Showing posts with label ANTM. Show all posts
Showing posts with label ANTM. Show all posts

Tuesday, January 20, 2015

PT Aneka Tambang Yakin Cetak Kinerja Menjadi Positif Mulai Tahun Ini

Financeroll – Meski terus tertekan oleh pelarangan ekspor, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. optimistis kinerja perseroan dapat berbalik positif mulai tahun ini dan dapat mencetak laba pada 2016.


Direktur Utama ANTM Tato Miraza memperkirakan pada 2016 perseroan dapat meraup laba bersih sebesar Rp560,59 miliar berbalik dibandingkan proyeksi pada tahun ini yang masih mencetak rugi Rp924,2 miliar.


Kalau penambahan modal disetujui, Insya Allah tahun 2016 bisa mencetak laba bersih dan dividen.


Proyeksi kinerja pada tahun depan tersebut apabila rencana penyertaan modal negara (PMN) yang diajukan oleh pemerintah dapat disetujui oleh legislator. Rencananya, right issue akan mencapai Rp10,77 triliun dengan porsi PMN senilai Rp7 triliun.


Right issue yang akan digelar pada tahun ini dapat meningkatkan belanja modal (capital expenditure/Capex) perseroan. Tanpa PMN, belanja modal emiten berkode saham ANTM itu mencapai US$220 juta.


Anggaran belanja modal yang dianggarkan, akan digunakan untuk operasional sepanjang tahun. Sedangkan dana hasil right issue akan digunakan untuk mendanai tiga proyek ANTM selama beberapa waktu ke depan.


Perolehan dana right issue tersebut akan digunakan untuk pembangunan proyek Anode Slime. Investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai US$32 juta pada 2015 dan US$8 juta pada tahun depan.


Kemudian, dana PMN tersebut juga akan digunakan untuk pembangunan proyek smelter grade alumina Mempawah. Diperkirakan akan menelan investasi dari right issue masing-masing 2015 sebesar US$32 juta, 2016 sebesar US$75 juta, pada 2017 sebesar US$98 juta, dan pada 2018 sebesar US$22,5 juta.


Keseluruhan dana right issue untuk proyek smelter grade alimina Mempawah mencapai US$217,5 juta dalam 4 tahun hingga 2018.


Terakhir, dana right issue akan digunakan ANTM untuk pembangunan proyek feronikel Halmahera Timur senilai total US$640 juta. Masing-masing investasi pada 2015 US$256 juta, pada 2016 senilai US$320 juta, dan pada 2017 senilai US$64 juta.


Dana PMN dipakai untuk kegiatan proyek, bukan dipakai dalam operasional. Sementara operasional ada beban bunga terhadap proyek yang dikerjakan dan beban depresiasi. Tapi tahun ini sudah positif kembali.


Perseroan, membidik target produksi pada tahun ini mencapai 20.000 ton feronikel. Produksi tersebut meningkat 20% dibandingkan dengan produksi pada tahun lalu yang mencapai 18.000 ton.


Adapun untuk produksi emas, perseroan tidak membidik target yang lebih tinggi ketimbang tahun lalu. Antam menargetkan produksi emas tetap sama sebanyak 8,5 ton.



PT Aneka Tambang Yakin Cetak Kinerja Menjadi Positif Mulai Tahun Ini

Monday, January 19, 2015

Empat Emiten BUMN Akan Right Issue Dengan Target Rp28,11 Triliun

Financeroll – Empat emiten pelat merah akan menerbitkan saham baru (right issue) dengan target perolehan dana mencapai Rp28,11 triliun pada tahun ini.


Berdasarkan laporan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno kepada Komisi VI DPR, disebutkan secara keseluruhan pemerintah akan menyuntukkan modal kepada lima emiten BUMN senilai Rp18,46 triliun.


Akan tetapi, empat emiten diantaranya akan memperoleh penambahan modal melalui right issue, yakni PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI).


Sedangkan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) mendapat penyertaan modal negara (PMN) Rp956,49 miliar yang berasal dari kapitalisasi laba berjalan periode Januari-Juni 2010 sebelum digelar initial public offering/IPO pada 2010.


Right issue yang akan dilakukan oleh keempat emiten BUMN yakni ANTM Rp10,77 triliun dengan PMN sebesar Rp7 triliun. Kemudian right issue BMRI senilai Rp9,3 triliun dengan PMN Rp5,6 triliun.


Adapun WSKT membidik right issue Rp5,3 triliun dengan dana PMN mencapai Rp3,5 triliun. Terakhir, ADHI membidik right issue total Rp2,74 triliun dengan PMN sebesar Rp1,4 triliun.


