Showing posts with label harga bahan bakar minyak (BBM). Show all posts
Showing posts with label harga bahan bakar minyak (BBM). Show all posts

Thursday, November 20, 2014

Pre Opening:  IHSG Diperkirakan Turun, Sejumlah Saham Layak Dipertimbangkan

Financeroll – Kurangnya berita pendukung belum dapat memperbaiki sentimen. IHSG terkoreksi setelah menguat dalam 3 hari sebelumnya. Serta timbulnya aksi jual asing dapat kembali memberikan tekanan.  Diperkirakan IHSG akan melanjutkan  pelemahannya  hari ini.  Direkomendasikan tetap beli untuk mengikuti pola kenaikan minor uptrend yang baru terbentuk. Support 5.040-4.985-4.880, dan resistance 5.165-5.220.


Jika indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi rebound pada perdagangan akhir pekan ini. Indeks akan bergerak di kisaran resistance 5.150 dan support 5.057.   IHSG sendiri masih diperdagangkan di atas MA 200 harian. Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah ke level 5.093.


IHSG  pada perdagangan kemarin mengalami koreksi. Hal ini dipicu makin memudarnya euphoria pascakenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).  Memudarnya euphoria pasca kenaikan BBM di IHSG memicu koreksi minor untuk meredakan keadaan jenuh beli (overbought) harian.


Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat, dan mengindikasikan akan kembali menaikkan suku bunga acuan di tahun depan. Kebijakan ini diambil demi menjaga hot money agar tetap bertahan di Indonesia, saat suku bunga di AS kemungkinan akan naik pada pertengahan tahun depan.


Investor bisa melakukan aksi beli terhadap sejumlah saham di tengah situasi indeks domestik yang dihantui koreksi minor.   Keempat saham itu yakni PT Adaro Energy (ADRO), PT Astra Argo Lestari (AALI), PT Surya Semesta (SSIA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI).  Saham ADRO saat ini ditransaksikan pada price earning (PE) 2014 sebesar 9 kali didasarkan pada harga saat ini, price to book value (PBV) 1 kali dan return on equity (ROE) 9 persen.  Rekomen akumulasi pada saham emiten batubara ekspor yang mulai berubah haluan ke bisnis PLTU ini karena secara teknikal mulai keluar dari pola konsolidasi membentuk upward retracement yang lebihbullish. Entry (1) Rp 1.050, entry (2) Rp 1.020, cut loss point Rp 995 serta trading target Rp 1.100.


Sementara untuk saham AALI, HD Capital secara teknikal melihat dari grafik mingguan bahwa terjadi perbaikan medium term dari trend turun sebelumnya ke pembentukan tren naik baru kembali untuk menguji resistance medium term di Rp 24.950 dam Rp 25.800.  Beli saham AALI dengan entry (1) Rp 23.950, entry (2) Rp 23.200, serta cut loss point Rp 22.900,” ungkap riset HD Capital. Dengan posisi harga saat ini, saham AALI ditransaksikan pada price earning (PE) 2014 sebesar 15 kali, price to book value (PBV) 3,4 kali dan return on equity (ROE) 22 persen.


Adapun untuk saham AALI,  secara teknikal melihat dari grafik mingguan bahwa terjadi perbaikan medium term dari trend turun sebelumnya ke pembentukan tren naik baru kembali untuk menguji resistance medium term di Rp 24.950 dam Rp 25.800.  Beli saham AALI dengan entry (1) Rp 23.950, entry (2) Rp 23.200, serta cut loss point Rp 22.900.  Dengan posisi harga saat ini, saham AALI ditransaksikan pada price earning (PE) 2014 sebesar 15 kali, price to book value (PBV) 3,4 kali dan return on equity (ROE) 22 persen.


Koreksi minor pada saham BBRI dapat meredakan keadaan jenuh beli (overbought) harian yang bisa digunakan sebagai kesempatan positioning buy terhadap efek emiten big cap perbankan BUMN kredit mikro UKM ini  Dengan harga saat ini, saham BBRI ditransaksikan pada price earning (PE) 2014 mencapai 11,2 kali, price to book value (PBV) 2,9 kali, dan return on equity (ROE) 26,5 persen serta trading target Rp 11.250. Buy dengan entry (1) Rp 10.850, entry (2) Rp 10.750, serta cut loss point Rp 10.650.


Pada perdagangan Kamis (20/11) IHSG ditutup melemah 34,367 poin (0,670%) ke posisi 5.093,566. Mayoritas indeks saham mendukung pelemahan IHSG. Antara lain, indeks saham-saham unggulan LQ45 yang turun 6,081 poin (0,690%) ke angka 875,157; IDX30 turun 4,565 poin (1,007%) ke posisi 448,569;MBX turun 10,591 poin (0,718%) ke angka 1.465,171; DBX turun 2,182 poin (0,304%) ke posisi 715,487 dan indeks saham-saham syariah JII turun 6,05 poin (0,891%) ke angka 672,592.


