Showing posts with label badan usaha milik negara. Show all posts
Showing posts with label badan usaha milik negara. Show all posts

Friday, December 12, 2014

PT Kimia Farma Gandeng Swasta Bangun Rumah Sakit Senilai Rp300 Miliar

Financeroll – PT Kimia Farma (Persero) Tbk. akhirnya beralih rencana untuk menggandeng perusahaan swasta dalam rencana pembangunan rumah sakit dengan nilai investasi sebesar Rp300 miliar.


Direktur Utama Kimia Farma Rusdi Rosman mengatakan hal itu dilakukan setelah sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) tidak tertarik bekerjasama dengan perusahaan farmasi pelat merah itu.


Kimia Farma sebenarnya sudah meneken memorandum of understanding (MOU) dengan beberapa emiten konstruksi, seperti PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk.


Sedikit susah karena sepertinya belum ada yang cocok dengan persyaratan yang diminta.


Perseroan diminta untuk menggadaikan sertifikat ke perbankan guna memuluskan investasi tersebut. Namun, manajemen menolak untuk melakukannya.


Sebagai informasi, rumah sakit yang akan dibangun itu berlokasi di Jalan Dr Saharjo, Jakarta, atau tepatnya di Kawasan Tebet, Jakarta Selatan.


Di lokasi tersebut, Kimia Farma memiliki aset berupa lahan, yang saat ini digunakan untuk rumah dinas pegawai emiten farmasi pelat merah itu.



PT Kimia Farma Gandeng Swasta Bangun Rumah Sakit Senilai Rp300 Miliar

Penggabungan Perusahaan Farmasi Indofarma dan Kimia Farma

Financeroll – Pemerintah siap memutuskan penggabungan perusahaan pelat merah sektor farmasi yakni PT Indofarma (Persero) Tbk. dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk. pekan ini.


Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno mengatakan rencana penggabungan BUMN farmasi menjadi sebuah holding akan menjadi prioritas pemerintah. Itu salah satu yang harus dikembangkan ke depan untuk kepentingan masyarakat.


Holding BUMN Farmasi memang telah direncanakan sejak 2005 lalu melalui program right sizing BUMN. Rencananya, Kimia Farma akan menjadi holding bagi BUMN farmasi.


Direktur Utama Indofarma Arif Budiman mengaku sejauh ini proses menuju merger dengan Kimia Farma mulai berjalan sesuai rencana, ditandai dengan kerjasama pemasaran produk.


Selama ini memang sudah ada disebutkan wacara penggabungan Indofarma dengan Kimia Farma. Sebenarnya wacara itu benar, sudah memulai kerjasama pemasaran produk.


Merger antara emiten berkode saham INAF dan KAEF itu diyakini akan menciptakan sebuah perusahaan farmasi BUMN dengan skala permodalan yang sangat besar.


Hingga kuartal III/2014, Indofarma memang masih membukukan kerugian hingga Rp35 miliar. Namun, perseroan optimistis bisa membalikkan keadaaan dan mengincar laba Rp1 miliar pada akhir tahun.


Sementara itu, tahun depan kinerja perseroan diperkirakan semakin moncer dengan target penjualan Rp1,7 triliun dan laba Rp40 miliar.


Adapun, kinerja Kimia Farma sepanjang 9 bulan pertama tahun ini cukup menggembirakan. KAEF berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih paling tinggi di antara emiten farmasi lainnya. Nilainya mencapai Rp145 miliar atau naik 19,64% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak Rp121,20 miliar.



Penggabungan Perusahaan Farmasi Indofarma dan Kimia Farma

Wednesday, December 10, 2014

Pemerintah Segera Mengisi 8 Pejabat Pimpinan BUMN

Financeroll – Delapan kursi bos perusahaan pelat merah tengah kosong, dan dalam waktu dekat pemerintah akan menentukan direktur utama BUMN menyusul telah ditetapkannya bos baru di PT Pertamina (Persero) serta PT Kereta Api Indonesia (Persero).


Tercatat, tiga kursi bos emiten badan usaha milik negara (BUMN) yang kosong akan segera terisi dengan dilakukannya seleksi calon-calon direksi oleh pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian BUMN.


Ketiga kursi direktur utama emiten BUMN itu adalah PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, yang ditinggalkan Arief Yahya setelah menjadi Menteri Pariwisata.