Pemerintah akan menyuntik modal bagi 35 BUMN dengan total dana yang diajukan dalam RAPBN-P 2015 sebesar Rp48,01 triliun. Suntikan modal dan right issue tersebut ditargetkan dapat digelar pada tahun ini.



Empat Emiten BUMN Akan Right Issue Dengan Target Rp28,11 Triliun

PT Aneka Tambang Proyeksikan Raih Dana Segar Rp10,77 Triliun

Financeroll – PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. memproyeksikan perolehan dana segar hasil penerbitan saham baru melalui mekanisme right issue senilai total Rp10,77 triliun.


Direktur Utama ANTM Tato Miraza mengatakan perolehan dana right issue tersebut berasal dari penyertaan modal negara (PMN) senilai total Rp7 triliun. Pemerintah menggenggam saham ANTM sebesar 65%.


Publik memiliki saham 35% sehingga right issue mencapai Rp3,77 triliun.


Perolehan dana right issue tersebut akan digunakan untuk pembangunan proyek Anode Slime. Investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai US$32 juta pada 2015 dan US$8 juta pada tahun depan.


Kemudian, dana PMN tersebut juga akan digunakan untuk pembangunan proyek smelter grade alumina Mempawah. Diperkirakan akan menelan investasi dari right issue masing-masing 2015 sebesar US$32 juta, 2016 sebesar US$75 juta, pada 2017 sebesar US$98 juta, dan pada 2018 sebesar US$22,5 juta.


Keseluruhan dana right issue untuk proyek smelter grade alimina Mempawah mencapai US$217,5 juta dalam 4 tahun hingga 2018.


Terakhir, dana right issue akan digunakan ANTM untuk pembangunan proyek feronikel Halmahera Timur senilai total US$640 juta. Masing-masing investasi pada 2015 US$256 juta, pada 2016 senilai US$320 juta, dan pada 2017 senilai US$64 juta.



PT Aneka Tambang Proyeksikan Raih Dana Segar Rp10,77 Triliun

Pemerintah Akan Suntik Modal Kepada Lima Emiten Sebesar Rp18,46 Triliun

Financeroll – Pemerintah mengajukan penyuntikan modal bagi lima emiten pelat merah sebesar total Rp18,46 triliun.


Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno mengatakan, secara keseluruhan perusahaan BUMN yang mendapat suntikan modal mencapai 35 perusahaan.


Jumlah total penambahan modal mencapai Rp48,01 triliun, sebanyak 35 BUMN akan mendapat PMN.


Berikut rincian emiten yang mendapat suntikan modal:


1. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) senilai Rp7 triliun

2. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) senilai Rp5,6 triliun

3. PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) senilai Rp3,5 triliun

4. PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) senilai Rp1,4 triliun

5. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Senilai Rp966 miliar.



Pemerintah Akan Suntik Modal Kepada Lima Emiten Sebesar Rp18,46 Triliun

Friday, December 26, 2014

Pemerintah Akan Serap Right Issue ANTM, ADHI dan WSKT

Financeroll – Pemerintah akan menyerap penerbitan saham baru tiga emiten pelat merah masing-masing PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. Rp7 triliun, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Rp3 triliun, dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Rp2 triliun.


Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Kiswodarmawan mengaku mendapatkan porsi paling kecil dibandingkan dengan dua emiten badan usaha milik negara (BUMN) lainnya.


Itu belum diputuskan, masih dalam bahasan di tingkat kementerian keuangan dan kementerian koordinator bidang ekonomi.


Pemerintah tengah menyiapkan dana Rp12 triliun untuk penerbitan saham baru (right issue) bagi tiga emiten BUMN demi mendukung permodalan mereka.


Rencana right issue telah diajukan kepada komite privatisasi dan kementerian koordinator bidang perekonomian. Pada Januari 2015, ditargetkan dapat diajukan kepada legislator dalam anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBN-P) 2015.


Kiswodarmawan memastikan jatah right issue emiten berkode saham ADHI tersebut memang paling kecil dibandingkan dengan BUMN lain karena perseroan ingin menjaga rasio keuangan dalam jangka pendek.


Penyertaan modal negara (PMN) melalui mekanisme right issue kali ini menjadi salah satu bagian dari tahap penambahan modal perseroan. Right issue ini merupakan tahap awal dari sejumlah langkah yang direncanakan ke depan.


Manajemen ADHI berencana akan menggunakan dana hasil right issue sebagai belanja modal (capital expenditure/Capex) khususnya belanja infrastruktur. Belanja jangka panjang itulah yang menyebabkan pola PMN dilakukan melalui beberapa tahapan.


Pada tahun depan, ADHI mengalokasikan belanja modal Rp824,7 miliar yang terdiri dari investasi pengembangan bisnis properti hotel Rp566,1 miliar, penyertaan proyek investasi Rp202,8 miliar dan pembelian aset tetap Rp68,38 miliar.


