Showing posts with label Kenaikan BBM. Show all posts
Showing posts with label Kenaikan BBM. Show all posts

Tuesday, December 2, 2014

Pollux Properties Akan Naikkan Harga Properti Sekitar 25%

Financeroll – Pollux Properties, salah satu pengembang apartemen, berencana menaikkan harga properti sekitar 25% sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi yang diberlakukan bulan ini.


Harry Setiawan, Sales Consultant Manager Pollux Properties, mengatakan kenaikan harga itu berlaku secara merata pada tiap unit apartemen maupun kondotel. Kenaikan BBM memicu kenaikan harga bahan baku material dan biaya produksi.


Harry mengatakan harga apartemen dan kondotel berkisar Rp700 juta/unit hingga Rp1 miliar lebih. Besaran harga tersebut sebagian untuk fasilitas dapur dan perlengkapan kamar.


Kenaikan BBM itu pasti berpengaruh, maka menaikkan harga sekitar 25%.


Kendati harga naik, pihaknya menyakini tidak mempengaruhi daya beli masyarakat. Pasalnya, masyarakat sudah memahami kenaikan BBM berimbas pada semua sektor.


Hingga saat ini, apartemen W/R Simpang Lima Jl Ahmad Yani terjual 95% dari 420 unit. Untuk proyek pembangunan The Pinnacle Apartment and Condotels di Jl Pandanaran terjual 85% dari total 570 apartemen dan 198 kondotel.



Pollux Properties Akan Naikkan Harga Properti Sekitar 25%

Sunday, November 23, 2014

Otoritas Jasa Keuangan Prediksi Penyaluran Kredit Bisa Tumbuh Positif

Financeroll – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang memprediksikan penyaluran kredit pada triwulan IV/2014 bisa tumbuh positif, berbeda dengan posisi triwulan III yang justru tumbuh negatif.


Kepala Kantor OJK Malang Indra Krisna mengatakan setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), maka bagi pengusaha merupakan sinyal positif sehingga mereka bisa merencanakan pengembangan usaha.


Saat harga BBM belum dinaikkan, maka pengusaha justru diliputi situasi penuh ketidakpastian sehingga mereka tidak berani melangkah untuk melakukan ekspansi.


Sinyal positif lagi bagi pengusaha, mulai meredanya perseturuan antara Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP) di DPR.


Namun rediksi pertumbuhan penyaluran kredit sampai akhir 2014 tidak sampai memenuhi target yang dipatok OJK di kisaran 10%.


Sampai akhir tahun, penyaluran kredit di wilayah kerja Kantor OJK Malang dipredisikan hanya mencapai 7%-7,5% saja karena pertumbuhan kredit sampai dengan September 2014 hanya mencapai 5,21%.


Meski begitu tidak mendesak bank untuk mempercepat penyaluran kredit untuk memenuhi target penyaluran sebesar 10%.


Hal itu tidak perlu dilakukan jika kondisi perekonomiannya memang masih belum mendukung.


Jika dipaksakan, dikhawatirkan justru menjadi blunder bagi perbankan dengan naiknya angka non performing loan (NPL).


Sektor ekonomi yang bisa dipacu pertumbuhannya yakni usaha perdagangan dan industri kecil-menengah.


Sebelumnya penyaluran kredit perbankan di wilayah kerja Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang sampai triwulan III/2014 tumbuh negatif, yakni, -0,39% secara bulanan (month to month/m-t-m) yang dipicu kondisi makro dan mikro ekonomi yang kurang kondusif.


Realisasi penyaluran kredit yang tumbuh sebesar itu sudah bisa diduga karena beberapa faktor makro di bidang politik dan ekonomi masih tidak kondusif bagi ekspansi usaha.


Sampai September 2014, Jokowi belum diserahkan sebagai presiden, begitu juga isu kenaikan BBM (bahan bakar minyak) tidak jelas ke mana arahnya.


Dengan berkurangnya kegiatan ekspansi usaha, maka otomatis berdampak pada menurunnya realisasi penyaluran kredit.


Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) sendiri memang menginginkan penyaluran kredit tidak terlalu tinggi sehingga berdampak memanaskan perekonomian makro dan menimbulkan inflasi.


Regulator hanya menargetkan penyaluran kredit hanya tumbuh 10% sepanjang 2015.


Secara year to date (y-t-d), posisi penyaluran kredit sampai September 2014 di wilayah kerja Kantor OJK Malang hanya tumbuh 5,21% dengan nominal Rp33,073 triliun.


Dengan posisi penyaluran kredit sebesar itu, maka berarti minus 0,39% dibandingkan posisi penyaluran kredit pada Agustus yang mencapai Rp33,203 triliun.



Otoritas Jasa Keuangan Prediksi Penyaluran Kredit Bisa Tumbuh Positif

Saturday, November 22, 2014

Harga Jual Semen SMGR Naik Menjadi Rp66.000 Perzak

Financeroll – Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga bensin dan solar membuat beban perusahaan melonjak, akibatnya PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. akan menaikkan harga jual semen sebesar 2% menjadi Rp66.000 per zak.


Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Agung Wiharto mengatakan penaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 30,76% untuk premium menjadi Rp8.500/liter dan 36,36% untuk solar menjadi Rp7.500/liter, akan menyebabkan komponen biaya membengkak.


Ada rencana akan mengevaluasi harga mungkin naik 2%. Nanti melihat di lapangan terlebih dahulu.


Harga jual semen emiten berkode saham SMGR year to date telah meningkat 4%-5% menjadi Rp65.000/zak. Padahal ada klaim komponen biaya beban telah meningkat 7% pada periode yang sama.


Hitungannya, kenaikkan harga BBM akan berdampak pada melonjaknya biaya transportasi darat. Porsi biaya transportasi mencapai 17% dari total beban dengan 50% diantaranya adalah transportasi laut yang telah menggunakan BBM industri.


Harga BBM diakui akan menambah biaya-biaya yang telah meningkat 7% sepanjang tahun ini. Rencana kenaikan harga jual semen sebesar 2% diperkirakan hanya akan menutup naiknya biaya sebelum harga BBM naik.


Perseroan akan tetap melakukan efisiensi di berbagai lini untuk menekan lonjakan beban. Manajemen juga mempertimbangkan banyak aspek sebelum menaikkan harga jual semen.


Perusahaan semen pelat merah ini mempertimbangkan kompetisi di pasaran, jika berat, kenaikan harga semen dinilai akan sia-sia. Daya beli masyarakat yang melemah akibat kenaikan harga BBM, sambungnya, juga perlu menjadi pertimbangan agar target penjualan tetap tercapai.


Perseroan tidak mengubah target pertumbuhan penjualan 6%-7% pada tahun depan seiring pertumbuhan konsumsi semen nasional yang diperkirakan mencapai 5%-6% dari tahun ini. Penaikkan harga BBM diperkirakan hanya akan berdampak pada daya beli masyarakat selama 3-6 bulan sehingga full year target optimistis tercapai.


Penaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate menjadi 7,75% memang diakui akan memukul sektor properti yang memiliki porsi 80% dari total penjualan SMGR. Namun, hal tersebut dapat tertolong oleh pengalihan anggaran subsidi ke sektor infrastruktur yang memiliki porsi 20% terhadap total penjualan SMGR.


Pada 2015, SMGR menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar lebih dari Rp5 triliun. Dana belanja modal berasal dari kas internal dan bila perlu didapat dari pinjaman perbankan dalam negeri.


Sebanyak lebih dari 50% dari total capex, dialokasikan untuk pembangunan pabrik di Indarung Sumatra Barat dan Rembang Jawa Tengah. Investasi kedua proyek itu masing-masing mencapai US$408 juta dan US$352 juta.


Kedua proyek itu rencananya dibiayai dari kas internal yang diperkirakan hingga akhir tahun ini dapat mencapai Rp4 triliun. Kas masih cukup kuat, kalau mau pinjam kemungkinan pertengahan tahun depan.


Per 30 September 2014, penjualan semen SMGR mencapai 19,1 juta ton atau tumbuh 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu 18,5 juta ton. Penjualan tersebut baru mencapai sekitar 71% dari total target tahun ini sekitar 27,06 juta ton.


Hingga triwulan III/2014, SMGR meraup laba bersih Rp4,08 triliun, naik 4,66% dari periode yang sama tahun lalu Rp3,9 triliun. Pendapatan yang dibukukan SMGR meningkat 11,26% menjadi Rp19,34 triliun dari sebelumnya Rp17,39 triliun.


SMGR diperkirakan akan memiliki prospek cerah seiring dengan rencana pemerintahan Joko Widodo-M. Jusuf Kalla yang akan menggenjot sektor infrastruktur. Meski hingga kuartal III/2014 kinerja SMGR melambat, diyakini hingga akhir tahun masih cukup prospektif.


Mereka memiliki strategi agar tumbuh flat. Sekarang sedang membangun pabrik sehingga ketika kondisi ekonomi telah membaik, mereka bisa memacu produksi.


Produksi semen SMGR dapat tercapai maksimal sekitar 2-3 tahun ke depan. Saat target produksi telah tercapai, SMRG mampu bersaing dengan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.


Sesama badan usaha milik negara (BUMN) semen, PT Semen Baturaja justru sebaliknya. Manajemen belum berencana menaikkan harga jual semen akibat kenaikkan harga BBM bersubsidi.


Kalau untuk BBM selama ini untuk proses produksi sudah menggunakan BBM industri dan sebagian biaya distribusi sudah menggunakan BBM non subsidi.


Hingga akhir tahun ini, emiten berkode saham SMBR itu menargetkan volume penjualan semen mencapai 1,31 juta ton, naik 4% dari tahun lalu 1.26 juta ton. Harga jual rata-rata juga ditargetkan dapat mencapai Rp957.425/ton atau naik 3% dari tahun lalu Rp925.713/ton.


Perseroan membidik penjualan sepanjang tahun ini dapat mencapai Rp1,25 triliun, tumbuh 8% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,16 triliun. Laba bersih diproyeksikan dapat mencapai Rp330 miliar, naik 6% dari sebelumnya Rp312 miliar.



Harga Jual Semen SMGR Naik Menjadi Rp66.000 Perzak