Kemudian, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. yang ditinggalkan Dwi Soetjipto menjadi dirut PT Pertamina (Persero), dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. yang akan ditinggalkan Emirsyah Satar akibat masa jabatannya berakhir.


Sekretaris Menteri BUMN Imam Apriyanto Putro mengatakan pemerintah melalui Kementerian BUMN tengah meminta tim asesor untuk melakukan asesmen terhadap calon-calon direksi emiten BUMN.


Kalau Telkom asesmen sudah selesai, sedangkan Garuda dan Semen Indonesia masih dalam proses.


Calon direksi yang diseleksi, berasal dari internal dan eksternal. Calon-calon terbaik, nantinya akan direkomendasikan kepada tim penilai akhir yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo.


Pemerintah menyeleksi minimal tiga calon bagi masing-masing posisisi dirut emiten BUMN. Tim asasemen eksternal hanya melaporkan kepada Menteri BUMN Rini Mariani Soemarno untuk kemudian diasasemen di tim penilai akhir.


Rini Soemarno mengatakan syarat utama bagi calon direksi BUMN adalah memiliki kompetensi untuk memimpin perusahaan kelas global. Hal itu dimaksudkan sebagai persiapan BUMN untuk menghadapi masyarakat ekonomi Asean (MEA) yang akan mulai berlaku tahun depan.


Asasemen yang dilakukan Kementerian BUMN diklaim memiliki perbedaan pada sisi kompetensi global dibandingkan periode sebelumnya. Asasemen lokal BUMN dinilai memiliki standar lebih rendah bila dibandingkan global assasement.


Sekarang semua tim manajemen direksi yang dalam proses asasemen seperti Pertamina, Garuda, Telkom, akan diasesmen dengan standar global.


Asasemen global tersebut menjadi salah satu bentuk kesiapan perusahaan-perusahaan pelat merah dalam menghadapi MEA. Tahun depan, BUMN harus siap untuk berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan yang sudah berstandar global.


Selain itu, pemerintah juga akan melakukan efisiensi dengan cara merampingkan jumlah direksi BUMN sesuai dengan kebutuhan. Perampingan direksi akan dilakukan seperti yang terjadi pada PT Pertamina (Persero).


Seleksi dirut BUMN akan tetap dilakukan melalui tahap yang ketat termasuk meminta asasemen dari lembaga konsultan sumber daya manusia (SDM) independen. Pemerintah menunjuk dua konsultan eksternal yakni PT Bianaman Utama-PPM dan PT Daya Dimensi Indonesia.


Berdasarkan sumber di Kementerian BUMN, untuk posisi Dirut Garuda Indonesia, nama Dirut PT Citilink Indonesia Arif Wibowo telah empat kali dipanggil oleh Rini. Belum diketahui, pemanggilan Arif tersebut merupakan bagian dari proses seleksi bos maskapai pelat merah tersebut.


Selain tiga emiten BUMN, terdapat 4 kursi dirut BUMN lainnya juga masih kosong. Diantaranya PT Pindad (Persero), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), Perum Bulog, dan Perum Navigasi.


Garuda dan Telkom, telah menjadwalkan untuk menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada bulan ini. Sedangkan, Semen Indonesia belum mengumumkan rencana RUPSLB karena Dwi Soetjipto baru mundur secara resmi pada Senin (1/12/2014) lalu.


Kekosongan posisi juga terjadi di sejumlah kursi komisaris BUMN. Komisaris PT Pertamina Bambang Brojonegoro mengundurkan diri dari jabatannya karena diangkat sebagai Menteri Keuangan.


Kemudian, Basuki Hadi Muljono, komisaris PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, yang diangkat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta M. Nasir Komisaris PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) yang diangkat sebagai Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.


Presiden Joko Widodo sebelumnya meminta seluruh jajaran menteri Kabinet Kerja diharuskan untuk melepas jabatan lain termasuk jabatan sebagai direksi dan komisaris BUMN. Hal itu dilakukan guna menghindari konflik kepentingan pada jabatan tersebut.


