Showing posts with label GGRM. Show all posts
Showing posts with label GGRM. Show all posts

Monday, November 17, 2014

Pre Opening: IHSG Diperkirakan Mixed, Cenderung Menguat

Financeroll – Pada perdagangan Selasa (18/11),  IHSG diperkirakan akan bergerak mixed cenderung menguat di kisaran 5.025-5.075 dengan saham-saham yang dapat diperhatikan antara lain:  INAF, JSMR, ITMG, KLBF, dan SSMS.


Saham-saham yang menjadi pendorong bursa hari ini antara lain:  TLKM, UNVR, PGAS, GGRM, dan INTP dimana asing tercatat melakukan net sell di pasar reguler sebesar Rp 17,4 miliar dengan saham-saham yang banyak dijual asing  di antaranya:  BBNI, SMGR, ASII, ITMG, dan UNTR.  Secara teknikal, indeks belum keluar dari fase sideways dan masih test resist MA50 meski kenaikan hari ini didukung volume dan berhasil bertahan di area upper band bollinger. Stochastic dan RSI flat sementara MACD positif convergence.


Keputusan kenaikan harga BBM subsidi dapat memberi sentimen negatif di tengah menguatnya bursa regional. IHSG masih menguat tipis setelah bergerak relatif mixed kemarin. Belum adanya sentimen beli asing dapat menghambat peluang positif. Maka, kami memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran negatif pada hari ini.


Pada perdagangan Senin (17/11) IHSG naik 5 poin (+0.09%) ke level 5.043,94 menyusul perjanjian damai antara KMP dan KIH namun masih menanti kenaikan harga BBM sehingga hanya naik tipis di akhir sesi.


Sektor konsumer menyumbangkan kenaikan terbesar. Investor asing melakukan net buy senilai Rp 441,3 miliar. Indeks di bursa Wall Street ditutup mix pada kisaran sempit, dimana Dow Jones dan S&P500 menguat sedangkan Nasdaq Composite melemah. Sentimen negatif berasal dari melemahnya saham lapis kedua dan ketiga serta kecemasan akan terjadinya resesi di Jepang. Adanya berita aksi korporasi merger akuisisi emiten menjadi faktor positif.


Ekonomi Jepang secara tak terduga turun 1,6% pada kuartal ketiga dari kuartal sebelumnya yang turun 7,3%, lebih buruk dari ekspektasi yang diperkirakan tumbuh 2,2%. Sementara itu data industrial production AS bulan Oktober mengalami penurunan 0,1% dari bulan sebelumnya yang naik 0,8%, yang mengindikasikan manufaktur pada awal triwulan IV melambat. Sedangkan indeks Empire manufacturing bulan November naik pada level 10,2, lebih rendah dari perkiraan 12.


Mario Draghi dalam testimoninya menyatakan diperluasnya program pembelian aset oleh ECB untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dapat mencakup obligasi pemerintah.itu kenaikan harga BBM subsidi diperkirakan akan direspon positif oleh pasar. [geng]



Pre Opening: IHSG Diperkirakan Mixed, Cenderung Menguat

Sunday, November 9, 2014

Pre Opening: Awal Pekan, IHSG Diperkirakan Bergerak Mixed

Financeroll – Untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diperkirakan bergerak cenderung mixed.  Indeks  akan berada di kisaran level 4958-5020. Sejumlah saham yang dapat direkomendasikan, antara lain:  ADRO, JSMR, ASII, GGRM, UNTR, SMRA, MPPA, dan TAXI.


Hari ini IHSG diperkirakan masih akan berjalan di jalur merah. Investor masih menanti kepastian soal kenaikan harga BBM subsidi dan UMP DKI Jakarta yang selalu diprotes buruh.  Pergerakan bursa-bursa di Asia pagi hari ini: Indeks Nikkei 225 melemah 101,37 poin (0,60%) ke level 16.779,01 dan Indeks Straits Times naik 24,87 poin (0,76%) ke level 3.311,26.  Dari domestik, pada hari Kamis nanti  akan dilaksanakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).