Sepanjang 2015, ADHI membidik perolehan kontrak baru Rp15,2 triliun melonjak 44,6% dari target tahun ini Rp10,5 triliun. Manajemen ADHI telah dua kali mengoreksi target raihan kontrak baru tahun ini dari awal Rp21,5 triliun akibat lambatnya serapan proyek pemerintah.


Laba bersih ADHI ditargetkan mencapai Rp440,1 miliar pada 2015. Kontribusi terbesar terhadap laba bersih disumbang oleh anak usaha perseroan, PT Adhi Persada Properti dan PT Adhi Persada Realti sebesar 66,6%.


Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Antam Tri Hartono mengaku masih menunggu jatah serapan right issue dari pemerintah yang masih terus berjalan.


Target perolehan dana right issue emiten berkode saham ANTM dapat lebih maksimal. Namun, serapan pemerintah dalam right issue merupakan domain pemerintah.


Kalau bicara target dana right issue, Antam bisa dapat semaksimal mungkin.


Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk pengembangan sejumlah proyek perseroan. Pada tahun depan saja, ANTM menganggarkan belanja modal sebesar US$250 juta.



Pemerintah Akan Serap Right Issue ANTM, ADHI dan WSKT

Tuesday, December 16, 2014

Pre Opening: Minim Sentimen Pendukung, IHSG Diperkirakan Melemah

Financeroll – Hari ini, Rabu (17/12) IHSG diperkirakan akan bergerak melemah di kisaran 5.000-5.070 dengan saham-saham yang dapat diperhatikan antara lain:  ADRO, BJTM, ANTM, JPRS, dan DSFI.  Pada perdagangan Selasa (16/12) IHSG turun 82 poin (-1,61%) ke level 5.026,03 mengikuti pelemahan rupiah setelah asing keluar dari Indonesia melalui penjualan SUN dan pasar modal.  Secara teknikal, indeks turun disertai volume dan kembali membuat gap di 5.069-5.126 dan tutup dibawah MA50. Stochastic, RSI, dan MACD masih negatif.


Keluarnya dana asing dari pasar saham terus berlanjut pada perdagangan kemarin hingga mencapai Rp 1,24 triliun, membuat IHSG kembali anjlok 1,6% di 5.026,028.  Selain kemerosotan harga minyak mentah, data permulaan aktivitas manufaktur China yang keluar kemarin turut memperburuk situasi pasar karena mengindikasikan terjadinya kontraksi untuk pertama kali dalam tujuh bulan terakhir. IHSG diperkirakan bergerak dengan support di 4965 dan resisten di 5050.


Indeks China HSBC Flash Manufacturing PMI Desember turun ke 49,5 di bawah estimasi 49,8 dan angka bulan sebelumnya 50,0. Sementara bursa global bergerak bervariasi tadi malam. Setelah kekacauan di pasar saham dan uang akibat kejatuhan harga minyak dan mata uang ruble Rusia, pasar saham Eropa tadi malam menguat dipicu data aktivitas manufaktur dan jasa yang menunjukkan peningkatan.


Sementara Wall Street ditutup di teritori negatif. Indeks Eurostoxx naik 2,25%. Indeks Flash Manufacturing PMI Zona Euro naik ke 50,8 di atas estimasi 50,5 dan angka bulan lalu 50,1. Perekonomian Jerman, menjadi motor ekonomi kawasan tersebut, menunjukkan peningkatan aktivitas tercermin dari indeks Flash Manufacturing Jerman naik ke 51,2 dari bulan sebelumnya 49,5.


Sebaliknya data Flash Manufacturing di AS tadi malam menunjukkan perlambatan pertumbuhan. Indeks Flash Manufacturing AS Desember turun ke 53,7 dari bulan lalu 54,8 dan di bawah perkiraan 56,1. Indeks DJIA dan S&P di Wall Street tadi malam masing-masing terkoreksi 0,65% dan 0,85%. Sedangkan harga minyak di AS rebound tipis di USD 56,01/barrel.


Pasar saham tengah menunggu hasil FOMC Meeting yang akan berakhir Rabu (17/12) ini yang diperkirakan The Fed masih akan mempertahankan kebijakan tingkat bunga mendekati nol hingga pertengahan tahun depan. Pada perdagangan hari ini setelah mengalami koreksi 2,6% dalam dua sesi perdagangan terakhir, IHSG diperkirakan bergerak konsolidasi, berpeluang rebound terbatas terutama ditopang peluang penguatan rupiah atas Dolar AS yang telah terkoreksi tajam dan reboundnya harga minyak meredahkan tekanan jual di saham berbasiskan komoditas. [geng]



Pre Opening: Minim Sentimen Pendukung, IHSG Diperkirakan Melemah