahan modal oleh pemegang saham.


Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, penyaluran kredit hingga September 2014 mencapai Rp6,06 triliun, tumbuh 9,78% secara year on year.



PT Bank MNC International Menargetkan Pertumbuhan Kredit 30%

Sunday, October 19, 2014

Perlambatan Pertumbuhan Kredit Baru Masih Berlanjut

Financeroll – Responden survei perbankan yang dirilis oleh Bank Indonesia, memperkirakan pada kuartal IV/2014 perlambatan pertumbuhan kredit baru masih akan berlanjut.


Hasil Survei Perbankan kuartal III/2014 menyebutkan suku bunga dana diperkirakan mengalami kenaikan dan mendorong terjadinya kenaikan suku bunga kredit pada triwulan IV 2014.


Faktor utama penyebab perlambatan ini adalah rendahnya permintaan pembiayaan dari nasabah, kenaikan suku bunga, dan meningkatnya risiko pemberian kredit.


Responden survei mengindikasikan pertumbuhan kredit baru pada kuartal III/2014 mengalami perlambatan. Adapun responden dari survei ini adalah 42 bank umum yang berkantor pusat di Jakarta, dengan pangsa kredit sekitar 80% dari nilai total kredit bank umum nasional.


Selain itu, responden memperkirakan bahwa rata-rata suku bunga kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi pada kuartal IV/2014 akan mengalami kenaikan masing-masing sebesar 14 bps, 15 bps, dan 17 bps.


Responden survei mengkoreksi proyeksi pertumbuhan kredit 2014 dari 18,2% (yoy) menjadi 14,4% (yoy). Angka proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit 2013 sebesar 21,8% dan juga lebih rendah dari batas bawah target pertumbuhan kredit 2014 oleh Bank Indonesia yang sebesar 15%-17%.



Perlambatan Pertumbuhan Kredit Baru Masih Berlanjut