Bervariasinya pergerakan bursa regional pagi ini,  belum dapat memberikan dukungan. IHSG masih melanjutkan pergerakan turun dengan penutupan di bawah level psikologis 5,000 pada akhir minggu lalu. Posisi di dekat support jangka panjang dapat memperlambat pelemahan atau sebaliknya. Sehingga, kami memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran negatif pada hari ini.


IHSG  pada perdagangan Jumat (7/11)  ditutup melemah 0,93% pada level 4987. Sektor industri dasar dan kimia serta sektor perdagangan menyumbangkan pelemahan terbesar. Investor asing melakukan net sell senilai Rp183,8 miliar. Pelemahan IHSG antara lain disebabkan oleh ketidakpastian akan kenaikan harga BBM subsidi karena tidak segera diumumkan secara resmi kapan dan berapa besar kenaikannya.


Indeks Dow Jones dan S&P500 ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan lalu dan mencapai rekor tertinggi baru. Penguatan itu didorong oleh data tenaga kerja AS. Data nonfarm payrolls bulan Oktober menunjukkan adanya penyerapan tenaga kerja sebanyak 214 ribu, lebih rendah dari bulan sebelumnya 256 ribu dan lebih rendah dari estimasi yang sebanyak 235 ribu.


Namun tingkat pengangguran turun menjadi 5,8% dari bulan sebelumnya 5,9% dan lebih baik dari estimasi yang sebesar 5,9%. Dollar AS mengalami koreksi setelah dirilisnya data nonfarm payrolls tersebut. Pa da pekan ini data ekonomi AS yang akan dirilis diantaranya wholesale inventories, initial claims, retail sales, Mich Sentiment,  dan business inventories. [geng]



Pre Opening: Awal Pekan, IHSG Diperkirakan Bergerak Mixed

Tuesday, November 4, 2014

Pre Opening: Nantikan Sentimen Penggerak, IHSG Diperkirakan Melemah

Financeroll – Hari ini, Rabu  (5/11), IHSG diperkirakan masih akan melemah di kisaran 5.050-5.125 dengan saham-saham yang dapat diperhatikan antara lain:  GGRM, LPPF, ERAA, PWON, dan SILO.  Secara teknikal, indeks diperkirakan turun disertai volume namun masih di atas MA5-nya. Stochastic dan RSI berpeluang death cross sementara MACD positif divergence.


Pada perdagangan Selasa (4/11) IHSG naik turun 15 poin (-0,3%) ke level 5.070,94 di tengah sikap pasar yang wait & see menunggu kejelasan tentang kenaikan harga BBM.  Saham-saham yang menjadi pemberat bursa kemarin diantaranya:  BBCA, TLKM, ASII, BBRI, dan UNVR. Asing tercatat melakukan net buy di pasar reguler sebesar Rp 600 juta dengan saham-saham yang banyak dibeli asing  antara lain:  BMRI, ASII, GGRM, LPPF, dan KLBF.


Indeks di bursa Wall Street kembali ditutup mix. Melemahnya indeks S&P500 dipicu oleh turunnya harga saham energi setelah harga minyak mentah berlanjut melemah pada level terendah selama tiga tahun terakhir hingga sempat pada level USD  75,84 per barel.  Turunnya harga minyak ini karena pemangkasan ongkos kirim dari Arab Saudi dan spekulasi akan meningkatnya suplay. Data factory orders turun 0,6%, sesuai dengan estimasi. Data neraca perdagangan AS bulan September menunjukkan defisit yang melebar 7,6% menjadi USD  43 miliar, yang terbesar sejak bulan Mei.


Selain itu, melebarnya defisit tersebut akibat turunnya ekspor, yang mengindikasikan ekonomi AS mulai terpengaruh oleh melambatnya ekonomi global. Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi dunia semakin intens setelah Komisi Eropa menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi area euro dan menyatakan kemungkinan inflasi akan lebih rendah dari prediksi ECB.  Pada pertemuan ECB 6 November nanti akan semakin kuat tekanan kepada ECB untuk mempertimbangkan stimulus tambahan. [geng]



Pre Opening: Nantikan Sentimen Penggerak, IHSG Diperkirakan Melemah