Sebanyak 111 saham menguat, 77 saham stagan, dan 204 saham alami penurunan. Total saham yang ditransaksikan mencapai 392. Nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp 4,1 triliun dan Rp 1,06 triliun di pasar negosiasi. Investor asing mencatatkan penjualan saham bersih (net foreign sell) sebesar Rp 433,5 miliar


Dari eksternal, data existing home sales bulan Oktober secara tak terduga mengalami kenaikan pada level tertinggi selama setahun terakhir, yang ditopang oleh rendahnya suku bunga pinjaman. Data initial claims pekan lalu mengalami penurunan. Indeks leading indicators dan Philadelphia Fed juga mengalami kenaikan. Data inflasi bulan Oktober stagnan, setelah bulan sebelumnya naik 0,1%.


Sebaliknya indeks PMI manufaktur dan jasa di area euro mengalami penurunan pada level terendah selama 16 bulan terakhir. Sedangkan indeks PMI manufaktur China mengalami penurunan pada level terendah selama enam bulan terakhir.


Dari pasar Asia, pergerakan pasar saham dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas. Koreksi pasar saham Asia ditunjukkan oleh indeks Nikkei 225 di Jepang yang melemah sebesar -0,16%. Sedangkan indeks KOSPI Composite di Korea Selatan menguat +0,46%.


Pasar saham Amerika Serikat (AS) kembali menguat, seiring rilis positif data penjualan rumah Paman Sam. Penguatan itu diapresiasi dengan kenaikan indeks Dow Jones Industrial Avg sebesar +0,19% dan indeks S&P500 sebesar +0,20%.  Sementara harga kontrak berjangka (futures) komoditas juga terapresiasi. Harga minyak mentah WTI naik +2,51% ke level USD 76,37 per barel. Sedangkan harga emas Comex menguat +0,16% ke posisi USD 1.192,80 per troy ounce. [geng]


 



Pre Opening:  IHSG Diperkirakan Turun, Sejumlah Saham Layak Dipertimbangkan

Monday, November 17, 2014

Rupiah Bergerak Menguat ke Posisi Rp 12.154 per USD

Financeroll – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dimulai hari ini, tampaknya membuat nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS menguat kencang. Pagi ini, Rupiah memacu penguatannya ke level Rp 12.154 per USD.


Berdasarkan  Bloomberg Dollar Index, Selasa (18/11),  kurs Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) menguat 50 poin atau 0,41 persen ke Rp 12.154 per USD dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di Rp 12.205 per USD.


Hari  ini, Rupiah sempat menguat ke Rp 12.115 per USD,  diperkirakan  range pergerakan berada di kisaran Rp 12.115-Rp 12.185 per USD.  Kenaikan BBM bersubsidi yang 34 persen ditambah harga minyak internasional yang telah turun 28 persen dari puncaknya dipastikan memberikan efek positif terhadap neraca fiskal dan neraca transaksi berjalan.


Sementara itu,  konsekuensi negatif akan terlihat pada inflasi yang naik tajam serta pertumbuhan yang semakin melambat. Inflasi diperkirakan kembali ke rentang 7,5-8 persen (yoy) hingga 12 bulan ke depan.  Kurs Rupiah berpeluang menguat hari ini walaupun dollar index berhasil menguat tajam dini hari tadi. [geng]


 



Rupiah Bergerak Menguat ke Posisi Rp 12.154 per USD

Sunday, November 16, 2014

Senin Siang, Rupiah Bergerak Menguat ke Posisi Rp  12.174 / USD

Financeroll – Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Senin pagi hingga siang bergerak menguat sebesar 26 poin menjadi Rp 12.174 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.200 per dolar AS.


Mata uang rupiah bergerak menguat di tengah antisipasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi memberikan kesempatan bagi mata uang domestik untuk berada di area positif.


Sentimen dari tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI rate) yang dipertahankan juga masih menjadi sentimen positif bagi rupiah.  Meski sifatnya spekulatif, pelaku pasar perlu juga perlu mengantisipasi potensi pembalikan arah.  Meski demikian,   penguatan mata uang rupiah terhadap dolar AS masih dalam kisaran terbatas dibayangi polemik di parlemen terkait dengan rencana Pemerintah untuk mengambil kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi itu.


Selain itu,  penilaian fundamental Indonesia yang masih lemah juga dapat menjadi salah satu sentimen negatif bagi laju rupiah.  Di sisi lain, belum jelasnya langkah pemerintah Jepang untuk menunda kenaikan pajak penjualan membuat mata uang yen Jepang cenderung melemah, kondisi itu dapat memberi sentimen negatif bagi nilai tukar di kawasan Asia, termasuk rupiah. [geng]



Senin Siang, Rupiah Bergerak Menguat ke Posisi Rp  12.174 / USD