Berikut daftar kursi kosong pejabat BUMN:


BUMN (Posisi)


PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (direktur utama)


PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (direktur utama)


PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (direktur utama)


PT Pindad (Persero) (direktur utama)


PT Angkasa Pura II (Persero) (direktur utama)


PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (direktur utama)


Perum Bulog (direktur utama)


Perum Navigasi (direktur utama)


PT Pertamina (Persero) (komisaris)


PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (komisaris)


PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) (komisaris)



Pemerintah Segera Mengisi 8 Pejabat Pimpinan BUMN

Tuesday, December 9, 2014

Tidak Ditariknya Dividen Membuat PT Jasa Marga Semakin Gencar Ekspansi

Financeroll – Pengelola jalan tol pelat merah PT Jasa Marga (Persero) Tbk. senang dengan rencana pemerintah yang tidak akan menarik setoran bagi hasil atau dividen dari perusahaan kontraktor BUMN.


Direktur Keuangan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Reynaldi Hermansjah mengatakan rencana tidak ditariknya dividen oleh pemerintah dapat membuat emiten badan usaha milik negara (BUMN) gencar melakukan ekspansi.


Dengan dapat dimaksimalkan besarnya laba ditahan, dapat meningkatkan potensi ekspansi yang semakin besar.


Tahun buku 2013, emiten berkode saham JSMR tersebut membagikan dividen sebesar Rp520 miliar atau Rp78,6 per saham. Rasio pembagian dividen atau dividend payout ratio sebesar 40% dari laba bersih Rp1,3 triliun.


Perseroan hanya mengalokasikan Rp25 miliar atau 1,87% dari laba bersih untuk cadangan wajib, dan 59,13% untuk saldo usaha. Hingga kuartal III/2014, JSMR membukukan pendapatan mencapai Rp5,23 triliun, naik 17% dari periode yang sama tahun lalu Rp4,47 triliun.



Tidak Ditariknya Dividen Membuat PT Jasa Marga Semakin Gencar Ekspansi

Sunday, December 7, 2014

Direktur Utama BUMN Harus Berstandar Global Hadapi MEA 2015

Financeroll – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno mengatakan direktur utama perusahaan pelat merah harus memiliki standar global agar siap menghadapai masyarakat ekonomi Asean (MEA).


Syarat utama bagi calon direksi BUMN adalah memiliki kompetensi untuk memimpin perusahaan kelas global. Hal itu dimaksudkan sebagai persiapan BUMN untuk menghadapi MEA yang akan mulai berlaku tahun depan.


Asasemen yang dilakukan Kementerian BUMN diklaim memiliki perbedaan pada sisi kompetensi global dibandingkan periode sebelumnya. Asasemen lokal BUMN dinilai memiliki standar lebih rendah bila dibandingkan global assasement.


Sekarang semua tim manajemen direksi yang dalam proses asasemen seperti Pertamina, Garuda, Telkom, akan diasesmen dengan standar global.


Asasemen global tersebut menjadi salah satu bentuk kesiapan perusahaan-perusahaan pelat merah dalam menghadapi MEA. Tahun depan, BUMN harus siap untuk berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan yang sudah berstandar global.


Selain itu, pemerintah juga akan melakukan efisiensi dengan cara merampingkan jumlah direksi BUMN sesuai dengan kebutuhan. Perampingan direksi akan dilakukan seperti yang terjadi pada PT Pertamina (Persero).


Seleksi dirut BUMN akan tetap dilakukan melalui tahap yang ketat termasuk meminta asasemen dari lembaga konsultan sumber daya manusia (SDM) independen. Pemerintah menunjuk dua konsultan eksternal yakni PT Bianaman Utama-PPM dan PT Daya Dimensi Indonesia.



Direktur Utama BUMN Harus Berstandar Global Hadapi MEA 2015

Sunday, November 30, 2014

Perusahaan Kontraktor Berebut Bisnis Beton Pracetak

Financeroll – Pertumbuhan bisnis beton pracetak yang tinggi seiring gencarnya pembangunan proyek infrastruktur di Indonesia membuat perusahaan kontraktor pelat merah berebut “kue” di lini bisnis ini.


Teranyar, perusahaan konstruksi badan usaha milik negara (BUMN), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. menyuntik modal anak usahanya PT Waskita Beton Precast sebesar Rp592,57 miliar. Penyertaan modal dilakukan melalui mekanisme penyetoran tunai dan inbreng aset.


Direktur Keuangan Waskita Beton Precast Haris Gunawan mengatakan induk usaha menyuntik modal dengan mekanisme penyertaan modal dalam bentuk aset sebesar Rp238,7 miliar dan setoran tunai Rp353,84 miliar.


Penambahan modal diputuskan dalam akta pernyataan keputusan sirkuler pengganti rapat umum pemegang saham PT Waskita Karya Beton Precast.


Disebutkan, WSKT memutuskan menambah modal dari semula 25.000 saham atau Rp25 miliar menjadi 617.572 saham atau Rp617,57 miliar.


Dengan penambahan modal dari induk usaha tersebut, ditargetkan kontribusi Waskita Beton Precast terhadap total pendapatan dapat melonjak menjadi 20%-25%.


Tahun ini hanya 10% kontribusi terhadap pendapatan Waskita Karya atau Rp1,1 triliun. Tahun depan kontribusi meningkat sekitar 20%-25%.


Pada 2015 mendatang, Waskita Beton Precast mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/Capex) sebesar Rp350 miliar hingga Rp400 miliar.


Belanja modal tersebut akan digunakan untuk pembangunan dua pabrik baru dengan investasi sekitar Rp250 miliar.


Saat ini, kapasitas produksi Waskita Beton Precast mencapai 880.000 ton/tahun dari 4 pabrik yang dioperasikan.


Ditargetkan dapat meningkat menjadi 1,4 juta ton/tahun dengan penambahan dua pabrik baru tersebut yang diperkirakan beroperasi pada semester I/2015.


Haris menyebutkan, bisnis beton precast memang terus tumbuh seiring dengan menggeliatnya pembangunan infrastruktur di Tanah Air.


Waskita Karya bahkan memutuskan untuk membentuk anak usaha tersendiri dari sebelumnya hanya unit usaha.


PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. bahkan telah lebih dulu berbisnis pada sektor beton precast.


WIKA mendirikan anak usaha PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) yang kemudian listing di pasar modal.


Sekretaris Perusahaan WTON Puji Haryadi mengaku pertumbuhan bisnis beton pracetak sangat tinggi.


Pada tahun ini saja, WTON berkontribusi 25%-30% terhadap pendapatan WIKA.


Sepanjang tahun ini, WTON membidik target kontrak baru Rp3,01 triliun dengan carry over Rp1,6 triliun.


Hingga Oktober 2014, tercatat kontrak baru yang diraih mencapai Rp2,2 triliun atau 73,75% dari total target tahun ini.


Ditambah carry over Rp1,6 triliun, sudah mencapai Rp3,8 triliun. Di sisa waktu, Insya Allah bisa tercapai karena ada beberapa proyek baru yang diluncurkan November dan Desember.


Perseroan berencana untuk membangun pabrik baru di Kalimantan Timur pada tahun depan dengan kapasitas 50.000 ton/tahun.


Diperkirakan investasi yang dibutuhkan mencapai Rp250 miliar.


Saat ini, WTON memiliki 8 pabrik dan 2 anak usaha, dengan kapasitas produksi total 2,2 juta ton/tahun.


Tahun depan, akan ada dua pabrik baru yang beroperasi di Lampung Selatan dan Cilegon sehingga kapasitas produksi akan terus bertambah.


Rata-rata pertumbuhan produksi per tahun dalam jangka panjang bisa mencapai 210% dari 2010 sebesar 1,4 juta ton menjadi 2,2 juta ton.


Persaingan di bisnis beton precast terus meningkat seiring dengan pertumbuhan pemain-pemain baru terutama sesama BUMN. Namun tidak khawatir karena memang peluang di bisnis ini sangat besar.


Perusahaan kontraktor BUMN lainnya, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. juga merambah bisnis sektor beton precast melalui PT PP Pracetak.


PTPP menargetkan laba kotor PT PP Pracetak pada 2018 mencapai Rp426 miliar dari 2013 yang mencapai Rp54 miliar.


Sekretaris Perusahaan PTPP Taufik Hidayat mengatakan pada tahun depan perseroan menganggarkan belanja modal Rp1,8 triliun.


Untuk bisnis pracetak, PTPP mengalokasikan dana Rp150 miliar.


Tahun depan tambah 1 pabrik dengan investasi sekitar Rp150 miliar. Ditargetkan kapasitas produksi tahun depan mencapai 450.000 ton/tahun.



Perusahaan Kontraktor Berebut Bisnis Beton Pracetak